SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Akhir dari Tuan Alfonso 2


__ADS_3

"Cukup" seru Sandra menghentikan Vito yang saat ini terlihat tak ingin menghentikan apa yang ia perbuat.


Vito yang mendengar hal itu segera menghentikan apa yang di buatnya. Tuan Alfonso sudah terkapar di tanah dengan banyak luka lebam dan darah yang terus mengucur dari tangan dan kakinya.


"Sialan kau Vito" geram Tuan Alfonso di tengah tak keberdayaannya.


Dugh...


Tiba-tiba saja saat Vito berbalik, kaki Tuan Alfonso sebelah kiri yang tak terlalu terluka parah menjegal kaki Vito membuat Vito sedikit oleng namun tak sampai terjatuh.


"Oh... Masih sanggup juga anda melawan saya" ucap Vito dengan sinis yang kemudian berbalik kembali ke hadapan Tuan Alfonso.


"Vito... Vito... Seharusnya bukan aku saja yang berada di posisi ini, tapi kau juga. Bukankah kau juga yang selalu memberikan ide-ide licik untuk mereka" ucap Tuan Alfonso terbata-bata. Ia tak terima di beri hukuman seperti ini oleh orang-orang yang ia lukai di masa lalu.


"Saya memberikan ide itu juga karena ancaman anda. Keluarga saya yang jadi sekapan anda membuat saya ingin selalu mencari cara untuk kabur dari anda, namun setelah apa yang saya lakukan untuk anda ternyata saya salah. Ide-ide baik maupun licik sekalipun takkan mampu mengalahkan keserakahan anda untuk membebaskan keluarga saya" teriak Vito tak terima dengan tuduhan itu.


"Sudah... Sudah... Kalian tak perlu bertengkar seperti itu untuk mendapatkan ajal kalian. Kalian akan aku berikan waktu ajal secara berurutan jadi tak usah iri siapa yang akan menemui ajalnya duluan" ucap Sandra dengan santainya sambil memainkan pistol yang berada di tangannya.


Degg...


Detak jantung Tuan Alfonso dan Vito seketika berdetak lebih kencang, entah karena apa tapi mereka berdua merasa akan terjadi suatu hal yang buruk hari ini dengan mereka.


"Apa maksud anda nona?" tanya Vito yang bingung.


"Tidak ada" jawab Sandra singkat.


"Apa ada kalimat terakhir yang ingin anda sampaikan Tuan Alfonso?" tanya Sandra yang maju ke depan menggantikan Vito yang masih terdiam di sana.


"Tidak ada" jawab Tuan Alfonso dengan santai menutupi ketakutannya saat ini.


"Baiklah" saut Sandra kemudian menyiapkan pistol yang berada di tangannya.

__ADS_1


*Dor...


Dor...


Arrghhh...


Dor...


Arrghhh...


Dor...


Dor*...


Sandra menembak Tuan Alfonso membabi buta untuk mengakhiri hidup orang biadab itu. Dan untuk terakhir kalinya ia menembakkan pistolnya ke kepala Tuan Alfonso, membuat kepalanya seketika pecah dan hancur tak berbentuk. Bahkan darah menggenang di sekitar mayat Tuan Alfonso. Semua orang disana yang melihat bergidik ngeri melihat kebrutalan Sandra menghabisi Tuan Alfonso.


*Dor....


"Hah... Hah... Bakar mayatnya" seru Sandra dengan masih terengah-engah akibat menembak Tuan Alfonso tanpa henti, memerintahkan anak buahnya untuk membakar mayat Tuan Alfonso.


Anak buah Sandra segera menyiramkan bensin yang telah mereka siapkan ke tubuh Tuan Alfonso dan membakarnya dengan melemparkan sebatang korek api hidup ke tubuh itu.


Wuuummm...


Seketika api muncul dan membesar, membuat mayat Tuan Alfonso terlalap habis oleh api itu. Sandra pun membalikkan badannya dan melihat ke arah semua orang yang ada di sana dengan tajamnya.


"Jadilah pengkhianat di sekitarku dan jadilah penghancur kebahagiaanku, jika kalian ingin bernasib sama dengan orang itu" seru Sandra dengan nada datar dan dinginnya sambil menatap tajam semua yang ada disana.


