
Brakkk....
Bunyi meja di gebrak oleh sang empu pimpinan perusahaan terbesar di Eropa saat ini. Ia benar-benar marah besar saat ini pada hampir semua karyawannya. Dua bulan ia tak mengecek perusahaan pusat yang ada di luar negeri secara langsung, membuat perusahaannya mengalami kekacauan dan kerugian yang besar.
Semua karyawan yang berada dalam ruang rapat itu, seketika menundukkan kepalanya takut dan gemeteran. Bahkan ada yang sampai berkeringat dingin, akibat dari tatapan tajam nan menyeramkan dari Luis Adelard Horison.
Papa Luis yang sudah mendapatkan ijin dari anak-anaknya untuk mengecek perusahaan pusatnya, kini memandang semua karyawannya dengan tatapan menyelidik.
"Sebenarnya apa yang kalian kerjakan selama ini? Terutama selama saya tidak menginjakkan kaki saya di perusahaan ini" seru Papa Luis.
Diam... Semua diam membisu, tak ada yang mau menjawab atau memberikan alasan.
"Bukan berarti selama 2 bulan saya tidak ke sini untuk cek secara langsung, kalian bisa seenaknya saja. Ini bukan perusahaan kalian sendiri. Kalian bekerja dengan baik, perusahaan akan baik terhadap kalian. Tapi... Kalau kerja kalian menyebabkan perusahaan saya hancur, jangan salahkan saya untuk menghancurkan kalian satu persatu" tekan Papa Luis membuat semua karyawan di sana menelan salivanya kasar.
"Keluar..." lanjutnya dengan berteriak.
Semua karyawan yang berada di ruang rapat segera berbondong-bondong keluar dari ruangan itu. Mereka semua bagaikan sebuah burung yang baru saja lepas dari sangkarnya.
"Pasti ada yang mau main-main dengan perusahaanku" gumamnya sambil duduk di kursi kepemimpinannya. Papa Luis menahan semua emosinya yang masih tinggi, andaikan ia tak ingat dengan penyakit hipertensinya mungkin saja emosinya akan meledak saat itu juga.
__ADS_1
Papa Luis pun keluar dari ruang rapat dan melangkah dengan langkah tegasnya memasuki ruang CEO. Tanpa basa-basi ia segera mengambil laptopnya dan mulai berselancar di dalamnya.
"Bodoh... Kau salah cari lawan" batin Papa Luis menyeringai misterius.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, ia segera pulang ke mansionnya dengan mengendarai mobilnya sendiri.
***
Di dalam perjalanan, Papa Luis merasakan sesuatu yang akan terjadi. Sepertinya ada sesuatu yang janggal, dan benar saja mobilnya bergerak tak beraturan di jalanan yang lumayan sepi itu.
Tanpa papa Luis sadari, oli dan bensin mobil yang di kendarai Papa Luis ternyata bocor sehingga berceceran di jalanan yang ia lewati. Kesempatan itu di gunakan seseorang yang misterius, dengan melemparkan beberapa buah korek api yang menyala.
Duarrrr....
Api yang besar menyambar mobil milik Papa Luis dan seketika saat itu juga meledak. Bunyi dentuman ledakan itu menimbulkan keramaian, semua warga sekitar berbondong-bondong melihat kejadian itu. Beberapa warga menghubungi ambulance dan polisi, mereka ingin mendekat tapi takut karena api yang masih berkobar dan serpihan badan mobil dimana-mana.
"Rasakan itu kau... Luis. Perusahaanmu akan menjadi milikku sebentar lagi" gumam pelan seseorang yang berada di dalam kerumunan warga dengan pakaian biasa.
***
__ADS_1
Berita kecelakaan yang menimpa pebisnis handal dan sukses itu seketika menggemparkan dan mengejutkan semua orang tak terkecuali Sandra dan semua saudaranya. Bahkan Sandra dan Rafi sampai harus mengganti-ganti channel tv untuk mendapatkan berita yang akurat.
"Itu... Itu bukan mobil papa kan kak?" ucap Rafi dengan lirih.
Sedangkan yang lainnya hanya menundukkan kepala sembari berdo'a semoga yang di dalam mobil itu bukan Papa Luis. Walaupun plat dan beberapa identitas dari pemilik mobil telah menyatakan bahwa itu adalah milik papa Luis.
"Halo... Cepat cari informasi mengenai kecelakaan yang terjadi di sana. Aku akan berangkat ke sana malam ini juga" titah Sandra menghubungi anak buahnya.
Tut...
Sedari tadi ia sudah menghubungi Papa Luis, namun tak ada respons dan itu membuat Sandra berpikiran negatif.
"Kak, aku ikut ke sana ya. Rafi mohon" mohon Rafi dengan mata yang berkaca-kaca.
Sandra paham dengan apa yang di rasakan Rafi saat ini.
"Iya, kamu boleh ikut. Kita pergi sama kak Leo juga ya. Buat yang lainnya di sini aja, saling jagalah satu sama lain, jangan lengah. Sandra khawatir nanti ada musuh yang tahu kalau kita sedang berduka dan memanfaatkan kondisi itu" peringat Sandra dan diangguki oleh semuanya.
"Kalian..."
__ADS_1