SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Sisi Lain Willy


__ADS_3

Seperti hari-hari biasanya saat pagi hari tiba Willy bergegas membersihkan diri nya setelah bangun dari tidurnya. Setelah membersihkan diri, ia segera turun untuk sarapn bersama semua saudaranya.


"Selamat pagi adik-adik kakak semua" sapa Willy pada semua saudaranya termasuk Aurora yang masih menginap di rumah Sandra dengan senyum tipisnya.


"Selamat pagi kak Willy" jawab semua yang ada disana. Umur Aurora sama dengan umur Willy hanya berbeda bulan saja jadi Aurora juga memanggil Willy dengan sebutan kakak.


Semua makan dengan tenang, setelah makan mereka segera pergi untuk beraktifitas masing-masing. Willy pun pergi ke kampusnya, namun sebelum itu ia akan mengantarkan Aurora ke kampusnya terlebih dahulu.


Kenapa Aurora tak naik mobilnya sendiri? Itu karena Willy yang mengajaknya berangkat bersama, selain arah kampus mereka sama tapi juga Willy ingin membuat Aurora tak canggung lagi ketika bersama saudaranya. Dilihat dari pengamatan Willy semalam, Aurora masih merasa sungkan jika berada di lingkungan keluarganya maka dari itu Willy menyarankan pada semua saudaranya untuk melewati satu hari bersama Aurora setiap harinya secara bergantian. Dan untuk hari pertama adalah giliran Willy.


"Ayo masuk, dek" ajak Willy dengan senyum tipisnya pada Aurora.


Aurora yang masih canggung pada Willy pun hanya terpaku atas ajakan Willy apalagi Willy kini sudah membukakan pintu mobil untuknya. Memang Aurora tidak mengetahui rencana dari saudara-saudara Sandra itu.

__ADS_1


"Emm... Aku pakai mobilku sendiri aja kak, nanti ngerepotin" jawab Aurora dengan tak enak hati.


"Udah ayo, kakak nggak nerima penolakan" ucap Willy dengan tak terbantahkan sambil menarik lembut tangan Aurora untuk masuk ke dalam mobilnya.


Aurora yang telah masuk ke dalam mobil, Willy segera masuk ke dalam mobilnya di posisi mengemudi.


"Pakai dulu safety belt nya Ra" titah Willy saat melihat sabuk pengaman Aurora belum terpasang akibat ia melamun.


Aurora yang sedang asyik dengan dunianya sendiri itu seketika tersentak kaget karena mendengar ucapan Willy.


Willy yang melihat hal itu segera membantu Aurora untuk memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Aurora. Willy mencondongkan tubuhnya ke arah Aurora membuat Aurora seketika membeku apalagi dengan jarak mereka yang dekat seperti ini membuatnya bisa mencium aroma khas tubuh dari Willy.


Klik...

__ADS_1


Suara sabuk pengaman terpasang membuat Aurora yang masih terpaku seketika tersadar.


"Terimakasih kak" ucap Aurora dengan gugup bahkan sampai tak mau menatap ke arah Willy.


"Apa wajah kakak terlihat menyeramkan sehingga kamu memilih berbicara tanpa menatap lawan bicaramu?" tanya Willy setelah kembali menegakkan tubuhnya dan menyalakan mesin mobil.


"Maaf kak" ucap Aurora lirih dengan sedikit menatap ke arah Willy.


"Aurora, jangan canggung seperti itu pada kakak. Anggap kakak ini saudaramu, kamu bisa berkeluh kesah atau membagi ceritamu pada kakak dan yang lainnya" ucap Willy dengan mata yang fokus menatap jalan.


"Bertahun-tahun aku hidup tanpa ada seorang teman yang mendampingi dan mendengar segala keluh kesahku. Hanya papa yang ada disampingku walaupun tak bisa setiap saat, jadi apa aku salah kak kalau aku sangat sulit membuka diri ketika bersama oranglain?" tanya Aurora dengan mata yang menatap ke depan.


Dapat dilihat Willy, di mata Aurora tampak adanya kekecewaan yang begitu besar.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya, setidaknya kamu mencoba untuk membuka diri sedikit demi sedikit. Tak mungkin kan kalau kelak kamu hanya akan hidup sendiri atau dengan ayahmu saja?" ucap Willy dengan tenang.


Aurora diam tak menjawab memikirkan apa yang diucapkan oleh Willy. Pikirannya menerawang pada kejadian 4 tahun silam.


__ADS_2