Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 12. Merasa Jijik


__ADS_3

"Halo, Alex tolong kau cari tahu mengenai seorang wanita yang semalam bersama ku di cafe xx, Tiara Chandani Putri yang aku jadikan sebagai kekasih dadakanku ketika aku mempersembahkan lagu Tiara di acara party ku semalam!" titah Gala Abiseka pada asisten pribadinya yang bernama Alex.


"Baiklah, tuan. Maaf, semalam aku meninggalkan cafe sebelum acara selesai, karena ada urusan pribadi. Hingga aku wakilkan semua itu pada semua anggota Gyantara Music Grup untuk menghandle acara party mu," ujar Alex yang merasa khawatir jika tuan mudanya memarahinya.


"Baiklah, kau ku maafkan. Hari ini aku sedang istirahat di rumah, aku sedang tidak enak badan. Semoga papa dan mama tidak memarahi ku, bukannya aku tidak ingin mempelajari manajemen perusahaan tapi aku lebih menikmati dunia musik ku yang telah lama aku geluti!" terang Gala memijit pelipisnya.


Gala enggan untuk mengembangkan perusahaan papanya, PT. Gyantara Fortuna Group yang bergerak pada pengolahan minyak goreng kelapa sawit yang sangat terkenal di ibukota bahkan telah diimpor pada beberapa Negara. Sampai saat ini, ia tidak juga terjun mengembangkan bisnis keluarganya. Hanya papanya lah yang turun tangan mengurusi perusahaan mereka dan menjabat langsung sebagai CEO di bantu pula oleh mamanya yang memang dari sebelum menikah sudah menjadi wanita karir yang sukses di masa mudanya, jadi mamanya lah yang menjadi direktur utama di PT Gyantara Fortuna Group milik keluarga mereka.


Gala pun mematikan ponselnya, "Tiara oh Tiara ... engkaulah bidadari syurga ku. Ku harap berhentilah untuk menolak ku, aku yakin cepat atau lambat dirimu akan berada dalam genggaman ku! mengingat adanya hubungan panas di antara kita, aku sangat yakin dirahim mu benar-benar telah tertanam benih ku. Mengingat sudah berapa jam kita mengulangi percintaan semalam!" gumam Gala Abiseka dengan tersenyum devil ketika mengingat kembali potongan-potongan kejadian panasnya bersama Tiara yang benar-benar membuat dirinya mabuk kepayang dengan pesona Tiara Chandani Putri.


Sementara disisi lain, Tiara tampak mengumpat Abiseka yang terus menerus mengejarnya. Dirinya, benar-benar merasa risih dan tertanggu oleh tingkah absurd pemuda tersebut.


"Dasar laki-laki tidak tahu malu, berani-beraninya ia menghubungiku setelah apa yang ia lakukan pada ku. Sampai mati pun aku tidak sudi untuk bersanding dengannya!" umpat Tiara. Ia benar-benar merasa jijik mendengar suara Gala Abiseka, apalagi sampai bertemu dengan pemuda itu, sungguh Tiara berusaha untuk menghindarinya.


Tidak butuh waktu lama, bagi Alex selaku asisten pribadi keluarga Gyantara untuk menemukan informasi mengenai Tiara. Ia pun menghubungi tuan mudanya Gala Abiseka mengenai keberadaan Tiara kini.


"Terima kasih, kau telah bekerja dengan baik. Gajimu akan ku naikkan bulan depan, sebagai bonus atas kecerdasan dan kecekatan mu!" ucap Gala pada Alex asisten pribadi keluarganya.


"Sama-sama, Tuan." Alex tersenyum senang melihat tuan mudanya sepertinya terdeteksi bucin parah pada seorang gadis bernama Tiara Chandani Putri. Sebab, selama ini yang ia tahu Gala Abiseka kerap kali gonta-ganti pacar di sela-sela aktivitas musicnya.


