
"Nama nenek siapa?" tanya Sandra.
"Nenek Ima, nak" jawab Nenek Ima demgan lirih.
"Baiklah nek, ini benar ya nek jalannya?" tanya Leo yang berada di belakang kursi kemudia sedangkan Sandra dan Nenek Ima berada di kursi belakangnya.
"Iya nak. Nanti mobilnya bisa parkirkan di pasar itu nak, karena jalannya tidak muat untuk mobil" ucap Nenek Ima dan diangguki paham oleh Leo.
Setelah 20 menit berkendara, mereka bertiga telah sampai di pasar yang di maksud Nenek Ima.
"Kalian disini saja, biar nenek yang ke sana. Soalnya jalanan ke rumah nenek kurang bagus nanti kasihan adek-adeknya" ucap Nenek Ima yang sudah akan keluar dari mobil.
"Ah enggak nek, kami juga ikut. Kami sudah terbiasa lewat jalan terjal sekalipun" ucap Sandra dengan sedikit bercandra.
"Baiklah kalau kalian memaksa ingin ikut" ucap Nenek Ima pasrah.
Nenek Ima di papah oleh Leo, sedangkan Sandra membawa karung bawaan nenek Ima. Dan memang benar dengan apa yang dikatakan Nenek Ima kalau jalanan disini memang kurang bagus. Batuan terjal dan tanah yang bila terkena air hujan akan terasa sangat licin.
"Itu rumah nenek" tunjuk Nenek Ima pada sebuah rumah yang emm sepertinya kurang layak huni.
Rumah itu di bangun dengan menempel pada tembok perumahan mewah di belakangnya. Untuk temboknya sendiri sepertinya kurang tepat untuk di sebut tembok karena hanya terbuat dari kayu papan triplek yang sudah berlubang. Dan disana ada beberapa juga unit tempat tinggal yang sama seperti itu sekita 8 rumah.
"Maaf ya nak, kalau lingkungannya seperti ini" ucap Nenek Ima tak enak hati.
"Tak apa nek, jangan sungkan" ucap Sandra yang fokus dengan jalannya.
__ADS_1
"Radit... Radit... Buka pintunya, nak" seru Nenek Ima di depan pintu rumahnya yang hanya di tutupi oleh kain.
"Iya nek, sebental" ucap seorang anak kecil yang masih cadel.
"Nenek kenapa? Dan meleka itu siapa?" tanya seorang anak kecil laki-laki yang tak lain adalah Radit, cucu dari Nenek Ima.
"Nenek nggak apa-apa. Mereka berdua kakak-kakak yang nolongin nenek dan mereka akan membawa nenek ke rumah sakit soalnya kaki nenek keseleo. Jadi ayo kamu siap-siap, kita ikut mereka ke rumah sakit" ucap Nenek Ima memberi pengertian.
"Oooo gitu" ucap Radit sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Sandra terlihat gemas melihat pipi gembul Radit yang ia kira mungkin umurnya baru sekitar 4 atau 5 tahun.
"Tapi Ladit balu jahit baju nek. Soalnya baju Ladit semuanya udah bolong" ucap Radit yang membuat Sandra, Leo, dan Nenek Ima sadar kalau Radit keluar hanya dengan celana, tidak memakai baju atasan.
"Astaga... Kenapa kamu jahit segala, Radit. Nanti tangan kamu luka kena jarum lho, harusnya biar nenek aja nanti yang jahit. Kamu pakai baju yang seadanya dulu aja nggak papa" ucap Nenek Ima dan diangguki oleh Radit.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Radit muncul dengan pakaian lengkap. Memang benar, baju yang di pakai Radit saat ini jauh dari kata layak. Kusut, kumal, dan banyak tempelan kain yang di jahit tak beraturan. Bahkan Radit keluar dengan alas kaki yang berbeda di kanan dan kirinya. Sandra sampai sedikit tak percaya kalau masih ada orang-orang yang seperti ini di jaman yang sudah modern.
