
Saat ini seorang pria paruh baya tengah menuju markas para anak buahnya yang ia perintahkan untuk menjaga rumah penyekapan keluarga orang kepercayaannya dengan diikuti beberapa pengawalnya. Ya, dia adalah tuan Alfonso. Sudah dua hari semenjak kejadian kebakaran dan sabotase pabrik perusahaannya, ia tak tenang karena dua hari itu juga para anak buahnya yang disana tidak memberikan informasi apapun padanya. Padahal anak buahnya hampir setiap hari mengirimkan informasi tentang orang-orang yang disekapnya.
*Mengapa tak menyuruh pengawalnya untuk memeriksa anak buahnya itu langsung? Karena para pengawal yang dipekerjakan untuk menjaga ia dan keluarganya itu adalah orang suruhan Vito jadi ia tak mau kalau pengawal itu melaporkan pada Vito dimana penyekapan keluarganya berada.
Lalu mengapa sekarang ia pergi dengan pengawal kesana? Pengawal yang sekarang mengikutinya adalah orang yang sudah ia ancam agar tidak memberitahukan posisinya sekarang pada Vito. Entah mengapa, mulai sekarang sepertinya Tuan Alfonso mulai tidak mempercayai Vito dan anak buahnya*.
"Tuan, kita sudah sampai" ucap sang sopir yang membawa mobil yang dinaiki oleh Tuan Alfonso dan diangguki oleh Tuan Alfonso.
Sebuah rumah besar dengan halaman yang sangat luas terpampang di depan mata Tuan Alfonso setelah turun dari mobilnya. Namun ada yang aneh dengan rumah tersebut, suasana yang berbeda tak seperti biasanya.
"Kenapa sepi sekali? Seperti tak berpenghuni" gumam Tuan Alfonso yang melihat sekeliling rumah itu tak ada satupun orang berlalu lalang. Padahal biasanya di depan rumah itu saja banyak sekali penjaga, namun ini sama sekali tidak ada.
"Ah... Mungkin mereka sedang mengadakan rapat di dalam rumah, ini kan akhir bulan biasanya akan ada evaluasi" monolognya mencoba berpikir positif.
Tuan Alfonso pun segera masuk ke dalam rumah itu diikuti pengawalnya yang sedari tadi hanya diam di belakangnya.
Ceklek...
"Sepi" gumam Tuan Alfonso saat melihat di dalam rumah tak ada orang sama sekali. Bahkan suara saja tak ada, hanya suara langkah kakinya dan pengawalnya yang terdengar.
"Cek sekeliling rumah, temukan siapa saja yang berada di rumah ini" titah Tuan Alfonso pada beberapa pengawalnya. Ia benar-benar mulai berpikiran negatif, panik, dan marah menjadi satu saat ini, tak mungkin juga kalau semua orang disini berjaga di rumah kumuh itu. Apalagi orang-orang yang disekapnya jarang di lepaskan bebas oleh anak buahnya.
"Maaf tuan, rumah ini sepi. Kami tidak menemukan siapapun disini" ucap salah seorang pengawal mewakili semuanya setelah berkeliling sekitar 1 jam lamanya.
"Sial... Apa jangan-jangan mereka kabur? Awas saja kalian jika berani kabur dan mengkhianatiku" ucap Tuan Alfonso geram. Semua pengawal yang mendengar hal itu hanya diam saja karena mereka takut jika bersuara malah akan berakibat kena amukan tuannya itu.
__ADS_1
"Kita ke rumah itu" titahnya pada pengawal kemudian berlalu dari rumah itu. Tuan Alfonso mengarahkan jalan pada sopir karena yang hanya mengetahui jalan ke rumah itu hanyalah dia dan anak buahnya.
Butuh waktu sekitar 15 menit perjalanan dari markas menuju rumah kumuh itu. Terlihat disekitar rumah itu juga sepi tak ada penjagaan apapun. Tuan Alfonso segera turun dari mobil dan bergegas memasuki rumah kumuh dengan pintu yang tertutup itu.Tanpa aba-aba, Tuan Alfonso mendobrak pintu itu dengan keras membuat pengawal yang ada dibelakangnya sontak terkejut.
