
''Tidak apa-apa, terima kasih ... akhirnya kau datang juga untuk menempati janjimu, aku pun baru satu menit yang lalu menunggu di sini.'' Dokter Yashinta terlihat senang atas kehadiran dokter Brama di sisinya.
Dokter Brama yang terlihat ngos-ngosan mengatur nafasnya yang seolah tinggal separuh pun berusaha mengatur pernapasannya setelah menyambangi Tiara di tempat kerjanya, dokter Brama pun segera melaju ke rumah sakit demi untuk bertemu dengan dokter Yashinta yang telah ia yakini untuk menjadi pendamping hidupnya. Ia tidak ingin calon istrinya mengetahui jika ia bertemu dengan Tiara barusan demi untuk menjaga hati Yashinta.
''Silahkan duduk!'' ujar dokter Yashinta dengan sekilas menatap ke arah Brama yang terlihat sedang mengatur pernapasannya.
''Terimah kasih!'' Brama pun mendaratkan bokongnya bersebelahan dengan Yashinta, namun dengan jarak yang cukup jauh. Ia begitu penasaran dan deg-degan ingin mendengar langsung jawaban dari Yashinta atas permintaannya satu minggu yang lalu.
''Aku telah menemukan jawaban atas itu semua, akan tetapi maaf ... berulang kali aku melaksanakan shalat istikharah dalam waktu satu minggu ini, hasilnya tetap sama ---?''
Yashinta menggantungkan kalimatnya sebelum menjelaskan lebih lanjut kepada Brama tentang apa yang dirasakannya lewat shalat istikharah tersebut.
''Lalu, hasilnya apa?'' tanya penasaran dokter Brama, yang merasa khawatir niat baiknya ditolak oleh dokter Yashinta,karena jika itu terjadi maka dirinya akan mengalami kekecewaan dan patah hati untuk yang kedua kali dalam hidupnya.
Yashinta dapat merasakan akan kekhawatiran dari dokter muda yang ada di hadapannya, dia pun kembali melanjutkan kalimatnya! ''Aku minta maaf jika istikharah cinta ku harus tertuju padamu, aku menerimamu menjadi calon imamku. Ku harap kau benar-benar tulus pada ku dan bisa menjaga komitmen ini sampai kita menuju ke pelaminan!'' pinta dokter Yashinta sambil menundukkan pandangannya. Ia tidak ingin bersitatap dengan Brama meskipun telah jelas istikharah cintanya terpatri pada sosok dokter muda yang ada di hadapannya.
Brama berusaha menetralkan detak jantungnya ketika mendengarkan penuturan Yashinta yang dengan gamblangnya mengatakan jika ia telah menerima menjadi pendamping hidup untuk seorang dokter Brama.
''Maa syaa Allah, Alhamdulillah ... Allahuakbar! terima kasih dokter Yashinta, aku benar-benar tidak menyangka jika akhirnya kau pun menerimaku untuk menjadi calon imammu. Itu berarti mulai detik ini kita resmi meyakinkan hati masing-masing untuk saling memiliki rasa. InsyaAllah, malam jum'at nanti aku akan melamarmu di hadapan kedua orang tuamu. Aku ingin hubungan kita ini segera dihalalkan dan tanpa ditunda-tunda lagi!''
Brama begitu sangat antusias, ia tidak ingin peristiwa yang lalu terulang kembali. Ia pernah gagal menikah dengan wanita yang dicintainya, untuk sekali ini Brama tidak ingin hal itu terjadi lagi kepadanya dan Yashinta.
''Maa syaa Allah, apa tidak terlalu cepat dan terburu-buru?'' tanya dokter Yashinta dengan rasa tak percayanya terhadap keinginan calon suaminya dokter Brama Adyaksa Kyswara yang begitu mendadak dangdut.
''Iya, keputusanku sudah bulat. Dua malam lagi aku akan mengunjungi tempat tinggalmu! beritahu aku di mana kediaman orang tuamu! aku akan langsung datang ke sana bersama kedua orang tuaku.''
__ADS_1
Brama benar-benar tidak ingin membuang-buang waktunya, ia ingin segera menjadikan Yashinta sebagai bidadari surganya.
