SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Rumah Baru Nenek Ima dan Radit


__ADS_3

"Wah... Lumahnya bagus banget" kagum Radit dengan mata yang sedari tadi melihat ke sekeliling halaman rumah itu.


"Ayo Radit masuk ke dalam, kasihan nenek kan kaki nya masih sakit jadi nggak boleh lama-lama berdiri" ajak Leo dengan nada santai.


"Iya ayo kak" seru Radit dengan berjalan riang masuk ke dalam rumah itu diikuti Leo, Sandra, dan Nenek Ima.


"Lasanya sepelti mimpi, Ya Allah" kagum Radit dengan dalam hati terus mengucap syukur atas rejeki yang ia dapatkan hari ini.


"Ini nggak mimpi, sekarang Radit dan nenek udah ada tempat berlindung yang lebih nyaman dan aman. Radit harus belajar yang rajin biar kelak bisa buat bangga nenek dan bisa jaga nenek dari orang-orang yang jahat" pesan Leo pada Radit yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


"Iya kak, Ladit pasti akan belajar yang rajin dan bekerja keras biar bisa banggain nenek" ucap Radit dengan semangat membuat Leo menyunggingkan senyum tipisnya.


"Radit untuk sekarang nggak usah mikirin kerja dulu, Radit hanya perlu belajar aja. Untuk kerja biar Kak Leo dan Kak Sandra aja ya, Radit sekolah aja" ucap Leo yang kini mereka sudah duduk di ruang tamu.


"Enggak ah, Ladit ndak mau nglepotin..." Belum sempat ucapan Radit di selesaikan, ucapan itu sudah di sela oleh Sandra.


"Radit hanya boleh sekolah aja, untuk bekerja biar kami saja. Untuk semua kebutuhan Radit dan nenek akan menjadi tanggungjawab kak Sandra dan kak Leo" ucap Sandra tegas.


"Eh... Jangan nak Leo, nak Sandra. Kalian udah memberikan kami rumah masa kami hanya diam duduk saja, nenek masih sanggup buat bekerja" tolak Nenek Ima.


"Nggak, Sandra nggak nerima bantahan pokoknya. Nenek dan Radit sudah jadi keluargaku jadi nggak boleh yang namanya kerja untuk nenek, nenek sudah seharusnya istirahat di rumah menikmati masa tua. Dan Radit cukup belajar dan bermain" ucap Sandra dengan nada tanpa boleh di bantah. Dan akhirnya Radit dan neneknya hanya pasrah akan keputusan Sandra itu.


"Baiklah, kami ikut nak Sandra dan nak Leo saja. Terimakasih ya nak sudah mau menampung kami yang bukan siapa-siapa kalian, bahkan kalian baru mengenal kami hari ini" ucap Nenek Ima dengan tersenyum sendu.


"Jangan berterimakasih nek, ini sudah sepantasnya nenek dapatkan karena telah menyelamatkan nyawa Sandra. Kalau nggak ada nenek tadi, entah apa yang akan terjadi pada Sandra. Mulai sekarang anggap Sandra sebagai cucu nenek ya dan Radit anggap kakak sebagai saudaranya Radit" ucap Sandra dengan memeluk lengan Nenek Ima.


Nenek Ima dan Radit begitu terharu mendengar apa yang di ucapkan Sandra.

__ADS_1


"Besok aku akan kenalkan kalian pada saudara-saudaraku yang lain. Sekarang nenek dan Radit bersih-bersih, makan, dan istirahat. Biar nanti di antar sama maid di sini" lanjutnya.


"Iya nak, terimakasih" ucap Nenek Ima.


"Baju Ladit gimana kak? Kan Ladit ke sini ndak bawa baju ganti" tanya Radit.


"Semua perlengkapan kalian sudah ada di lemari kalian masing-masing. Untuk baju dan sandal yang kalian pakai saat ini, lebih baik ndak usah di pakai lagi ya" jawab Sandra hati-hati.


Nenek Ima dan Radit pun paham, mereka sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Sandra. Mereka sadar kalau memang apa yang mereka kenakan saat ini jauh dari kata layak.


"Kalau gitu kami pamit pulang ya nek, udah malam. Kami juga mau bersih-bersih dan istirahat. Selamat istirahat nenek dan Radit" ucap Sandra berpamitan.


