
Arva University...
"Hari ini ada mahasiswi baru dari London, dia model dan juga anak pengusaha" ucap Andri tiba-tiba setelah melihat dari chat grup kampusnya.
Saat ini Andri, Willy, Leo, Ferdi, dan Nino tengah berada di kantin kampus menunggu waktu kelas selanjutnya di mulai. Memang dari mereka berlima, Andri lah yang punya banyak relasi mahasiswa kelas dan jurusan lain. Bahkan Andri sendiri bisa masuk ke dalam group chatt mahasiswa-mahasiswa update. Sedangkan yang lainnya sangat malas mengenai hal-hal yang tak penting tersebut.
"Cantik nggak?" tanya Ferdi pada Andri.
"Namanya model, pasti cantiklah" sewot Andri mendengar pertanyaan tak bermutu dari Ferdi.
"Hehehe ya mana tau, ada kan ya kalau model aslinya burik tak kalau di make up jadi keliatan cantik. Atau bisa cantik karena operasi plastik" sanggah Ferdi dengan cengengesan.
"Ini model asli, dasar pikirannya" gerutu Andri sedangkan yang lain hanya memperhatikan perdebatan mereka saja, tak tertarik juga dengan apa yang mereka bicarakan.
Wah... Cantiknya...
Insecure gue...
Tingginya astaga...
Putih banget tuh kulit, luluran pakai apa ya kira-kira...
Bisik-bisik mahasiswa yang ada di kantin membuat suasana kantin sedikit gaduh yang ternyata terlihat ada kehadiran seorang mahasiswi baru yang tengah jadi perbincangan di kampus.
"Noh... Itu tuh yang gue maksud" ucap Andri dengan antusias.
Ferdi, Nino, dan Willy melirik sekilas kemudian memalingkan wajahnya seakan hal itu sudah biasa, sedangkan Leo, dia hanya acuh tak mempedulikan siapapun di sekitarnya. Karena baginya cewek tercantik hanya kekasihnya seorang.
"Biasa aja, udah banyak mah model kaya gitu. Yang perlu di tekankan di sini, dengan wajah cantiknya itu apa bisa menjamin kalau hatinya juga cantik?" ucap Nino menohok.
__ADS_1
Andri seketika kicep, sedangkan yang lain membenarkan apa yang di ucapkan Nino.
"Iya benar, sebagai laki-laki yang kelak akan jadi suami kita nggak mungkin kan kalau suatu saat hanya di suguhi oleh kecantikan saja oleh istri. Yang penting hatinya tulus bersama kita di saat susah dan senangnya kita, buat apa punya pendamping hidup cantik tapi ketika kita sedang di bawah eh dia nya malah memikirkan dirinya sendiri" ucap Ferdi.
"Ah... Baiklah. Gue kalah, semua omongan kalian memang benar" ucap Andri dengan lesu dan di balas tepukan tangan di bahunya oleh Willy.
"Yang sabar. Kita sebagai teman hanya mengingatkan kalau kelak ketika mencari pendamping hidup jangan di lihat dari fisiknya saja tapi juga hatinya" ucap Willy bijak dan diangguki oleh Andri.
"Emm... Maaf boleh duduk di sini? Soalnya meja yang lain sudah penuh" tanya seorang perempuan yang menghampiri meja Willy dkk yang sedang asyik berbincang.
Mendengar ucapan seseorang di dekatnya, mereka mengalihkan perhatian ke arah seseorang itu. Semua saling pandang seakan berdiskusi.
"Iya silahkan duduk saja" ucap Ferdi tenang setelah mendapat persetujuan dari semuanya karena memang semua kursi kantin telah penuh, tinggal satu kursi yang berada di meja Willy dkk.
Seseorang yang ternyata adalah mahasiswa baru itu akhirnya duduk setelah di persilahkan. Tanpa basa-basi ia makan dengan tenang tanpa mempedulikan tatapan-tatapan dari penghuni kantin.
Setelah 10 menit makan, gadis itu akhirnya selesai dengan acara makannya.
