SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Part 28


__ADS_3

Mansion pribadi Sandra ini sudah ia bangun sejak 1 tahun yang lalu. Saat itu Sandra sedang melakukan perjalanan bisnisnya di Indonesia selama 1 bulan, ia pun berfikir akan lebih baik jika ia punya hunian sendiri di Indonesia apabila ia sedang ada keperluan disini bisa dipakai. Tapi rencana itu hilang sudah karena ternyata hunian itu akan jadi tempat tinggal tetap bersama saudaranya.


Mansion ini berada di kawasan perumahan elit yang biasanya di huni oleh pengusaha-pengusaha tersohor. Mansion dengan bangunan kokoh 3 lantai yang di dalamnya dilengkapi furniture-furniture mewahnya dan fasilitas yang sangat lengkap. Ruang gym, ruang khusus latihan menembak dan memanah, kolam renang, ruang musik, bioskop mini, ruang dance, dan ruang senjata menjadi beberapa ruangan yang termasuk dalam mansion itu. Bahkan untuk desainnya sendiri, Sandra mendesign sendiri mansionnya sesuai impiannya.


Kembali ke cerita....


Sudah 1 minggu Sandra dan keenam saudaranya tinggal di mansion baru mereka, beruntungnya juga mansion itu tak jauh dari sekolah, kampus, dan perusahaan Sandra.


Willy, Sandro, dan Yusuf kini mulai disibukkan dengan berlatih menembak, beladiri, dan memanah yang diajarkan langsung oleh pelatih yang di datangkan Sandra dari luar negeri dan diawasi oleh Leo. Perkembangan mereka pun sangat meningkat walau belum terlalu lama belajar.


Willy, Sandro, dan Yusuf mempunyai alasan mengapa mereka belajar hal itu. Alasan itu tak lain berhubungan dengan kejadian Sandra beberapa hari yang lalu.


Flashback on


Hari ini Sandra dan Erick akan melaksanakan misinya untuk menuju ke kota S. Mereka menggunakan mobil bersama beberapa anak buah papanya dan juga Leo yang mengawasi dari jarak jauh. Sandra sudah ijin ke Leo dan saudaranya, namun ia tak menjelaskan secara gamblang mengenai alasan kepergiannya kepada saudaranya itu.


Butuh waktu sekitar 2 jam untuk menuju kota S dan 1 jam perjalanan menuju tempat tujuannya. Setelah 3 jam perjalanan, mereka menghentikan laju mobilnya dan mengawasi rumah sederhana yang letaknya lumayan jauh dari rumah yang lainnya.


"Bagaimana?" tanya Erick melalui sambungan earphone di telinganya yang menghubungkannya dengan anak buahnya yang mengawasi tempat itu.


"Aman bos. Orang itu ada dirumah sendiri, keluarganya tidak tinggal disini" ucap orang diseberang sana.


***


Sandra dan Erick mulai bergerak menuju ke rumah itu dengan santai agar tak ada yang curiga. Sandra akan masuk dari depan dan Erick lewat pintu belakang. Sedangkan yang lainnya mengawasi dan mengepung sekitar.


Tok... tok... tok...


Sandra mengetuk pintu rumah itu, tak butuh waktu lama ada seseorang yang membuka pintu rumah itu.


Ceklek


"Ada apa nona? Apa kau tersesat disini atau sedang mencari seseorang? Karena sepertinya aku tak pernah melihat atau mengenalmu di daerah sini" ucap seseorang yang membuka pintu, seorang laki-laki paruh baya yang berusia 53 tahun itu.


"Oh hai uncle Rino" sapa Sandra dengan senyuman sinisnya.

__ADS_1


"Apa uncle tak mengenalku? Ah sayang sekali perempuan secantik aku tak kau kenali uncle" lanjutnya sambil menerobos masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu tanpa permisi.


"Siapa kau? Aku tak mengenalmu. Jangan lancang anda nona, tidak sopan masuk ke dalam rumah orang tanpa ijin" ucap seseorang yang dipanggil Rino oleh Sandra sambil menyusul Sandra masuk ke dalam rumah.


"Lebih lancang mana antara masuk ke rumah orang tanpa ijin atau membawa uang perusahaan orang lain tanpa ijin?" tanya Sandra sinis.


"Maksud anda apa? Cepat katakan anda siapa dan ada tujuan apa anda ke rumah saya?" geram Rino.


Rino sudah mulai emosi pada Sandra, namun ia masih mencoba menggali informasi tujuan Sandra datang ke rumahnya. Ia juga belum mengetahui siapa gadis yang datang ke rumahnya itu, mungkin anak temannya atau musuhnya. Ia masih mengira-ngira itu.


