
"Pergilah! siapa yang mengharap tanda pamit dari mu?" cetus Tiara tanpa menoleh ke arah Gala. Ia mengusir Gala dari tokonya.
"Ingat, jangan pernah bermain api di belakangku!" ancam Gala sebelum pergi dari hadapan Tiara.
Sementara Tiara tak peduli sama sekali dengan gertakan Gala Abiseka, masuk telinga kiri keluar telinga kanan. "Memang ia pikir, dia siapa? saudara bukan, calon suami juga bukan! dasar pria aneh dan tukang paksa. Memang dia pikir aku takut mendengar ancamannya," gerutu Tiara sambil mengatup mulutnya yang tiba-tiba kembali mual dan ingin muntah.
"Syukurlah, dia sudah pergi. Jika tidak, pasti ia akan kepedean jika aku mengandung anaknya. Padahal, hanya masuk angin biasa!" omel Tiara yang entah kenapa akhir-akhir ini dirinya sangat ceriwis sekali.
"Ya Allah, kenapa akhir-akhir ini aku begitu sensitif dan susah sekali untuk mengendalikan diri ku. Sudah seperti emak-emak arisan selalu berceloteh."
"Hoek ... hoek ... hoekkk," Tiara kembali memuntahkan isi perutnya. Wajahnya pun terlihat semakin pucat pasi.
"Ya Allah, aku tidak mungkin hamil? kenapa tanda-tandanya hampir mirip sekali seperti ibu-ibu yang sedang ngidam? apa aku ke apotek saja dulu, untuk membeli testpack?" Tiara menimbang-nimbang keadaannya.
"Tapi, sebaiknya aku minum sari kurma dulu, untuk suplemen kesehatan ku agar stamina ku kembali stabil."
Tiara berjalan menuju etalase obat-obat herbalnya, ia mengambil satu botol sari kurma sebagai vitamin penunjang, agar tubuhnya kembali fit.
Tiara memang sudah sejak lama mengkonsumsi obat-obat herbal untuk daya tahan tubuhnya. Ia hampir-hampir tidak pernah mengkonsumsi obat dokter. Jika sakit, ia selalu menggunakan resep herbal alami yang memang sudah sangat dikuasainya.
__ADS_1
Sudah 5 tahun terakhir ini Tiara mempelajari resep obat-obat herbal, hingga akhirnya ia pun memutuskan untuk membuka usaha yang berkaitan dengan pengobatan herbal at thibbun Nabawi sebagaimana yang telah dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Hingga 4 bulan terakhir ini toko herbalnya semakin ramai dikunjungi oleh para customer dari berbagai tempat.
"Bismillah ... semoga sari kurma ini bisa menjadi penyembuh untuk rasa sakit yang kualami!" gumam Tiara sambil menuangkan dua sendok makan sari kurma ke dalam mulutnya.
"Alhamdulillah, otw apotek dulu!" Tiara menutup tokonya sebentar, iapun segera mengendarai motor maticnya menuju apotek xx.
Tidak butuh waktu lama, hanya dalam waktu 5 menit Tiara sudah sampai tujuan. Dengan tubuh yang gemetar dan dipenuhi rasa malu, Tiara pun membeli dua testpack sekaligus. Sementara, penjaga apotek nampak tersenyum. Ia pikir Tiara sudah menikah, meskipun masih terlihat sangat muda. Namun, penjaga apotek tersebut tetap berpikir positif tanpa berpikir yang bukan-bukan terhadap Tiara.
Setelah selesai melakukan transaksi, dengan perasaan yang tak menentu Tiara mempercepat laju kendaraannya, agar secepatnya sampai di tokonya.
Tiara memarkirkan motornya dan buru-buru masuk ke dalam tokonya. Tanpa mengulur waktu lagi ia pun berjalan menuju toilet untuk mengambil urinenya sebagai alat bantu untuk mengecek kondisi yang dialaminya melalui testpack apakah dirinya positif hamil atau memang masuk angin biasa.
Dengan perasaan yang tak karuan, diikuti oleh degup jantung yang semakin berdebar kencang, Tiara pun mencelupkan alat testpack itu kedalam urinenya yang ia tampung di cup bekas air mineral. Awal mula tidak terlihat, lama-lama alat tersebut pun bekerja dengan baik.
Berapa detik kemudian, Tiara segera mengecek kembali hasil testpacknya. Dengan perasaan yang tak beraturan dan tubuh yang terkulai lemas Tiara histeris ketika melihat kenyataan yang ada. Dirinya benar-benar terlihat syok berat.
"Tidakkkkk, positif garis dua!" Tiara histeris, denyut nadinya seolah berhenti sejenak. Pasokan nafasnya seakan kehabisan untuk sekedar berucap kata.
