
"Target sudah mendekat" ucap Sandra kepada Leo yang saat ini telah bersamanya di mansion setelah tadi mendapatkan informasi dari anak buahnya.
"Baiklah ayo kita ke sana" ajak Leo pada kekasihnya itu.
"Apa kita tak mengajak kak Willy dan kak Sandro? Mereka juga ingin merasakan bagaimana menghabisi orang yang telah mengganggu keluarganya" cegah Sandra sebelum Leo beranjak dari duduknya.
"Lebih baik kita mencari informasi dari anak buah Alfonso yang sudah tertangkap dulu. Setelah itu kita pancing Alfonso keluar lalu kita tangkap dia. Barulah kita bisa mengajak mereka bergabung dengan kita untuk membalas semuanya" ucap Leo memberi penjelasan pada Sandra dengan tatapan lembutnya.
"Bukan aku tak percaya pada mereka hanya saja kemampuan mereka masih di bawah para bodyguard yang mengawal di mansion ini. Aku tak ingin saudaramu ada yang terluka kembali, kau tahu juga bukan kalau Alfonso menargetkan kedua kakakmu itu" sela Leo saat ia melihat Sandra akan protes.
"Kau benar. Alfonso juga bukan lawan yang mudah mengingat betapa liciknya dia selama ini bersembunyi tanpa bisa kita ketahui dimana keberadaannya. Baiklah aku terima saranmu, ayo kak kita pergi ke tempat orang-orang itu" ucap Sandra yang sudah setuju dengan apa yang dikatakan oleh Leo.
Sandra dan Leo segera beranjak dari duduknya kemudian pergi menuju lokasi yang dituju.
***
Butuh waktu 30 menit perjalanan untuk mereka berdua sampai di tempat yang mereka tuju. Sebuah kawasan perumahan elit yang penjagaannya sangat ketat namun tak ada yang mengetahuinya bahwa disana ada satu rumah yang digunakan khusus sebagai tempat pembataian para pengkhianat kecuali Sandra, Leo, dan beberapa anak buah terpilih.
"Tuan, Nona" sapa anak buah Leo yang menyamar sebagai satpam di perumahan itu. Ya, perumahan yang ditempati keluarga Vito dijaga ketat oleh anak buah Leo dan Papa Luis tetapi mereka menyamar sebagai satpam, tukang kebun, dan petugas kebersihan di area jalan perumahan.
Leo dan Sandra hanya menganggukkan kepala pelan untuk membalas sapaan mereka, kemudian mereka melajukan mobilnya kembali ke arah rumah yang digunakan untuk menyekap para tawanan.
"Habis sudah riwayat hidup mereka" gumam pelan salah satu anak buah Leo saat melihat kedua atasannya memarkirkan mobilnya di sebuah rumah.
"Ya, duo iblis siap beraksi" ucap salah satu rekan anak buah Leo lainnya.
***
"Dimana mereka?" tanya Sandra pada anak buah Leo yang berjaga di depan pintu utama.
__ADS_1
"Di ruang eksekusi 1 nona" jawab anak buah Leo dengan sopan.
"Terimakasih" ucap Sandra dengan nada datarnya dan diangguki pelan oleh anak buah Leo, sedangkan Leo yang berada di sampung Sandra hanya terdiam dengan raut wajah datarnya.
Setelahnya Leo dan Sandra menuju ruangan yang dimaksud.
Ceklek...
Terlihat tiga orang yang sedang terduduk di atas kursi dengan posisi diikat oleh tali simpul. Tali simpul itu bukan tali simpul biasa, namun itu adalah tali yang terdapat aliran listrik didalamnya. Setiap 2 jam sekali maka listrik itu akan mengalir dan menyetrum mereka. Itu adalah wujud siksaan ringan menurut Sandra agar mereka tak macam-macam dengan keluarganya.
"Ternyata kalian nyenyak sekali tidur dengan setruman listrik itu ya" ejek Sandra pada ketiga orang yang sudah membuka matanya saat tadi mereka mendengar ada suara pintu terbuka.
