
Melihat Tiara menangis pilu, Viola yang masih di dalam toilet pun segera keluar menemui Tiara, dirinya berlagak akting seperti seorang sahabat yang begitu sangat prihatin dengan sahabatnya. Viola pun segera merangkul Tiara.
''Tiara, kenapa kamu menangis?'' tanya Viola sambil mengusap air mata Tiara yang mengalir deras membasahi pipinya.
''Mas Bram, Vi. Ia datang kemari, akan tetapi ia pergi meninggalkan ku sendiri. Aku sangat mencintai Mas Bram, kenapa takdir ini begitu sangat menyakitkan?''
Tiara pun menangis sesenggukan, meratapi segala kedukaannya. Dirinya benar-benar merasa kehilangan sosok Brama. Sosok pemuda yang memang ia harapkan untuk menjadi calon imamnya akan tetapi impiannya tersebut kini pupus sudah membuat tiara semakin tak berdaya. Dirinya kini telah menjadi istri orang lain, sungguh tak mudah baginya untuk melupakan Brama yang telah pun bertahta di hatinya.
''Kamu harus belajar move on, Ra. Sekarang dirimu adalah istrinya kak Abiseka, seyogyanya kau harus belajar menjadi istri yang baik untuknya. Belajarlah untuk mencintai kak Abi, jalani semuanya dengan perlahan meskipun mulanya terasa berat,'' ucap Viola dengan sok bijaknya. Padahal, di dalam hatinya tak henti-hentinya mengumpat Tiara.
Tiara berusaha untuk menetralkan hati dan perasaannya, akan tetapi semua itu tak jua dapat menenangkan jiwanya. Wajah dan nama Brama senantiasa terngiang di benaknya.
''Terima kasih atas nasehat mu Vi. InsyaAllah ... aku akan belajar menjalani kehidupan baru ku dengan Mas Abi,'' ucap Tiara terdengar sendu.
Rasa sakit yang tercipta di hatinya pun kini berusaha untuk ia bendung, ketika suaminya Gala Abiseka datang kembali ke ruangannya.
''Sayang, kau menangis? apa yang terjadi?'' Abiseka mengusap lembut pucuk kepala Tiara yang masih tertutupi hijab.
Abiseka tidak mengetahui jika Brama sepupunya masuk ke ruang rawat inap istrinya Tiara, sebab sejak tadi dirinya keluar bersama Daniel untuk membahas hubungannya dengan Stefanie yang masih gantung dan belum ada kata putus setelah pernikahannya dengan Tiara yang masih tersembunyi dari public.
''Aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin pulang, aku bosan di rumah sakit,'' kilah Tiara dengan mengusap air matanya yang terasa memanas. Ia merasa risih dengan kehadiran Gala disisinya, akan tetapi ia sadar pemuda tersebut kini telah sah menjadi suaminya, dan Gala Abiseka berhak atas dirinya.
''InsyaAllah, nanti jika kesehatan mu sudah semakin membaik baru kita pulang ya? kau istirahat dulu dan jangan banyak pikiran.''
Gala Abiseka berusaha untuk membujuk istrinya, agar tetap tenang dan tidak terbebani pikiran.
Tiara hanya bisa menuruti saja ucapan suaminya, dihadapan sahabatnya Viola. Ia tidak ingin kentara jika dirinya tidak menyukai sosok laki-laki yang kini telah menjadi suaminya.
''Oh ya Ra ... aku pulang dulu ya? kau istirahat yang cukup, sehat-sehat ibu dan calon bayinya!'' ucap Viola seraya berpamitan dengan Tiara dan juga Abiseka. Padahal di dalam hatinya Viola tidak henti-hentinya menyoraki kemalangan Tiara.
Kini hanya tinggal Tiara dan Abiseka yang berada di dalam ruangan tersebut, keduanya tampak terlihat canggung, keduanya sama-sama diam tanpa berucap kata.
__ADS_1
Tiara memalingkan wajahnya, ia tidak ingin menampakkan wajahnya terhadap suaminya. Ia lebih memilih memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.
''Sayang, kamu sudah tidur?'' tanya Brama sambil menggoyangkan tubuh istrinya.
''Sepertinya ia benar-benar terlelap, cepat pulih sayang. Hello, buah hati Daddy dan Mommy, sehat-sehat di dalam sana ya? jangan buat mommy mu bersedih. Daddy sayang kalian,'' ucap Gala Abiseka sambil mengusap perut Tiara dan mengecupnya lembut.
Tiara yang pura-pura tertidur pun entah kenapa begitu merasakan kehangatan atas perhatian khusus yang diberikan oleh Abiseka terhadapnya.