"Sayang, aku akan datang menemui. Aku mengkhawatirkan mu, aku takut terjadi apa-apa dengan mu setelah kau pergi begitu saja meninggalkan diriku sendiri di cafe xx. Jaga anak kita ya? seperti yang aku katakan semalam aku pasti akan mempertanggung jawabkan perbuatan ku. Aku tidak ingin anak kita lahir tanpa ayah!" isi pesan WhatsApp yang di kirimkan oleh Gala Abiseka untuk Tiara.


"Dasar laki-laki gila! aku semakin merasa jijik mendengar dan membaca isi pesannya!" Tiara menghempaskan tubuhnya di kasur, di tariknya tirai tokonya sebagai pembatas etalase herbal dan tempat istirahatnya.

__ADS_1


Toko herbal milik Tiara memang tidak terlalu besar, hanya satu petak. Di dalamnya ada tembok sebagai pembatas untuk dapur dan toilet. Cukup nyaman untuk wanita yang masih single seperti Tiara.


Tiara cukup betah berada di dalam toko tersebut, toko herbal yang baru ia rintis tiga bulan terakhir ini setelah dirinya lulus sarjana S1-nya.


Meskipun orang tuanya memiliki perusahaan dan ibunya juga pemilik boutique muslimah ternama. Tiara berusaha untuk mandiri, ia tidak ingin bergantung pada kedua orangtuanya. Ia bertekad untuk menjadi wanita muslimah yang mandiri, tanpa bergantung pada siapa pun, termasuk calon suaminya kelak Brama Adyaksa Kyswara. Tiara tidak ingin terlalu menggantungkan hidupnya pada orang yang akan menjadi suaminya nanti. Baginya, wanita harus tetap berkarya agar tidak mudah untuk di tindas oleh siapapun dikemudian hari nanti.


"Assalamu'alaikum," suara seseorang terdengar lembut dari balik tirai. Tiara pikir ada customer tokonya yang hendak membelikan obat herbal padanya.


"Wa'alaikumsalam, ia sebentar!" Tiara nampak buru-buru mengenakan jilbab lebarnya.


Tampak seutas senyum mengembang dari balik masker yang digunakan oleh seorang pemuda yang Tiara yakni adalah customer toko herbalnya. Pemuda tersebut mengenakan topi dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya juga masker sebagai penutup mulutnya yang sengaja ia kenakan demi melihat Tiara dari jarak dekat.


"Maaf, menunggu. Cari obat apa Mas?" tanya Tiara, tanpa menaruh curiga sedikitpun terhadap pemuda yang kini telah berdiri tegak di hadapan etalase obatnya.


"Ia benar-benar terlihat manis, aku jadi ingin memakannya lagi!" batin Gala Abiseka dengan deru nafas yang memburu.


"Maaf, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Tiara mengulangi kalimatnya sambil menatap sekilas pada wajah pemuda yang bersembunyi di balik masker tersebut.


"Maa syaa Allah, perawakannya mirip Mas Brama. Bedanya, Mas Brama ku penuh dengan kelembutan dan kesederhanaan." Tiara bermonolog di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyadari jika pria yang ada di hadapannya tersebut adalah Gala Abiseka, pemuda yang sangat dibenci olehnya.


"Aku butuh obat penawar rindu, dan sekarang obat yang aku butuhkan sudah berdiri di hadapan ku!" ucap Gala Abiseka dengan membuka topi dan masker yang di kenakan olehnya. Kecuali, kacamata masih bertengger manis di hidungnya.


"Kau!" pekik Tiara histeris.

__ADS_1


"Jangan takut, aku kemari hanya ingin mempertanggungjawabkan perbuatan ku padamu. Aku akan menikahi mu dan menemui orang tua mu!" ucap Abiseka terlihat santai. Ia pun duduk bersila di kursi yang memang telah di sediakan khusus di luar etalase toko herbal milik Tiara.


"Jangan gila Gala Abiseka Gyantara! Aku tidak mungkin menikah dengan mu, aku tegaskan sekali lagi pada mu tidak lama lagi aku akan segera menikah dengan tunangan ku! jangan bermimpi aku akan bersanding denganmu, camkan itu!" tegas Tiara dengan emosi yang memuncak mengerubungi jiwanya.