"Ya Rabb, ujian apa lagi ini? kenapa semua terasa berat? mengapa aku harus mengalami hal yang terburuk dalam hidup ku? sepanjang nafas hidupku, aku berusaha untuk menjaga kesucian cinta ku pada sosok laki-laki Sholeh yang akan menjadi imam ku nanti, kenapa di rahim ku harus tumbuh benih laki-laki bejat itu? pria yang sama sekali tidak kusukai keberadaannya di sisi ku. Kenapa ia hadir dalam kehidupan ku, di saat aku akan melangsungkan pernikahan ku dengan calon suami ku satu bulan lagi?" Tiara seolah protes dengan takdir yang telah tergambar dalam kehidupannya.
__ADS_1
"Ya Allah, sungguh aku telah mengotori hijab yang telah ku kenakan dari semenjak 8 tahun terakhir ini. Apalah artinya aku menutut ilmu syar'i hingga akhirnya aku pun terjebak dalam lingkaran dosa dan perzinahan yang menyesatkan!" ucap Tiara terdengar histeris dan memilukan.
Tiara melorotkan tubuhnya kelantai, ia membenamkan wajahnya bertumpu pada kedua lututnya. Tiara menangis sejadi-jadinya meratapi segala kedukaan dan kepedihan yang kini menderanya.
Dinding toilet tempat dirinya bersandar kini menjadi saksi bisu akan kegundahan hatinya. Testpack dalam genggamannya kini pun ia rem*s dengan rasa geramnya, seolah tak ikhlas menerima kenyataan yang ada.
"Andai saja bisa ku putar waktu. Tak ingin aku menghadiri pesta laknat itu, haruskah aku menyalahkan Viola sahabat ku? sebab ia yang telah mengajak ku untuk menemaninya datang ke acara party pria tak berakhlak itu, sungguh aku sangat membencinya. Ingin kucabik saja dirinya untuk membalas segala rasa sakit ku!" geram Tiara yang kini sedang tidak bisa mengontrol emosi jiwanya.
Di tariknya kerudung segi empat yang sedang ia kenakan saat ini, diuraikannya rambut lurus sepinggangnya. Ia pun mengguyurkan kepalanya dengan air shower sehingga gamis yang ia kenakan pun kini telah basah kuyup.
"Hiks ... hiks ... hiks," Tiara terus meratapi nasibnya. Beningan air mata yang mengalir dari sudut pipinya menjadi saksi akan segala kedukaannya.
Sungguh, Tiara benar-benar tidak siap untuk mengatakan apa yang telah menimpanya pada calon suaminya Brama Adyaksa Kyswara dan juga pada ayah dan bundanya.
"Mas Bram pasti akan membenciku karena dianggap telah mengkhianatinya. Ayah dan bunda pun pasti akan mengecamku karena telah menganggap ku anak yang kotor dan tak berguna, karena telah mengotori nama baik keluarga?" berbagai lintasan pertanyaan terbesit pada hati dan pikiran Tiara. Dirinya benar-benar tak sanggup menerima kenyataan yang ada.
Cukup lama Tiara mengguyuri tubuhnya dengan air shower, tak ia sadari tubuhnya kini telah menggigil kedinginan. Wajahnya pun semakin pucat pasi, ia pun tidak menghiraukan lengkingan para customernya yang kini telah ramai mengerubungi tokonya untuk membeli suplemen herbal.
Para customer Tiara masih terus setia menunggunya, mereka mengira mungkin Tiara sedang mendirikan ibadah shalat Sunnah Dhuha, mengingat Tiara yang notabenenya adalah wanita shalihah. Ada pula yang beranggapan mungkin Tiara sedang buang hajat. Akan tetapi, sudah cukup lama menunggu tak tampak juga batang hidung si empunya toko. Sehingga ada yang jengah menunggu, ada yang sudah berapa kali bolak-balik ke toko herbal milik Tiara. Namun, tak jua penghuninya keluar dari dalam sana.
__ADS_1
Bahkan, ada yang menghubungi ponsel Tiara berkali-kali namun tidak ada jawaban. Ketegangan di antara para customer itu pun terminimalisir ketika kehadiran seorang pemuda yang terlihat tampan dan gagah yang kini hadir di tengah-tengah kerumunan mereka.
"Maaf, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara dan saudari semuanya. Apa yang terjadi? kenapa kalian semua berdiri dan berkerumunan di sini? apakah pemilik toko sedang tidak ada di tempat?" tanya dokter Brama yang baru saja hendak menemui Tiara dan menjemputnya untuk fitting baju pengantin mereka.