
Dokter Yashinta tampak membukakan pintu mobil untuk memberikan kemudahan pada Abiseka membawa Tiara masuk ke dalam mobil.
''Pelan-pelan sayang! Mas bisa memapahmu masuk ke dalam.'' Abiseka menuntun Tiara untuk menyandarkan kepalanya di kursi mobil.
''Bagaimana sudah merasa nyaman?'' tanya Gala Abiseka sambil terus memberikan perhatian penuh pada Tiara.
''Alhamdulillah, sudah lebih baik karena ada kamu!'' Tiara nampak menggoda suaminya.
''Oh, ya? mulai pintar menggoda ya?'' kelu Abiseka sambil menoel lembut hidung mancung milik Tiara yang meskipun terdapat luka lebam diwajah istrinya bagi AbisekaTiara tetap terlihat manis dan cantik.
''Menggoda pasangan yang halal tidak apa-apa Mas. Yang tidak boleh itu jika belum halal tapi masih terus menggoda tapi tetap menyentuh!'' ceplos Tiara yang tidak sengaja melontarkan kata-kata yang tanpa sengaja mencubit hati pasangan yang baru jadian dibelakang mereka.
''Ehemmm, nyindir itu jangan kentara Neng! Di belakang masih ada aku dan kekasih ku!'' celutuk Daniel yang sedang kepanasan mendengar ucapan Tiara. Beruntung Stefanie sedang ketiduran di pundaknya akibat bergadang semalaman baru pagi ini gadis berdarah Inggris itu ketiduran, jadi tidak mendengar celotehan Daniel maupun Tiara.
Abiseka dan Tiara menoleh kebelakang ketika mendengar suara yang melayangkan protes barusan.
''Oops, maaf aku keceplosan!'' ucap Tiara dengan tertawa renyah di ikuti pula oleh Abiseka yang merasa tergelitik mendengarkan protes Daniel.
''Makanya, segera halalkan mas Bro. Jangan digantung!'' ceplos Abiseka yang sebenarnya sedang menyinggung Dokter Brama agar move on dari istrinya Tiara dan menerima dokter Yashinta dalam hidupnya, yang nyata-nyata kini sudah ada di dekatnya.
''Maaf, dokter Yashinta. Jika memang penumpang sudah masuk semua, silahkan ditutup jendela mobilnya. Kita berangkat sekarang!'' tegas dokter Brama yang tiba-tiba berubah menjadi dingin dan datar ketika mendapati Tiara mantan calon istrinya satu mobil dengannya bersama Abiseka tentunya, semakin membuat Brama semakin terluka menyaksikan keharmonisan antara dua pasangan yang ada di belakangnya.
''Ba-baiklah, Tiara, Abi ... maaf, aku tutup dulu pintu mobilnya.'' Dokter Yashinta pun menuruti apa maunya dokter Brama. Akan tetapi, Yashinta merasakan sesak di dadanya ketika menyadari Brama masih belum bisa move on dari Tiara.
''Iya, silahkan! terima kasih dokter Yashinta!'' ucap Abiseka dan Tiara yang terlihat begitu sangat kompak dan serasi menjawab pertanyaan dokter Brama.
Brama pun segera melajukan mobilnya membelah jalan raya menuju kediaman mereka di kota xx.
Hanya keheningan yang tercipta diantara dokter Brama dan dokter Yashinta. Yashinta yang duduk bersebelahan di samping kemudi, sengaja tidak memperdulikan Brama. Ia sengaja memasang headset di telinganya yang bersembunyi di balik hijabnya dengan mendengarkan lantunan ayat suci Al qur'an untuk menenangkan jiwanya yang sedang berkabut duka oleh sebab Brama yang sama sekali tidak peka dengan perasaannya. Sikap Brama yang terkesan menutup diri darinya membuat Yashinta tidak ingin terlalu berharap lebih meskipun terkadang Brama terlihat memberi harapan untuknya, namun tak memberikan kepastian atas rasanya membuat Yashinta menjadi jenuh dan terkesan ingin menjaga jarak dengan dokter Brama.
''Mas Abi, kau lihat Yashinta dan mas Bram mereka terlihat canggung satu sama lain! semoga saja keduanya sama-sama menyadari perasaan masing-masing dan segera menghalalkan hubungannya. Apa mereka tidak lelah jika terus menjaga jarak seperti itu?'' Tiara menatap jengah pada dua insan yang sangat kentara memiliki rasa akan tetapi malu untuk mengungkapkannya.