"Aku yakin, calon suami mu tidak akan berkenan untuk menikahi mu jika ia mengetahui wanitanya sudah tidak suci lagi. Apalagi sampai hamil anak pria lain!" ucap Gala dengan sengaja memanfaatkan keadaan. Dengan cara apapun Gala Abiseka akan terus berjuang untuk mendapatkan Tiara, meskipun terpaksa mengucapkan apa yang seharusnya tidak boleh ia katakan.


Tiara tertunduk lesu, wajahnya terlihat muram. Tiara merasakan hatinya bagai tersusuk sembilu bisa ketika mendengar ucapan Gala Abiseka yang sangat menyayat hatinya. Bagaimana pun dirinya memang sudah tak suci lagi, ia pun tak yakin apakah dokter Brama Adhyaksa Kyswara akan menerima segala kekurangannya apalagi saat ini ia bukanlah gadis perawan lagi.


"Maafkan aku Tiara, aku terpaksa mengatakan hal yang menyakitkan padamu. Agar kau sadar bahwa dirimu kini hanyalah pantas bersanding denganku. Sungguh, aku tak tega melihat kepedihan di matamu. Andai dirimu ingin kusentuh rasanya inginku memelukmu dalam dekapanku. Memberikan sedikit ketenangan dan kehangatan untuk menguatkan jiwamu. Akan tetapi, aku sadar ... dirimu begitu membenciku. Dapat ku lihat dari bahasa tubuh mu, kau begitu merasa jijik melihatku!" batin Abiseka meringis pilu.


"Pergi dari hadapanku dan jangan pernah kembali! menikah atau tidaknya aku dengan calon suamiku nanti. Aku tidak akan pernah menerimamu dalam hidupkuku. Aku membencimu, sangat membencimu!" ucap Tiara dengan linangan air mata yang tidak bisa lagi untuk dibendung.


Tiara benar-benar frustasi dengan keadaan yang menimpanya, ia benar-benar merasa jijik melihat tampang pria blasteran Indo-Turki di hadapannya. Ketampanan dan kharisma Gala Abiseka sedikit pun tidak mampu untuk menghipnotisnya.


"Baiklah, aku akan pergi! jaga diri mu baik-baik, aku akan tetap menunggu mu sampai kau berkenan menerima pertanggungjawaban ku. Sebejat-bejatnya aku, aku tidak mungkin membiarkan diri mu menanggung semua kepedihan ini sendirian!" timpal Gala Abiseka dengan menatap punggung Tiara yang enggan menoleh ke arahnya.


Ketika Gala benar-benar pergi dari hadapannya, barulah Tiara membalikkan tubuhnya. Sekeras apapun sikapnya, bagaimanapun juga Tiara masih memiliki hati nurani. Ia terpaksa bersikap tegas dan ketus pada pemuda yang telah menodainya.


"Ya Allah, ampuni hamba sebab telah berkata kasar dan menyombongkan diri terhadapnya. Hamba benar-benar merasa jijik melihatnya, pemuda tersebut telah menghancurkan masa depan hidupku. Bukannya hamba menentang takdir-Mu, tapi hamba belum ikhlas menerima semua kenyataan ini. Ini sangat berat untukku ya Rabb!" lirih Tiara dengan emosi yang masih menguasai jiwanya.


Tangis Tiara pecah seketika, bulir air mata terus mengalir deras di pipi mulusnya.


Tiara terus menangis meratapi nasibnya, ia kembali menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya. Memikirkan bagaimana nasibnya kedepan. Ia pun merasa khawatir jika ia sampai mengandung anak dari laki-laki yang sangat dibenci olehnya.

__ADS_1


"Jangan sampai di rahim ku tertanam benihnya, jika itu terjadi aku bisa gila!" gumam Tiara penuh kecemasan sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata.


__ADS_2