
Setelah acara lamaran usai, kesepakatan keluarga pun telah ditetapkan, acara pun ditutup dengan makan malam bersama. Dua keluarga yang baru akan menyatu menjadi satu keluarga utuh itu pun terlihat begitu sangat menikmati kebersamaan yang singkat itu. Mereka tak hentinya bercengkrama membahas hal-hal yang begitu berkesan yang hendak mereka rencanakan di masadepan nanti ketika anak-anak mereka sudah menikah.
''Ummi, Abi. Brama mohon izin untuk berbicara empat mata dengan Yashinta untuk membahas persiapan pernikahan kami dalam satu minggu ini!'' ujar Brama meminta persetujuan calon mertuanya yang kini telah ia panggil dengan sebutan ummi dan abi sebagai terapi awal untuk menjadi calon menantu yang baik dan menjadi pendamping hidup seutuhnya untuk Yashinta, wanita yang menjadi pilihan hatinya.
Kedua orang tua Yashinta pun mengizinkan Brama untuk berbicara empat mata dengan putri mereka di taman belakang rumah sambil menghirup sejuknya udara di malam hari.
Hembusan angin malam dan pencahayaan lampu yang terang menjadi saksi dua insan yang sedang merajut kebersamaan untuk mengukir janji menuju ikatan yang sakral.
''Shinta, mulai dari malam ini aku akan gerak cepat untuk mengurusi persiapan pernikahan kita, aku sudah menghubungi WO ternama, mulai dari segala rancangan, ide dan dekorasinya dan segala yang diperlukan di dalamnya sudah tersedia dalam satu paket komplit. Kalian cukup duduk manusia di rumah sampai hari H, semuanya telah kami persiapkan dengan matang. Kau lihat konsep dan tema di hari pernikahan kita nanti semuanya bertema putih, mulai dari gedung dan dekorasinya semuanya bernuansa putih.'' Brama pun memberikan konsep dekorasi di acara pernikahan mereka nanti melalui ponselnya.
Yashinta pun di buat takjub dengan konsep di acara pernikahan mereka nanti, ia merasa seperti seorang bidadari yang diratukan oleh rajanya.
''Maa syaa Allah, aku merasa berada di alam mimpi Mas!'' seru Yashinta dengan binar mata yang dipenuhi rasa haru. Ia benar-benar tidak menyangka calon suaminya bisa melakukan hal yang sedemikian rupa untuknya.
''Ini special untuk mu calon istriku, makmum yang insyaAllah akan selalu menemaniku hingga akhir nafas kehidupanku dan sampai dihari kebangkitan nanti ku harap kaulah bidadari syurga ku yang senantiasa selalu berada di sisiku!'' ujar Brama dengan sekilas menatap manik mata Yashinta yang hanya bisa ia lihat sesaat dari wanita bercadar itu yang memang belum halal untuk ia sentuh.
''Terima kasih untuk semuanya Mas!'' ucap Yashinta dengan memberanikan diri menatap nanar wajah calon suaminya.
''Sama-sama, Shin. Aku justru merasa beruntung bisa sedekat ini dengan mu, dan aku tidak pernah menyangka jika akhirnya hatiku berlabuh padamu, dan kau pun berkenan menerima ku untuk menjadi calon suamimu!'' lirih Brama.
Brama merasa sangat menyesal karena dulu sempat mengabaikan dokter Yashinta, dan sekarang justru berbanding terbalik dirinya lah yang akhirnya bertekuk lutut dan bahkan tidak ingin kehilangan dokter Yashinta.
''Lupakan semua hal yang pernah mengekang jiwamu, Mas! ku tahu kau begitu merasa sangat bersalah padaku. Semua itu adalah masa lalu dan sekarang mari kita sama-sama menjemput masa depan yang cerah. Aku bersyukur karena akhirnya Allah pertemukan kita dengan cara seperti ini,'' ujar Yashinta yang tak ingin lagi membahas masa lalu.
__ADS_1
''Terima kasih atas pengertianmu, insyaAllah aku akan menjadi suami yang baik untuk mu!'' Brama meyakinkan.
