SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Pindahan


__ADS_3

Keesokan harinya Sandra bangun pagi-pagi sekali. Ia membantu maid dan Ibu Ratmi untuk membuat beberapa makanan sebagai penyambutan kedua orangtua Leo dan Ayu. Banyak sekali makanan yang ia persiapkan, bahkan kini di meja makan sudah penuh dengan aneka makanan padahal orangtua Leo dan Ayu akan datang agak siang.


"Ya ampun baby... Makanan sebanyak ini yang mau makan siapa?" tanya Leo saat ia sudah memasuki ruang makan dan melihat Sandra sedang menata banyak makanan di meja makan.


"Buat orangtua kakaklah, masa kakak mau makan ini sendirian. Kan nggak mungkin habis" jawabnya dengan polos.


"Baby, orangtua kakak datangnya siang lho kok masaknya pagi sekali?" tanya Leo hati-hati agar tak menyinggung Sandra.


"Oh iya hehehe... Terus ini gimana dong udah terlanjur" ucap Sandra sambil melengkungkan bibirnya cemberut.


"Jangan cemberut seperti itu dong. Kamu makin gemesin tahu nggak kalau cemberut kaya gitu" goda Leo sambil menguyel-uyel pipi chubby Sandra.


"Ini makanannya nanti disisihkan saja buat pengawal dan anak jalanan yang sering ambil barang bekas di depan mansion" saran Leo.


"Ihhh... Kak Leo lepasin deh, pipi Sandra nanti makin lebar tahu kalau kakak uyel-uyel dan tarik-tarik kaya gitu" kesal Sandra dan dibalas kekehan pelan oleh Leo.


"Pagi-pagi dah ngebucin aja, hargai dong yang jomblo" ucap tiba-tiba seseorang dari arah pintu ruang makan yang tak lain adalah Sandro yang dibelakangnya diikuti oleh saudara-saudaranya yang lain. Mereka sudah rapi dengan seragam sekolahnya kecuali Ayu yang hari ini bolos sekolah dan Willy yang mengenakan pakaian bebas sopan.


"Siapa yang jomblo kak?" tanya Sandra dengan polosnya tanpa tahu bahwa banyak orang yang tersindir oleh kata-katanya.


"Bu Ratmi yang jomblo dek, puas?" kesal Sandro karena ketidakpekaan Sandra.


"Ah iyakah? Bukannya Bu Ratmi udah punya suami, kok jomblo sih" gumam Sandra pelan namun masih bisa di dengar yang lainnya.

__ADS_1


"Astaga anak ini" batin Sandro gregetan ingin menjitak kepala Sandra. Sedangkan yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya pelan atas tingkah polos Sandra yang muncul.


"Udah... Udah... Ayo sarapan, keburu dingin nanti makanannya" ucap Papa Luis yang sudah daritadi jengah dengan perdebatan kakak beradik itu. Yang satu gemas terhadap adiknya dan yang satunya tingkat kepekaannya sangat rendah.


Akhirnya mereka semua sarapan dengan tenang, kemudian semuanya pergi ke sekolah dan kampus masing-masing kecuali Sandra, Papa Luis, Leo, dan Ayu.


"Bu Ratmi makanan yang tadi disisihkan dibagikan saja ke pengawal yang berjaga, kalau masih sisa dibagikan saja ke anak jalanan yang sering ambil barang bekas di depan mansion" ucap Sandra pada Bu Ratmi.


"Iya nak" Bu Ratmi pun segera membungkus beberapa makanan yang tadi sudah disisihkan untuk segera dibagikan. Untuk para pengawal biasanya mereka sudah ada yang mengkoordinir ketika akan membeli makanan jadi tak sama dengan keluarga Sandra, namun uang yang dipakai tetap dari Sandra yang menanggungnya.


***


Saat ini Ibu Mia dan Pak Adam masih membereskan beberapa barang yang akan mereka bawa ke rumah baru keluarga mereka. Tak banyak yang mereka bawa, hanya beberapa dokumen penting beserta baju saja karena untuk perabotan masak, lemari, kasur, dan alat elekronik lainnya adalah bawaan dari kontrakan yang memang sudah disediakan.