''InsyaAllah, aku akan segera memberitahukan Ummi dan Abiku. Alamat mereka ada di kawasan perumahan elite xx. Malam kamis sore aku akan kembali ke rumah orang tuaku setelah berbenah di apartemenku.'' Yashinta menyetujui keinginan Brama yang ingin secepatnya menghalalkan hubungan mereka.
Brama menerbitkan senyum termanisnya ketika mendengar jawaban Yashinta yang begitu sangat menggetarkan hati dan jiwanya.
''Terima kasih wahai calon istriku, maafkan aku karena ingin secepatnya mempersuntingmu. Jujur, aku tidak ingin kehilanganmu. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya tanpa ada yang menghalangi lagi kebersamaan aku denganmu, terima kasih untuk segala kesempatan yang telah kau berikan padaku!'' ucap dokter Brama dengan menatap lengkap wajah calon istrinya yang masih tertutup cadar.
Dapat dipastikan detak jantung keduanya pun semakin berdegup kencang, seolah merasakan merekalah rama dan shinta yang baru saja mengecapi indahnya madu cinta yang sekian lama mereka berada di tanah tandus dan gersang. Kini kemarau jiwa yang sempat menyelubungi keduanya berubah menjadi butiran salju yang menyejukkan dan mendinginkan hati yang semula keras dan membeku dengan sebuah harapan yang baru yang akan segera mereka bangun bersama.
Yashinta menundukkan pandangannya, ketika menyadari sang calon imam nampak terpukau dan tertuju padanya.
''Sepertinya, kita harus segera menjalankan tugas. Khawatir para pasien sudah datang dan mengantri menunggu kehadiran kita. Sebagai seorang dokter kita harus profesional dan lebih mementingkan kebutuhan pasien di atas kepentingan pribadi.'' Dokter Yashinta nampak mengalihkan pembicaraan.
''Beri aku waktu lima menit lagi, aku masih ingin bersamamu!'' sergah dokter Brama dengan berusaha menahan langkah kaki Yashinta yang hendak menjauh pergi dari hadapannya.
''Aku akan segera menghalalkanmu setelah satu minggu acara lamaran kita,'' pungkas dokter Brama yang tidak tanggung-tanggungnya memberi jarak dalam waktu yang singkat, membuat Yashinta merasa terkejut mendengar penuturan calon suaminya yang seperti tidak sabaran ingin segera bersamanya.
''Whattttt? apa aku tidak salah dengar? bukankah waktu satu minggu itu terlalu cepat untuk mengatur segala hal yang ada?'' Yashinta dibuat panik atas ucapan Brama yang begitu kentara menginginkannya dan segera menghalalkan hubungan meraka dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
''Why not? jika Allah sudah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin, aku tidak ingin berlama-lama lagi dengan hubungan ini. Cukup di masa lalu aku pernah gagal dan bersamamu aku tidak ingin gagal lagi!'' lirih dokter Brama yang tiba-tiba mengingat kembali tentang kisahnya bersama Tiara yang gagal menuju ke pelaminan.
Yashinta yang mulanya merasa berbunga-bunga justru sebaliknya merasa tercubit mendengar ucapan Brama yang tiba-tiba mengingat masa lalunya.
''Kamu belum move on darinya?'' selidik dokter Yashinta yang merasa cemburu ketika mendengarkan Brama menyelipkan nama wanita lain di saat sedang ingin menjalin hubungan dengannya.
__ADS_1
Brama menghela nafas pelan, ia mencoba menyelami di kedalaman hatinya masih adakah Tiara di sana. ''Tiara adalah masa laluku dan kau adalah masa depanku! kuharap kau mengerti jika aku salah berucap kata karena memang kenyataannya aku pernah gagal. Jangan pernah pergi dariku dan menyerah ketika dirimu mendengarkan hal yang seperti ini, karena jika itu terjadi aku bisa gila dan mati rasa tanpamu Yashinta Patrisia Gertrudis!'' ucap Brama dengan segala kejujuran hatinya.
