
Tiara pun terlelap, dirinya baru merasakan lelah yang teramat sangat setelah disekap oleh sahabatnya Viola yang telah menusuknya dari belakang. Sehingga dengan kejamnya Viola menyiksa lahir dan batin Tiara.
Tok ... tok ... tok. ''Abi, Tiara, sarapan dulu Nak! dari sejak tadi kalian belum sarapan, mama dan papa, juga Ayah Tyo dan bunda Pieska menunggu di bawah.'' Mama Arla memanggil anak menantunyauntuk segera bergabung bersama di ruang makan.
''Iya, sebentar Ma! Abi ganti baju dulu,'' ujar Abiseka yang baru keluar dari kamar mandi.
''OMG, apakah anak menantu ku habis melakukan itu? bukankah Tiara masih sakit?'' gumam mama Arla dengan pikiran yang mulai traveling kemana-mana, ketika mendengar ucapan Abiseka yang hendak mengganti bajunya. Ia pun segera berlalu menuju ruang makan menemui suaminya dan juga besannya di ruang makan.
''Hemmm, ternyata ia sudah ketiduran. Ia terlihat manis sekali, meskipun wajahnya terdapat cidera. Aku mencintaimu istriku!'' Abiseka mengecup lembut dahi dan bibir istrinya yang terlelap seperti putri tidur.
''Mas ke dapur dulu ya? nanti mas ambilkan sarapan untuk mu!'' Abiseka menatap wajah istrinya yang sedang terlelap. Kemudian, ia pun menyelimuti tubuh istrinya dengan penuh kasih.
''Sehat-sehat di perut mommy ya sayang. Jangan nakal!'' Abiseka mengecup lembut perut istrinya sebelum meninggalkan istrinya di kamar sendirian.
Abiseka di sambut baik oleh kedua orang tuanya dan juga mertuanya.
''Selamat pagi menjelang siang nak Abi? Tiara mana? kenapa tidak kelihatan?'' tanya bunda Pieska mertuanya Abiseka.
Abiseka pun menjawab ramah sambutan ibu mertuanya, ''Tiara di kamar sedang istirahat, biar nanti Abi yang bawakan makanannya ke sana.'' Abiseka terlihat santai, ia pun segera menyantap makanan yang telah terhidangkan di meja makan.
Hening, semua orang tanpa fokus dengan makanannya masing-masing tidak ada yang bersuara. Hanya dentingan sendok dan piring yang berbunyi di sela aktivitas makan mereka.
''Ayah titipkan Putri ayah pada mu Tyo, jaga ia dari orang-orang yang hendak menyakitinya. Jangan sampai hal seperti kemarin terulang lagi, Tiara Putri kami satu-satunya!'' tegas Ayah Tyo setelah selesai menyantap makanannya.
''Insya Allah, Yah. Maaf atas keteledoran Abi dalam menjaga putri ayah!'' sesal Abiseka dengan mengingatkan kembali peristiwa pahit yang menimpa istrinya.
''Ayah percaya padamu Nak,'' ucap Ayah Tyo meyakinkan.
''Terima kasih Yah, Abi antarkan dulu makanan ini untuk Tiara.''
''Apakah Nak Tiara sudah berubah selera menyukai sayur bening dan makanan rebusan?'' tanya bunda Pieska.
__ADS_1
''Iya Bun, ia masih mual mencium makanan yang berbau amis. Maunya bening-bening,'' terang Abiseka hendak membawa tanpa berisi makanan untuk istrinya ke dalam kamar.
''Anak itu, padahal aslinya ia sangat menyukai makanan Padang ayam bakar bersama sambal cabe ijo dan lalapannya.'' Bunda Pieska sengaja memberitahukan menantunya agar kedepannya Abiseka mengetahui makanan kesukaan istrinya, jika kondisi Tiara sudah stabil.
''Jadi, anak itu menyukai masakan Padang? aku baru mengetahuinya,'' batin Abiseka dengan tersenyum senang ketika mengetahui hobi istrinya dari mertuanya.
''Sepertinya, cucu kita perempuan!'' timpal mama Arla yang dari sejak tadi mendengar percakapan anak dan besannya.
''Pasti sangat menggemaskan dan lucu sekali,'' ucap bunda Pieska sambil membayangkan wajah calon cucunya nanti.
''Papa mau cucu kembar saja, sepasang laki-laki dan perempuan!'' ujar Papa Reyhan tak kalah sengitnya.
''Sepertinya seru juga jika anak menantu kita punya baby twins,'' timpal ayah Tyo sambil diiringi tawa renyah.
