Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 34. Pembatalan Pernikahan


__ADS_3

"Kauuu!" sentak Brama ketika melihat dan mendengarkan ucapan pemuda yang kini hadir di hadapan mereka tidak lain adalah Gala Abiseka Gyantara sepupunya.


"Ini maksudnya apaaa?" tanya Prasetyo ketika mendengar Gala Abiseka ingin bertanggung jawab pada anaknya.


Sementara, Tiara merasa gugup dan ketakutan melihat kehadiran Gala Abiseka yang kini hadir di hadapan keluarganya juga di hadapan keluarga Brama yang masih gantung sebagai status calon pengantin, mengingat orang tua Brama tidak meridhoi pernikahan mereka.


"Ya Allah, kenapa dia tiba-tiba hadir di sini? apa yang akan aku katakan pada ayah dan bunda dan juga kedua orang tua Brama, jika yang menodaiku adalah Abiseka, yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan mereka?"


Tiara merem*s sprei kasurnya, ia bener-bener takut menghadapi kenyataan yang ada. "Ya Allah, rasanya aku ingin tenggelam ke dalam perut bumi saja. Kenapa semuanya menjadi semakin runyam seperti ini?" gumam Tiara di dalam hatinya.


Mama Naraya dan Papa Rakha di buat terkejut ketika menyaksikan kehadiran keponakan mereka di dalam kamar rawat inap Tiara, yang sangat mengejutkan mereka adalah Abiseka tiba-tiba ingin mertanggung jawabkan janin yang dikandung oleh Tiara.


"Gala Abiseka, kenapa kau tiba-tiba datang kemari? jangan bilang kau telah menghamili calon istri Abang sepupumu Brama?" tanya mama Naraya dengan tatapan menghunus tajam menunggu jawaban dari keponakannya Gala Abiseka.


Prasetyo dan istrinya Pieska, nampak menunggu jawaban dari Gala Abiseka. Jika memang itu benar terjadi, mereka merasa sangat malu dengan keluarga Brama sebab Prasetyo telah menyerang Brama dengan bogem mentahnya tanpa menanyakan dulu duduk perkara yang ada, lantaran tersulut emosi ketika mendengar anaknya hamil. sehingga mengira Brama lah pelakunya.


"Saya mohon maaf kepada Om Rakha dan juga tante Naraya beserta kedua orang tua Tiara, saya adalah ayah biologis dari bayi yang dikandung oleh Tiara Chandani Putri bukan dokter Brama Adhyaksa Kyswara!" terang Abiseka dengan berusaha menahan rasa yang tercekat di kerongkongannya, ketika melihat suasana semakin memanas oleh kehadirannya.


"Apaaa?" sontak semua yang hadir di sana merasa kaget mendengar ucapan Gala Abiseka yang sangat di luar pemikiran mereka.


"Jadi ... kau yang telah menodai putriku anak muda, sehingga aku sampai salah paham dan menonjok dokter Brama yang tidak berdosa!" Prasetyo menarik kerah baju Abiseka dan melayangkan tinjunya pada wajah pemuda blasteran Indo-Turki tersebut, sehingga wajah tampannya bertambah lebam dan bonyok setelah sebelumnya terlibat baku hantam dengan saudara sepupunya sendiri Brama Adhyaksa Kyswara.


Prasetyo hendak menghajar Abiseka habis-habisan, namun bunda Pieska melerainya.


"Yah ... sebaiknya, kita selesaikan semua perkara ini secara kekeluargaan. Jangan sampai semuanya bertambah runyam." Bunda Pieska memijit kepalanya yang sakit oleh sebab memikirkan ujian hidup dan permasalahan anaknya yang begitu rumit dan menyesakkan dada. Ia berusaha untuk tegar meskipun berat, demi keselamatan dan reputasi putrinya.

__ADS_1


Ayah Tyo pun urung untuk menghajar Gala Abiseka, ia berusaha menekan egonya demi anak dan istrinya. Apalagi wajah Tiara semakin terlihat kuyu dan pucat, ia terlihat tertekan oleh sebab aibnya yang kini telah terbongkar.


Tiara terisak dalam tangisnya, ia merasa sangat sedih sebab telah menyakiti hati kedua orang tuanya dan juga semua yang ada di sana.


"Terangkan pada tante, kenapa kau sampai menodai calon istri Abang sepupumu Brama? kenapa kau sampai tega menikungnya? asal kau tahu mereka akan segera menikah bulan depan. Mengapa kau tega merusak kebahagiaan mereka?" cecar tante Naraya dengan serentetan pertanyaan pada Gala Abiseka keponakannya. Dirinya benar-benar tidak habis pikir dan merasa spot jantung mendengar kenyataan yang ada.


Gala pun menceritakan peristiwa yang terjadi dengan dirinya dan Tiara yang tanpa sengaja saat pesta itu, hingga semua yang mendengarnya merasa begitu prihatin dengan apa yang menimpa Gala dan Tiara.


Semua nampak menghela nafas, setelah mendengarkan penuturan Abiseka, Prasetyo tampak mengepalkan tinjunya.


"Siapa yang telah menjebak putriku? aku akan segera mengusutnya," ucap pak Prasetyo dengan dada yang bergemuruh menahan emosinya.


"Mohon maaf sebelumnya, Pak Tyo dan Bu Pieska. Mengingat kejadian nak Tiara dan keponakan saya Gala Abiseka yang tanpa disengaja telah melakukan hubungan terlarang di saat pesta itu sehingga menghasilkan benih di antara mereka, dengan berat hati saya melakukan pembatalan pernikahan antara Tiara dan anak kami Brama mengingat ayah biologis dari anak yang dikandung oleh Tiara sudah diketahui siapa ayahnya. Agar tidak terjadi pertikaian kedepannya ada baiknya Abiseka lah yang harus bertanggung jawab dengan apa yang telah diperbuatnya."