"Nona, tuan... Apa maksud kalian menyekap kami? Sepertinya kami tak mempunyai salah apa-apa terhadap kalian. Bahkan kami juga tak mengenal kalian" ucap salah satu dari mereka bertiga. Mereka bertiga belum mengetahui mengenai target Alfonso utama yaitu Sandra dan bagaimana wajahnya, jadi wajar saja kalau mereka tak mengenal Sandra.
"Kalian pintar, namun sayang kalian sangat bodoh karena dibodohi oleh bos anada" ejek Sandra.
"Hahaha apa kalian tahu kalau target utama tuan anda itu adalah saya? Setelah kalian berhasil menangkap keluarga Vito maka target selanjutnya adalah saya dan kakak saya. Apa kalian benar-benar tidak tahu?" tanya Sandra dengan nada tak percayanya.
"Berarti anda... Anda adalah salah satu anak dari keluarga Arvasyad?" tanya anak buah Alfonso itu dengan nada tidak yakin. Anak buah Alfonso itu sudah mengetahui bahwa target setelah keluarga Vito adalah anak-anak dari keluarga Arvasyad namun mereka belum mengetahui bagaimana rupa wajahnya.
"Hahaha ya anda benar, saya adalah salah satu anak dari keluarga Arvasyad" tawa Sandra menggema di ruangan itu yang menyebabkan suasana menjadi mencekam.
"Astaga... ternyata aku salah memilih target" batin salah satu anak buah Alfonso.
"Sebelum kalian bertemu dengan Tuhan kalian, saya ingin kalian melakukan sesuatu untuk saya" ucap Sandra dengan seringai iblisnya yang tampak mengerikan di depan ketiga anak buah Alfonso.
"Jangan macam-macam anda nona sama kami. Tuan Alfonso bisa membunuh anda kalau sampai macam-macam dengan kami" seru salah satu dari ketiganya.
"Hahaha membunuh saya? Oh saya takut" ucap Sandra dengan nada yang ditakut-takutkan.
__ADS_1
"Sudahlah jangan pikirkan nasib saya yang akan dibunuh atau tidak oleh tuanmu itu, lebih baik kalian memikirkan keselamatan kalian dulu hahaha" tawa Sandra yang membuat semuanya bergidik ngeri.
"Hubungi tuan kalian, bilang sama dia kalau keluarga Vito sudah ada di tangan kalian. Bilang juga sama dia untuk menemui keluarga Vito di tempat yang saya beri tahu nanti. Itu adalah salah satu penebusan dosa kalian karena telah berencana untuk membunuh orang" perintah Sandra dengan memandang ketiganya tajam.
"Kami tidak mau" seru ketiganya menolak bersamaan.
"Oh baiklah... Berarti kalian ingin mati saat ini juga ya? Oke deh, sebenarnya saya bisa sih lapor ke tuan kalian mengenai hal ini tapi saya sedang malas melakukannya sendiri. Jadi tak masalah kalau kalian menolaknya, aku akan melakukannya sendiri" ucap Sandra tersenyum sinis.
Tanpa aba-aba, Leo maju ke depan ketiganya dengan satu buah cukur rambut yang kabelnya sudah ia tancapkan pada aliran listrik. Alat cukur rambut itu mengobrak-abrik rambut di kepala ketiganya secara acak sampai ada yang botak, rambut tinggal setengah, dan bahkan ada yang rambutnya tinggal sebundaran bola bekel saja. Entah dapat darimana Leo mendapatkan ide itu karena biasanya ia akan langsung mengeksekusi tawanannya.
"Hahaha waduh kak, jadi tambah jelek mereka" ucap Sandra sambil tertawa terbahak-bahak.
"Giliran aku" ucap Sandra sambil maju mendekati ketiganya membuat ketiga anak buah Leo seketika was-was.
"Uluh Uluh... Jangan takut dong" goda Sandra yang ternyata mengelurkan sebuah silet dari saku celananya.
*Sretttt....
Arrghhhh....
Srettt....
Aww... Perih...
Srettt...
Arrghhh*...
Bunyi teriakan kesakitan terus menggema di ruangan itu membuat anak buah Leo penasaran dengan apa yang diperbuat dua atasannya itu.
__ADS_1