
Ruang rawat inap Sandra kini begitu ramai dengan berkumpulnya semua saudara Sandra yang datang. Mereka sampai merelakan waktu sekolah, kampus, maupun kerjaannya hanya demi menjaga Sandra lebih tepatnya membolos. Setelah mereka diberitahu oleh Yusuf mengenai kondisi Sandra tadi pagi, mereka teramat sedih dan terpukul mendengar Sandra terluka. Setelah diberitahu, segera saja mereka mengadakan do'a bersama selepas sholat shubuh tadi pagi dan kemudian datanglah mereka ke rumah sakit pada siang harinya.
"Kakek ini siapa?" tanya Alin yang melihat ada seseorang laki-laki paruh baya berambut putih yang terlihat asing dimatanya.
Sebenarnya semua saudara Sandra penasaran dengan siapa sosok kakek-kakek dengan wajah yang lebam-lebam itu, namun mereka ingin mendengarnya secara langsung dari Sandra karena kalau Sandra yang mengenalkannya pasti itu adalah terjamin orang baik.
"Hmm... Perkenalkan nama kakek, Rizal. Kalian bisa memanggilku Kakek Rizal" ucap Rizal dengan sedikit gugup pasalnya ia selama ini jarang sekali dekat dengan anak-anak semenjak menikah lagi.
"Baiklah kakek" ucap Alin dengan ceria kemudian melanjutkan aktifitas bermainnya kembali dengan para saudaranya.
Sedangkan saudara yang lainnya hanya mendengarkan saja pembicaraan itu tanpa mau ikut menimbrung dan mereka juga sedang sibuk sendiri dengan mainannya.
"Astaga... Aku sampai lupa kalau Arka dan Jasmine pasti ada di rumah sendirian" seru Rizal dengan menepuk dahinya sendiri sehingga memecah keheningan di ruangan itu.
Di pernikahannya dengan Ema, istri barunya itu Rizal mempunyai dua anak kembar di usia senjanya. Bahkan usia anaknya masih berumur 8 tahun saat ini. Ia baru teringat kalau kedua anaknya itu pasti saat ini sendirian di rumah karena memang di rumah mereka tak ada pembantu yang di pekerjakan.
Rizal segera saja berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan tergesagesa menuju ke arah pintu ruang rawat inap Sandra sampai lupa berpamitan pada semua orang disana.
"Ayah, tunggu" seru Paman Harry saat melihat ayahnya berjalan tergesa-gesa seperti itu.
"A-Ayah?" tanya Rizal dengan nada bergetar karena tak percaya bahwa anaknya mau memanggilnya kembali dengan sebutan ayah.
"Ayo kita jemput kedua adikku" ucap Paman Harry sambil menggandeng lengan ayahnya saat ia telah sampai di depan ayahnya itu.
Mereka berdua keluar dari ruang rawat inap Sandra masih dengan tatapan tak percaya Rizal pada anaknya.
***
Selang dua jam berlalu, di dalam ruangan Sandra masih ramai dengan semua saudaranya. Ada yang bermain game, handphone, dan tiduran di karpet. Sedangkan Leo duduk di kursi samping brankar Sandra dengan menggenggam tangan Sandra.
Eungghhhh...
__ADS_1
Bunyi lenguhan seseorang yang lirih membuat semua orang yang ada disana mengalihkan perhatiannya ke suara itu.
"Kak Sandra" seru Alin dan Fatah bersamaan saat melihat tangan Sandra yang di genggam oleh Leo bergerak.
Semuanya seketika mengerubungi brankar tempat tidur Sandra menunggu Sandra membuka kelopak matanya. Leo yang berada di dekat tombol dokter pun akhirnya memencetnya. Sandro yang melihat Sandra telah membuka mata segera saja mengambilkan air minum dan membantunya minum.
Selang beberapa menit, dokter daan dua suster datang untuk memeriksa keadaan Sandra. Semua orang yang mengelilingi Sandra seketika saja menyingkir dari sana untuk memberikan tempat untuk dokter dan suster itu memeriksa keadaan Sandra. Sandra diperiksa dengan seksama oleh dokter tersebut.
