Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 83. Mendekam Di Balik Jeruji


__ADS_3

Abiseka merengkuh tubuh istrinya dengan penuh kasih, ''Tiara maafkan Mas karena tidak bisa menjaga mu dengan baik. Aku sangat mencintaimu Tiara!'' ucap Abiseka yang kini banjir air mata.


Abiseka pun membopong tubuh istrinya keluar dari ruangan pengap tersebut dan membawa istrinya ketempat yang lebih nyaman.


Rumah untuk menyekap Tiara berada agak jauh lebih pemukiman penduduk, sehingga untuk sementara Abiseka bersama anggota keluarganya juga beberapa orang kepolisian yang masih berjaga-jaga di sana pun masih mengawasi tempat di mana Tiara di bekap. Ternyata Viola memiliki beberapa orang suruhan untuk bekerja sama dalam mengawalnya, akan tetapi kelima orang suruhannya yang berjaga-jaga di TKP berhasil di ringkus oleh pihak kepolisian.


Mama Arla, papa Reyhan, kedua orang tua Tiara yakni Bunda Pieska dan juga Ayah Tyo yang baru hadir di sana pun merasa iba melihat kondisi Tiara yang kini sangat menyedihkan.


Daniel, Stefanie dan juga Alex pun ikut prihatin melihat keadaan Tiara yang sudah tak beraturan oleh sebab perbuatan bejat Viola yang tak berperasaan.


''Maaf, izinkan aku mengecek dan mengobati Tiara!'' sela dokter Yashinta pada Abiseka yang terus meratapi keadaan istrinya yang masih terpejam tak sadarkan diri.


Abiseka pun menyetujuinya, ia membiarkan dokter Yashinta dan dokter Brama menangani keadaan Tiara yang memang harus mendapatkan pertolongan pertama dan penanganan khusus, sebab kini Tiara mengalami syok berat, lahir dan batinnya sangat terguncang oleh kenyataan pahit yang dirasakan saat ini.


Dokter Yashinta membawa peralatan medis lengkap untuk menangani Tiara, ia pun segera membersihkan wajah Tiara yang lebam dan penuh luka. Sedangkan dokter Brama tampak memasang selang infus dilengan Tiara dengan memberikan vitamin khusus lewat injeksi yang di suntikan dibotol infus wanita yang kekurangan cairan dan energi tersebut akibat kurang asupan makanan dan juga mengalami penyiksaan yang teramat sangat menyakitkan.


Abiseka keluar dari ruangan tempat di mana istrinya disekap, ia segera menemui Viola yang kini telah berada di dalam mobil tahanan bersama ke enam anak buahnya termasuk Gerry yang sebenarnya melakukan semua itu karena keterpaksaan.


Daniel, Stefanie dan Alex pun mengikuti langkah Abiseka, di susul pula oleh kedua orang tua Abiseka papa Reyhan dan mama Arla. Mereka merasa khawatir dengan kondisi Abiseka yang sedang kalut seperti ingin menerkam mangsanya habis-habisan.


Abiseka menuju mobil tahanan, ia menghampiri Viola yang sedang berontak ingin melepaskan diri dari tahanan polisi.


''Viola Arzeta, kau harus bertanggung jawab atas perbuatan mu! kau telah menyiksa lahir dan batin istriku!'' Abiseka menarik paksa tubuh Viola dari dalam mobil hingga gadis itu jatuh tersungkur.


Abiseka menarik paksa gadis itu dan melayangkan pukulan disudut bibirnya hingga berdarah.


''Balasan untuk mu yang telah tega menyakiti istri ku, dan yang ini balasan untuk mu yang hampir saja mencelakai calon buah hatiku!'' pekik Abiseka yang saat ini tidak dapat meredam emosinya pada wanita yang telah menyakiti lahir dan batin istrinya.


''Dan ini untuk kejahatan dan kebejatan yang telah kau perbuat hingga menjebak kami di malam pesta itu!'' amuk Abiseka dengan rahang yang mengeras.

