
Mendengar apa yang di ucapkan Nenek Ima dan perawat itu sontak membuat Sandra naik pitam. Mana ada rumah sakit seperti ini, menilai pasien hanya dengan penampilannya saja. Sandra dan Leo benar-benar tak habis pikir.
"Ayo nak, kita pulang aja ya. Nenek mah nggak cocok di periksa disini. Cocoknya di tukang urut sebelah pasar" ucap Nenek Ima dengan bercanda.
Sandra dan Leo saling tatap dan hanya menghela nafasnya kasar.
"Udah nggak papa, nek. Ayo masuk, kalau mereka nggak menerima pasien biar ku hancurkan rumah sakit ini" seru Sandra dengan berapi-api.
"Kak Sandla ndak boleh menghanculkan lumah sakit, nanti bisa-bisa kak Sandla di tangkap polisi lho" tegur Radit menasehati Sandra dengan gaya seperti orang dewasa.
"Biarin lho, mereka nya nakal sih sama kita kadi kita hancurkan aja rumah sakitnya" ucap Sandra menanggapi ucapan polos Radit itu.
"Ihhh... Kak Sandla ndak boleh kaya gitu, nggak baik tau" ucap Radit dengan garang sambil mata nya melotot ke arah Sandra.
"Astaga... Kenapa kamu sangat menggemaskan sekali sih" ucap Sandra gregetan karena gemas dengan Radit sampai ia mencubit kedua pipi gembulnya itu.
"Ih kak Sandla, Ladit bukan menggemaskan tapi tampan" ucap Radit dengan percaya dirinya sambil melipat kedua tangan ke depan dadanya.
Hahaha
Leo, Sandra, dan Nenek Ima pun hanya bisa tertawa dengan sikap Radit yang menggemaskan dan terlalu percaya diri itu.
"Sudah ayo" ajak Leo tetap membawa Nenek Ima untuk di periksa di rumah sakit itu karena rumah sakit itulah yang paling dekat.
"Tapi ini nanti kalau di usil lagi gimana kak?" tanya Radit yang memegang tangan Sandra erat karena takut.
"Tak usah takut, udah kakak bilang kan tadi kalau mereka nakal rumah sakit ini bakalan kakak hancurkan" ucap Sandra yakin.
"Ihhh... Kak Sandla monstel" seru Radit membuat Sandra semakin tak bisa menahan tertawanya.
__ADS_1
"Sudah... Sudah... Jangan berisik nanti kita di marahi sama orang-orang. Coba lihat mereka pada ngeliatin kita" tegur Nenek Ima yang sedang di papah oleh Leo.
Sandra dan Radit yang di tegur pun langsung diam dan memperhatikan sekitar mereka. Dan benar saja kalau orang-orang melihat ke arah mereka dengan tatapan seperti merendahkan, menilai, atau aneh. Sesampainya di depan resepsionis, Sandra segera maju ke depan menghadap orang-orang disana.
"Saya mau periksa ke dokter khusus tulang" ucap Sandra menjelaskan maksud kedatangannya. Dan lihat saja tatapan resepsionis itu, memandang mereka berempat dengan pandangan yang merendahkan.
"Mohon maaf kami tak menerima pasien dengan jaminan kesehatan dan untuk dokter khusus tulang biaya pemeriksaannya sangat mahal" ucap resepsionis itu dengan tersenyum paksa.
"Saya tidak periksa pakai jaminan kesehatan. Saya bayar dengan biaya pasien umum" jawab Sandra dengan nada datarnya.
"Apa anda yakin?" tanya resepsionis itu lagi dengan tatapan menilai ke arah Nenek Ima dan Radit.
"Jangan memandang mereka seperti itu. Cepat berapa biaya administrasi dan periksa untuk dokter khusus tulang?" tanya Sandra mulai kesal dengan resepsionis itu.
"Biaya admin dan periksa 5.600.000, nona. Di luar biaya obat" jawab resepsionis itu dengan jutek. Sandra pun yang sudah kepalang kesal membuka dompetnya dan mengambil kartu untuk membayar biaya itu.
"Nak, mahal sekali" bisik Nenek Ima pada Leo yang berada di sampingnya.