"Benar-benar... Mengerikan" batin semua orang yang ada disana yang melihat Sandra tanpa belas kasihan menghabisi Tuan Alfonso. Bahkan ia tak mau memakamkannya dengan layak melainkan dengan membakar mayat itu.


"Setelah api itu membakar habis tubuhnya, kubur mayat itu di dekat tempat pembuangan sampah. Biarkan dia tertimbun dengan sampah seperti hidupnya yang seperti sampah, membuat orang yang berada di dekatnya tidak tahan atas semua perilakunya" titah Sandra pada anggota mafia bayangan, Grey Shadow.

__ADS_1


"Baik Nona" jawab semua anggota Grey Shadow.


"Pulang" titah Sandra pada Willy, Sandro, Papa Luis, dan Leo. Sandra membiarkan Vito dan Adit yang masih ada disana untuk ikut membereskan mayat Tuan Alfonso.


Willy, Sandro, Papa Luis, dan Leo pun mengikuti Sandra yang sudah berlalu pergi dari rumah tua itu. Mereka berlima memasuki mobil dan berlalu dari sana.


"Bisa kau jelaskan Sandra apa hubunganmu dengan anggota mafia Grey Shadow?" tanya Papa Luis yang duduk di samping Sandra.


"Beri aku sedikit waktu untuk memulihkan tenagaku pa. Setelah itu aku akan jelaskan semuanya" ucap Sandra dengan menyandarkan tubuhnya di kursi mobil dan menutup matanya. Sedangkan yang lainnya hanya diam mendengarkan pembicaraan keduanya walaupun mereka sama-sama penasaran.


"Baiklah" ucap Papa Luis yang kemudian juga ikut memejamkan matanya. Ia juga merasa lelah akibat kejadian hari ini. Semua juga beristirahat di dalam mobil, kecuali Leo yang berada di balik kemudi mengemudikan mobil itu dengan fokus.


***


Dua hari berlalu semenjak kejadian pertarungan antara Tuan Alfonso dan Sandra dkk, Sandra masih menutup mulutnya rapat-rapat mengenai hubungannya dengan anggota mafia Grey Shadow. Ia menyibukkan diri di perusahaannya bersama Erick.


Kenapa Erick tak membantu Sandra untuk menghabisi Tuan Alfonso? Erick sedang berada di Belanda waktu itu untuk mengurusi cabang perusahaan Sandra yang di sabotase beberapa pengusaha di sana.


"Apa benar kau mendirikan mafia lain tanpa sepengetahuan papa?" tanya Erick yang sudah mengetahui berita tentang mafia Sandra dari papa Luis.


"Kau pasti sudah di beritahu bukan oleh papa. Jadi tak perlu ku jawab pasti kau juga sudah tahu jawabannya" jawab Sandra acuh tak acuh. Entah apa yang terjadi pada Sandra, setelah kejadian dimana pembantaian Tuan Alfonso itu Sandra sedikit berubah. Terlihat lebih pendiam, cuek dengan sekitar, dan dingin pada orang di dekatnya.


"Apa kau tak ingin menjelaskan hal itu pada semuanya?" tanya Erick dan di jawab dengan menaikkan bahunya acuh.


"Huft... Sebenarnya apa yang terjadi denganmu Sandra? Kau sangat pendiam dan cuek akhir-akhir ini. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Erick yang benar-benar sudah lelah menghadapi sikap Sandra akhir-akhir ini.


"Aku tidak apa-apa dan aku baik-baik saja. Tak usah kau khawatirkan aku, lebih baik kau kembali mengerjakan semua pekerjaan yang masih banyak itu agar kita bisa cepat pulang untuk istirahat" ucap Sandra sambil terus sibuk fokua pada dokumen yang ia baca.


"Terserah kau saja lah. Jangan sampai sikapmu yang sekarang membuat oranglain salah paham dan orang-orang terdekatmu menjauhimu" peringat Erick kemudian berlalu keluar dari ruang kerja Sandra.


"Maafkan aku kak Erick, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diriku saat ini" gumam Sandra yang sudah melihat Erick keluar dari ruangannya. Ia pun kembali fokus pada pekerjaannya yang terlihat menumpuk di mejanya.

__ADS_1


__ADS_2