
''Mana bisa begitu Tia, dengarkan dulu penjelasan ku! kau tidak boleh mengambil keputusan secara sepihak, aku sangat mencintaimu dan aku tidak mungkin menceraikan mu,'' tegas Abiseka dengan rahang yang mengeras menahan emosinya ketika mendengar istrinya minta cerai. Ungkapan kata-kata yang paling dibenci oleh Abiseka, sebab sedikit pun tidak terlintas di hatinya untuk bercerai dengan Tiara.
''Apa pun alasannya aku ingin tetap bercerai darimu, aku menyesal telah menikah denganmu. Jika aku tahu kau seorang penjahat wanita dan seorang pria yang buruk dan suka mabuk-mabukan, aku tidak mungkin menerimamu menjadi suamiku. Sudah kukatakan sebelumnya aku mampu hidup tanpamu, aku mampu membesarkan anak yang ada di rahimku. Tapi, kau selalu mengejarku dan menekanku untuk segera menikah denganmu. Aku benci pada mu Abiseka Gyantara, aku mohon ceraikan aku! dengan begitu kau akan bebas menjalani hidupmu bersama kekasihmu!'' pungkas Tiara dengan mengingat kembali setiap ucapan Abiseka ketika sedang mabuk semalam.
''Aku udah memutuskan hubunganku dengan Stefanie, aku ingin menjalin hubungan yang layak denganmu sebagai pasangan suami istri. Stefanie adalah masa laluku, aku sama sekali tidak menjalin hubungan lagi dengannya ketika aku menikah denganmu. Ia baru saja pulang dari luar negeri. Mulanya kami memang ingin menikah dan telah dijodohkan oleh orang tua kami akan tetapi aku terlanjur telah menikah denganmu oleh sebab peristiwa yang menimpa antara aku dan dirimu ketika dimalam pesta itu. Aku rela meninggalkan Stefanie demi dirimu Tiara Chandani Putri, aku mohon percayalah padaku!'' pinta Abiseka sambil berlutut dan menggenggam jemari tangan istrinya yang masih duduk di atas kursi kebesarannya.
''Apa pun alasannya, aku tetap ingin bercerai denganmu! dari sejak mula aku memang tidak mencintaimu dan tidak pernah mengharapkanmu menjadi suamiku. Mulai detik ini kau pergilah dari hadapanku dan uruslah perceraian kita. Jika kau tetap bergeming di tempatmu biar aku yang pergi,'' sentak Tiara dengan menghempaskan tangan Abiseka dan bangkit dari kursinya. Ia hendak mengambil tas selempangnya dan meninggalkan Abiseka sendirian di toko miliknya.
''Satu langkah saja kau berani melangkahkan kakimu untuk keluar dari tempat ini dan tetap nekat ingin bercerai denganku, jangan panggil aku dengan Gala Abiseka Gyantara jika aku tidak berani melakukan hal yang nekat padamu!'' ancam Abiseka yang mulai terpancing emosi dengan tingkah absurd Tiara.
''Kau mengancamku Abiseka Gyantara, sayang sekali aku tidak takut dengan semua ancamanmu. Kau yang membuat hancur masa depan hidupku dan menghempaskan segala kelembutanku, jangan harap aku bisa menghormatimu sebagai suamiku seutuhnya.''
Mood ibu hamil itu pun semakin meradang. Tiara benar-benar tidak bisa menguasai emosinya sama sekali semenjak dirinya gagal menikah dengan Brama Adyaksa Kyswara, pemuda yang sangat diharapkan menjadi calon imamnya membimbingnya dalam menuju jalan yang diridhoi oleh Allah.
Tepatnya, Tiara masih belum ikhlas dengan takdir buruk yang telah menimpanya. Ia berusaha untuk membuka hati pada Abiseka Gyantara, akan tetapi semua itu percuma. Sekuat apapun ia memaksa untuk menerima Abiseka dalam hidupnya, nyatanya ia tidak mampu menerima sisi buruk dari pemuda itu sekecil apapun kesalahan yang diperbuatnya.
''Tiara Chandani Putri, sekali lagi aku tegaskan jangan pergi!'' ucap Abiseka dengan suara lantang.
Pertengkaran di pagi hari tersebut pun terus berlanjut sebab Tiara nekat untuk tetap keluar, ia pun tetap ingin membuka handle pintu tokonya. Ia ingin keluar dari arah dapur, akan tetapi pergerakannya langsung ditahan oleh suaminya.
__ADS_1
''Sudah kuperingatkan jangan pergi, namun kau masih nekat untuk pergi dengan segala egomu.''
Abiseka menarik pergelangan tangan Tiara dan mengukung gadis itu di tembok dapur. Tanpa aba-aba ia pun melah*p dengan rak*s bibir ranum istrinya dengan deru nafas yang memburu.
