
Keesokan harinya Sandra dan saudara-saudaranya beraktifitas seperti biasa. Namun pagi ini terasa berbeda karena di ruang makan terdapat beberapa orang lagi. Sesuai kesepakatan semalam, teman-teman Willy menginap di mansion membuat mansion menjadi ramai. Ditambah dengan kehadiran bu Ratmi dan Pak Rohman dan kedua anaknya, Akbar dan Deno membuat suasana kekeluargaan menjadi sangat terasa.
Di mansion hanya ada sedikit pekerja karena kebanyakan adalah anak buah Leo dan papanya yang menjadi bodyguard. Untuk urusan kebersihan mansion hanya diurus satu orang kepercayaan Leo dan beberapa maid yang bekerja di mansion Leo, setelah membersihkan mansion mereka akan langsung kembali ke mansion Leo. Untuk masalah makanan, mereka akan memasak bergantian siapa yang tidak sibuk diantara Willy, Sandra, Yusuf, dan Sandro. Sebenarnya Sandra juga tak terlalu membutuhkan tukang kebun, tapi karena ia bingung cara membantu Pak Rohman dan keluarga agar tak tersinggung jadi ia menjadikan itu sebagai alasannya.
Kini di meja makan sudah tersedia berbagai makanan untuk sarapan dan yang memasak pagi ini adalah bu Ratmi. Bu Ratmi sendiri yang memasak dan bersih-bersih walaupun tak bisa langsung satu hari selesai, mengingat seberapa besarnya mansion Sandra karena semalam ia tak melihat ada maid di sana.
"Selamat pagi semua" sapa Sandra melihat semua saudara dan teman kakaknya sudah siap di meja makan.
"Pagi" jawab mereka semua menjawab sapaan Sandra yang terlihat ceria pagi ini. Sandra apabila dengan orang-orang yang sudah dikenalnya akan bersikap hangat.
"Loh bu Ratmi, Pak Rohman, Akbar, dan Deno kemana?" tanya Sandra yang tak melihat satu keluarga itu.
"Kita belum lihat dek sedari kita disini" jawab Willy mewakili semuanya.
Tanpa berkomentar apa-apa atas jawaban kakaknya, Sandra melangkahkan kakinya menjauh dari ruang makan untuk mencari keberadaan satu keluarga itu. Entah apa yang dipikirkan, Sandra langsung menuju ke arah taman belakang seperti yakin kalau satu keluarga itu berada disana. Dan tak terduga, dugaannya benar ia melihat bu Ratmi dan pak Rohman sedang membersihkan area kebun bunga sedangkan kedua anaknya sedang duduk di rerumputan.
"Bapak, ibu" panggil Sandra saat ia sudah lebih mendekat ke arah mereka.
"Eh nak Sandra. Sudah bangun nak?" tanya bu Ratmi.
"Udah bu. Kok kalian disini? Udah sarapan?" tanya Sandra.
"Kita nanti saja nak. Setelah kalian selesai dan berangkat kerja atau sekolah" jawab bu Ratmi.
"Kalian ikut kami makan sama-sama ya. Kalian udah aku anggap keluarga jadi nggak boleh sarapan sendiri-sendiri" ucap Sandra.
__ADS_1
"Tapi nak, kami hanya pekerja disini nggak sopan kalau ikut makan sama-sama kalian" jawab bu Ratmi tak enak hati.
"Apa sih? Pokoknya kalian harus ikut makan Sandra. Kalau kalian nggak mau, Sandra nggak mau makan titik" ancam Sandra.
"Loh kok gitu nak, nanti nak Sandra sakit kalau nggak makan" Pak Rohman pun membantu sang istri menjawab karena melihat istrinya yang sepertinya sudah kehilangan kata-kata.
"Biarin. Pokoknya kalian ayo ikut sarapan sama kita" titah Sandra yang tak ingin dibantah.
"Baiklah nak kita ikut kalian sarapan. Kita cuci tangan dulu ayo bu, Deno, Akbar" jawab Pak Rohman sambil menyuruh anak dan istrinya cuci tangan.