__ADS_1
''Entahlah, sayang. Sepertinya mantanmu itu yang belum bisa move on darimu. Ia masih mengharapkanmu sehingga dia mengorbankan perasaannya sendiri yang sebenarnya sudah bertahta untuk dokter Yashinta.'' Abiseka tampak berasumsi berdasarkan feeling-nya.
''Jangan keras-keras Mas! nanti mereka dengar, biarkan saja semua berjalan apa adanya nanti juga mas Bram akan menyadari sendiri perasaannya. Sekarang yang terpenting adalah aku dan Mas Abi. Mas Bram adalah masa lalu aku dan kau adalah masa depanku!'' bisik Tiara ditelinga Abiseka.
Dapat Abiseka rasakan bisikan lembut istrinya yang begitu sangat menyentuh hatinya, ''Hemmm ... sudah pandai menggombal ya?'' Abiseka menoel hidung istrinya sehingga nampak merah oleh sentuhannya.
''Mas Abi, lihat hidung Tia pasti terlihat memerah oleh ulah Mas!'' Tiara mencebikkan bibirnya, ia tampak terlihat manja setelah beberapa saat tidak bertemu dan berada didekat suaminya setelah insiden dirinya disekap oleh Viola bersama beberapa orang suruhannya.
''Tapi, bagi Mas kau terlihat manis jika seperti ini!'' Abiseka mengecup lembut kening istrinya.
Kemesraan yang ditampakkan oleh pasangan suami istri tersebut, tidak lepas dari pandangan Brama melalui kaca mobilnya.
''Akulah sang mantan yang hanya bisa melihat senyuman mu namun tak bisa memilikimu. Kau tampak bahagia bersamanya, di depanku kau begitu menampakkan keharmonisan mu. Lupakah dirimu akan kenangan kita yang pernah ada Tiara? apa hanya aku yang merasa kepedihan ini? Sedangkan kau sama sekali tidak peduli dengan rasaku? sebegitu tidak berartinya aku dalam pandanganmu di depan mataku kau tega berpimpin mesra dengannya,'' batin Brama menahan rasa sesak di dadanya.
Ingin rasanya Brama mengurai air matanya, akan tapi dia tidak ingin terlihat lemah dan cengeng di hadapan Tiara yang kini nampak terlihat bahagia bersama Abiseka di sisinya.
Brama beralih melirik Yashinta yang tampak fokus dengan dunianya sendiri, membuat Brama merasa sedikit bersalah pada dokter muda tersebut karena tidak merasakan kehadirannya ketika mendapati Tiara berada satu mobil dengannya.
''Nanti turunkan aku di rumah Tante Arla dan Om Reyhan. Motor ku terparkir di sana dari sejak semalam!'' ucap dokter Yashinta memecahkan keheningan antara dirinya dan Brama.
''Iya.'' Hanya satu kata yang terucap dari lisan Brama Adyaksa Kyswara.
Keduanya pun kembali sama-sama terdiam tanpa berucap kata lagi.
''Mas, kau lihatlah mereka hanya berucap kata sebentar kemudian menghilang. Mas Bram, benar-benar tidak bisa peka terhadap perasaan dokter Yashinta. Padahal dahulu tidak begitu, ia adalah laki-laki penyayang dan penuh perhatian kenapa tiba-tiba menjadi dingin?'' cetus Tiara sambil berbisik kecil di telinga suaminya.
''Sudahlah, jangan membahas mereka lagi. Di sini hanya ada aku dan kamu,'' ucap Abiseka sambil mengusap pelan wajah istrinya yang terlihat lebam dan terluka akibat pukulan dan goresan pisau yang telah disayat oleh Viola pada wajah Tiara ketika istrinya dalam kekuasaan wanita tak berakhlak itu.
''Baiklah, aku tidak akan membahasnya lagi! tapi ini sangat perih mas!'' Tiara baru menyadari jika wajahnya kini sedang tidak baik-baik saja dan terdapat memar dimana-mana.
''Nanti kita obati lukamu sayang pada dokter spesialis kulit!'' ujar Abiseka sambil mengusap lembut kepala istrinya. Membuat Tiara merasakan kenyamanan ketika berada di dekat suaminya.