''Aku percaya padamu, Mas!'' pungkas Yashinta dengan seulas senyum di balik cadarnya.
''Aku merasa dirimu seperti malaikat cintaku,'' ujar Brama yang mulai berbicara hal yang lebih pribadi dan menjiwai.
''Sepertinya sudah larut malam Mas, tak baik laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya terlalu lama berduaan seperti ini. Ku kira bicara empat matanya cukup sekian dulu! jangan sampai ada mata kelima dan ke enam. Sebab godaan makhluk yang bernama syaitan itu halus,'' pungkas Yashinta mengingatkan dan mengalihkan mode bicara.
''Astaghfirullah, kau benar sekali!'' ucap Brama yang mulai menyadari kekeliruannya.
''Sudah selayaknya kita saling mengingatkan, Mas! terapi sebelum menjadi calon isteri,'' ucap Yashinta dengan segera bangkit dari duduknya.
Brama pun mengikuti gerak langkah Yashinta menuju ke dalam rumah, menemui kedua orang tua mereka.
''Kau kedinginan?'' tanya Brama ketika melihat Yashinta melipat tangan di dadanya dan memeluk erat tubuhnya sendiri oleh sebab dinginnya angin malam yang menusuk sampai kulit ari.
''Kenakan kain sorban ku ini untuk menyelimuti bahumu!'' titah Brama dengan menyerahkan kain sorbannya pada Yashinta.
Yashinta pun tak mampu menolak, ia tidak ingin mengecewakan calon suaminya.
Brama merasa sangat bahagia ketika mendapati calon istrinya menerima uluran tangannya.
Yashinta pun menyelimuti kedua bahunya dengan sorban milik Brama. ''Terima kasih mas Bram!'' ucap Yashinta sambil tersenyum.
__ADS_1
Brama pun ikut tersenyum, keduanya pun masuk ke dalam.
''Maa syaa Allah, manis sekali!'' seru Ummi Adzkiya dan mama Naraya hampir bersamaan ketika melihat anak-anak mereka begitu sangat romantis sekali.
Brama dan Yashinta pun tersipu malu mendengar godaan orang tua mereka. Hingga di akhir cerita keluarga Brama pun pamit undur diri sebab waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.
''Assalamu'alaikum, sampai bertemu kembali di pelaminan!'' ucap Brama sebelum beranjak pergi dari hadapan Yashinta.
''Wa'alaikum salam warrahmatullahi,'' jawab Yashinta sampai akhirnya deru mobil keluarga Brama hilang dari hadapan mereka.
Yashinta dan keluarganya pun masuk ke dalam rumah mereka, suasana pun seketika hening, semua penghuni mayapada pun terlelap dalam buaian masing-masing.
***
Keesokan harinya.
Semua orang nampak gempar ketika mendapati kabar dan kartu undangan dari Brama termasuk Stefanie yang akan menjadi calon istri Daniel.
''Mas, kau lihat ini? aku mendapatkan undangan pernikahan dari dokter Brama dan dokter Yashinta! kapan-kapan mereka tunangan? kok tiba-tiba sudah menyebarkan undangan?'' pekik Stefanie lewat video call dengan Daniel yang sedang berada di studio music Gyantara Group milik Abiseka yang kini di bawah kendalinya.
''Iya, aku sudah tahu. Mereka lamaran semalam, dan akan melangsungkan pernikahan minggu ini sekaligus dengan walimahnya juga!'' Daniel terlihat santai sambil memetik senar gitarnya.
''OMG, mas kok terlihat santai. Kita yang pacaran dan lamaran duluan. Dokter Brama dan dokter Yashinta yang nikah duluan!'' protes Stefanie sambil menggigit pelan jari telunjuknya.
__ADS_1
''Namanya juga sudah jodoh sayang, kita tidak pernah tahu, semua itu sudah menjadi misteri illahi, kita hanya bisa menjalani peran sebagai seorang hamba, nanti juga bulan depan, insyaAllah kita juga akan halal. Don't be sad! keep strong my sweety!'' ucap Daniel yang berusaha menghibur calon istrinya agar tidak berkecil hati.
''Iya bawel,'' sentak Stefanie dengan memanyunkan bibir mungilnya.