***
Pak Rohman dan keluarganya telah duduk di meja makan. Mereka merasa kikuk dan tak enak hati karena duduk bersama dengan majikannya.
"Ayo bu, pak, dek ambil makanannya. Jangan sungkan, ini kan juga masakan ibu" ucap Sandra dan diangguki pelan oleh mereka.
"Boleh dek. Kami juga tahu mereka orang baik jadi bukan hanya kamu yang anggap mereka keluarga, tapi kami semua juga menerima mereka sebagai bagian dari keluarga kita" jawab Willy dengan senyum yang menenangkan adiknya itu. Willy dan semua saudaranya sudah diberitahu mengenai keluarga pak Rohman secara detail oleh Leo, jadi mereka juga bahagia apabila keluarga mereka kini bertambah ramai.
"Makasih kak" ucap Akbar yang sudah paham apa yang mereka bicarakan.
"Sama-sama adek. Ya udah ayo makan, udah siang nih nanti kita terlambat" titah Sandra.
Mereka semua makan dengan tenang kecuali Deno yang bergumam tak jelas dengan disuapi makan oleh sang ibu.
***
__ADS_1
Leo hari ini tidak berangkat ke kampusnya, ia ikut dengan Sandra untuk meninjau proyek kerjasama perusahaan Sandra kota B. Mereka menaiki jet pribadi Leo didampingi oleh Erick, orang kepercayaan Sandra yang sudah dianggapnya kakak.
Butuh waktu 1 jam perjalanan menuju kota B. Mereka kini telah berada di dalam hotel milik perusahaan Sandra, Arva Company.
"Kita berangkat jam berapa kak ke lokasi?" tanya Sandra pada Erick.
"30 menit lagi kita berangkat, aku sudah mempersiapkan semua dokumen-dokumen yang kita butuhkan disana" jawab Erick sambil mengecek hpnya.
"Baiklah" ucap Sandra dengan merebahkan kepalanya di bahu sang kekasih, Leo. Leo pun hanya mengusap kepala Sandra dengan lembut. Ia tahu Sandra lelah karena diumurnya yang masih muda harus mengurus perusahaan sebesar itu sampai kakak-kakak dan adiknya siap untuk meneruskan perusahaan itu.
"Ayo kita berangkat" ajak Erick pada Sandra dan Leo.
Tanpa kata, Sandra dan Leo bangkit dari duduknya ikut keluar kamar hotel bersama Erick yang sudah lebih dahulu keluar.
Setelah 10 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di lokasi proyek. Proyek resort kerjasama perusahaan Sandra dengan salah satu perusahaan terkenal di Rusia. Resort mewah yang menampilkan hunian klasik khas kota B, dengan dilengkapi fasilitas yang lengkap seperti ruang olahraga, gym, kolam renang, restorant, pemandian air panas dan jangan lupa pemandangan yang langsung mengarah ke pantai dan juga gunung.
"Selamat siang nona, tuan" sapa kepala proyek resort yang bernama Bapak Ridwan dan diangguki oleh Sandra, Erick, dan Leo. Jangan lupakan mereka bertiga yang memakai topeng wajah karena mereka belum go public.
"Sudah sampai mana pembangunan resort ini?" tanya Sandra to the point.
"Sudah mencapai 60%, nona. Kita hanya tinggal melengkapi bagian fasilitas dan area belakang resort.
"Nona, tuan apa boleh saya menyampaikan pendapat mengenai resort ini?" tanya Pak Ridwan dan diangguki oleh Erick.
"Bagian belakang resort ini kan masih sangat luas, bagaimana kalau kita bangun gazebo bertingkat yang mengarah ke area pantai atau bukit di sebelah sana? Jadi beberapa kamar yang tidak kebagian view ke arah pantai atau gunung juga bisa menikmati pemandangan itu" ucap Pak Ridwan.
__ADS_1
"Kami pertimbangkan dahulu. Karena kalau seperti itu yang sudah membayar lebih untuk memesan kamar dengan pemandangan pantai atau gunung seperti tidak ada bedanya dengan kamar yang biasa" ucap Sandra dan diangguki pak Ridwan.
Mereka pun berkeliling area resort, namun kejadian tak terduga terjadi...