__ADS_1
''Masss!'' Tiara menyandarkan kepalanya dalam dekapan suaminya. Ia seperti ingin terus dibelai manja oleh suaminya setelah kejadian na'as yang menimpanya.
''Iya sayang, beristirahatlah! Insya Allah 30 menit lagi kita sudah sampai di rumah papa dan Mama. Untuk sementara, kita di rumah papa dan mamaku dulu ya?'' Abiseka minta persetujuan istrinya.
Tiara pun mengangguk setuju, perlahan ia pun terlelap dalam dekapan dada bidang suaminya.
Brama rasanya ingin sekali memaki dirinya sendiri karena terlalu bodoh di hadapan Tiara yang jelas-jelas kini begitu sangat kentara jika mantan calon istrinya itu merasa sangat bahagia berada di sisi Abiseka sepupunya.
''Shittttt!'' Brama menginjak rem mendadak, ketika ia tak mampu menguasai dirinya sendiri sehingga hampir menabrak pengendara motor yang ada di hadapannya yang berhenti secara mendadak karena menandakan lampu merah di persimpangan jalan.
Kepala dokter Yashinta hampir membentur dashboard jika tidak ia tahan menggunakan kedua telapak tangannya.
''Astagfirullah, dokter Brama. Apa yang kau pikirkan? hendaknya ketika mengemudi itu haruslah berkonsentrasi apalagi sekarang kau membawa banyak tumpangan. Tiara baru saja tertimpa musibah dan syok dengan keadaannya, jangan kau tambah lagi dengan hal yang mengejutkan seperti ini. Di dalam rahimnya ada satu nyawa yang bertahan di sana!'' sentak dokter Yashinta yang terpancing emosi oleh tingkah absurd Brama yang tidak bisa ditebak sepanjang perjalanan.
''Ma-af, aku kurang fokus!'' ucap Brama yang merasa bersalah terhadap dokter Yashinta.
Dokter Yashinta menoleh ke belakang, ''Tiara, kau tidak apa-apa?'' tanya dokter Yashinta yang merasa cemas dengan keadaan Tiara yang memang sedang tidak labil.
''Aku tidak apa-apa dokter, ada mas Abi. Mungkin mas Bram sedang kelelahan karena semalaman ikut andil dalam mencari keberadaanku! mungkin ia mengantuk, sehingga tidak fokus menyetir.'' Tiara nampak membela Brama. Ia tidak ingin memperpanjang masalah dan menyudutkan dokter muda tersebut. Walaupun Tiara merasa sangat yakin jika Brama jealous melihat kedekatannya dengan Abiseka suaminya.
''Lain kali jika menyetir itu lebih berhati-hati dokter Brama yang terhormat, jika kau tidak menyukai aku berada dalam satu mobil denganmu hendaknya dari sejak awal kau katakan. Jangan seperti ini, ada banyak nyawa yang harus kau pertimbangkan!'' sentak Abiseka yang tiba-tiba terpancing emosi dengan keadaan yang ada.
Brama terdiam, ia memang bersalah. Sebab, rasa cemburunya yang tak beralasan membuatnya mendengus frustasi dan tak fokus dalam menyetir.
''Iya, aku yang salah! Selamanya tetap salah,'' sergah dokter Brama sambil memukul stang kemudinya sembari menunggu lampu merah berubah menjadi lampu hijau.
Semua orang pun terdiam, mendengarkan dokter Brama mendecak kesal pada dirinya sendiri.
''Apalah dayaku aku hanyalah sang mantan yang tidak berarti apa-apa!'' batin Dokter Brama dengan berusaha melawan rasa sesak di dadanya ketika kembali mengingat masa indahnya bersama Tiara dahulu yang kini hanya tinggal kenangan.
''Mengsedih, aku hanya mencintai bayangan mu. Kau memang ada didekat mu, akan tetapi ragamu tak bisa ku sentuh! Akulah sang mantan! aku lah sang mantan!'' Brama kembali memekik perih di dalam hatinya, seolah menggambarkan akan kekecewaan dan kekalahannya dalam urusan percintaan. Ia kalah satu langkah dari Gala Abiseka Gyantara sepupunya yang sampai saat ini masih ia anggap sebagai rivalnya.
__ADS_1
''Berisik sekali!'' seru Stefanie yang baru terbangun dari tidurnya, ketika mendengarkan keributan yang terjadi dalam mobil dokter Brama yang sedang ia tumpangi bersama Daniel kekasihnya.