"Astaga" batin semua pengawal terkejut sambil mengelus dada pelan.
Tuan Alfonso dan beberapa pengwal memasuki rumah itu sambil mencari orang yang ia sekap. Namun nihil, 1 jam mencari mereka tidak menemukan apa-apa. Mereka hanya menemukan tali, kursi, rantai, dan borgol yang biasa digunakan untuk mengikat semua anggota keluarga Vito.
"Bagaimana bisa? Arrghhhh... Sialan, siapa yang berani-beraninya membebaskan semua sekapanku. Atau jangan-jangan asa yang berkhianat denganku lalu melepaskan mereka" teriak Tuan Alfonso dengan menendang semua barang yang berada di sekitarnya.
Brak...
Brak...
Sial...
Sial...
***
Di sisi lain...
Sandra dan Erick tengah berada di ruang CEO perusahaan Sandra. Mereka berdua sedang menonton sesuatu yang menyenangkan di laptopnya.
"Hahaha dia seperti orang gila jika banting-banting barang seperti itu" Sandra sepertinya benar-benar terhibur dengan tontonan di layar laptopnya, sementara Erick hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah Sandra.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita buat dia jadi orang gila beneran?" ucap Erick tiba-tiba memberikan ide.
"Aha... Kau memang pintar kak, itu ide sangat briliant. Daripada hukuman kematian, itu jauh lebih mudah dia lewati daripada harus menanggung penderitaan seumur hidupnya menjadi orang gila" ucap Sandra dengan seringaian iblisnya.
"Sungguh, ternyata kau jauh lebih kejam daripada aku kak" sindirnya pada Erick.
"Ini akibat dari aku sering bergaul dan berkumpul dengan orang-orang sepertimu dan Leo, dek" sindir balik Erick.
"Ah... Apakah iya? Tapi setahuku aku tak pernah melakukan hal kejam pada orang" elak Sandra.
"Iya... Iya... Yang kejam bukan kalian tapi papa" Bukan suara dari Sandra maupun Erick kali ini, namun papa Luis yang tiba-tiba sudah ada di ruangan Sandra dengan duduk di sofa ruangan itu dan menghentikan perdebatan antara dua orang ini.
"Lho... Papa sejak kapan ada disini? Kami bahkan tak tahu kapan papa masuk ke dalam ruanganku" tanya Sandra heran.
"Kalian saja yang terlalu fokus dengan tontonan dan perdebatan kalian sehingga ada orang masuk kalian sampai tak sadar" sindir Papa Luis membuat Sandra dan Erick seketika terdiam.
"Bagaimana?" Tanya Papa Luis kepada Sandra dan Erick. Sandra dan Erick pun paham dengan apa yang dimaksud dengan Papa Luis.
"Semua berjalan lancar pa. Tapi pa aku sudah menyelidiki mengenai keluarganya, aku kasihan dengan anggota keluarganya terutama istri dan anak laki-lakinya. Mereka sering terkena amukan dan kekerasan fisik dari Alfonso. Istrinya juga harus bekerja keras banting tulang di sebuah toko bunga kecil hanya demi makan anak-anaknya, sedangkan uang untuk biaya sekolah anak perempuannya ditanggung oleh anak laki-lakinya" jelas Sandra.
"Ya, kau benar. Maka dari itu papa tak mengijinkan kalian membalas dendam lewat anak-anaknya, cukup balas saja orang yang bersalah" ucap Papa Luis dengan tersenyum lembut pada kedua anak yang ia rawat.
"Tapi dulu papa dan mama juga tidak bersalah, tapi kenapa mereka dibunuh?" gumam Sandra pelan namun masih terdengar oleh Erick dan Papa Luis.
"Sandra, ikhlaskan kejadian itu biar kedua orangtuamu tenang disana. Sekarang cukup kamu mengembalikan semua milik keluargamu tanpa menjatuhkan orang yang bersalah" nasihat Papa Luis.
__ADS_1
"Iya pa, terimakasih" ucap Sandra dengan tersenyum manis.