__ADS_1


Tak peduli jika Viola bukan lawannya, yang terpenting bagi Abiseka saat ini, Viola harus merasakan bagaimana rasa sakit yang di alami Tiara istrinya.


''Pukul aku semaumu Abiseka Gyantara! aku sama sekali tidak merasa rugi, aku bahagia telah berhasil menghancurkan masa depan Tiara, sebentar lagi ia akan mati meregang nyawa!'' sumpah Viola sambil melebarkan tawanya seperti orang gila.


''Ha ... ha ... ha, dokter Brama. Hiks ... hiks ... aku mencintaimu! kita akan segera menikah!'' Viola tiba-tiba kehilangan akal sehatnya.


Karena obsesinya yang berlebihan, Viola kini seperti orang gila. Ia merasakan kegetiran ketika mendapati dirinya akan mendekam di balik jeruji karena kecerobohannya sendiri.


''Aku akan menikah! Aku akan menikah!'' Viola terkekeh sambil meracau, ia pun kembali digotong oleh polisi untuk masuk ke dalam mobil tahanan.


Amukan Abiseka mereda ketika melihat Viola kehilangan akal sehatnya.


''Hari ini aku cantik, cantik bagai bidadari! Yach ... bidadari!'' Viola bernyanyi sambil terkekeh geli. Ia benar-benar seperti orang yang kehilangan warasnya.


''Mas, kasian juga si Viola! kok ia tiba-tiba jadi tidak waras seperti itu?'' sergah Stefanie sambil berpegangan erat di lengan Daniel. Ia merasa takut melihat tingkah Viola yang sudah seperti orang gila.


''Ya Allah Mas, ia seperti seorang psikopat!'' Stefanie sangat merinding melihat tingkah absurd Viola.


''Itu karma dari perbuatannya sendiri sayang, Allah telah menunjukkan kekuasaannya dengan memberikan teguran pada wanita itu. Semoga setelah mendekam di balik jeruji, ia dapat bertaubat dan menyesali perbuatannya!'' sela Daniel yang merasa terenyuh ketika melihat Viola terkena gangguan kejiwaan.


''Nak, kuatkan kesabaran mu! berusaha untuk ikhlas menerima segala yang ada, sekarang wanita kejam itu sudah diringkus oleh pihak yang berwajib. Kau dan istrimu bisa merasakan aman dari kejahatannya. Sekarang yang terpenting adalah kesembuhan istrimu, kau harus terus berada di sampingnya. Buat ia merasa nyaman, sepertinya ia mengalami trauma yang berat. Mama sebenarnya juga kesal melihat kejadian Viola, akan tetapi Mama tidak ingin mengotori tangan mama untuk membalaskan kembali semua kejahatannya, biarlah pihak yang berwajib menangani semuanya. Mama yakin setiap perbuatan buruk akan kembali kepada pemiliknya dan ia akan dapat karma dari perbuatannya sendiri, dan sekarang kau lihatlah wanita itu sudah seperti orang kehilangan akalnya!'' ucap Mama Arla sambil merengkuh tubuh putranya dan mengusap lembut bahunya agar lebih bersabar menerima segala musibah yang ada.


Abiseka berusaha untuk menetralkan getaran emosinya yang sejak tadi membludak dan bergemuruh seperti ingin memangsa musuhnya habis-habisan. Tidak ada kata yang keluar dari lisannya yang ia pikirkan adalah keadaan istrinya yang sekarang masih belum sadarkan diri.


''Tiara ku, aku ingin menemuinya!'' hanya itu untaian kata yang terucap dari bibir kelu pria yang kini tampak frustasi menyaksikan istri kesayangannya kini terbaring lemah dan tak berdaya.


Abiseka kembali masuk ke dalam ruangan untuk melihat keadaan Tiara yang kini masih dalam penanganan dokter Brama dan dokter Yashinta diikuti pula oleh kedua orang tuanya.


