
"Dasar laki-laki gila, masih punya muka untuk terus mengganggu hidupku, setelah apa yang telah dirimu lakukan terhadapku! asal kau tau, mendengar suara mu pun aku merasa jijik," sentak Tiara ketika tahu orang yang menghubunginya adalah Gala Abiseka, pria yang telah merenggut kesuciannya.
"Kau ternyata sangat keras kepala juga, sudah ku katakan. Setelah kejadian itu aku akan mempertanggungjawabkan perbuatan ku. Aku akan menikahimu secepatnya, sebelum benih ku tumbuh di rahimmu!" ucap Gala dengan sedikit pemaksaan.
"Apa kau sudah gila? berulangkali aku katakan jika aku akan segera menikah dengan calon suamiku yang tentunya lebih baik dari mu. Ia tidak pernah berkata-kata kasar terhadap ku dan aku sangat mencintainya," terang Tiara yang mulai gerah dengan sikap Gala yang selalu memaksa kehendaknya.
"Aku tidak peduli siapapun calon suamimu, kau harus tetap menikah denganku. Sebab, aku yang pertama kali menyentuhmu!" ucap Gala Abiseka, sehingga membuat hati Tiara semakin teriris.
Tiara menyadari jika dirinya memang sudah kotor, "Mas Brama ... maafkan aku!" bathin Tiara dengan isak tangisnya. Ia pun mematikan ponselnya.
Tiara begitu jijik mendengar suara Gala Abiseka apalagi membayangkan pemuda tersebut menjadi calon suaminya.
"Sampai kapan pun aku tidak sudi untuk menikah dengannya, jangan sampai aku mengandung anaknya ya Tuhan!" lirih Tiara yang benar-benar belum bisa menerima suratan takdir yang telah tergambar padanya.
Sementara, Gala Abiseka membanting ponselnya ke tembok hingga retak. Ia begitu kesal sebab Tiara selalu menolaknya untuk bertanggung jawab.
__ADS_1
"Sebenarnya apa maunya gadis itu? tak cukup kah, aku mengalah dan mengemis cintanya. Seharusnya dia bersyukur jika seorang Gala Abiseka Gyantara berkenan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, mengingat semua itu terjadi tanpa sengaja." Gala menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, ia berpikir sejenak bagaimana caranya agar Tiara berkenan untuk menerima niat baiknya.
"Aku harus meminta solusi pada Brama, bukankah ia adalah pemuda yang baik. Ia juga kerap kali mengikuti aktivis keagamaan. Setidaknya, ia bisa memberi solusi terbaik padaku. Apalah dayaku yang minim ilmu, aku sadar aku tidak pantas bersanding dengan Tiara. Namun, aku yakin aku bisa menjadi imam yang baik untuknya seiring berjalannya waktu. Bagaimanapun juga di masa kecil dulu aku pun sering mengaji dan ikut sholat di mesjid bersama Brama sepupuku dan juga Daniel. Akan tetapi sayangnya ketika beranjak remaja hingga dewasa aku dan Daniel lebih memilih pergaulan bebas tanpa terikat oleh ajaran agama yang kental. Berarti, jika bersama Tiara aku harus bisa berubah menjadi laki-laki yang baik dan taat pada ajaran agama."
Gala Abiseka pun terus mengingat kenangan masa kecilnya, "Oh Tuhan ... maafkan aku sebab telah lama tidak bersujud kepada-Mu! jika tidak ada permasalahan ini mungkin sedikitpun aku tidak pernah lagi mengingat kebesaran-Mu!" gumam Abiseka sambil meraup wajahnya kasar. Ia pun segera mengambil ponselnya yang terletak di lantai.
"OMG, ponselnya retak. Memangnya aku tadi pakai kekuatan super, hingga ponselnya bisa sekarat seperti ini?" Gala mengusap ponselnya. Ia khawatir ponselnya tidak bisa dibuka lagi, hingga dirinya tidak bisa lagi menghubungi Tiara dan orang-orang terdekatnya.
"Alhamdulillah ... my bidadari, nomor ponselnya ternyata masih tersimpan?" Gala mengecup nomor Tiara yang ia save dengan nama my bidadari. Semenjak berapa tahun terakhir ini Gala tidak pernah mengucapkan kalimat pujian kecuali setelah mengenal Tiara.
