Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 15. Merasa Tertohok


__ADS_3

Acara kajian pun di mulai, dengan dokter Brama sebagai pembawa MC dadakan, atas titah ustadz Abu Ammar.


Tirai pembatas antara jama'ah laki-laki dan wanita, disingsingkan dengan hanya besi penyangga sebagai pembatas. Sehingga para jama'ah bisa melihat secara langsung Ustadz Abu Ammar menyampaikan tausyiah.


"Maa syaa Allah, dokter Brama tampan sekali! ia benar-benar seperti pangeran Arab, eh ... pangeran Turkiii!" Para jama'ah wanita saling berbisik satu sama lain, ketika melihat pesona dokter Brama yang di penuhi oleh bulu-bulu halus menghiasi wajahnya.


Saat di dalam Mesjid dan aktivitas realigi lainnya dokter Brama terlihat sangat religius dengan jubah dan sorban putih yang dikenakannya.


Sampai akhirnya, tibalah ustadz Abu Ammar menyampaikan materi dakwahnya. Membuat semua jama'ah dari laki-laki dan perempuan mendengarnya dan meresapinya dengan penuh hikmat. Kecuali Viola yang merasa tertohok mendengar tausyiah ustadz Abu Ammar yang menurutnya sangat menusuk jantung hatinya.


"Apakah ustadz tersebut memiliki indera ke enam? seperti ahli nujum saja, bukannya aku tidak ingin berjilbab. Tapi, aku lebih betah dengan penampilan ku sekarang. Yang benar saja, wanita yang berlenggak-lenggok bakal jadi bahan api neraka? apa salah ku jika aku nekad untuk mengejar cinta dokter Brama dengan cara menjatuhkan reputasi Tiara!" gerutu Viola sambil menopang dagunya.


"Astaga, tuntunan syari'at itu berat sekali. Banyak nggak bolehnya itu nggak boleh, ini nggak boleh. Aku kan pengen bebas bereksplorasi, tapi tuh ustadz Abu Ammar cakep pisan. Tapi, mungkin ia sudah punya istri. Biasanya kan kalau jadi istri ustad harus siap dipoligami! Tapi, lumayan juga buat cuci mata." Viola terus mengoceh di dalam hatinya.


Tak terasa, satu jam sudah ustadz Abu Ammar menyampaikan tausyiahnya. Viola yang notabenenya hidup dalam gelimangan harta dan pergaulan bebas merasa semakin tertohok mendengar tausiyah ustadz Abu Ammar yang terang-terangan menjelaskan jika buruk sangka, iri dengki, dendam kesumat, hasad, dan fitnah, semua itu termasuk perbuatan yang sangat tercela dan tidak diridhoi oleh Allah dan pelakunya pun terancam dengan siksa api neraka jika tidak bertaubat dari segala kedzoliman dan penyakit hati yang semakin menggerogoti hati dan jiwanya.


"Aku tak sanggup lagi berlama-lama di sini, telinga dan hatiku benar-benar terasa panas. Lama kelamaan aku merasa tertekan disini. Ternyata, jadi gadis anggun, sok kalem dan sok lembut seperti Tiara itu sangat merepotkan sekali. Mesti rajin menunaikan ibadah sholat wajib dulu, mesti ikut kajian dulu dan serentetan kegiatan realigi lainnya. Susah betul jadi orang baik, mana ceramah ustadz Abu Ammar isi temanya sangat menohok jantung hatiku. Sedikit-sedikit dosa, sedikit-dikit ancamannya api neraka. Ya, sebejat-bejatnya aku. Aku pun ingin masuk syurga!" dumel Viola dalam hatinya.


"Hey mbak, wajahnya jangan ditekuk. Itu acara sudah selesai, perasaan dari sejak tadi aku lihat dari semua ja'maah hanya wajah mbak yang terlihat kusut. Semua orang malah berlomba-lomba dalam kebaikan, eh mbaknya malah ngedumel!" seru seorang gadis belia yang baru berusia 17 tahun. Ia merasa risih melihat Viola yang dari sejak tadi seperti cacing kepanasan.


Viola ingin sekali menyumpal mulut gadis itu dengan gulungan kertas, namun mengingat dirinya masih berada di tempat suci. Sangat tidak etis jika ia mengajak seorang gadis belia adu mulut dilingkungan Mesjid, apalagi suasana di tempat suci tersebut masih sangat ramai.


"I-iya, maaf. Aku pun hendak keluar," ucap Viola menahan kedongkolan dihatinya. Sementara gadis belia tersebut ingin sekali menertawakan wajah Viola yang mirip saus tomat karena menahan amarah di dadanya.


Semua orang pun nampak berbondong-bondong keluar dari dalam Mesjid, setelah mendapat siraman qolbu dari Ustadz Abu Ammar. Wajah mereka terlihat berseri-seri dan penuh semangat. Banyak pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik, kecuali Viola yang notabenenya jarang sekali mendengar pencerahan tentang ilmu agama, jadi ilmu yang diserapnya hari ini masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


"Alhamdulillah, Akhirnya aku bisa keluar juga dari penjara suci tersebut!" gumam Viola yang telah keluar dari gerbang Mesjid.