"Arvasyad" ucap Sandra 1 kata namun penuh makna.


Deg


"Tidak mungkin" batin Rino sambil menggeleng-gelengkan kepalanya untuk tetap berfikir positif.


"Maksud anda siapa? Arvasyad? Disini tak ada yang namanya Arvasyad dan saya juga tak tahu siapa itu" ucap Rino dengan wajah seperti pura-pura bingung, namun Sandra jelas mengetahuinya.


"Masa anda lupa dengan perusahaan keluarga itu, uncle. Bukankah dulu kau bekerja disana?" pancing Sandra dengan tenang.


"Loh tadi uncle bilang tidak mengenal dengan Arvasyad, kok uncle bisa bekerja disana dan resign? Insiden apa memangnya?" tanya Sandra bertubi-tubi.


"Kau ini banyak tanya, kau hanya anak kecil yang takkan tahu masalah orang dewasa jadi janganlah ikut campur. Aku juga tidak kenal kau jadi jangan coba-coba untuk memancing atau macam-macam padaku" ucap Rino sambil berteriak.


"Oh... Oh... Calm down, uncle. Aku hanya bertanya padamu, tak usah nyolot juga kau padaku" jawab Sandra santai.


"Aku memang anak kecil, tapi anak kecil ini bisa membunuhmu dengan mudah dengan tangan kecil ini" batin Sandra dengan seringai di wajahnya.


***


Tanpa Rino sadari, dibelakangnya sudah ada seseorang yang membawa sesuatu untuknya. Saat Sandra memberi kode pada orang itu...


Jleb


"Arrghhh... Siapa kalian? Si...a..." teriak Rino sebelum ia pingsan karena bahunya sudah disuntikkan obat bius.

__ADS_1


"Bawa dia ke markas, jangan sampai lengah. Kalau sampai lepas, nyawa kalian taruhannya" titah Erick pada anak buahnya.


Mereka pun segera membawa Rino yang pingsan ke markas yang Erick perintahkan.


"Bagaimana?" tanya Erick pada Sandra saat mereka sudah sampai di dalam mobil.


"Aku yakin orang ini tahu sesuatu dari gerak-geriknya. Tadi dia mencoba menyembunyikan sesuatu tapi terlihat jelas di mataku. Kita harus bisa membuatnya membuka mulut" ucap Sandra dengan tangan mengepal menandakan bahwa ia tengah emosi.


"Kau tak sendiri, kita akan membongkar dan melewati ini sama-sama" ucap Erick yang kemudian menyalakan mobil dan pergi dari sana dengan Sandra berada di sampingnya.


***


Sandra dan Erick telah sampai Jakarta, mereka akan langsung pulang. Untuk urusan Rino ia akan menyelesaikannya nanti bersama dengan sang kekasih.


"Dari mana kamu? Bukannya kamu bilang hanya sampai sore, dek? Ini sudah malam" tanya Willy yang saat itu memang belum tidur karena menunggu Sandra.


"Kakak khawatir kau tau? Aku tadi juga sudah menghubungi Leo sampai aku mendesaknya untuk bicara" lanjutnya.


"Maaf kak, aku tadi ada urusan yang sangat penting" jawab Sandra sambil menundukkan kepalanya.


"Urusan apa? Urusan pembunuh kedua orangtua kita?" tanya Willy yang membuat Sandra terkejut.


"Kak Willy tahu?" tanya Sandra dengan raut muka terkejut.


"Ya, dari Leo. Leo menceritakkannya semua padaku" jawab Willy.


"Kamu sebenarnya anggap kakak ini apa, dek? Tentang pembunuhan kedua orangtau kita kakak berhak tahu dan ikut campur, jangan kamu bertindak sendiri. Ini sangat berbahaya" ucap Willy dengan nada tegasnya.


"Maaf kak, bukan maksud aku tak menganggap kakak. Hanya saja menurutku ini masih hal yang mudah untuk ku atasi" ucap Sandra merasa bersalah.


"Kakak nggak mau tau, pokoknya kakak akan ikut kamu dalam menyelesaikan masalah ini. Kalau kamu tak mengikutsertakan kakak, kakak nggak mau tinggal sama kamu lagi" ucap Willy.


"Huft, baiklah. Tapi sebaiknya kakak berlatihlah beladiri dulu" saran Sandra dan diangguki Willy.


Sejak saat itu, Willy mengajak Sandro dan Yusuf untuk latihan serta menjelaskan alasannya.

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2