
"Arrghhhh..."
"Ampun... Ampun...."
"Masa hanya terkena benda kecil seperti ini saja kalian sudah teriak-teriak" ejek Sandra. Sandra-Sandra please itu kan benda tajam, kena dikit aja perih...
Leo yang mendengar hal itu hanya bisa terkekeh pelan. Harusnya orang yang sedang menyiksa musuhnya itu diam saja dan fokus pada urusannya, kalau Sandra selalu bicara tanpa henti seperti ibu-ibu memarahi anaknya.
"Jadi gimana? Mau pilih mati perlahan dengan merasakan sakit dahulu apa langsung menghadap Tuhan? Tapi jelas ada syaratnya dong, enak aja nggak pakai syarat. Bayar toilet aja bayar 2000, ini mau nggak sakit dulu nggak ada embel-embelnya kan nggak cucok" ucap Sandra sambil terus menyayat bagian tubuh ketiga anak buah Alfonso itu dengan santai seperti sedang mencoret-coret kertas dengan pensil.
Arrghhhh....
Sakit...
Arrghhh...
"Lakukan apa yang kami perintahkan tadi dan kalian tak merasakan sakit kembali" lanjutnya dengan tenang.
Ketiga anak buah Alfonso pun saling berpandangan seperti berdiskusi untuk menentukan keputusan apa yang akan mereka ambil.
"Kami lebih memilih mengikuti perintah kalian" ucap salah satu anak buah Alfonso dan diangguki setuju oleh kedua temannya.
"Yah nggak seru... Padahal aku sudah menyiapkan perlengkapan untuk memberi hadiah kalian" ucap Sandra dengan wajah yang tertekuk lesu. Pura-pura lebih tepatnya.
Deggg...
Mendengar hal itu ketiga anak buah Alfonso menegang, mereka paham dengan apa yang dimaksud dengan kata "hadiah". Yang jelas hadiahnya adalah hadiah yang menyiksa dan menyakitkan bagi mereka. Walaupun belum pernah tahu tentang seluk beluk Sandra menyiksa lawan, namun melihat apa yang terjadi hari ini... Ah tak bisa dibayangkan.
__ADS_1
"Hahaha kalian tak perlu tegang seperti itu, kaya sedang lihat cewek seksi saja langsung tegang seperti itu" ucap Sandra ngawur dan mendapat sentilan di bibirnya oleh laki-laki yang sedari tadi disampingnya.
"Baby" peringat Leo dengan tatapan tajamnya, sedangkan Sandra hanya bisa cengengesan saja.
Ketiga orang anak buah Alfonso cengo melihat tingkah Sandra yang tak sesuai dengan aksinya beberapa waktu yang lalu.
"Sungguh ajaib, tingkahnya" batin ketiga buah anak Alfonso.
"Ini hp salah satu dari kalian, hubungi Alfonso dan bilang kalau keluarga Vito sudah berada di tangan kalian. Suruh dia datang ke rumah tua jalan Xx. Bilang sama dia kalau keluarga Vito ingin bertemu dengannya" ucap Sandra kembali pada mode datarnya sambil menyerahkan hp dari salah satu dari mereka.
"Siapa nama kalian?" tanya Sandra dengan melepaskan satu ikatan tangan sebelah kanan anak buah Alfonso.
"Saya Adit, dia Regan, dan dia Malvin" ucap salah satu anak buah Alfonso yang bernama Adit dan Sandra hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Sepertinya kalian masih muda" ucap Sandra dengan santai dan duduk di kursi yang tak jauh dari kursi ketiga tawanannya.
"Ya kami masih 17 tahun" jawab Regan.
"Pendidikan kami hanya sampai SD saja, untuk mendapatkan pekerjaan tentunya akan sulit. Awalnya kami tinggal di desa, namun akhirnya kami merantau ke kota karena perekonomian keluarga kami goyah akibat gagal panen. Dua tahun yang lalu kami datang dan tak sengaja bertemu dengan Tuan Vito saat kami sedang menjadi pemulung. Saat itu Tuan Vito mengajak kami untuk ikut bekerja dengannya, kami dilatih bela diri lalu kami ikut juga menjadi pengawal keluarga Tuan Alfonso. Namun selang beberapa bulan ternyata gaji yang kami terima tidak sesuai dengan apa yang disepakati dari awal. Tuan Alfonso bilang kalau ingin gaji yang utuh harus menjadi anak buah Alfonso seutuhnya tidak boleh mengikuti apa yang diperintahkan Tuan Vito lagi karena Tuan Vito sudah melakukan sesuatu yang membuatnya marah. Akhirnya kami memilih ikut Tuan Alfonso karena orangtua kami sangat membutuhkan uang dari gaji kami" jelas Adit .
