Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 113. Aku Hamil


__ADS_3

''Sayang, perasaan bau parhum mas baik-baik saja tidak ada yang aneh? Wangi pula, ini parhum malaikat subuh yang begitu sangat kau sukai jika aku mengenakannya.'' Brama mengernyitkan dahinya, sambil berulang kali mengendus bau tubuhnya yang memang harum dan tidak ada masalah sama sekali menurutnya.


''Maaf, Shinta tidak tahu Mas. Tapi, bau parhum mas benar-benar mengganggu indera penciuman ku.'' Mood Yashinta tiba-tiba berubah, bukan ia ingin membenci suaminya akan tetapi rasa mual itu semakin menjadi-jadi jika terus mencium aroma tubuh Brama saat ini.


''Apa yang harus aku lakukan sayang?'' tanya Brama yang ingin kembali mendekati Yashinta. Namun sang istri menahan diri dengan menyilang tangan kedepan agar Brama segera menjauh darinya.


''Sayang, aku minta maaf, jika aku bersalah padamu. Akan tetapi, tolong jangan begini! aku suamimu, sudah seharusnya aku menjaga dan merawatmu semampu dan sebisaku, itu janjiku sebelum kita mengikrarkan janji suci!'' ucap Brama yang merasa frustasi mendapati istrinya terus menjauhinya.


''Maafkan aku suamiku!'' Yashinta tidak dapat lagi mengendalikan dirinya, dan benar saja ia pun memuntahkan semua isi perutnya.


''Huwekkk ... huwekkk.'' Cairan berwarna kuning nampak mendominasi sesuatu yang telah dimuntahkannya.


Muntahan Yashinta mendarat sempurna mengenai kaos suaminya, membuat Yashinta semakin didera rasa bersalah pada Brama. Namun, anehnya sebelum sempat Yashinta meminta maaf, Brama yang duluan minta maaf pada istrinya.


''Sayang, maafkan aku!'' Brama mengusap dan mengoles tengkuk istrinya dengan minyak aromaterapi. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya.


Yashinta terkulai lemas sambil menutup hidungnya, ia benar-benar tidak tahan dengan bau tubuh Brama yang masih ditaburi bau parfum. Parhum yang tentunya tidak berkenan di indera penciuman Yashinta saat ini.


''Ya Allah, apa yang terjadi padaku sebenarnya? apa aku hamil?'' batin Yashinta menerka-nerka. Sebab, sudah satu bulan ini ia tidak menstruasi.


Sebagai seorang dokter tentunya Yashinta sangat peka, mengenai keadaan yang saat ini. Akan tetapi, ia belum bisa memastikan itu semua sebelum melakukan tespack.


Brama yang menyadari rona tak suka dari istrinya, pun segera pamit dari hadapan Yashinta.


''Sayang, aku ke kamar mandi dulu!aku akan bersihkan tubuhku jika kau memang tidak suka dengan parfumku, maafkan aku istriku telah menyakitimu!'' ujar Brama dengan meminta maaf setulus hati.


Yashinta mengangguk lemah, ia tidak bisa berkata-kata. Sebelum, bau yang tidak enak itu lenyap dari hadapannya.

__ADS_1


Brama pun melakukan ritual mandinya secepat kilat, ia tidak ingin berlama-lama meninggalkan Yashinta yang sedang terbaring lemah.


''Sebenarnya apa yang terjadi padamu sayang? aku begitu khawatir padamu, mengapa kau merasa mual ketika mencium bau tubuhku yang masih berbalut minyak wangi?'' batin Brama sambil menggosok-gosok tubuhnya dengan sabun cair yang berbau aromaterapi demi untuk menciptakan zona nyaman untuk istrinya.


''Tunggu dulu, mengingat rasa sakit yang mendera istriku, aku jadi teringat dengan Tiara. Bukankah dulu, Tiara mengalami hal yang serupa. Ia mual dan muntah sama seperti Tiara. Bedanya Tiara tidak terganggu dengan aroma tubuhku, karena anak yang dikandungnya adalah anak Abiseka Gyantara bukan anak ku. Jangan-jangan istri ku hamil?'' batin Brama berdecak girang jika apa yang ia pikirkan benar adanya. Ia pun semakin cepat melakukan ritual mandinya.


''Maafkan aku istriku, jika terbesit memikirkan nama wanita lain dibelakang mu. Namun percayalah hanya dirimu lah yang bertahta di hatiku. Tiara hanyalah masa laluku, tidak ada lagi namanya di hatiku. Hanya saja sakit yang menderamu saat ini sama persis dengan apa yang dialami Tiara pada saat itu.''


Brama kembali mengingat kisahnya bersama Tiara saat di rumah sakit. Kisah yang membuatnya perih dan patah hati oleh sebab rapuhnya jiwa seorang dokter Brama kala itu.


