
Brama pun mengemasi barang-barangnya. Ia ingin segera beranjak pergi dari RSUD xx. Untuk berapa bulan kedepan, ia berniat untuk mengambil cuti guna menenangkan dirinya. Ia berencana pergi berlibur ke kampung halaman neneknya untuk menenangkan hati dan pikirannya yang sedang rapuh. Dirinya tidak sanggup melihat kebersamaan wanita yang sangat dicintainya kini berduaan dengan Gala sepupunya dirumah sakit tempat dimana dirinya bekerja. Ia tidak sanggup melihat segala kenyataan yang ada. Sampai Tiara benar-benar di nyatakan pulih dan sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit pun tetap saja Brama merasakan sesak di dadanya menyaksikan wanita yang sangat dicintainya berada dalam pelukan laki-laki lain.
''Dokter Brama, kau yakin akan mengambil cuti?'' tanya dokter Yashinta, ketika melihat Brama sedang mengemasi semua barang-barangnya dan merapikan ruang kerjanya.
Mendengar dokter Brama mengambil cuti, dokter Yashinta pun memberanikan diri masuk ke ruang kerja Brama, dirinya ingin memastikan apakah semua itu benar adanya?
''Iya, aku yang akan pergi dari sini bila Tiara dan Brama masih tetap berada di rumah sakit ini. Aku tidak mungkin melihat kemesraan mereka setiap hari di sini, aku tidak sanggup melihat seseorang yang sangat berarti dalam hidupku berada dalam pelukan saudara sepupuku sendiri. Meskipun aku sadar, kini mereka telah menjadi pasangan suami istri. Akan tetapi, tidak mudah bagi ku untuk menerima itu semua. Aku pergi dalam waktu kurang lebih satu bulan untuk menenangkan diriku.''
Tanpa sadar dokter Brama telah meluapkan segala isi hatinya yang terpendam kepada dokter Yashinta.
''Rumah sakit ini kapan sepi tanpamu Brama,'' ucap dokter Yashinta dengan nada pilunya.
Ingin rasanya dokter Yashinta meluruhkan air matanya, melihat kepergian dokter Brama dengan sangat mendadak, padahal baru saja mereka bertemu dan berbicara di taman rumah sakit hanya dalam waktu seperkian detik dokter Brama berubah pikiran dan segera ingin pergi untuk menutupi rasa kecewanya.
''Disini akan banyak teman-teman yang senantiasa menemanimu, maafkan aku karena aku belum bisa menjadi teman yang baik untukmu. Kuharap kau mengerti akan keadaanku, terimakasih atas semua perhatian mu pada ku.''
Dokter Brama pun segera pamit dengan dokter Yashinta juga pada beberapa orang rekan kerja lainnya.
Dokter Yashinta melepaskan kepergian dokter Brama dengan perasaan yang mengharu biru. Dirinya merasa sangat nelangsa jika sehari pun tidak melihat dokter Brama meskipun hanya dalam diam.
__ADS_1
''Dokter Brama, apakah tidak ada sedikitpun tempat tersisa di hatimu untukku? begitu berharganya Tiara dalam hidupmu sehingga kau tidak menyadari atas segala rasaku yang selama ini telah berpihak padamu, sampai kapan rasa ini terus kupendam tanpa kau tahu betapa diriku sangat mengharapkanmu. Andai sedikit saja kau membuka pintu hatimu untukku, aku pastikan diriku akan menjadi sosok wanita yang sangat berarti dalam hidupmu. Tak akan pernah aku kecewakan dirimu, akan tetapi apalah dayaku maksud hati hendak memeluk gunung namun apa daya tangan tak sampai!''
Dokter Yashinta pun tak mampu lagi membendung air mata kesedihannya yang kini telah menganak sungai.
Beberapa orang perawat, yang tidak sengaja lewat di depan ruangan dokter Brama pun tak sampai hati menatap dokter Yashinta yang begitu sangat berharap akan kehadiran dokter Brama untuk menyambut cintanya.
''Kasian sekali dokter Yashinta, cintanya tak berbalas. Padahal ia dokter muda yang cantik dan smart, juga sholiha. Apa kurangnya dari dokter tersebut, ah ... cinta memang benar-benar membutakan mata hati dan jiwa,'' ucap seorang perawat dengan menyampaikan rasa empatinya kepada teman-teman sesama rekannya.
''Lebih baik kita pergi dari sini dan segera melanjutkan pekerjaan kita, jangan sampai dokter Yashinta tahu kalau kita sedang melihat dan membicarakannya.''
Salah seorang perawat mengingatkan teman-temannya, karena ia tidak ingin ada masalah besar menyangkut pekerjaan mereka jika terlalu ikut campur urusan pribadi atasan mereka.
