Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 46. Mencari Kesempatan Dalam Kesempitan


__ADS_3

''Iya, Ma. Mama yang sabar ya? Papa yakin anak kita bisa mengatasi segala problemanya. Seiring berjalannya waktu ia pasti akan menerima segera takdir yang telah digariskan untuknya.'' Papa Rakha terus memberikan motivasi untuk istrinya agar tidak terlalu larut dalam kesedihannya.


''Tapi, kasihan juga anak kita ya Pa? Padahal satu bulan lagi pernikahannya akan segera digelar namun harus batal karena istrinya sudah ketahuan hamil duluan dengan keponakan kita Gala Abiseka Gyantara, sungguh miris sekali dan sangat menyesakkan dada,'' pungkas mama Naraya dengan nada pilunya.


''Qodarullah Ma, semuanya memang sudah menjadi ketetapan Allah, kita hanya bisa menjalaninya dengan lapang dada meski semua itu terasa berat untuk diemban.'' Papa Rakha terus memberikan masukan yang positif terhadap istrinya agar tidak berlarut-larut memikirkan nasib putra mereka yang begitu sangat menyedihkan.


Mama Naraya berusaha untuk tegar meskipun semua itu terasa berat baginya, apalagi Brama adalah putra semata wayangnya. Sangat wajar sebagai seorang ibu, ia merasa terpukul melihat nasib putranya yang begitu memilukan. Harus mengalami patah hati ketika dirinya baru saja hendak membangun tali kasih dengan wanita yang benar-benar sangat dicintai olehnya.


Mama Naraya hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk puteranya. Ia berharap drama selamat sampai tujuannya.


***


Di perjalanan, Brama Adyaksa Kyswara tidak mengetahui jika ada seseorang yang membuntutinya mengikuti kemanapun laju mobilnya melesat.


''Dokter Brama, aku yakin dengan sepenuh hati aku akan berhasil untuk mendapatkan hatimu untuk ku. Tiara telah kusingkirkan dari hidupmu dan sekarang tinggal bagaimana caranya untuk mendekatimu secara perlahan dan mendapatkan cintamu.


''Viola Arzeta mencoba untuk mencari kesempatan dalam kesempitan, ia ingin memanfaatkan keadaan yang ada untuk melumpuhkan hati seorang dokter Brama.


Viola berpenampilan layaknya wanita muslimah yang tampak anggun dengan hijab syar'i yang dikenakannya. Sangat mudah bagi Viola untuk menyulap penampilannya agar terlihat religius seperti Tiara. Sebab, sebelum dirinya terjerat pergaulan bebas, ia pun pernah menutup auratnya secara sempurna. Akan tetapi semenjak dirinya menempuh pendidikan di ibukota ia rela membuka auratnya dengan pakaian semi terbuka yang menampakkan lekuk tubuhnya yang menurutnya begitu sangat cantik dan mempesona.


Padahal, semua itu hanya tipu daya setan semata untuk menyesatkan para anak manusia dari jalan kebenaran.

__ADS_1


''Aku yakin, Dokter Brama pasti akan tertarik padaku. Secara penampilan ku hampir mirip dengan Tiara.'' Viola terlihat sangat kepedean, ia pun terus mengikuti kemanapun Brama melajukan kendaraannya.


''OMG, sudah 4 jam perjalanan aku mengikutinya. Untung saja aku membawa stok cemilan yang banyak. Jika tidak, mungkin aku akan kelaparan,'' gumam Viola sambil mengunyah cemilannya di sela-sela menyetir mobil.


Entah sudah berapa bungkus snack dan juga biskuit yang dihabiskan oleh Viola selama perjalanannya. Sebentar-sebentar, perutnya berasa lapar jika tidak segera diisi kemungkinan tenaganya pun akan terkuras demi mengikuti perjalanan dokter Brama yang entah ke mana arah tujuannya.


''Apa dokter Brama tidak merasa lapar? dari sejak tadi terus menyetir mobil tanpa berhenti. Sudah banyak rumah makan yang terlewati. Apa begitu model orang sedang patah hati? akan tetapi, aku merasa senang sebab tidak ada lagi yang menghalangiku untuk mengejar cinta dokter Brama. Dia benar-benar sangat tampan dan sempurna, aku bisa gila jika tidak mendapatkannya.''


Viola terus berbicara seorang diri seperti orang yang hilang warasnya, dirinya benar-benar nekat untuk membuntuti Brama meski dirinya tidak tahu ke mana pemuda tersebut hendak melangkah.


''Bukankah ini arah menuju desa xx yang terkenal dengan perkebunan teh itu, bukankah perusahaan papa bekerja sama dengan perkebunan teh yang ada di sana. Pucuk di cinta ulam pun tiba aku bisa menginap di sana sambil terus mencari kesempatan agar bisa mendekati dokter Brama. Ini baru namanya jodoh,'' seloroh viola kegirangan.