Rakha Raditya Kyswara, papa Brama yang dari sejak tadi diam akhirnya membuka suaranya dengan mengambil keputusan yang telah dipikirkan matang-matang setelah menimbang baik buruknya, jika ia terus nekat melanjutkan pernikahan antara anaknya Brama Adyaksa Kyswara dan Tiara, akan tidak mungkin kedepannya akan terus terjadi pertikaian yang tak berkesudahan mengingat anak yang dikandung oleh Tiara bukan anak Brama. Memory tentang masa lalu yang buruk tersebut pasti akan terus membekas dan terngiang-ngiang dalam benak keduanya.


Brama benar-benar tidak terima jika pernikahannya dan Tiara di batalkan, sementara Tiara nampak terisak, pupus sudah harapannya untuk merajut janji suci pada dokter muda yang telah bersemayam di hatinya semenjak dua bulan terakhir perkenalan dan kedekatan mereka.


"Maafkan papa, Nak! Ini yang terbaik untuk kalian," ucap papa Rakha dengan tertunduk lesu. Ia pun berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Ia tidak ingin menambah kepedihan di hati anaknya Brama.


Papa Rakha terpaksa melakukan itu semua demi kebaikan anak-anaknya. "Sekali lagi maafkan saya Tyo, bukannya saya tidak ingin melanjutkan perjodohan anak kita sampai ke jenjang pernikahan. Akan tetapi, ada satu aral melintang yang membuat anak kita tidak bisa bersatu," ucap papa Rakha sambil merangkul dan memeluk pundak Prasetyo ayah Tiara.


Pak Prasetyo pun membalas rangkulan papa Rakha, ia berusaha menahan kekecewaan dan rasa sesak di dadanya. Harapan mereka ingin semakin mempererat tari silaturahmi dengan menjodohkan kedua anak mereka akhirnya pun pupus sudah. Harapan tinggal harapan, bunga pun layu dan gugur sebelum berkembang. Mengsedih!😭😭


"Ma, katakan pada papa, ini tidak benar kan, ma? Brama akan tetap menikah dengan Tiara kan, ma?" tanya Brama sambil bersimpuh di bawah kaki Mama Naraya.

__ADS_1


Mama Naraya pun meneteskan air mata kepedihannya, ia tidak sanggup melihat kekecewaan di mata Brama anaknya. Jika saja, Tiara tidak sampai hamil anak Abiseka dan hanya ternoda saja, tentu Mama Naraya masih memiliki toleransi untuk menikahkan Tiara dengan Brama, menerima segala kekurangan calon istri anaknya. Akan tetapi, ini lain halnya Tiara telah positif mengandung dan calon ayah dari bayi tersebut pun ingin mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.


Jadi, tidak ada alasan untuk mama Naraya menentang niat baik Abiseka selaku dari ayah biologis dari anak yang dikandung oleh Tiara. Meskipun kejadian tersebut terjadi tanpa sengaja.


"Maafkan, mama dan papa Nak!" ucap mama Naraya dengan mengusap punggung Gala Abiseka yang sedang terisak dalam tangisnya.


Kerapuhan putra semata wayangnya pun nampak terlihat jelas dari sorot matanya yang terus memohon agar pernikahan mereka tetap dilaksanakan.


"Semua ini gara-gara dirimu Gala Abiseka Gyantara, sehingga terjadinya pembatalan pernikahan antara diriku dan Tiara!" pekik dokter Brama dengan kembali melayangkan tinjunya pada wajah tampan Gala Abiseka yang memang telah terlihat tak beraturan.


Brama kembali menyerang Abiseka dengan membabi buta, "Kau harus mati di tanganku!" pekik dokter Brama seperti orang yang sudah kesetanan. Ia menyerang bagian tubuh Gala Abiseka yang dapat digapai olehnya.


Dokter Brama benar-benar murka dengan saudara sepupunya yang selama ini begitu sangat diperhatikan olehnya.


"Kau merusak kebahagiaanku dengan Tiara, mengapa kau tega melakukan ini padaku!" sentak Brama yang berusaha untuk melenyapkan Gala Abiseka yang yang sudah terlihat lemah dan tak berdaya.


Gala sengaja membiarkan Brama terus memukulnya sampai dokter muda tersebut puas melampiaskan kekesalan dan amarahnya.


"Bramaaa, hentikan nak!" pekik mamanya Naraya ketika menyaksikan putra kesayangannya hilang kendali dan tidak bisa mengontrol emosinya.


Papa Raka dan Ayah Tyo pun segera menarik tubuh Brama yang berada diatas kungkungan Gala Abiseka. Namun, kedua orang tua paruh baya itu pun terpental akibat amukan Brama yang tidak bisa dikontrol.


Sampai akhirnya, Tiara turun dari brankarnya dan mencabut selang infus yang ada di pergelangan tangannya, entah mendapat kekuatan dari mana Tiara pun berlari memeluk tubuh Brama yang begitu berambisi untuk menghabisi Gala Abiseka.


"Mas Bram, jangan begini Mas!" ucap Tiara sambil memeluk tubuh Brama dari belakang, ia pun meneteskan air matanya.

__ADS_1


Tiara tidak sanggup melihat kerapuhan iman yang selama ini pemuda itu jaga, oleh sebab pembatalan pernikahan mereka yang sangat mengenaskan.


"Tiaraaa!" Brama membalikkan tubuhnya, ia pun merangkul tubuh wanita yang sangat dicintai olehnya itu, begitu sangat kentara jika dirinya tidak siap untuk kehilangan Tiara.


__ADS_2