
Hari Senin tiba, semua beraktivitas seperti biasanya. Tak terkecuali Sandra dan semua saudaranya. Willy dan Leo kembali ke kampusnya dengan membawa suatu misi, Sandro, Yusuf, Alin, Damar, dan Fatah kembali ke sekolahnya serta Rafi yang juga akan bersekolah di SMP milik Sandra. Tak lupa dengan Akbar yang masih berumur 5 tahun di sekolahkan di PAUD oleh Sandra.
Sedangkan untuk Sandra, Erick, dan papa Luis menuju ke kantor, setelah kemarin memulihkan tenaganya yang terkuras habis akibat pertarungan waktu itu. Masih ingatkan dengan ketua mafia Black Revo Mafia yang ditangkap dan disandera oleh anak buah Leo? Hari ini juga mereka bertiga akan menyelesaikannya.
Sandra, Papa Luis, dan Erick telah sampai di Arva Company setelah mengendarai mobil selama 30 menit. Mereka bertiga berjalan dengan langkah tegas dan wibawanya, tak lupa dengan topeng yang menghiasi wajah Sandra dan Erick. Papa Luis tidak memakai topeng karena ia sudah terkenal di dunia bisnis. Semua karyawan yang dilewati mereka bertiga seketika menghentikan jalannya dan sedikit menundukkan kepala sebagai rasa hormat terhadap atasan.
***
Mereka bertiga kini tengah berada di ruangan Sandra untuk membahas sesuatu.
"Coba kamu cek tim IT kamu, nak" perintah papa Luis pada Sandra dan Erick.
"Apa ada yang mencurigakan pa? Selama ini aku selalu mengeceknya dan tak ada masalah" ucap Erick.
"Selama kamu sakit apa kamu mengeceknya?" Tanya papa Luis dan dijawab gelengan kepala oleh Erick. Memang benar, Erick tak mengecek apa yang terjadi di perusahaan selama ia sakit karena untuk melihat iPad saja ia merasa pusing dan untuk menegakkan badan juga terasa sakit. Sedangkan Sandra, ia fokus pada permasalahan di Rusia waktu itu. Jadi untuk keadaan perusahaan sudah di tanggungjawabkan pada masing-masing kepala divisi.
Mendengar perbincangan papa Luis dan Erick, membuat Sandra segera membuka laptopnya dan Erick membuka iPadnya untuk mengecek semua jalannya perusahaan selama mereka tidak ada di perusahaan. Asisten Erick yang biasanya menghandle perusahaan ketika Sandra dan Erick pergi sedang memantau masalah cabang perusahaan di luar kota. Sepertinya ini kecerobohan Sandra yang membiarkan perusahaannya kosong tanpa pemantau dari orang kepercayaannya karena ia pikir mereka akan menjalankan perusahaan dengan baik dilihat dari lamanya mereka sudah bekerja dengannya.
"Kita kecolongan" ucap Sandra dengan mata yang masih fokus pada laptopnya.
"Kalian sudah lama berkecimpung di dunia bisnis, bagaimana kalian bisa kecolongan seperti ini? Bisa bangkrut lama-lama perusahaan yang kamu bangun selama ini. Di dunia bisnis, jangan pernah percaya pada siapapun. Bisa saja mereka hanya memanfaatkanmu untuk tujuan sesuatu" ucap papa Luis.
"Walaupun kamu percaya pada karyawanmu, pantau mereka. Jangan sampai kamu tertipu dengan wajah-wajah polos mereka. Bisa saja dibalik wajah polos mereka, ada wajah menyeramkan yang siap menerkam kalian. Kamu juga Erick" lanjut Papa Luis dengan nada tegasnya dan diangguki oleh Sandra dan Erick.
__ADS_1
***
"Pa, bukannya data perusahaanku di lindungi sistem yang sudah ku buat waktu itu ya. Bahkan aku sudah memperbaharuinya dengan yang baru, tapi ini bahkan kebocoran data perusahaan sudah mencapai 40%" heran Sandra setelah menganalisa apa yang terjadi.
Saat ini perusahaan Sandra telah mengalami kebocoran data dan entah bagaimana bisa itu terjadi tanpa ada yang melaporkannya. Kepala divisi IT juga hanya diam saja seolah semua baik-baik saja.
