
Saat ini Sandra dan Erick tengah disibukkan dengan menormalkan kembali semua data-data perusahaan. Bahkan kini Sandra membuat pengaman data perusahaannya yang baru dan memasangnya sendiri tanpa melibatkan karyawannya agar kejadian kemarin tak terulang lagi. Para karyawan IT hanya diberitahukan sistem kerjanya dan menangani bagaimana jika ada yang berusaha menerobos data mereka.
Erick kini menyibukkan diri dengan iPad nya karena banyaknya email masuk mengenai kerjasama di perusahaan. Ia juga harus segera mencari tahu dalang dari pembunuhan orangtua Sandra.
"Ayo kita istirahat dulu" ajak Erick pada Sandra yang masih sibuk di depan laptopnya saat jam sudah memasuki waktu istirahat.
Sandra yang mendengar hal itu segera membereskan pekerjaannya kemudian berdiri dari duduknya dan mengikuti Erick yang sudah lebih dulu berjalan. Sandra dan Erick segera menuju ke cafe dekat perusahaan untuk makan siang. Sesampainya si cafe mereka segera memesan makanan mereka.
Saat mereka sedang menunggu pesanan makanan mereka datang, Sandra melihat-lihat area sekeliling cafe. Ketika ia mengamati keadaan sekitar, ia seperti melihat ada beberapa orang yang ia kenal.
"Kak Willy" panggil Sandra pada Willy yang berada di meja belakang Erick.
"Lho dek, kamu juga disini. Lagi istirahat?" tanya Willy yang melihat adiknya.
"Iya kak. Kakak ngapain disini?" tanya Sandra.
"Kita lagi nongkrong aja dek. Kebetulan udah nggak ada jadwal" jawab Willy dan Sandra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
"Itu bukannya pacarnya Leo?" bisik Vena pada Rachel dan Rachel mulai mengamati perempuan yang sedang berbincang dengan Willy itu.
"Iya, sepertinya begitu" jawab Rachel acuh tak acuh.
"Baby" panggil Leo saat ia melihat Sandra berada di cafe yang sama dengannya. Kebetulan tadi saat Sandra datang, Leo sedang berada di toilet.
"Hai kak Leo" sapa Sandra balik dengan tersenyum manis.
"Duh... dedek Sandra senyumnya manis banget euyy bikin abang diabetes" goda Ferdi tanpa melihat tatapan tajam dari orang di sampingnya.
"Ati-ati Fer, pulang habis ntar" peringat Andri pada Ferdi agar menyadari tatapan tajam dari pria di sebelahnya.
__ADS_1
"Eh... babang Leo, ampun bang cuma bercanda" elak Ferdi saat menoleh ke samping ternyata Leo sedang menatapnya tajam.
"Posesip amat bos" goda Nino saat melihat Ferdi yang kicep karena tatapan Leo.
"Biasa si bos mah udah bucin ama neng Sandra. Gimana nggak bucin? Udah baik, cantik, mandiri, mapan pula. Yakin deh gue kalau punya calon kek Sandra nggak bakal gue biarin keluar dari rumah" ucap Andri dan diangguki setuju oleh Ferdi dan Nino.
"Kalian terlalu berlebihan" elak Sandra yang tak enak hati dengan pujian dari mereka.
"Udah dek, kamu makan dulu tuh. Takutnya makanannya nanti dingin kalau kamu biarin terus" ucap Willy sekaligus memutus godaan dari sahabat-sahabatnya karena tahu sang adik merasa tak nyaman jika terlalu di puji.
Sandra dan Erick pun memulai kegiatan makannya dengan tenang, sedangkan Willy dkk kembali ke tempat duduknya.
***
"Wil, adek kamu udah kerja ya? Bukannya umurnya dibawahmu kok dia udah kerja" tanya Rachel saat tadi ia melihat Sandra masih memakai pakaian formalnya.
"Oh... Kejadian apa?" tanyanya lagi.