Kelima orang perawat itu pun pergi ke ruangan beberapa pasien lainnya untuk mengecek kondisi pasien yang sedang dirawat inap. Sementara dokter Yashinta pun beranjak pergi ke ruang kerjanya untuk menenangkan dirinya sebelum ia menjalankan kembali tugasnya.
Sedangkan dokter Brama sendiri, sebelum pergi dirinya tak lupa melewati ruang rawat inap Tiara. Ia melihat Tiara sedang sendirian dan sedang berbaring dibrankarnya dengan mengenakan gaun pengantin putih tanpa ada yang menemani.
Brama mengira tidak ada orang di dalam sana, ia pun menerobos masuk ke dalam karena rasa rindunya yang tak terbendung pada sosok Tiara Chandani Putri.
Ketika handle pintu dibuka, Tiara yang masih terbaring lemah seketika kaget melihat kehadiran seseorang sangat dirindukannya kini hadir di hadapannya.
__ADS_1
''Mas Brammm?'' Tiara seketika bangkit dari pembaringannya, entah kekuatan dari mana ketika melihat kehadiran Brama di sisinya, semangat hidup Tiara tiba-tiba kembali menjadi normal seperti biasanya.
Menatap wajah seseorang yang sangat dicintai olehnya itu begitu memberikan dorongan dan semangat hidup yang tinggi untuk Tiara. Ingin sekali ia merengkuh sosok pemuda yang kini ada di hadapannya, akan tetapi ia menyadari bahwa Brama tidak halal untuk ia sentuh. Ia pun sadar, kini dirinya telah berstatus istri orang. Tak sepantasnya jika dirinya menyelipkan nama laki-laki lain dalam hidupnya sedangkan dirinya kini tidak memiliki kebebasan seperti dulu lagi untuk merajut asa bersama seseorang yang memang sebenarnya sangat dicintai olehnya.
''Tiara, aku yang akan pergi mengubur semua impian yang dulu pernah kita bangun. Tiada guna lagi aku berdiri disini, sedangkan dirimu pun tak bisa kuraih. Semoga kau bahagia dengan kehidupan baru mu. Jaga diri mu baik-baik!'' ucap Brama dengan linangan air mata yang kembali mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.
Brama benar-benar tidak sanggup untuk kehilangan Tiara, berat langkahnya untuk pergi menjauh dari wanita yang sebelumnya sangat ia harapkan menjadi calon istrinya. Bayangan tentang mimpi merajut kebersamaan dengan Tiara masih terus melekat dalam hati dan pikirannya, akan tetapi ia berusaha untuk menahan segala kepedihan di hatinya.
''Mas Brammm, maafkan aku!'' ucap Tiara dengan linangan air mata di pipinya. Ingin rasanya ia mencegah langkah Brama agar jangan pergi, akan tetapi ia tidak punya hak lagi untuk itu semua, mengingat statusnya yang kini telah berstatus istri Gala Abiseka.
''Aku pergi!'' ucap Brama dengan membalikkan tubuhnya dan melangkah perlahan meninggalkan Tiara yang sedang menangis sesenggukan di atas brankarnya.
Ingin rasanya Tiara mengejar Brama untuk mencegahnya agar jangan pergi, akan tetapi lidahnya terasa sangat kelu untuk sekedar berucap kata.
Begitupun dengan Brama, sejujurnya dirinya tak sanggup untuk meninggalkan Tiara. Ingin rasanya ia menghapus air mata yang menetes di pipi wanita yang sangat dicintainya itu, akan tetapi ... semuanya tidak bisa untuk ia lakukan mengingat Tiara tidak halal untuk ia menyentuhnya. Apalagi mengingat status Tiara yang kini telah menjadi istri orang lain. Bagaimana pun keadaannya, sebesar apapun rasa cintanya untuk Tiara tetap saja ia kalah dengan status halal yang telah disandang oleh Gala Abiseka sepupunya terhadap Tiara, yang berhak atas diri Tiara adalah Abiseka bukan dirinya, begitulah keyakinan yang di rasakan oleh Brama saat ini.
Viola Arzeta yang ternyata masih berada di dalam ruang rawat inap Tiara pun secara tidak sengaja mendengar percakapan antara dua anak manusia itu, dirinya yang masih berada dalam toilet pun mengintip sedikit dari celah pintu.
Viola seakan berhura ria melihat adegan memilukan yang ada di hadapannya. ''Kasian sekali dirimu Tiara, meratapi cinta mu yang tak kesampaian!''
__ADS_1
Viola nampak terkekeh melihat penderitaan Tiara setelah dokter Brama keluar dari ruangan rawat inapnya, terlihat begitu sangat kentara jika Tiara sedang rapuh dan patah hati.
''Mas Brama, jangan pergi!'' ucap Tiara dengan isak tangisnya. Akan tetapi, semua sudah terlambat dokter Brama telah pergi jauh meninggalkannya, yang tersisa hanyalah bayangan tak dapat untuk ia sentuh menjadi nyata. Mengsedih!😢😢