"Ya Allah, gadis itu secara perlahan, benar-benar telah merubah hidup ku. Aku rasa diriku benar-benar telah jatuh hati padanya. Tanggung jawab yang hendak ku berikan padanya bukanlah hanya sebatas rasa bersalah ku sebab telah menodai kesuciannya, akan tetapi lebih kepada rasa yang asing yang mulai bertumbuh di hatiku." Gala tersenyum-senyum sendiri layaknya anak ABG yang sedang kasmaran.
"Assalamu'alaikum, ada apa brother? tumben jam-jam seperti ini menelfon? aku yakin wajahmu sudah semakin pulih, itu sudah obat yang paling mujarab kuberikan pada mu!" cerocos dokter Brama dari seberang telfon, tanpa memberikan kesempatan untuk Gala menyampaikan aspirasinya.
"Wa'alaikumsalam, syukurlah brother wajah ku sudah kembali normal. Bahkan, semakin tampan. Tidak ada wanita yang tidak tertarik dengan pesona ku, pasti semuanya klepek-klepek dan berharap bisa dekat dengan ku. Namun, anehnya ada seorang wanita yang sama sekali tidak tertarik pada ku. Dia begitu sangat membenciku, setelah kejadian one night stand antara diriku dan dirinya," ucap Gala tanpa filter.
__ADS_1
Secara tidak langsung Gala telah menyampaikan segala keluh kesahnya, iapun telah jujur mengenai permasalahan pribadinya pada Brama sepupunya. Meskipun Brama sedikit pun tidak percaya dengan apa yang diucapkan Gala, mengingat sering kali Gala bergurau dan bercanda.
"Ucapan adalah do'a brother, pakai acara one night stand segala. Halalkan dulu anak gadis orang, baru deh yang begituan!" ucap Brama terlihat santai, ia mengira Gala Abiseka sepupunya hanya bercanda dan tidak serius mengenai ucapannya.
"Aku serius Mas Bram, aku memang telah melakukan itu semua tanpa sengaja dengan seorang wanita yang telah membuat ku tergila-gila setelah kejadian malam itu. Namun, ia sangat membenciku, yang menyesakkan dada ku ia sudah punya calon suami." Gala pun menceritakan kejadian yang menimpanya dan Tiara pada saat malam pesta itu.
"Astaghfirullah, jadi semua ini nyata? ada yang menjebak kalian?" tanya dokter Brama dengan meredam emosinya yang tertahan.
Meskipun Brama tidak mengetahui siapa wanita yang telah ditiduri oleh Gala Abiseka sepupunya, tetap saja Brama terlihat tidak suka mendengar hal-hal yang tidak sepantasnya harus terjadi mengingat Gala dan wanita tersebut mulanya tidak ada ikatan apa-apa kecuali hanya sebatas adik kelas dan kakak tingkat di masa putih abu-abu dahulu.
"Maafkan aku Mas Bram, semua kejadian itu benar-benar di luar kuasaku!" terang Gala yang kini memanggil Brama dengan sebutan Mas mengingat usianya lebih muda 2 tahun dari Brama.
Brama mengusap kasar rambutnya, "Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kau lakukan pada wanita tersebut? kasihan juga calon suaminya jika sampai mengetahui calon istrinya telah ternoda oleh laki-laki lain!" ucap Brama. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi padanya, mungkin ia bisa gila jika harus kehilangan Tiara.
Sebagai seorang laki-laki sejati, Brama pun punya rasa dan hati. Ia pun merasa prihatin dengan hal yang terjadi di antara Gala sepupunya dan wanita yang di ceritakan oleh Gala juga perasaan calon suami wanita tersebut.
__ADS_1
Entah apa yang terjadi nantinya, jika Brama sampai mengetahui wanita yang telah tidur bersama Gala sepupunya adalah calon istrinya Tiara Chandani Putri, wanita yang telah mengisi relung hatinya setelah masa khitbah mereka satu bulan yang lalu.
"Aku memang telah berulang kali menjelaskan pada wanita itu, jika aku ingin bertanggung jawab. Namun, wanita itu selalu menolakku. Dia lebih memilih calon suaminya yang katanya amat dicintainya. Dan aku cemburu dengan laki-laki tersebut, kenapa ia bisa merebut perhatian gadis ku! sumpah demi apapun aku harus bisa mendapatkannya. Tak peduli dengan siapapun calon suaminya, ia harus menjadi milik ku!" tegas Gala Abiseka yang mulai bangkit sisi arogannya.