Sedangkan, Daniel dan Stefanie masih bergabung bersama Alex asisten pribadi keluarga besar dan juga beberapa pihak kepolisian yang masih berjaga dari luar. Sebagian petugas keamanan lainnya segera beranjak pergi membawa beberapa tahanan dan kini telah diringkus.

__ADS_1


Villa terus saja terkekeh dan tersenyum-senyum seperti orang gila. Ia terlihat meracau dan berbicara sendiri. Sungguh malang dan tragis nasibnya, apa yang menjadi keinginannya kini tak terwujud dan ia pun harus mendekam di balik jeruji dalam keadaan mentalnya yang kini down, tidak ada seorangpun yang berada di sampingnya. Kedua orang tuanya pun belum mengetahui akan ke kajiannya. Ia dan orang suruhannya kini dalam satu mobil yang sama.


''Kalian bodoh dan sangat bodoh, asetku terkuras ratusan juta hanya untuk membayar kalian! bodoh, bodoh, bodoh!'' umpat Viola sambil membentur-benturkan kepalanya di sandaran mobil. Ia benar-benar terlihat tertekan dan frustasi dengan keadaannya.


''Aku tidak ingin mendekam di balik jeruji! lepaskan aku, aku tidak bersalah!'' teriak Viola yang kadang sadar dan kadang tidak, membuat semua yang ada di mobil merasa risih mendengar suara wanita setengah gila itu.


''Berisik, Nona Viola! ini semua gara-gara kecerobohan mu, hingga kita semua kena imbasnya!'' sela seorang suruhannya.


''Kalian berani menentangku! kalian telah kubayar dengan sangat mahal!'' sombong Viola dengan segala keangkuhannya.


''Itu waktu kau masih menjadi bos kami, dan memberikan nilai rupiah untuk kami. Sekarang semuanya sudah beda. Kau tidak bisa memberikan apa-apa lagi untuk kami, artinya kita sekarang sama-sama sebagai narapidana. Sekarang kau tidak ada artinya lagi untuk kami!'' sela salah satu orang suruhan Viola yang kini sudah mengganggap Viola layaknya sampah yang tidak bisa lagi untuk mereka pungut.


Gerry merasa gelisah memikirkan keadaan ibunya yang akan segera operasi di rumah sakit, sementara uangnya masih belum cukup dan na'asnya sekarang ia pun harus mendekam di balik jeruji.


''Kalian semua jangan berisik! sesama napi juga heboh, nanti kalian akan mendapatkan hukuman di balik jeruji.'' Seorang polisi pun menyela keributan yang tercipta antara Viola dan komplotannya.


Mereka semua pun terdiam, kecuali Viola ia terus saja mengomel dan meracau seperti orang gila.


Akan tetapi, semua napi itu seolah tak peduli dengan kegilaan Viola, polisi pun segera menggiring mereka menuju kantor polisi di pusat kota yang memakan waktu kurang lebih 3 jam dari tempat Tiara di bekap


***


''Bagaimana keadaan istri ku? apa ia sudah lebih baik?'' Abiseka segera menuju ke tempat di mana istrinya di rawat oleh dokter Brama dan dokter Yashinta.


''Ia masih terpejam, akan tetapi kau jangan khawatir. Ia akan segera siuman. Kami sudah memberikan pelayanan yang tepat untuknya,'' terang dokter Yasinta dan di angguki pula oleh dokter Brama.


Abiseka menghampiri istrinya yang masih belum sadarkan diri. Tiara benar-benar seperti putri tidur, membuat Abiseka semakin dilanda kesedihan melihat istrinya saat ini.


''Sayang, bangun! Mas di sini ada untuk mu!'' Abiseka mengecup lembut kening istrinya serta menggenggam jemari Tiara dan kembali meninggalkan kecupan di sana sebagai tanda cinta dan kerinduannya terhadap sosok istrinya yang begitu sangat dicintainya

__ADS_1


__ADS_2