"Selamat malam juga kak Leo dan kak Sandla. Telimakasih untuk lumah dan baju balunya" seru Radit antusias dan di balas anggukan oleh Sandra.


Nenek Ima dan Radit di antar oleh maid ke kamar mereka, sedangkan Sandra dan Leo pulang ke mansion masing-masing.


Keesokan harinya...


Leo pagi-pagi sekali sudah berada di mansion Sandra untuk membahas sesuatu.


"Aku sudah tahu siapa pelaku yang ingin menabrak kamu kemarin, baby" ucap Leo memulai pembahasannya.


"Si..." Belum sempat menjawab, ucapannya sudah di potong oleh seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruang keluarga.


"Kamu kemarin mau di tabrak orang?" tanya sesorang yang baru datang tak lain adalah Papa Luis. Memang Sandra belum sempat menceritakan kejadian yang menimpanya kemarin pada papa dan saudara-saudaranya.


"Iya pa, maaf kemarin Sandra belum sempat untuk menceritakan semuanya. Jadi..." Sandra pun menceritakan semua kejadian itu hingga membeli mansion sebelah rumahnya untuk orang yang menolongnya.

__ADS_1


"Papa nggak marah kalau kamu membelikan orang yang menyelamatkanmu rumah atau apapun itu, tapi papa akan marah kalau kamu sampai tidak menceritakan hal seperti ini" ucap Papa Luia dengan menyiratkan tatapan khawatir.


"Iya pa, maaf" ucap Sandra merasa bersalah.


"Iya sudah tak apa, lanjutkan Leo. Jadi siapa yang ingin mencelakai anak papa, Leo?" tanya Papa Luis.


"Aurora pa, dia anak salah satu direksi saham di perusahaanku. Dari keluarga Tim, biasalah pa dia hanya hama kecil. Kami pasti biaa menyelesaikannya, papa tak usah khawatir" ucap Leo menenangkan.


"Bagaimana tak khawatir? Anak papa hampir celaka, ingin rasanya aku bermain dengan gergaji kesayanganku untuk menggorok lehernya itu agar tak bisa sombong di balik nama keluarga" ucap Papa Luis dengan kejamnya.


"Papa serem ah, jangan di gergaji kasian. Cukup dengan suntik mati saja biar nggak kelamaan teriak-teriaknya" ucap Sandra dengan seringaian kejamnya.


"Sudahlah... Papa dan anak sama-sama kejamnya" ucap Leo sambil geleng-geleng kepala.


"Kenapa? Kamu nggak tega iya? Mau kamu selamatin dia iya? Atau mau kamu lindungi dia gitu?" tanya Sandra dengan tatapan menyelidik menatap Leo.


"Syukurin, salah ngomong kan" ucap Papa Luis mengejek Leo tanpa suara hanya menggerakkan bibirnya. Leo yang melihat itu hanya tersenyum paksa mendapat ejekan dari papa nya dan amukan dari Sandra.


"Enggak lah baby. Mana mungkin aku melindungi cewek seperti dia, hanya kamu dan keluarga kita yang akan aku lindungi serta orang-orang baik yang ada di sekitar kita. Kalau orang jahat seperti dia mah harus kita berantas" elak Leo membela diri karena tak ingin Sandra salah paham.


"Awas aja kamu kalau sampai melindungi cewek lain di luar keluarga kita, aku potong tuh masa depan kamu terus aku cincang dan aku buat sup buat kamu lauk makan malam" ancam Sandra membuat Papa Luis dan Leo yang mendengarnya seketika bergidik ngeri sambil reflek memegang celananya masing-masing.


"Enggak akan baby" ucap Leo dengan serius karena selain takut dengan ancaman Sandra juga ia takkan pernah mengkhianati Sandra.


"Bagus" ucap Sandra kemudian berlalu pergi ke kamarnya untuk bersiap pergi ke kantor.


"Untung saja kamu berhasil bujuk Sandra, coba kalau enggak" ucap Papa Luis tersenyum lega saat melihat Sandra sudah menjauh darinya.

__ADS_1


"Iya pa, aku aja dengarnya udah ngilu apalagi terjadi beneran" ucap Leo tak mau membayangkan ancaman itu terjadi begitupun Papa Luis.


__ADS_2