
Melihat Aurora yang diam menatap ke depan dengan pandangan lurusnya, membuat Willy merasa bersalah dengan apa yang telah ia ucapkan.
"Ra..." panggil Willy namun tak di sauti oleh Aurora.
Aurora masih berputar pada tatapan kosong ke depannya dan pikiran-pikiran yang menghantui kepalanya. Karena takut terjadi sesuatu dengan Aurora, Willy menepikan mobilnya di tepi jalan. Untung juga disana ada sebuah taman yang mungkin nanti bisa ia gunakan untuk mengembalikan kesadaran Aurora.
"Ra..." panggil Willy sambil memegang kedua bahu Aurora membuat Willy juga ikut mengubah posisi duduknya menjadi menyamping.
Kini Aurora dan Willy sudah berhadapan, namun tetap saja Aurora masih berada di dunianya sendiri. Terlihat dari matanya, Willy bisa melihat banyaknya kesedihan dan luka yang ada di dalam diri Aurora. Hal itu membuatnya semakin merasa bersalah.
Cup...
Tak disangka demi menyadarkan Aurora, Willy berani memberikan kecupan singkat pada bibir Aurora. Ingat ya... Hanya kecupan saja.
"Eh..." Sontak saja Aurora tersadar dari dunianya sendiri, namun ia masih linglung dengan apa yang terjadi.
"Tadi kok kaya ada yang nyium bibir aku ya? Nggak mungkin kak Willy kan? Kak Willy kan agak-agak jutek gitu, mana mungkin dia berani cium aku. Apa aku hanya berhalusinasi saja ya? Ah... Iya, ini pasti halusinasiku saja. Tapi kaya nyata" batin Aurora melamun sambil memegang bibirnya.
"Bodoh kamu Wil... Kenapa pakai cium-cium segala sih? Kalau Aurora sadar gimana nih, bisa malu aku" batin Willy dengan wajah yang sedikit memerah menahan malu.
"Ra, kenapa kamu melamun?" tanya Willy mencoba mengalihkan pikiran Aurora dan menutupi malu nya.
"Eh... Enggak kok kak nggak kenapa-kenapa. Kenapa kita berhenti di sini? Kan belum sampai kampus, apa jangan-jangan kak Willy mau nurunin aku di jalanan gini? Iya? " tanya Aurora yang tersadar dari lamunannya dengan mengajukan rentetan pertanyaan.
Ctakkk...
"Astaga..." Willy menjentikkan jarinya ke arah dahi Aurora sambil mengelus dadanya mencoba bersabar dengan pertanyaan yang diajukan Aurora.
"Ish... Sakit" rengek Aurora dengan mengelus-elus dahinya yang memerah sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
__ADS_1
"Astaga... Kenapa dia begitu imut disaat seperti ini. Ingat Wil, dia adikmu" batin Willy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya berharap apa yang ada di pikirannya segera menghilang.
"Maaf... Maaf" ucap Willy dengan mengelus dahi Aurora yang masih terlihat merah dengan tangannya.
Deg... Deg... Deg...
Jantung dua manusia berbeda jenis itu berdetak kencang seperti ingin melompat dari tempatnya saat keduanya tak sengaja saling menatap mereka satu sama lain.
"Apa ini?" batin keduanya.
"Ehmmm..." Demi menetralkan suasana, Willy seketika berdehem. Saat itu juga suasana di mobil kembali hening dan canggung.
"Kak... Kayanya kalau kita ke kampus, udah telaf ya" ucap Aurora memecahkan keheningan.
Sontak saja Willy langsung reflek melihat jam tangannya.
"Ya udahlah buat kali ini aja kita bolos. Bolos sekali juga nggak akan bikin nilai kita turun" ucap Willy dengan nada sombongnya.
"Sombong... Sok genius kak Willy nih, ketauan Sandra bisa dimarahin kita ntar kalau bolos" ucap Aurora dengan membawa-bawa nama Sandra.
"Sandra nggak pernah ikut campur masalah pendidikan ke saudara-saudaranya, Sandra tuh hanya ikut campur kalau kita buat masalah atau mendapatkan masalah" jelas Willy dengan memperbaiki posisi duduknya menjadi setengah berbaring agar bisa lebih santai.
"Oh ya? Kalau saudara-saudaranya bolos atau nggak pintar gitu dia nggak marah?" tanya Aurora penasaran.