Yashinta merasa tersentuh mendengar penuturan calon suaminya yang begitu sangat mengharapkan kehadirannya mewarnai hidup dokter muda yang pernah patah hati itu. ''Istikharah cintaku telah memilihmu dan aku tidak akan pernah pergi darimu kecuali Allah yang berkehendak lain memisahkan aku dengan dirimu!'' ujar dokter Yashinta dengan memberanikan dirinya menatap wajah calon suaminya yang begitu sangat tampan dan berkharisma.
Brama pun menatap wajah calon istrinya dengan penuh cinta. Ia benar-benar terpesona dengan bidadari surga yang ada di hadapannya, '' dokter Yashinta, kau begitu terlihat indah dan mempesona berbalut cadar yang menutupi wajahmu! dirimu benar-benar telah membuatku jatuh hati padamu Yashinta Patrisia Gertrudis!'' batin dokter Brama, untaian kata-kata itu hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarkan dan merasakannya, ketika melihat pesona Yashinta yang begitu sangat memukau.
''Dokter Brama, aku benar-benar tidak menyangka akhirnya istikharah cinta ku benar-benar tertuju padamu. Aku yang sejak lama merindukan kehadiranmu untuk menjadikan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku, hari ini aku merasa sang pengenggam cinta telah menjawab do'aku yang telah sejak lama ku dawamkan atas nama cintaku padamu yang hanya diriku dan Tuhan yang tahu betapa aku menginginkanmu menjadi sosok yang berarti dalam hidupku. Terima kasih ya Rabb atas dasar cinta yang telah kau titipkan di hatiku untuknya, terima kasih wahai zat yang bolak-balikkan hati. Hari ini aku benar-benar merasakan betapa Engkau begitu sangat menyayangiku setelah 1000 duka dan air mataku lewati aku pun bisa menggenggamnya untuk menjadi milikku seutuhnya, membimbing diriku menuju keridhaan-Mu!''
Dokter Yashinta pun ikut bermonolog di dalam hatinya, ia benar-benar bahagia bisa menjadi calon pendamping hidup untuk dokter Brama Adyaksa Kyswara yang begitu sangat dikasihinya.
''Hallo, dokter Brama! Anda di mana? jadwal operasi pasien penyakit kanker akan segera dimulai, keluarga pasien sudah datang semua dan para juru rawat pun telah bersiap-siap untuk mendampingi!'' telfon dari seorang rekan kerja Brama, membuat dokter muda tersebut kadang kabut karena terhipnotis dengan pesona Yashinta yang ada di hadapannya.
''Iya, 1 menit dari sekarang aku akan menuju ruang operasi!'' tegas dokter Brama kepada rekan kerjanya.
Kedua anak manusia yang sedang menikmati indahnya jatuh cinta tersebut pun mengesampingkan kepentingan pribadinya, keduanya pun terkekeh melihat keunikan diri masing-masing yang seolah seperti ABG yang sedang jatuh cinta.
''Hemmm, bukankah sudah kukatakan wahai dokter Brama Adyaksa Kyswara jika pasien kita sudah berdatangan menunggu kehadiran kita. Jangan sampai kita terkena masalah dan ditegur oleh atasan karena lalai dari pekerjaan!'' sergah Yashinta dengan menebarkan senyuman di balik cadarnya.
Dapat pastikan rona wajah Yashinta nampak bertemu merah bersembunyi di balik cadar putihnya.
''Ini semua karena aku begitu sangat terhipnotis dan terpukau akan pesonamu wahai calon istriku, dokter Yashinta Patrisia Gertrudis!'' ucap Brama terdengar begitu sangat lugas ketika bertatapan langsung dengan calon istrinya.
''Gombalnya disimpan untuk nanti saja mas ketika sudah halal!'' seloroh dokter Yashinta sambil berlalu pergi dari hadapan dokter Brama. Dapat dipastikan wajah Yashinta kini telah bersemu merah akibat tingkah absurd calon suaminya.
__ADS_1
''Yashinta, kau!'' Brama pun menyusul Yashinta yang sudah duluan berlalu pergi dari hadapannya.
Sementara, Yashinta nampak mengulum senyuman dibalik cadarnya ketika melihat wajah panik dokter Brama yang begitu sangat menggelitik hatinya.❤❤❤