"Hati-hatilah dimana tempat kamu berada waktu itu saat kamu memperkuat sistem keamananmu" ucap papa Luis.
Mendengar hal itu, Sandra dan Erick mencoba mengingat kejadian-kejadian sebelumnya saat mereka memperkuat sistem keamanan perusahaan.
"Sepertinya sistem keamanan perusahaan kita harus ku perbaharui kak" ucap Sandra sambil berjalan bersama dengan Erick di lobby.
"Iya benar, apalagi sekarang banyak hacker yang licik dan cerdik" *jawab Erick.
Sandra dan Erick masuk ke ruang IT perusahaan dan disana ada dua orang yang sedang duduk di depan komputernya masing-masing. Melihat kedatangan Sandra dan Erick di ruang IT, dua karyawan itu segera berdiri dan menundukkan kepalanya.
"Duduklah. Aku kesini hanya untuk memperkuat sistem perusahaan ini" titah Sandra dan diangguki oleh dua orang itu, 1 kepala divisi IT dan 1 anggotanya.
Sandra dan Erick duduk di depan komputer dan langsung mengotak-atik komputer itu saat kode-kode dalam dunia IT muncul. Entah disadari atau tidak oleh Sandra dan Erick, bahwa salah satu orang disana memperhatikan gerak tangan Sandra di atas keyboard*.
"Apa salah satu diantara mereka yang disana waktu itu?" tanya Sandra sambil menerka-nerka.
"Baiklah, sepertinya memang ada pengkhianat di perusahaan kita. Ku kira kasus pengkhianat perusahaan yang kemarin adalah yang terakhir, tapi yang ini jauh lebih merugikan perusahaanku. Jangan harap kali ini pembalasanku akan biasa-biasa, harus diberikan hadiah spesial sepertinya" lanjut Sandra sambil tersenyum misterius membuat papa Luis dan Erick paham arah dari ucapan Sandra.
__ADS_1
***
Sedangkan disisi lain, di sebuah mansion yang mewah namun kemewahannya masih kalah dengan mansion milik Sandra terdapat dua orang laki-laki paruh baya sedang mendiskusikan tentang penyerangan mafia rekanannya yang gagal.
"Tuan, mafia yang waktu itu kita sewa untuk membunuh keluarga Arvasyad gagal" lapor sang bawahan kepada tuannya.
"Bukannya mafia yang kita sewa kemarin adalah mafia yang sama dengan mafia yang sudah berhasil membunuh kepala keluarga mereka" heran sang tuan.
"Benar tuan. Saat kejadian mereka hanya 4 orang saja namun entah bagaimana jadi banyak orang yang datang untuk membantu mereka" lapor sang bawahan setelah kemarin melihat CCTV yang ada di sekitar jalan itu karena tak ada laporan berhasil atau tidaknya mafia itu bahkan mereka hilang bak ditelan bumi.
"Semua anggota mafia tewas kecuali ketuanya, tuan. Tapi sayang sekali, ketua nya di sandera oleh kelompok itu" lanjutnya.
Awalnya mereka menargetkan papa Luis untuk mengakuisisi perusahaan milik papa Luis, namun ketika ada Sandra mereka langsung mengubah target ke Sandra. Kedua orang itu sudah tahu bahwa Sandra adalah bagian dari keluarga Arvasyad yang masih hidup.
"Bisa terancam posisi kita kalau ketua mafia itu membuka mulutnya" ucap sang tuan dengan sedikit panik.
"Ya benar tuan, kemungkinan besar mereka akan tahu identitas kita dan keluarga kita. Bisa jadi sasaran utama mereka saat ini adalah keluarga kita sebagai alat balas dendam mereka" ucap sang bawahan dan beberapa kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi.
"Beri pengawalan khusus pada anak dan istri kita. Terutama anak-anak kita karena mereka kan satu kampus dengan salah satu anak keluarga Arvasyad. Khawatirnya kita belum tahu mana anaknya keluarga itu yang sedang kuliah, tapi yang sana sudah tahu tentang kita" titahnya pada sang bawahan dan diangguki olehnya.
"Keluarga gue? Keluarga situ aja kali" batin sang bawahan.
Aroma-Aroma... Konflik besar dimulai...
__ADS_1