''Astaghfirullah, apa yang sedang ku pikirkan? aku harus menemui istriku. Ia membutuhkan bahuku untuk bersandar, jika dirinya benar-benar hamil.'' Brama terus berperang dengan hati dan perasaannya. Ia pun segera keluar menggunakan jubah mandinya, cepat-cepat ia mengenakan piayama tidurnya dan beranjak naik ke atas ranjang untuk menenangkan Yashinta yang sedang memijit kepalanya yang sakit.


''Sayang, maafkan mas ya? mas kurang cekat menjagamu.'' Brama memijit dengan lembut kedua pelipis Yashinta untuk mengurangi rasa sakit yang dialami istrinya.


Malam ini tak terhitung kalinya Brama memohon maaf pada Yashinta terlepas sekecil apapun kesalahannya.


Brama membelai lembut rambut Yashinta, di kecupnya kening wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.


''Kau tidak bersalah mas, kenapa terus meminta maaf? aku yang salah, maafkan aku karena sempat membuat mu merasa tak nyaman. Aku tidak tahu kenapa aku merasa mual mencium bau parfummu.'' Yashinta tiba-tiba terisak, ia tidak tahu kenapa dirinya menjadi mudah baper.


''Jangan menangis, aku tak sanggup melihat gurat kesedihan di wajahmu.'' Brama menangkupkan kedua pipi Yashinta. Ia pun mengusap air mata istri yang begitu sangat di kasihinya.


''Mas, Shinta mencintai mas. Sangat mencintai mas!'' tanpa sadar Yashinta pun mengusap perutnya yang masih rata.


''Mas, juga mencintaimu sayang!'' Brama pun melabuhkan ciuman termanisnya pada wanita yang kini telah menjadi pasangan halalnya.


Wajah Yashinta terlihat merona, ketika mendapatkan sentuhan lembut suaminya.

__ADS_1


''Mas, bagaimana jika Allah memberikan amanah untuk kita punya keturunan? apakah mas akan senang?'' tanya Yashinta dengan pertanyaan yang sedikit ambigu.


''Maa syaa Allah, jika itu benar terjadi. Tentunya mas sangat senang sayang, apalagi jika kita mendapatkan baby twins, mas akan sangat bangga sekali. Artinya benih yang kita tanam selama satu bulan ini berbuah sempurna,'' ujar Brama sambil mengusap perut Yashinta yang masih rata.


''Jangan-jangan kau memang sedang hamil sayang, besok kita cek ke dokter kandungan!'' Yashinta terkekeh mendengar ucapan absurd suaminya.


''Kenapa kau tertawa sayang?'' tanya Brama sambil mengulum senyumannya.


''Kita ini lucu mas, bukankah kita berdua seorang dokter? kenapa pula harus berobat ke dokter, bukankah kita pun bisa mengatasinya dengan tespack misalnya?'' Yashinta mengusap lembut bulu-bulu halus yang menghiasi wajah suaminya.


''Kau cerdas sekali sayang, tapi mas mau baby kita langsung mendapatkan penanganan khusus. Kita harus USG untuk melihat tumbuh kembang bayi kita,'' ujar Brama yang begitu sangat yakin jika istrinya hamil.


''Hemmm, ketika dokter ahli bedah dan dokter ahli penyakit dalam tiba-tiba meragukan kemampuan diri sendiri ya begini jadinya.'' Yashinta kembali terkekeh sambil memandangi wajah tampan suaminya.


Brama pun ikut terkekeh mendengar ucapan istrinya.


''Hari sudah larut tespacknya besok pagi saja mas, pas buang air kecil pertama untuk memastikan kebenarannya,'' ujar Yashinta sebelum terlelap keperaduannya.


''Oke no problem sayang!'' Brama kembali mengecup bibir istrinya yang kini telah menjadi candunya.


Keduanya pun terlelap dalam mimpi indahnya. Hanya terdengar dengkuran halus dan pekat angin malam yang hadir memecah keheningan mengantar tidur mereka dalam mimpi yang indah.


Ke esokan paginya, sebelum melaksana ibadah sholat malamnya. Yashinta ke toilet dulu untuk membuang hajatnya. Ia pun tak lupa membawa tespacknya yang memang sengaja ia stok ketika ada pasien umum yang sedang ingin kontrol kehamilan padanya. Meskipun ia dokter ahli penyakit dalam Yashinta pun memiliki kemampuan untuk memeriksa keadaan pasien yang sedang hamil, seperti yang ia lakukan pada Tiara dahulu.


Yashinta pun mengangkat tespack yang barusan ia celup pada urine-nya.


''Maa syaa Allah, aku hamil?'' pekik Yashinta kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2