"Lagi-lagi karena uang, seseorang bisa mengkhianati orang yang sudah menolongnya" cibir Sandra membuat ketiga anak buah Alfonso itu tertunduk malu dan merasa sangat bersalah. Selama kenal dengan Vito, Vito selalu membantu ketiganya apabila kekurangan uang namun dengan teganya mereka meninggalkan Vito saat ia membutuhkan mereka.
"Sudah... Segera hubungi tuanmu itu" ketus Sandra yang entah kenapa setelah mendengar kalau mereka meninggalkan orang baik hanya demi uang dirinya hilang respect.
Tut... Tut... Tut...
"Ya Haloo..." jawab seseorang dibalik seberang telfon yang tak lain adalah Tuan Alfonso.
__ADS_1
"Maaf tuan, kami ingin menginformasikan bahwa kami sudah berhasil membawa keluarga Vito. Kami membawa mereka semua ke rumah tua jalan Xx" ucap Adit.
"Baiklah. Kalian bisa siksa mereka, buat mereka seperti seseorang yang tertekan dan terlihat mengenaskan. Dokumentasikan dalam bentuk video dan foto, kirim ke saya" titah Tuan Alfonso.
"Tapi tuan, bukankah perjanjiannya kami hanya membawa mereka saja ya? Bukan untuk menyiksa mereka" ucap Adit bingung.
"Hahaha kalian itu bodoh atau bagaimana ha? Buat apa juga membawa mereka kembali kalau bukan untuk disiksa karena berani kabur dari sekapanku? Lakukan saja, aku tak ingin mengotori tanganku untuk hal yang seperti ini" titah tegas Tuan Alfonso.
"Cepat lakukan atau keluarga kalian yang akan jadi korban selanjutnya" lanjutnya.
"Baik tuan kami akan melakukannya. Tapi tuan tadi mereka bilang kalau mereka ingin bertemu dengan anda terlebih dahulu, ada yang inigin mereka sampaikan" ucap Adit.
"Oke aku akan datang besok sore ke tempat itu. Anggap saja itu pertemuan terakhir mereka denganku sebelum menjemput kematiannya. Jangan lupakan tugas kalian" ucap Tuan Alfonso.
Tut...
Tanpa basa-basi dulu, Tuan Alfonso langsung mematikan telfonnya, sedangkan ketiga anak buah Alfonso seketika mematung setelah berbicara dengan Tuan Alfonso tadi. Ada rasa marah, bersalah, dan menyesal dalam hati mereka.
"Hahaha benar-benar bodoh" tawa Sandra seakan mengejek mereka.
"Kalian terlalu bodoh, kaya enggak tapi keluarga terancam" lanjutnya menyindir.
"Orang-orang seperti Alfonso takkan pernah mau berbagi kebahagiaannya untuk oranglain, apalagi kalian hanya bawahannya saja. Lebih baik kalian bekerjasama denganku lalu kita hancurkan Alfonso bersama maka keluarga kalian akan baik-baik saja" ajak Sandra dengan senyum sinisnya.
"Kami tak menjanjikan uang banyak untuk kalian dan keluarga, tapi kami akan membuktikan kalau keluarga kalian takkan kekurangan dan hidup bahagia meskipun kalian mati saat ini juga" ucap Leo melanjutkan apa yang dibilang Sandra.
Mereka bertiga benar-benar terdesak dan harus segera mengambil keputusan. Mereka memikirkan kedua orangtua yang ada di desa takut kalau ancaman Tuan Alfonso itu benar-benar terjadi.
__ADS_1
"Huft... baiklah kami akan ikut bekerjasama dengan kalian" putus Adit, Melvin, dan Regan dan diangguki oleh Sandra dan Leo.
"Semakin banyak yang ikut menghancurkan dia, aku tak perlu mengotori tanganku sendiri. Ku tak ingin tangan cantikku ini terkena darah dari manusia biadab sepertinya" batin Sandra bengis.