Obrolan para orang tua itu pun berlanjut, sedangkan Abiseka tampak menerbitkan senyumannya ketika kedua orang tuanya dan juga mertuanya begitu antusias membahas tentang calon anaknya yang ada di rahim Tiara.
''Alhamdulillah, jika mereka begitu semangat menginginkan kehadiran cucunya. Artinya mereka menerima kehadiran cucunya walaupun itu terjadi karena sebuah kesalahpahaman dan kecelakaan yang tak bisa dihindari,'' batin Abiseka dengan mengingat kembali peristiwa one night stand antara dirinya dan Tiara tempo hari.
''Sayang, bangun! kau pasti sangat lapar setelah seharian dan semalaman tidak makan?'' Abiseka menarik selimut Tiara yang masih tertidur lelap.
''Hemmm, masih terlelap juga. Istri manjaku jangan salahkan aku jika aku meninggalkan jejak cinta yang begitu banyak padamu.'' Abiseka membisikan kata-kata yang membuat Tiara bergidik ngeri mendengarnya.
Tiara pun menggeliat kecil, ia berusaha untuk mengerjapkan netranya yang masih menyipit akibat bisikan suaminya yang menganggu tidurnya.
''Mas Abi, jangan aneh-aneh! pikirannya kesana melulu,'' protes Tiara sambil mencebikkan bibirnya.
''Makanya bangun sekarang, kasian baby kita, ia pasti kelaparan.'' Abiseka mengecup lembut kening Tiara.
''Iya, iya. Aku bangun!'' ucap Tiara dengan terpaksa melebarkan netranya.
''Nah gitu dong! aaaaa ... buka mulutnya!'' Abiseka menyodorkan sendok nasi ke mulut Tiara.
__ADS_1
Tiara pun menerima suapan suaminya, ''Mas, bolehkah Tia kerja hari ini? para customer sudah menghubungi ku. Mereka pada protes kenapa toko herbal ku tidak buka.''
''Kamu belum pulih betul sayang. Lihatlah, wajahmu masih terlihat memar. Kau harus istirahat yang cukup.''
''Tapi, Mas ... Tia sudah merasa lebih baik,'' mohon Tiara dengan wajah memelas.
''No, untuk hari ini tak ku izinkan kau keluar apalagi hanya untuk bekerja. Masih banyak waktu di lain hari. Sekarang habisi dulu makanannya,'' ucap Abiseka dengan kembali menyuapkan nasi kemulut Tiara.
Tiara menggelengkan kepalanya, ''Aku tidak mau makan!'' Tiara menutup mulutnya.
''Istri manjaku dengarkan aku, ini demi kebaikan mu juga. Kasian bayi kita yang ada di dalam sini jika mommy-nya memaksakan diri untuk bekerja. Mas janji besok akan mengizinkan mu bekerja, akan tetapi hari ini istirahat dulu.'' Abiseka terus membujuk istrinya.
''Baiklah, untuk kali ini Tia akan menuruti maunya mas Abi. Tapi, besok-besok jangan melarang ku lagi!''
''Iya, iya istriku yang manja.'' Abiseka mengusap lembut rambut Tiara yang kini sedang tidak mengenakan hijab.
''Oh, ya di dalam ada Bunda Pieska dan Ayah Tio. Apa kamu ingin berkumpul dengan mereka?'' tawar Abiseka.
''Mas Abi, kenapa baru mengatakannya sekarang jika Ayah dan Bunda masih ada di sini!'' protes Tiara.
''Kan dari sejak tadi istri manjaku ini terlelap. Aku tidak tega untuk membangunkan mu sayang.'' Abiseka mengecup sekilas bibir ranum milik Tiara yang terlihat manyun.
''Mas Abi kauuu!'' Tiara ingin teriak, akan tetapi bibirnya langsung dilahap habis oleh Abiseka.
Abiseka mencium bibir Tiara dengan deru nafsu yang kini telah sampai di ubun-ubun.
''Masss, shhhhh!'' desah Tiara ketika suaminya m*lum*t bibirnya dengan begitu panasnya, sehingga menciptakan rasa yang begitu nikmat untuk Tiara ketika lidah Abiseka mengobrak-abrik rongga mulutnya.
Abiseka semakin memperdalam ciumannya ketika mendengarkan desah*n istrinya.
''Tok ... tok ... tok,'' suara di balik pintu seketika menghentikan aksi panas keduanya. Amunisi di pagi hari itu pun berhenti dengan paksa. Keduanya pun sejenak mengatur nafasnya sebelum membuka pintu kamar mereka yang tertutup rapat.
__ADS_1