"Dari semalam mama tanya seperti itu terus. Papa yakin ma, 1000% yakin. Kita harus memulai semuanya dari awal dan memperbaiki apa yang sudah kita lakukan di masa lalu" ucap Pak Adam tanpa mengalihkan perhatiannya ke arah sang istri.


"Aku hanya takut merepotkan Leo daan Ayu pa, apalagi ada bapak dan ibu juga. Aku takut mereka tak menerima kita. Kamu masih ingatkan saat dulu kita punya perusahaan, bahkan kita lupa dengan keberadaan bapak dan ibu. Kesannya kita tak tahu diri, setelah membuang keluarga disaat sukses tapi saat kita dibawah kita menumpang hidup dengan mereka" ucap Ibu Mia dengan menundukkan kepala karena merasa sangat bersalah pada semua keluarganya.


"Iya aku tahu ma, aku juga merasa tak enak hati juga sama mereka. Namun hanya dengan cara memperbaiki semuanya dari awal yang bisa kita lakukan saat ini. Berikan mereka kasih sayang yang tak pernah mereka dapatkan selama ini, ma" ucap Pak Adam yang kemudian merengkuh tubuh sang istri dari samping. Sebenarnya Pak Adam juga merasa bersalah aka kejadian masa itu, namun apa boleh buat. Semua sudah terjadi, sekarang tinggal mereka harus memperbaiki semuanya dari awal.


"Iya pa" ucap Ibu Mia sambil membalas pelukan sang suami.


Mereka berdua melanjutkan membereskan semua barangnya, setelah selesai mereka akan membayar hutang-hutang dan berpamitan kepada pemilik kontrakan seraya menitipkan tempat laundry nya. Tempat laundry ini terpisah dengan kontrakan, mereka menyewa satu ruko kecil untuk usahanya itu yang berada tak jauh dari tempat kontrakan.

__ADS_1


"Permisi bu" seru Ibu Mia pada pemilik kontrakannya. Disana terlihat banyaknya ibu-ibu yang sedang mengobrol di teras rumah ibu pemilik kontrakan. Bu Mia dan Pak Adam sudah menaruh koper dan tas di mobil orang suruhan Leo. Tadi saat keduanya keluar, mereka orang suruhan Leo sudah standby di depan rumah kontrakan mereka.


"Eh Bu Mia, ada apa?" tanya pemilik kontrakan itu.


"Ini bu, kami ke sini mau pamit dan mengembalikan kunci rumah yang mereka kontrak" ucap Ibu Mia.


"Lho... Mau pindah bu, pak? Kok mendadak? Apa sudah tidak betah tinggal disitu?" Tanya ibu pemilik kontrakan beruntun.


"Bukan bu, kami betah kok tinggal disitu. Kami pindah karena kami sudah bertemu dengan anak kami dan dia meminta kami utuk tinggal bersama" jelas Ibu Mia.


"Syukur kalau begitu... Ya sudah saya terima ya kuncinya. Dan sebentar saya ambilkan uang yang bulan depan sudah dibayar" ucap ibu pemilik kontrakan itu.


"Eh... Ngga perlu bu. Itu untuk ibu saja, anggap saja rezeki untuk keluarga ibu" cegah Pak Adam.


"Halah... Orang miskin aja sok-sokan mau ngasih rezeki ke oranglain padahal rezekinya sendiri masih macet" sindir salah seorang ibu-ibu yang berada di depan rumah ibu pemilik kontrakan.


"Emang anaknya kerja apasih? Sampai uangnya dikasih-kasihkan ke oranglain" lanjutnya. Ucapan itu jelas tak ditanggapi Bu Mia dan Pak Adam.


"Jangan begitu bu, tidak baik bicara seperti itu. Kalau begitu terimakasih ya Bu Mia dan Pak Adam" tegus ibu pemilik kontrakan.


"Kami permisi dulu bu" pamit Bu Mia dan diangguki ibu pemilik kontrakan.


Ibu Mia dan Pak Adam berjalan menjauh dari rumah ibu pemilik kontrakan walaupun masih bisa mendengar suara-suara ibu-ibu tetangga yang membicarakan mereka.

__ADS_1


__ADS_2