Sandra menyodorkan sebuah kartu hitam atau black card di depan resepsionis itu. Sontak hal itu membuat sang resepsionis dan beberapa rekannya yang dari tadi hanya melihat, membulatkan matanya tak percaya. Pasalnya kartu itu hanya di miliki oleh beberapa orang saja dan ketika sang resepsionis menerima lalu membalikkan kartunya...
Degg...
"Fenia Sandra Arvasyad" gumam sang resepsionis. Dia sepertinya terkejut karena dulu ia pernah mendengar rumor bahwa keluarga Arvasyad sudah hilang tinggal anak-anaknya saja yang tidak di ketahui dimana keberadaannya.
Tanpa basa-basi resepsionis itu segera menggunakan kartu itu untuk pembayaran untuk membuktikan apakah kartu itu memang benar bisa di gunakan atau tidak.
"Arva Company" batin resepsionis itu saat melihat bahwa semua tagihan akan di masukkan ke beban Arva Company.
"Jangan... Jangan... Anda adalah pemilik perusahaan Arva Company?" tanya resepsionis itu ragu-ragu. Pasalnya tak mungkin yang punya kartu adalah karyawan perusahaan itu, kemungkinannya yang punya adalah pemilik perusahaan atau keluarganya.
__ADS_1
"Cepat" seru Sandra tanpa menjawab pertanyaan resepsionis itu.
Resepsionis yang tak mendapat jawaban itu pun segera menyelesaikan transaksi itu dan menyerahkan kembali kartunya setelah selesai.
"Anda bisa langsung ke arah sebelah kanan, nona. Di sana ruang periksanya" ucap resepsionis itu dengan gugup dan senyum paksa.
Tanpa menjawab Sandra, Leo, Nenek Ima, dan Radit segera berlalu dari sana dan pergi ke ruang dokter. Setelah mereka berempat hilang dari pandangan petugas resepsionis, seketika ruangan resepsionis itu menjadi gaduh akan gosip.
"Itu tadi siapa? Kenapa kau menyebut-nyebut Arva Company?" tanya resepsionis 2, teman dari resepsionis 1.
"Aku juga nggak tau. Dia dari keluarga Arvasyad yang rumornya keluarga itu udah nggak ada. Dia punya black card dan tagihan akan di masukkan ke Arva Company. Tak mungkin kan kalau dia hanya karyawan biasa di sana? Kemungkinan itu adalah pemimpinnya atau keluarga si CEO" jelas resepsionis 1 dengan panik.
Ia yakin jika dugaannya benar, maka tamatlah riwayatnya. Pasalnya ia sekarang tengah bekerja di rumah sakit di bawah naungan Arva Company, pasti ia takkan di biarkan lepas begitu saja. Apalagi sepertinya Sandra sudah mengetahui tentang banyaknya kesalahan prosedur yang terjadi di rumah sakit itu, terutama tentang tidak melayani pasien dengan jaminan kesehatan. Sandra sendiri malah membuat rumah sakit itu di peruntukkan untuk rakyat menengah ke bawah.
"Iya juga ya, mana ada karyawan biasa punya black card. Sudahlah kita berdo'a saja semoga dia tipe orang pemaaf terhadap karyawan-karyawan seperti kita" ucap resepsionis 2 menenangkan temannya dan diangguki oleh sang empu.
***
Tok... Tok... Tok...
Ceklek...
"Loh kalian? Kenapa bisa sampai di sini? Saya tadi kan sudah bilang kalau di sini tak menerima pasien dengan jaminan kesehatan" teriak suster yang tadi bertemu dengan mereka berempat di lobby rumah sakit.
"Kami sudah membayar biaya periksa nona jadi kami bisa sampai di sini" ucap Sandra dengan ketus.
"Halah... Situ nggak mungkin bisa bayar lah" seru suster itu dengan angkuh membuat beberapa orang disana melihat ke arah mereka berlima.
Sandra segera menyodorkan bukti kuitansi dan pembayaran yang tadi di berikan oleh resepsionis di depan.
__ADS_1
Bersambung...
*Kalau ada kata-kata atau kalimat yang kurang baik, mohon di maafkan. Di sini saya tak bermaksud menyinggung siapapun dan menyudutkan sebuah profesi manapun, ini hanya cerita khayalan author saja*