"Terimakasih atas tumpangan kursinya. Perkenalkan aku mahasiswi baru di kampus ini, nama ku Alodia Graceli. Panggil saja Celi" ucap Celi dengan sopan dengan sedikit menundukkan kepalanya sebagai perkenalan.
"Sama-sama. Aku Ferdi, dia Andri, dia Nino, dia Leo, dan yang terakhir Willy" ucap Ferdi memperkenalkan teman-temannya satu per satu.
"Ah iya, salam kenal. Kalau begitu aku permisi" pamit Celi pada semuanya dan diangguki oleh Willy dkk kecuali Leo yang hanya diam sibuk dengan hp nya.
"Sopan dan ramah ya dia walaupun udah jadi model terkenal" ucap Ferdi sambil menatap punggung Celi yang sudah perlahan mulai menjauh.
"Iya, nggak gila popularitas. Nggak sombong juga walaupun anak orang kaya" lanjut Andri.
"Astaga... Ada apa dengan jantungku? Kenapa dengan melihatnya aku merasa gugup dan deg-deg an" batin seseorang disana.
__ADS_1
***
"Gawat... Aku harus pergi dari negara ini sebelum mereka menemukanku. Tak mungkin kan kalau Leo yang notabene adalah pengusaha besar sepertinya akan membiarkan orang yang ingin mencelakai kekasihnya hidup berkeliaran bebas" ucap seseorang yang kemarin ingin mencelakai Sandra, yang tak lain adalah Aurora dengan panik.
Aurora dengan panik nya segera mengemasi beberapa pakaian dan barang-barang penting yang ia punya setelah mendapat kabar dari ayah nya bahwa ada orang yang mencuri informasi tentang dirinya. Ia yakin bahwa orang mencuri informasi tentang dirinya itu berkaitan dengan kejadian kemarin. Ia memang belum menceritakan kejadian kemarin pada ayah nya. Setelah selesai, ia segera membawa kopernya keluar kamar dan ia sudah memesan tiket pesawat melalui online tadi.
"Kamu mau kemana Aurora?" tanya ayahnya yang baru saja pulang dari kantor dan mendapati anak nya tengah buru-buru membawa kopernya di atas tangga.
"Besok Aurora akan menceritakan semuanya pada ayah, aku harus segera pergi sebelum terlambat" ucap Aurora panik.
"Apa yang sebenarnya terjadi Aurora? Kenapa kamu panik begini? Coba kamu tarik nafas pelan-pelan lalu hembuskan" ucap ayahnya dan segera di lakukan oleh Aurora.
"Huh... Tadi kan ayah cerita kalau data pribadi aku ada yang mencurinya kan? Kemarin aku ada masalah dengan seseorang yah, dan kemungkinan orang yang melakukan itu adalah orang yang sedang ada masalah denganku" ucap Aurora.
"Memang kamu ada masalah apa dengan orang itu?" tanya ayahnya padahal setahu nya Aurora adalah anak yang baik dan tak pernah aneh-aneh hingga menimbulkan masalah seperti ini.
"Dia mendekati calon kekasihku ayah. Makanya karena kemarin aku sempat emosi, aku hilang akal hingga mau menabrak perempuan itu. Tapi perempuan itu nggak kenapa-kenapa kok" jelas Aurora dengan panik.
"Apa? Kamu ingin mencelakai orang hanya karena masalah laki-laki?" kaget ayahnya yang tak habis pikir dengan pola pikir anaknya.
"Lalu kenapa kau mau pergi Aurora? Kau harus bertanggungjawab" lanjutnya.
"Aku yakin bahwa mereka sedang mengincarku saat ini ayah, aku tak mau mati di tangan mereka" jawab Aurora dengan tatapan memelas.
"Kau takkan mati Aurora asal kau meminta maaf dengan tulus dan bertanggungjawab dengan apa yang kau perbuat" nasehat ayahnya.
"Tapi yah, aku malas berurusan dengan perempuan itu. Gara-gara dia, aku jadi tak bisa bersanding dengan laki-laki incaranku" kekeh Aurora keras kepala.
"Aurora..."
__ADS_1