Enam jam perjalanan, Viola melihat Brama memasuki kawasan sebuah rumah yang nampak asri dengan pekarangan rumahnya yang dihiasi bunga-bunga dan taman yang hijau sehingga menyejukkan pandangan mata ketika melihatnya.


''Assalamu'alaikum,'' sapa dokter Brama sebelum ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang nampak asri tersebut.


Brama telah berada di depan rumah yang masih terbuat dari di bilik papan tersebut. Rumah yang sudah dihiasi dengan warna hijau muda seperti di film upin ipin, di mana perkarangannya dihiasi dengan aneka tanaman bunga yang semerbak dan sejuk dipandang mata.


''Wa'alaikumsalam warahmatullah.'' Dari dalam rumah nampak seseorang wanita yang telah sepuh dan beruban dengan rambut yang disanggul keluar dari dalam rumah sederhana tersebut dengan kacamata menghiasi wajahnya yang memang telah tampak renta dimakan usia.


Wanita sepuh itu pun menatap lekat sosok pemuda yang ada di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hingga terbitlah senyum bahagia dari wajah yang sudah tidak lagi muda itu. Ia merasakan kejutan yang sangat luar biasa ketika melihat kehadiran cucu kesayangannya yang sangat dirindukan olehnya kini hadir di depan matanya.

__ADS_1


''Maa syaa Allah, cucu omah, kenapa tidak mengabarkan jika ingin datang kemari? dasar anak nakal, calonnya mana kenapa tidak dibawa ikut serta?'' tanya Omah Zanna Arabella sambil berkacak pinggang.


''Calonnya, keburu disambar elang omah. Brama kemari sengaja ingin liburan untuk menenangkan pikiran.'' Brama mencium tangan omahnya dengan takzim.


Tidak butuh waktu lama, desa tersebut pun dihebohkan oleh kedatangan pemuda blasteran Indo-Turki tersebut. Semua gadis desa yang sedang lewat sambil memanggul sayur mayur yang baru dipetik dari perkebunan pun nampak terpukau dengan ketampanan dokter Brama Adyaksa Kyswara, pikir mereka ada pemuda tampan nyasar masuk desa bak selebriti yang baru datang dari pusat kota.


Akan tetapi, Brama seolah acuh dan tak peduli setelah rasa kecewanya terhadap Tiara sangat sulit baginya untuk membuka hatinya pada wanita lain. Baginya, Tiara adalah sosok wanita yang telah memenuhi relung hati dan jiwanya yang tak mungkin dapat terisi oleh hati yang lain entah sampai bila ia akan terus begini. Akan tetapi, sejauh apa pun ia melangkah nama dan bayang wajah Tiara tak pernah luput dari benaknya.


''Mari masuk, lihatlah kau menjadi tontonan banyak gadis. Jangan suka tebar pesona, ceritakan pada omah kenapa jodohmu sampai disambar elang?'' sela omah Zanna dengan menggandeng Brama masuk ke dalam rumah.


Akan tetapi, baru satu langkah mereka hendak masuk ke dalam, tiba-tiba terdengar bunyi letusan ban mobil yang tak jauh dari seberang jalan rumah omah Zanna.


''Duarrrrr," bunyi letusan ban mobil itu mengagetkan sang empunya mobil.


"OMG, copottttt ... spot jantungku!" pekik Viola sambil meloncat langsung dan keluar dari dalam mobilnya ketika mendengar bunyi letusan tersebut berasal dari mobil yang baru saja hendak dikendarainya.


''Ya Allah, untung saja aku cepat keluar dan belum sempat mengendarai mobilnya kalau tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padaku.'' Viola masih sempat mensyukuri nikmat Tuhannya meskipun hatinya di penuhi rasa yang buruk terhadap Tiara sahabatnya.


Sumpah demi apa pun Viola tetap nekat untuk mencari kesempatan dalam kesempitan demi untuk merebut hati seorang Brama Adyaksa Kyswara.


''Tiara!'' Seru Brama ketika melihat seorang wanita yang turun dari dalam mobil dengan penampilan yang hampir mirip 99,99% dengan Tiara wanita yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Brama pun melerai gandengan tangan Omahnya dan segera berlari untuk mendatangi wanita yang ia yakini adalah Tiara. Sehingga, membuat omah Zanna merasa kebingungan dengan tingkah absurd cucunya.


''Tiara, kau tidak apa-apa?'' tanya Brama, ketika melihat wanita yang ia kira Tiara tampak sedang kepanikan ketika melihat ban mobilnya tiba-tiba pecah.


__ADS_2