''Ya Allah, apa yang terjadi pada ku? kenapa hati ku terasa nyaman dengan sentuhan dan perhatiannya? apakah ini hanya bawaan dari ibu hamil? ya Allah ... manjanya aku, bukankah aku begitu membencinya? tapi kenapa aku merasakan ketenangan atas sikap manisnya padaku? aku tidak boleh lemah, aku tidak boleh membuka celah untuknya, aku menikah dengannya hanya karena bayi yang sedang aku kandung, usai melahirkan aku harus bercerai dengan Mas Gala dan kembali dengan Mas Brama!'' bisikan hati Tiara dengan mengikuti egonya.
Gala Abiseka mengira istrinya benar-benar terlelap, ia pun mengangkat ponselnya yang telah berkali-kali bergetar dan sengaja dalam mode silient.
''Iya, maaf ... aku sedang ada kesibukan, Daniel telah menjemputmu di bandara.''
Abiseka pun akhirnya merespon Stefanie kekasihnya.
''Aku sudah dari sejak tadi menunggu mu, Kak. Sampai karatan dan lumutan, Daniel juga sudah 3 jam tidak datang-datang, jangan sampai kalian mempermainkan ku. Memangnya sesibuk apa aktivitas mu sampai mengabaikan calon tunangan sendiri?'' tanya Stefanie dengan melakukan aksi prrotes.
Gala berusaha untuk menenangkan Stefanie yang mulai risih dan tidak sabaran menunggu jemputan.
''Kau benar-benar berubah, Kak. Terlalu dingin dan datar,'' ucap Stefanie yang mulai terlihat semakin merajuk.
''Maafkan aku Tefa,'' ucap Gala dengan berusaha menenangkan Stefanie kekasihnya.
Gala masih menyembunyikan pernikahannya dari Stefanie yang masih berstatus kekasihnya, ia khawatir gadis itu akan syok dan mengamuk jika mendengar kenyataan jika dirinya telah menikah.
''Tefa, siapa dia? jangan bilang jika Tefa itu kekasihnya Mas Abi, ini tidak boleh dibiarkan!''
Tiara yang pura-pura tidur pun merasa sedikit tercubit mendengar percakapan antara Gala dan Stefanie yang ia yakini adalah teman istimewa suaminya.
Tiara membalikkan tubuhnya, ''Aku ingin minum, aku haus. Aku juga lapar,'' ucap Tiara yang merasa tidak suka melihat Abiseka suaminya berbicara dengan seseorang di seberang telfon yang ia yakini adalah seorang wanita.
__ADS_1
Entah hormon ibu hamil Tiara yang membuat ia begitu sensitif entah karena dirinya yang merasa cemburu jika Gala bersama wanita lain ia pun tak tau.
''Sayang, kamu sudah bangun?'' Abiseka mengecup kening Tiara, ia pun mematikan ponselnya tanpa berpamitan dengan Stefanie yang masih terus mengoceh di balik telfon.
''Aku suapi, ya? aaaaa ... buka mulutnya,'' titah Abiseka sambil menyodorkan sendokan bubur ayam ke mulut Tiara.
''Aku tidak suka bubur ayam, aku ingin sayur bening.'' Tiara menutup hidungnya, semenjak kehamilannya, dirinya memang tidak suka mencium bau-bau amis. Inginnya hanya rebusan ataupun sayur bening.
Abiseka memijit kepalanya memikirkan permintaan bumil yang sangat diluar nalarnya.
''Tunggu sebentar, biar aku belikan sayur bening dulu!'' Abiseka hendak beranjak pergi mencari rumah makan yang terdekat dengan rumah sakit.
''Aku tidak mau, aku mau Mas Abi yang masak!'' sela Tiara terdengar manja.
Tiara benar-benar bingung dengan perasaannya sendiri, meskipun lidahnya berucap benci pada suaminya, akan tetapi ... hatinya begitu menghangat ketika Abiseka berada di sisinya dan memberikan perhatian hangat untuknya.
''Aaaku, aku tidak bisa masak.'' Abiseka terlihat kebingungan, akan tetapi entah kenapa Tiara semakin senang melihat wajah gusar suaminya.
''Aku tidak ingin mendengar kata penolakan,'' ucap Tiara dengan raut wajah masam.
''Iya ... iya, aku pulang kerumah Mama dulu untuk membuatkannya, akan tetapi siapa yang menjaga mu? Apa aku hubungi bunda dulu untuk menjagamu di sini?''
''Terserah kamu!'' ucap Tiara kembali ketus. Membuat Gala semakin tidak memahami inginnya bumil.
***
Di sisi lain.
Stefanie nampak ngedumel dan hendak membanting ponselnya. Hatinya, merasa sangat panas ketika mendengar suara manja seorang wanita di seberang telfon ketika dirinya sedang asyik bertelfonan dengan Gala Abiseka kekasihnya.
''Kak Abi berbicara dengan siapa? awas saja, jika sampai ia macam-macam. Aku akan memberikan hukuman padanya,'' dumel Stefanie yang tidak mengetahui jika Abiseka menyembunyikan pernikahannya darinya.
__ADS_1