SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Pulang


__ADS_3

Satu minggu sudah Sandra di rawat di rumah sakit, semua organ dalam dan seluruh kesehatannya sudah di cek lengkap dan menunjukkan hasil yang memuaskan yaitu Sandra dinyatakan sembuh total. Saat ini Sandra dibantu oleh Sandro untuk mengemasi beberapa pakaian dan barang yang dibawa saat ke rumah sakit kemarin. Saudara-saudaranya yang lain memilih untuk di mansion saja sembari menunggu kepulangan Sandra. Leo juga tak bisa menjemput karena ia ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Ini udah semua, dek" ucap Sandro sembari menunjukkan beberapa tas yang berhasil ia kemas untuk barang-barang Sandra.


"Makasih kak" ucap Sandra dengan tersenyum tulus kemudian menyerahkan tas dan koper itu pada bodyguardnya.


"Sama-sama" ucap balik Sandro dengan tersenyum juga.


Dua saudara kembar itu pun segera keluar dari ruang rawat inap Sandra dengan dua bodyguard yang mengikuti dari belakang sambil membawa koper dan tas milk Sandra. Sesampainya di lobby rumah sakit, mereka segera menaiki mobil dengan Sandro yang berada dibalik kemudi.


***


Setelah beberapa menit berkendara, Sandra dan Sandro pun akhirnya sampai di mansion tempat keluarga mereka tinggal. Mereka segera keluar dari mobil dan memasuki pintu utama mansion. Saat pintu dibuka....


Duarrrr... Duarrr... Duarrrr...


Bunyi sebuah party popper seketika saja mengagetkan keduanya, bahkan Sandra langsung memeluk kakak kembarnya karena terlalu kaget.


"Welcome home, Sandra" seru semua saudara-saudaranya bersamaan membuat Sandra melepaskan pelukannya dari Sandro.


Matanya berkaca-kaca, bukan menandakan ia sedih namun ia sangat bahagia mendapatkan sambutan sederhana dari semua saudara-saudaranya. Menurutnya dengan seperti ini berarti kehadirannya sangat dinanti oleh mereka.


"Terimakasih" ucap Sandra yang kemudian dipeluk oleh semuanya secara bergantian.


Setelah acara pelukan berjamaah, mereka semua akhirnya masuk ke dalam mansion dan makan siang bersama. Bahkan meja makan yang biasanya sepi kini suasananya terasa sangat hangat dengan candaan anak-anak kecil. Setelah selesai makan, mereka duduk di ruang keluarga sambil menonton tv dan melakukan kegiatan lainnya.

__ADS_1


"Hmm..." dehem seorang laki-laki paruh baya membuat semua orang mengalihkan pandangan ke arah suara itu.


"Ada apa paman?" tanya Sandra yang tengah bersandar kepala di dada bidang milik kakak sulungnya, Willy.


"Paman mau meminta ijin pada kalian. terutama kamu Sandra. Bolehkah kalau ayahku tinggal disini bersama adik-adikku juga? Kalau memang tak boleh, paman akan mencari rumah baru untuk mereka pasalnya rumah yang mereka tempati kemarin ternyata masih cicilan dan sudah nunggak 3 bulan. Kalau disini mereka tak akan kesepian karena banyak orang dan keamanannya juga terjamin" tanya Paman Harry meminta ijin.


"Boleh paman, kakek boleh tinggal disini. Sekalian paman dan tante kecil juga" ucap Sandra dengan santai.


"Paman dan tante kecil?" tanya Paman Harry bingung.


"Iya, kan mereka adiknya paman berarti paman kecil dan tante kecil dong" ucap Sandra dengan polosnya.


Semua saudara-saudaranya yang mendengar hal itu tentu saja juga berpikir bahwa emang ucapan Sandra itu memang benar adanya. Arka dan Jasmine adalah adik dari Paman Harry otomatis dipanggil dengan paman atau tante tetapi ada yang aneh karena umur mereka masih dibawah anak SMP. Tidak cocok dipanggil tante atau paman.