Abiseka terus beraktivitas di bibir istrinya, tanpa sedikitpun membiarkan Tiara untuk sekedar berucap kata. Ciuman itu pun semakin dalam, Abiseka membelit lidah istrinya dengan deru nafsu yang semakin menggila. Ia terus memainkan lidahnya di rongga mulut Tiara, hingga membuat istrinya kesulitan bernafas. Akan tetapi, Abiseka terus bergerilya di sana menuntaskan segala hasratnya yang dibumbui amarah dan nafsu yang tak terkontrol akibat terpancing emosi pada istrinya yang sama sekali tidak mengubriskan ucapannya.
Tiara ingin menolak perlakuan suaminya terhadapnya, akan tetapi entah kenapa biduk hawa nafsunya mendominasinya untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar cumbuan di atas bibir.
Entah angin apa yang merasukinya, Tiara pun membalas ciuman suaminya dengan hasrat yang bergelora. Hingga keduanya pun terbang di atas puncak nirwana.
Abiseka menuntun istrinya yang sedang hamil muda itu berbaring di atas kasur, keduanya pun masih terus melakukan penyatuan bibir dengan deru nafsu yang semakin tak terkontrol.
Dalam sepanjang nafas hidupnya, ini yang kedua kalinya Tiara melakukan peleburan raga dengan laki-laki yang kini telah menjadi pasangan yang halal untuknya.
Jika kemarin mereka melakukannya tanpa sengaja melalui jalan yang salah, akan tetapi kali ini mereka bebas untuk melakukannya sesuka hati sebab sudah halal untuk saling menyentuh.
''Mas Abi, uhh ... arnghhhh.'' Tiara meremas spreinya ketika berada di puncak kenikmatan.
Abiseka pun ikut mengerang nikmat ketika mendengar desah*n Tiara yang begitu memantik gairah nafsunya.
__ADS_1
Wajah Tiara terlihat merona menahan malu, sebab tanpa sadar ia telah mengikuti permainan suaminya dengan begitu mengikuti gelora nafsunya yang begitu berkabut gairah tanpa bisa untuk ia menolak dan melewati sedikit pun kesempatan emas itu, mereguk surga dunia dengan sejuta kenikmatan yang tiada taranya.
''Terima kasih istri ku, jangan pernah lagi kau ucapkan kata pisah. Sebab itu akan membuat ku gila, aku mencintai semua yang ada dalam diri mu. Kelebihan atau pun kekurangan mu semuanya teramat berharga bagi ku. Bibir ini hanyalah milik ku seorang,'' ucap Abiseka sambil mengecup lembut bibir Tiara yang begitu manis terasa.
Tiara hanya terdiam tanpa berucap kata, dirinya benar-benar malu sebab begitu sangat menikmati setiap sentuhan lembut suaminya padahal sebelumnya dirinya begitu sangat benci dengan pria yang kini ada dihadapannya.
Ucapan kata pisah itu hanya pemanis kata, dengan begitu mudahnya lenyap di terbangkan angin. Nyatanya Tiara kini masih terus berada dalam sangkar emas suaminya. Sebesar apapun niatnya ingin bercerai dengan suaminya, semua itu terkalahkan oleh sikap lembut dan romantis Abiseka terhadapnya.
Adegan diatas ranjang, yang begitu sangat haerdang tersebut cukup menjadi saksi jika Tiara secara perlahan dan tanpa disadari telah tumbuh benih cinta dihatinya terhadap laki-laki yang kini telah menjadi suaminya itu. Tapi, Tiara terus menyangkalnya dengan segala ke egohannya.
''Jangan tutup matamu, aku jadi ingin terus memakan mu jika kau terus bersikap seperti ini. Kau begitu sangat menggemaskan,'' ucap Abiseka terdengar lembut dan menggoda di daun telinga istrinya yang begitu sangat membangkitkan kabut gairahnya.
Sementara, Tiara hanya terdiam. Dirinya benar-benar malu pada dirinya sendiri yang kini begitu terlihat lemah dan bodoh di hadapan suaminya, lidahnya terasa kelu untuk sekedar berucap kata.
***
Di sisi lain, di apartemen xx milik Stefanie.
''Mengapa kau berada di kamar ku? jangan bilang kau telah menyentuhku memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!'' cecar Stefanie ketika melihat kehadiran Daniel Mahesa Syailendra di kamarnya dengan berbaring di sofa yang tak jauh dari tempat tidur king size milik Stefanie.
__ADS_1
''Jangan terlalu memiliki rasa percaya diri yang tinggi nona Stefanie Amber Lynn, kau bukan selera ku. Jadi, aku tidak mungkin menyentuh mu,'' sela Daniel bersikeras membela dirinya di hadapan gadis yang telah membuatnya kewalahan semalaman terus menjaganya dalam keadaan mabuk oleh sebab patah hati dengan Abiseka Gyantara sepupunya.