"Baiklah ayo" ucap Sandra yang sadar dari keterpakuannya melihat Radit.
Leo segera menggendong Nenek Ima dan Sandra menggandeng tangan Radit erat untuk menuju ke tempat mobil mereka berada.
"Wah... Mobilnya bagus banget" antusias Radit saat mereka sampai di depan mobil Leo.
"Besok kalau Ladit udah besal dan bekelja, Ladit mau beli mobil kaya gini buat nenek" lanjutnya dengan semangat.
Sontak ucapan itu membuat Nenek Ima, Sandra, dan Leo terharu, mereka bertiga mengaminkan doa anak kecil polos itu di dalam hati mereka masing-masing.
__ADS_1
"Amin, semoga Radit kala udah besar nanti jadi orang sukses ya. Biar bisa beliin nenek mobil" ucap Sandra dengan mengusap lembut kepala Radit.
"Tapi apa aku bisa ya kak? Aku kan ndak sekolah, kata teman-teman kalau ndak sekolah kita ndak bisa beli mobil dan lumah" ucap Radit lesu. Hal itu membuat nenek Ima merasa bersalah, harusnya di umur Radit sekarang ia sudah masuk TK. Namun apalah daya karena kendala biaya, ia tak bisa menyekolahkan cucunya itu.
"Semua orang pasti bisa mewujudkan mimpi dan keinginannya kalau orang itu sungguh-sungguh dalam bekerja keras. Jadi mulai sekarang Radit harus belajar dan bekerja keras untuk mewujudkan semua keinginan Radit ya. Jangan pernah menyerah untuk berusaha dan jangan lupa berdo'a pada Tuhan" nasehat Sandra yang menatap iba Radit dan Nenek Ima.
"Siap kak, aku akan belajal walaupun nggak bisa sekolah kaya teman yang lain dan juga aku akan bekelja kelas" ucap Radit kembali bersemangat membuat ketiga orang dewasa itu terkekeh pelan dengan tingkah laku Radit.
Mereka semua akhirnya masuk ke dalam mobil dan mobil melaju ke rumah sakit terdekat. Setelah 15 menit berkendara, akhirnya mereka sampai di rumah sakit itu. Mereka berempat segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Sus, tolong bawakan kursi roda untuk nenek ini" ucap Sandra pada perawat yang lewat.
"Duh maaf nona, kursi roda dan brankar sedang di pakai semua" ucap perawat itu dengan sinis. Perawat itu juga terus menilai penampilan Sandra, Leo, Nenek Ima, dan Radit dari atas ke bawah secara intens.
"Apa nggak ada satu pun yang kosong? Ini rumah sakit besar, nggak mungkin kan nggak ada satupun kursi roda atau brankar yang kosong?" heran Sandra.
"Kursi roda dan brankar di sini hanya untuk orang-orang yang bayar. Kalau untuk yang pakai jaminan tidak ada" jawab perawat itu dengan juteknya.
"Sudah nak, biarkan saja. Nenek sudah biasa di perlakukan seperti itu. Memang di rumah sakit ini tak menerima pasien dari orang-orang seperti kami" lerai Nenek Ima.
"Nah tuh nenek tau kalau di sini tak melayani pasien dari kalangan kalian, kok masih ke sini" ucap perawat itu kemudian pergi berlalu tanpa sopan-sopannya.
Mendengar apa yang di ucapkan Nenek Ima dan perawat itu sontak membuat Sandra naik pitam. Mana ada rumah sakit seperti ini, menilai pasien hanya dengan penampilannya saja. Sandra dan Leo benar-benar tak habis pikir.
"Ayo nak, kita pulang aja ya. Nenek mah nggak cocok di periksa disini. Cocoknya di tukang urut sebelah pasar" ucap Nenek Ima dengan bercanda.
__ADS_1
Sandra dan Leo saling tatap dan...