
"Ayo siapkan semua dokumen-dokumen penting perusahaan yang akan kita bawa. Kita tinggalkan negara ini untuk sementara" titahnya.
Tanpa basa-basi, Tom segera mengemasi dan menyiapkan barang-barang penting yang akan mereka bawa. Ia juga sudah memerintahkan beberapa bawahannya untuk menjaga perusahaan selama mereka pergi. Tak butuh waktu lama, Tom dan Liam keluar dari perusahaan untuk ke bandara secepatnya.
Namun di pertengahan jalan menuju Bandara, mobil mereka dihadang oleh beberapa mobil hitam. Dan tepat sekali Tom dan Liam tidak membawa para pengawal yang biasa mengawal mereka.
Tok... Tok... Tok...
Seorang laki-laki berwajah datar dan berpakaian hitam mengetuk kaca mobil yang ditumpangi Liam dan Tom. Namun Liam dan Tom tak menggubrisnya karena mereka tahu mereka bukan orang-orangnya. Mereka berdua sedang memikirkan bagaimana caranya kabur, melihat mobil mereka kini telah dikepung oleh anggota kelompok itu.
"Keluar" perintah orang yang berada di luar mobil.
Karena tetap tak digubris, beberapa orang yang mengepung seketika membuka paksa pintu mobil dengan beberapa alat yang mereka bawa. Kondisi yang sudah terdesak membuat Tom dan Liam dengan pasrah keluar dari mobil.
"Siapa kalian?" seru Tom.
"Bukan urusan anda".
"Bagaimana bukan urusan saya? Anda menghalangi jalan saya jadi itu menjadi urusan saya" teriak Tom emosi.
"Urusan kami dengan dia" seru orang itu sambil menunjuk ke arah Liam.
"Urusan dia juga urusanku" seru Tom tak terima, sedangkan Liam sedang mengamati sekitar untuk melarikan diri.
"Baiklah jika begitu. Berarti kalau dia mati, anda juga ikut mati"
Sontak ucapan itu membuat Tom dan Liam membola.
"Apa salah kami? Kami tidak ada urusan dengan kalian. Kami juga tak pernah mengusik kalian" seru Tom tak terima.
"Kalian memang tak ada urusan dengan kami, tapi kalian berurusan dengan bos kami"
"Siapa bos kalian?" tanya Tom sambil melihat disisi depan baju sebelah kiri orang-orang itu terdapat logo berupa huruf L dengan gambar kobaran api di atasnya.
"L" batin Tom yang bertanya-tanya.
"Sudah jangan banyak bicara. Cepat bawa mereka berdua ke markas, bos akan datang malam ini" titah orang itu pada teman-teman sekelompoknya.
Akhirnya orang-orang yang menghadang Tom dan Liam segera membawa mereka berdua.
"Lepaskan kita".
__ADS_1
"Kalian mau apa? Uang? Saya akan memberikannya".
"Dasar sialan... Saya bisa membayar kalian melebihi tuan kalian itu".
"Lepaskan kami".
Teriakan dan berontakan Tom dan Liam tak digubris sama sekali oleh orang-orang yang menyeret mereka masuk ke dalam mobil. Setelah berhasil masuk ke dalam mobil, mereka berdua diikat kuat dan disumpal mulutnya dengan kain. Sekelompok orang berbaju hitam itu segera melajukan mobilnya ke suatu tempat dan menunggu tuannya datang untuk memberikan pelajaran kepada kedua orang itu.
***
Sedangkan di kota B, kini Leo dan Sandra sedang makan siang di sebuah restorant mewah milik Leo setelah menyelesaikan semua urusan tentang gaji karyawan.
"Apa mereka sudah bergerak?" tanya Sandra pada Leo yang sudah selesai dengan makanannya.
"Sudah. Mereka juga sudah menangkap dua orang itu dan menunggu kita untuk kesana" jawab Leo dengan santai.
"Nanti malam kita kesana, aku sudah tak sabar memberikan mereka pelajaran" ucap Sandra sambil tersenyum.
"Baiklah, apapun untukmu baby" jawab Leo sambil mengerlingkan matanya sebelah menggoda Sandra yang kini tengah blushing karena godaan Leo.
"Hahaha bagaimana kau bisa blushing dengan godaan seperti itu, baby" Leo terkekeh pelan.
"Ish... Kakak ini. Udah ah ayo kita bersiap-siap ke resort kembali. Aku masih harus menyelesaikan keuangan disana" ajak Sandra yang kemudian menarik tangan Leo keluar resrorant untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
***
Di pagi itu, tanpa istirahat Sandra dan Leo langsung menuju ke perusahaan milik orang yang kemarin melakukan kecurangan dalam proyek kerjasama mereka, Perusahaan Liam Araxious Company.