"Enggak... Baginya nilai atau peringkat nggak penting, tapi gimana caranya orang itu bisa menerapkan ilmu yang mereka dapatkan dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja kelak. Karena Sandra paham kalau setiap orang punya kemampuan di bidangnya masing-masing. Nggak harus di bidang akademik, tapi di bidang non akademikpun kalau dikembangkan bisa jadi orang sukses kelak" jawab Willy.
"Wah... Kenapa dia bisa begitu dewasa seperti itu ya?" heran Aurora.
"Sandra sudah punya banyak pengalaman hidup senang, susah, bahkan pahit sekalipun dia pernah mengalaminya. Tanpa kehadiran sosok orangtua bahkan keluarga" cerita Willy dengan menerawang kejadian dulu.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Aurora bingung.
"Dulu kami sempat terpisah sekitar 10 tahunan karena orang-orang jahat. Orangtua kami dibunuh dan kami di pisahkan. Kami baru bertemu dengan Sandra saat dia sudah sukses, bahkan aku dan Sandro sebagai kakaknya saja merasa masih tidak enak hati padanya karena seperti tak berguna menjadi saudara. Kita seperti hidup menumpang dengannya dimulai dari baju, makan, rumah, sekolah... Semua dia yang menanggung, dia tak mengijinkan kami para saudaranya memikirkan pekerjaan sebelum waktunya tiba. Bahkan dia membebaskan kami untuk menghabiskan uang hanya demi belanja, padahal yang bekerja dia. Betapa tak bergunanya aku sebagai kakak..." jelas Willy dengan terkekeh miris dan sendu.
Aurora yang mendengar cerita Willy seketika mengusap bahu Willy agar sedikit tenang.
"Kamu berguna... Sandra melakukan hal ini agar saudara-saudaranya tak merasakan kesusahan seperti yang ia rasakan dulu. Walaupun aku baru mengetahui tentang cerita ini, namun aku sudah paham kalau Sandra melakukan ini demi kebahagian saudara-saudaranya" ucap Aurora dengan lembut.
"Kamu bisa membalasnya dengan memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus untuknya. Jangan kecewakan dia... Cukup itu sudah membuat Sandra bahagia" lanjutnya.
Tanpa disangka-sangka, setelah Willy mendengar apa yang dikatakan Aurora seketika Willy menarik tubuh Aurora ke dalam pelukannya. Willy menangis tersedu-sedu di pelukan Aurora.
Selama ini Willy menyimpan semua yang ia rasakan sendiri terutama mengenai kegundahan hatinya. Bukannya ia tak bersyukur Sandra lebih sukses dari dirinya atau saudara-saudaranya, tapi yang namanya seorang kakak pasti akan merasa tidak berguna karena melihat adiknya banting tulang bekerja siang dan malam, sedangkan dirinya tinggal duduk belajar dan menikmati semuanya. Ia bahkan sudah pernah bilang pada Sandra untuk ia diijinkan bekerja, namun tetap Sandra tak mengijinkan.
Bahkan dulu restorant yang pernah ia kelola walaupun itu masih punya Sandra, Sandra tak mengijinkan lagi ia untuk bekerja. Sandra hanya menginginkan saudara-saudaranya fokus untuk belajar dan bermain.
"Tenanglah... Suatu saat kelak, kamu pasti bisa sukses lalu menyenangkan Sandra dengan apa yang kamu punya" ucap Aurora dengan membalas pelukan Willy sambil mengusap punggung lebar Willy yang masih bergetar.
Srutttt...
Keharuan di antara mereka berakhir akibat Willy dengan tak tahu malunya mengusap ingusnya menggunakan baju yang di pakai Aurora.
"Kak Willy.... Jorok" seru Aurora yang kemudian mengambil tisue untuk membersihkan bajunya.
"Hahaha tak apalah, kau juga bisa beli lagi baju seperti itu atau bisa langsung tinggal di cuci. Gitu aja kok repot" ucap Willy dengan terkekeh walaupun masih sedikit sesenggukan.
Sedangkan Aurora masih komat-kamit tak menjawab apa yang di ucapkan Willy sambil terus membersihkan bajunya.
"Terimakasih Aurora" batin Willy sambil tersenyum manis pada Aurora yang menampakkan wajah cemberutnya tanpa Aurora sadari karena posisinya yang menunduk.
__ADS_1