SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Flashback Aurora 2


__ADS_3

"ATM berjalan kita dong" seru ketiganya dengan riang seakan-akan di kamar mandi sekolah tak ada orang.


Prok... Prok... Prok...


"Wow... Luar biasa sandiwara kalian" ucap seseorang yang baru saja muncul dari balik pintu masuk kamar mandi cewek yang tak lain adalah Aurora.


Aurora tadi sebenarnya ingin ke kelasnya langsung, namun di pertengahan jalan menuju kelas ia mendapat panggilan alam. Tak disangka inginnya ke toliet malah mendapatkan sebuah fakta yang membuatnya sakit hati.


"Aurora..." seru ketiganya kaget setelah melihat siapa orang yang muncul itu. Pasalnya tadi mereka bertiga sudah yakin tak ada satupun siswi yang berada di toilet dan sekitarnya.


"Kenapa kaget?" tanya Aurora dengan sinis seraya berjalan menghampiri ketiga temannya, ah lebih tepatnya sekarang adalah mantan temannya.


"Eng... Enggak kok, Ra. Kamu ngapain disini? Bukannya tadi kamu ke kelas ya?" tanya Dini dengan sedikit gugup namun berusaha untuk menutupinya.


"Kalau aku ke kelas nggak mungkin aku bisa tahu kebusukan kalian" jawab Aurora dengan ketus.

__ADS_1


"Apa maksudmu Ra? Kami nggak ngerti" ucap Adelys yang pura-pura tak tahu dan diangguki oleh kedua temannya.


"Dia bukan teman kita, tapi atm berjalan kita" ucap Aurora menirukan ucapan mereka bertiga yang ia dengar tadi.


"Kamu salah dengar kali, Ra. Kita tadi nggak ngucapin kaya gitu kan? Kamu kan di luar kamar mandi jadi pasti kurang jelas apa yang kita ucapkan" elak Dini meminta persetujuan dari Adelys dan Yuma.


Mereka bertiga tentunya khawatir jika Aurora mengetahui semuanya. Bukan hanya tentang memanfaatkan Aurora saja, tapi mengenai kekuasaan dari keluarga Aurora. Mereka khawatir mengenai sekolahnya dan keluarga mereka.


"Hmm... Apa aku perlu ya aku pergi ke dokter THT?" Tanya Aurora dengan menunjukkan wajah sembari berfikir dan kedua tangan yang disilangkan di depan dadanya.


"Ah... Iya ku rasa kamu perlu ke sana Aurora, mau ku antar?" tawar Yuma yang sudah lega dalam hati karena Aurora sudah mengalihkan perhatiannya.


"Hahahaha Drama kalian sungguh luar biasa. Emang kalian kira aku ini bodoh ha?" ucap Aurora dengan meninggikan suaranya.


"Eng... Enggak Aurora. Kita nggak bilang kamu bodoh kok" elak Adelys dengan menggelengkan kepalanya cepat takut Aurora malah mrnjatuhkan mereka.

__ADS_1


"Mulai hari ini, saya Aurora tidak mempunyai teman siapapun di sekolah ini. Untuk barang-barang yang pernah kalian beli pakai uangku, silahkan ambil aja. Anggap saja sedekah kepada yang membutuhkan" putus Aurora mencoba kuat.


Aurora mencoba untuk bertahan agar air matanya tak tumpah. Bagaimana bisa teman-teman yang sudah ia anggap sahabat bahkan saudaranya dengan tega mengatakan kalau dia hanya ATM berjalan.


Tapi apa Aurora selama ini tak menyadari kalau dia hanya dimanfaatkan oleh ketiga temannya itu? Jelas dia menyadari, hanya saja dia menepis semua itu, ia berpikir karena teman-temannya tak pernah merasakan belanja di mall jadi dia biasa saja. Namun setelah mengetahui semua hal itu, hatinya semakin terluka. Aurora tak punya sandaran, walaupun selama ini ketiga temannya tak pernah mau mendengar keluh kesahnya tapi setidaknya ia tak kesepian.


"Jangan kaya gini Ra, kita itu bukan lagi teman tapi udah sahabat bahkan saudara" panik Dini.


"Iya Ra, kamu jangan kaya gini lah. Ini cuma salah paham lho, lebih baik kita omongin ini baik-baik ya" bujuk Adelys.


Tanpa menjawab perkataan mereka, Aurora berlalu keluar tanpa mendengarkan teriakan panggilan untuknya. Aurora kembali ke kelas dan langsung mengambil tas nya, kemudian pergi keluar sekolah menggunakan mobilnya. Ia membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya.


"Apa aku nggak diijinin untuk bahagia, Tuhan" teriak Aurora sambil menangis di dalam mobil seraya meremat stir kemudi dengan erat.


"Apa aku nggak boleh ngerasain kasih sayang dari oranglain? Kenapa semua orang tak ada yang mau menemaniku dengan tulus" lanjutnya.

__ADS_1


Ia benar-benar terisak-isak di dalam mobilnya dengan mengemudi kecepatan tinggi. Hari itu juga Aurora membentengi dirinya untuk tidak berteman dengan siapapun dan selalu memasang wajah angkuh dan sombongnya agar tak dimanfaatkan orang.


Keesokan harinya Aurora keluar dari sekolah itu dan melanjutkan pendidikannya di kota seberang. Kabar itu jelas mengagetkan semua orang yang ada di sekolah itu. Aurora pun membiarkan mantan temannya, ia tak memberikan balasan apapun.


__ADS_2