"Viola, tumben kau menampakkan wajah mu di sini? tak seperti biasanya kau bertingkah seperti ini?" sela Daniel yang baru saja keluar dari gerbang Mesjid dengan mengendarai motor sport-nya.

__ADS_1


"Memangnya aku tak pantas untuk berada di tempat suci? aku juga seorang muslim." Viola berusaha untuk membela dirinya.


"Baguslah, jika begitu!" ucap Daniel dengan gaya cool-nya.


"Heran deh, loe syirik saja dengan gue Niel. Eh, lho juga tumben-tumbennya ke Mesjid, bukannya loe dan Gyantara Music Grup sangat jarang sekali menghadap kiblat, kerjanya manggung terus sampai lupa waktu!" sela Viola tak kalah sengitnya.


"Alhamdulillah, aku sudah taubat sejak berapa bulan yang lalu. Aku merasa nyaman dengan beribadah pada Rabb-ku!" ucap Daniel penuh ketulusan.


"Alah, paling taubat maksiat!" cetus Viola.


"Terserah loe deh, mau berkata apa? Yang tahu tentang hatiku hanyalah zat yang maha mengetahui isi hatiku!" cetus Daniel seolah membela dirinya.


"Iya-iya deh, yang sekarang dalam tahap hijrah pengen jadi ustadz!" celutuk Viola lagi.


"Aamiin," ucap Daniel yang tidak ingin terus berdebat dengan Viola.


"Oh ya, apa kabar Tiara sahabat mu?" tanya Daniel, dengan memancing keadaan.


"Aneh!" batin Daniel yang sangat yakin jika one night stand antara Tiara dan Abiseka ada hubungannya dengan Viola Arzeta.


"Assalamu'alaikum, brother. Apa kalian saling mengenal?" tanya Dokter Brama yang baru saja keluar dari gerbang Mesjid.


"Wa'alaikumsalam, iya!" angguk Viola dan Daniel bersamaan.


"Maa syaa Allah, kalian kompak sekali! sepertinya kalian berjodoh," celutuk dokter Brama asal.


"Oh, no!" Viola dan Daniel kembali menjawab dengan penuh kekompakan.


"Ya sudah, aku jalan duluan!" pamit dokter Brama dengan senyuman khasnya.

__ADS_1


"Dokter Brama, tunggu!" pekik Viola yang tidak tahu malu, berharap jika dokter Brama bisa menyambut cintanya.😁😂😂


"Maaf, aku sangat buru-buru. Mau ketemu calon istri!" sahut dokter Brama sekenanya. Ia memang berniat untuk mampir ke toko herbal milik Tiara, memastikan jika calon istrinya itu baik-baik saja dan sehat sentosa.


"Sombong sekali!" gerutu Viola dengan wajah ditekuk.


"Ha ... ha ... ha ... kasian sekali. Maaf ya Neng, dokter Brama sudah punya calon istri, aku sepupunya lebih tau tentangnya. Selera Doker Brama Adyaksa Kyswara itu adalah wanita Sholihah yang kalem dan lembut, tidak bar-bar seperti dirimu!" sela Daniel Mahesa yang sengaja memanas-manasi Viola. PadahaI Daniel sendiri tidak tahu jika Brama sudah memiliki calon istri apa belum. Ia pun segera pergi dari hadapan Viola dengan mengendarai motor sportnya menuju kediamannya.


Daniel merasa sangat puas, karena sudah berhasil membuat Viola kepanasan dan merasa malu sendiri oleh tingkah bar-barnya.


"Dasar ubur-ubur! ucapannya sangat pedas mengalahkan saos tomat!" gerutu Viola yang merasa tertohok mendengar ucapan Daniel yang sangat menusuk jantung hatinya.


"PD sekali dia, dengan mengaku-ngaku dokter Brama adalah sepupunya!" cibir Viola dengan menyebikkan bibirnya ketika Daniel telah menjauh darinya.


"Tunggu dulu, kata dokter Brama tadi ia hendak menemui calon istrinya. Aku harus membuntutinya, apakah benar ia hendak menemui Tiara?" Gumam Viola dengan menjalankan mesin mobilnya menuju Toko Chandani Herbal.


***


"Assalamu'alaikum!" terdengar salam yang begitu lembut mendayu telinga, membuat Tiara buru-buru keluar dari balik tirai sebagai pembatas etalase tokonya.


"Wa'alaikumsalam warrahmahtullahi!" Tiara menjawab salam tersebut dengan penuh takzim.


"Mas Brama?" Tiara merasa seperti berada di alam mimpi ketika melihat pemuda tampan nan religius telah berdiri tegak di hadapan etalase tokonya.


Benar, Tiara memang dipenuhi rasa kerinduan terhadap sosok Brama Adyaksa Kyswara calon suaminya, meskipun baru pagi tadi mereka bersua. Namun, kerinduan pada calon suaminya tersebut begitu sangat bergelora di dalam hati dan jiwa Tiara.


Brama menampakkan senyum khasnya ketika melihat wajah imut nan ayu milik calon istri yang sangat dirindukan olehnya itu.


"Ini untuk mu!" ucap Brama dengan menyerahkan beberapa kantong buah tangan untuk Tiara.

__ADS_1


"Apa ini, Mas?"


"Buka saja! kau pasti akan senang."


__ADS_2