"Ini privacy keluarga. Maaf gue nggak bisa jawab" jawab Willy.
"Kejadian ayah loe yang bunuh orangtua gue, yang nyebabin gue dan adik gue harus berpisah. Adek gue yang harus kerja keras banting tulang tanpa ada saudara-saudaranya" lanjut Willy di dalam hati sambil mencoba menahan segala kemarahan dan kebenciannya.
Leo yang mengetahui hal itu mengulurkan tangannya ke bawah dan sedikit menepuk punggung tangan Willy agar ia tersadar dari semua rasa emosinya. Leo tak ingin Willy terpancing emosinya yang kemudian membuat rencana yang mereka susun gagal.
Rachel yang mendengar jawaban dari Willy pun tak melanjutkan pertanyaannya agar Willy tak tersinggung.
"Semuanya... Aku dan kak Erick balik ke kantor dulu. Jam istirahat kita udah mau habis soalnya" pamit Sandra pada semua yang ada disana dengan tiba-tiba.
"Mau ku antar, baby?" tanya Leo yang sudah berdiri di hadapan Sandra.
__ADS_1
"Nggak perlu kak, aku bareng kak Erick aja. Lagipula jarak cafe ke kantor juga dekat" tolak Sandra dengan lembut.
"Baiklah, hati-hati. Jangan sampai kamu kelelahan" pesan Leo dan diangguki oleh Sandra.
"Namanya juga kerja pasti lelah lah. Mana ada kerja nggak lelah, kecuali jadi bos yang tinggal perintah aja" ceplos Rachel yang mendengar percakapan antara Sandra dan Leo.
"Apa sih Chel, asal ceplos aja. Itu bukan urusan loe juga kali" sinis Andri yang tak suka dengan Rachel karena terlalu ikut campur urusan orang.
"Gue benerkan? Kalau yang namanya kerja itu capek, kalau mau nggak capek ya jadi bos. Tinggal duduk, duit ngalir" ucap Rachel tak mau kalah.
"Udah kak biarin aja. Masa masalah kecil gini aja jadi ribut, nggak enak dilihat sama pengunjung lain" ucap Sandra pada Andri yang sepertinya sudah tersulut emosi. Andri yang mendengar hal itu mengedarkan pandangannya ke arah lain dan memang benar ada beberapa pengunjung yang melihat ke arah mereka karena keributan kecil yang terjadi.
"Maaf" ucap Andri dengan wajah menyesalnya karena membuat mereka jadi pusat perhatian dengan keributan yang telah ia perbuat.
"Iya kak nggak papa. Kalau gitu, kami pamit dulu. Permisi" pamit Sandra yang kemudian berlalu dari cafe dengan diikuti oleh Erick.
Setelah keributan yang tercipta antara Rachel dengan Andri, suasana di meja itu hanya ada keheningan. Akhirnya tak berapa lama, Willy dkk pamit pulang karena mereka ada keperluan.
***
"Dia itu cewek yang kita cari. Anak dari tuan Alfonso" bisik Erick sangat pelan sehingga hanya Erick dan Sandra yang mendengar ketika mereka sudah berada di luar cafe.
"Benarkah kak?" tanya Sandra yang sedikit terkejut karena selama ini Sandra belum pernah melihat wajah dari anak dalang pembunuhan kedua orangtuanya.
"Ya. Kakak dan kekasihmu itu yang akan mengurus dia nantinya karena sepeetinya dia tertarik dengan kekasihmu itu. Jadi kita tunggu saja rencana dari kedua orang terkasihmu itu" ucap Erick yang sudah memasuki mobilnya dengan Sandra di sampingnya.
"Baiklah aku akan membiarkan mereka berdua bermain dengannya. Setelah itu aku yang akan menghancurkan dalang utamanya" ucap Sandra sambil menampilkan seringaian mematikannya.
Erick yang melihat hal itu sudah biasa dan hanya geleng-geleng kepala.
__ADS_1