"Apa ada keluhan, nona?" tanya dokter itu.
"Hanya masih sedikit nyeri di bagian punggung" ucap Sandra dengan lirih.
"Lebih baik tidurnya menyamping atau tengkurap saja nona untuk sementara waktu ini agar luka operasinya tidak tertekan" ucap dokter itu dan diangguki oleh Sandra.
"Wali pasien?" tanya dokter itu sambil menatap bertanya kepada semua orang yang ada disana.
"Saya kakaknya, dok" jawab Willy dan diangguki oleh dokter itu.
"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk adik saya" ucap Willy dan diangguki oleh dokter itu.
Dokter dan perawat itu akhirnya pamit pergi dari ruangan Sandra kemudian semua saudaranya kembali mengerubungi Sandra dan bertanya mengenai keadaannya.
"Kak Sandra gimana kabarnya? Apa masih ada yang sakit?" tanya Alin dengan penuh perhatian.
"Kak Sandra baik-baik saja" ucap Sandra lirih.
"Kak Sandra harus cepat sembuh biar bisa main sama kita lagi. Kami sedih melihat Kak Sandra kesakitan" ucap Alin dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Alin bantu do'ain kakak ya biar cepat sehat lagi" jawab Sandra dengan tersenyum manis.
"Kak Leo, Paman Harry, dan Kakek Rizal sudah diperiksa dan diobati luka-lukanya?" tanya Sandra pada Leo.
__ADS_1
"Sudah" jawab Leo singkat sambil tersenyum tipis.
"Syukurlah. Kakek Rizal dan Paman Harry kemana?" tanya Sandra yang tak melihat keduanya ada disitu.
"Jemput adik Paman Harry" jawab Leo dan diangguki oleh Sandra.
Ia sudah tahu mengenai seluk beluk keluarga Rizal dengan istri barunya itu, bahkan ia juga sudah mengetahui mengenai bagaimana kondisi kedua adik Paman Harry itu.
***
Di rumah Rizal dan Ema...
Rizal dan Paman Harry sampai di depan rumah sederhana milik Rizal dan Ema, rumah itu berjarak lumayan jauh dari rumah sakit. Hampir membutuhkan waktu 3 jam untuk sampai disana. Mereka berdua segera saja keluar dari mobil dan sedikit berlari untuk masuk ke dalam rumah karena dari luar sudah terdengar suara tangisan yang diyakini adalah suara Arka dan Jasmine.
"Arka, Jasmine" seru Rizal sembari mengetuk pintu rumah karena ternyata ia tak membawa kunci rumah dan rumah tersebut terkunci dari dalam.
"Ayah" seru Arka dan Jasmine dengan sebuah tangisan saat mendengar suara ayahnya pulang.
Akhirnya pintu rumah itu pun terbuka menampilkan dua anak kembar laki-laki dan perempuan dengan air mata yang mengalir di pipi mereka. Melihat ayahnya ada di depan mata, mereka pun segera memeluk ayahnya kemudian menangis tersedu-sedu.
"Ayah kemana aja? Kami lapar? Ibu juga tidak pulang" ucap Jasmine dengan masih menangis.
Arka dan Jasmine terlihat sangat kurus karena selama ini istrinya tak pernah memperhatikan makanan dan gizi kedua anak kembarnya itu. Ema selalu sibuk dengan teman-teman sosialitanya dan juga menyusun rencana mengambil harta milik Luis, begitupun dengan dirinya. Sekarang Rizal benar-benar menyesal telah menelantarkan anak-anaknya ini. Rumah yang mereka miliki di Indonesia memang snagat sederhana karena Ema dulu tak mengijinkannya untuk membeli rumah yang lebih besar.
"Astaga... Mereka kurus sekali" batin Paman Harry tersenyum miris saat melihat kondisi adik-adiknya.
**********
Update cepat guys... Mau malam tahun baruan sama bantal guling hehehe
Happy New Year 2023
__ADS_1