Tak butuh waktu lama, Sandra dan Leo serta pengawal yang mendampingi sampai di depan perusahaan itu. Mereka berdua berjalan masuk ke lobby perusahaan dengan langkah tegas dan berwibawanya. Tak lupa dengan topeng yang menutupi wajah keduanya. Aktivitas di perusahaan itu masih sama, berjalan sebagaimana sehari-harinya karena para karyawan belum ada yang tahu kalau pemimpin mereka menghilang.
"Selamat pagi" sapa Sandra pada resepsionis yang berjaga dibalik mejanya.
"Selamat pagi nona, tuan" sapa balik resepsionis itu dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu" lanjutnya.
"Apa bisa saya bertemu dengan pemilik perusahaan ini?" tanya Sandra dengan tersenyum tipis.
"Mohon maaf nona. Pemilik perusahaan sedang tidak berada di tempat, hanya ada orang kepercayaannya saja saat ini" jawab resepsionis itu.
"Baiklah... Apa saya bisa menemui beliau? Bilang saja dari perwakilan Arva Company" tanya Sandra.
__ADS_1
"Saya tanyakan dulu ya, nona" jawabnya dan diangguki Sandra.
Resepsionis bernama Tina itu segera menelfon atasannya.
"Bisa nona. Silahkan bisa menggunakan lift khusus di sebelah sana untuk naik ke ruangan CEO" arah Tina dan diangguki oleh Sandra.
Sandra dan Leo segera naik menuju ke ruang CEO. Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai didepan ruang CEO.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" seru orang ang berada di dalam.
Sandra dan Leo memasuki ruangan itu dan duduk di sofa khusus tamu.
"Ada yang bisa saya bantu nona? Dan saya minta maaf karena nona tak bisa menemui tuan Liam secara langsung karena mereka sedang berada di luar kota" ucap orang kepercayaan perusahaan itu, Agus.
"Tak apa tuan. Saya hanya menyampaikan ini" ucap Sandra sambil menyodorkan sebuah dokumen.
Tanpa bertanya, Agus membuka dokumen itu dan membacanya.
"Bagaimana bisa?" seru Agus bingung.
"Jelas bisa tuan. Perusahaan ini sudah dipindah tangankan menjadi anak buah dari Arva Company karena Araxious Company sudah melakukan kecurangan dalam proyek kerjasama dengan perusahaan kami. Sebagai kompensasi dari kerugian kami, maka kami akan mengambil alih perusahaan ini" jelas Sandra.
"Mohon maaf nona. Tapi saya tak pernah tahu mengenai hal kerjasama ini karena saya hanya mengurus dokumen kerjasama yang baru. Dan saya tak bisa memutuskan hal ini karena perusahaan ini bukan milik saya" ucapnya.
"Kami mengerti tuan Agus, karena anda orang baru yang belum mengerti apa yang dilakukan atasan anda" jelas Sandra.
"Coba lihat ini" lanjutnya.
Sandra menyerahkan iPadnya yang menampilkan wajah Liam dan Tom yang sedang duduk terikat disebuah kursi dengan wajah yang babak belur.
"Mereka ada ditanganku saat ini, tuan Agus karena mereka harus mempertanggungjawabkan semua yang mereka perbuat. Saya juga sudah membeli beberapa saham direksi-direksi saham yang tak berkompeten dalam memajukan perusahaan" lanjut Sandra dengan memberikan beberapa dokumen bukti pembelian saham.
Agus yang masih bingung pun hanya melihat ke arah atasannya yang sedang menggeleng di dalam layar iPad seakan memberi kode jangan menandatangani dokumen yang diberikan Sandra.
"Cepat tanda tangan disini bila anda tak ingin celaka seperti atasanmu. Dan berikan surat kuasan atasanmu yang diberikan padamu" titah Sandra dengan nada datarnya.
Tanpa basa-basi, Agus mencari surat kuasa itu. Setelah menemukannya ia menyerahkan ke Sandra dan menandatangani dokumen yang Sandra berikan tanpa pikir panjang karena tak ingin nyawanya terancam apalagi dokumen itu sah.
"Akhirnya... Perusahaan ini jadi milikku" seru Sandra sambil tersenyum mengerikan membuat Liam yang melihat seketika lesu.
__ADS_1
Seakan mengatakan "Tamatlah riwayatku kali ini. Aku salah cari lawan".