"Baiklah kita panggil nama, adek, atau kakak aja. Menyesuaikan umur" ucap Willy dan diangguki setuju oleh semuanya.


"Kak Arka dan Kak Jasmine, sekolah dimana?" tanya Alin sedangkan yang lainnya sibuk sendiri-sendiri namun ada juga yang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Em... Kami semenjak pindah ke rumah baru belum sekolah lagi" jawab Jasmine dengan polosnya membuat Rizal yang mendengarnya mengernyit heran.


"Lho bukannya waktu itu ibu sudah mendaftarkan kalian sekolah? Bahkan ibu setiap bulannya meminta uang untuk membayar sekolah kalian" tanya Rizal bingung.


"Waktu itu ibu hanya mengajak kami memilih sekolah saja dan kami juga sudah memilih sekolah namun ibu hanya bilang besok-besok saja berangkatnya gitu" ucap Arka menambahkan.


Mendengar hal itu Rizal seketika saja memijat pelipisnya karena tiba-tiba saja ia merasakan pusing di kepalanya. Semua perlakuan Ema memang tak mencerminkan disebut sebagai seorang ibu, Rizal menyesal bisa sampai terjerat dalam cinta butanya. Seharusnya ia sadar sejak lama kalau Ema memang tak cocok menjadi istri, namun ia juga tak bisa menyalahkan sang istri sepenuhnya karena bagaimanapun juga ia ikut andil dalam terjadinya semua masalah ini.

__ADS_1


Ia yang jarang memperhatikan, mengawasi, dan menjaga secara langsung kedua anaknya dari semua kebutuhan makan, pakaian, dan juga pendidikan membuatnya benar-benar menyesal. Terlebih sekarang usianya sudah sangat renta maka akan sulit bagi dirinya untuk mencari pekerjaan demi membiayai kedua anaknya yang masih kecil.


"Ya udah kalau gitu kalian mulai sekolah tahun ajaran baru saja tahun depan soalnya ayah mau cari pekerjaan dulu untuk biaya kalian sekolah" ucap Rizal dengan tersenyum teduh.


Walaupun kemungkinannya kecil untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi ia akan berusaha mendapatkan uang agar bisa membiayai pendidikan anaknya. Masa depan anaknya jauh lebih penting daripada ia menyerah sampai disini.


"Ayah tak perlu bekerja, apa ayah tak takut encok badannya? Udah tua gitu mending istirahat di rumah sambil nemenin anak dan cucu main" ucap Paman Harry dengan pedas.


"Biar Harry yang membiayai semua kebutuhan mereka, uang Harry kan banyak kalau cuma untuk membiayai sekolah mereka sampai perguruan tinggi pun nggak akan habis" ucap Paman Harry dengan nada sombongnya.


"SOMBONG" seru semuanya dengan serempak membuat Paman Harry tertawa lepas melihat kekompakan mereka.


"Kalian ini begitu lucu, kompak sekali" ucap Paman Harry sambil tertawa.


"Oh ya, bagaimana dengan istri ayah?" tanya Paman Harry membahas hal lainnya.


Sandra yang melihat hal itu segera saja menendang kaki Paman Harry yang duduk disebelahnya dengan keras. Ia mengkode untuk tidak membahas hal itu di depan anak-anak. Paman Harry yang mengerti kode yang diberikan Sandra pun hanya mengangguk saja sambil menahan rasa sakit di kakinya akibat tendangan Sandra. Ternyata tendangan Sandra merupakan tendangan maut baginya yang juga sudah tua.


Akhirnya sore itu, mereka menghabiskan hari itu dengan bercanda tawa. Bahkan Rizal, Arka, dan Jasmine yang baru saja bergabung sudah sangat akrab dengan saudara lainnya. Paman Harry, Rafi, dan Rizal memutuskan untuk berdamai dengan masa lalu dengan saling memaafkan satu sama lain.


Mereka semua hanya berharap kalau kebahagiaan dan kerukunan antar saudara ini bisa selamanya sampai maut memisahkan mereka.


**********


Happy New Year 2023 untuk semua kawan-kawan readers...

__ADS_1


__ADS_2