SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Rumah Sakit


__ADS_3

Ditengah kepanikannya, Leo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi namun tetap berhati-hati karena membawa Sandra yang ditidurkan di paha Paman Harry dan Rizal yang duduk disampingnya. Untungnya jalanan malam itu benar-benar sepi mengingat hari itu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tak ada percakapan diantara mereka, semua larut dalam pikirannya masing-masing sembari berdo'a agar selamat sampai tujuan dan kesembuhan untuk Sandra.


Setelah 15 menit berkendara, sampailah mobil Leo berhenti di depan sebuah rumah sakit swasta yang terkenal di kota itu. Ia segera keluar dan mencari bantuan tim medis dengan membantu membawa brankar ke sana. Sandra digendong Paman Harry keluar dari mobil kemudian dibaringkan ke atas brankar rumah sakit yang baru saja tiba bersamaan dengan Leo diikuti beberapa suster. Mereka segera memasukkan Sandra ke ruangan IGD untuk diperiksa dan dilakukan tindakan.


"Sus, tolong obati luka tuan ini" ucap Paman Harry saat melihat ada suster yang lewat di dekat mereka dengan menunjuk ke arah Rizal.


"Baik tuan" jawab suster itu.


"Tidak usah, biarkan seperti ini. Ayah ingin menunggu sampai pemeriksaan Sandra selesai" ucap Rizal menolak saran dari anaknya itu.


"Tidak usah membantah" ucap Paman Harry dengan sinis menatap ayahnya.


Walaupun Paman Harry terlihat acuh tak acuh terhadap ayahnya, namun di dalam hatinya yang paling dalam ia masih menyimpan banyak rasa sayang untuk ayahnya itu. Melihat kondisi ayahnya yang begitu memprihatinkan membuatnya iba dan khawatir walaupun ia menampilkan wajah yang biasa-biasa saja.


Mendengar ucapan sinis dari sang anak, Paman Harry pun segera saja menuruti apa yang diperintahkan olehnya. Ia mengikuti seorang suster yang berjalan didepannya, sedangkan Leo dan Paman Harry berdiri di depan ruang IGD untuk menunggu Sandra.


"Leo, setelah ayahku selesai diperiksa dan diobati lukanya maka giliranku juga untuk diobati luka-lukanya. Setelah paman selesai, paman harap kamu juga mau untuk diobati luka-lukanya" ucap Paman Harry dengan mata yang masih menatap ke arah pintu ruang IGD.


"Hmm" jawab Leo dengan berdehem tanpa menoleh ke arah Paman Harry.


Sekhawatir-khawatirnya Leo, ia juga harus memikirkan kesehatannya juga agar bisa menjadi kekuatan bagi Sandra dan saudara-saudaranya nanti. Terlebih kini wajahnya sudah babak belur dan tangannya terasa sakit.


***

__ADS_1


Setelah menunggu kurang lebih 20 menit di depan ruang IGD akhirnya dokter yang memeriksa Sandra keluar dari ruangan itu.


Ceklek...


"Bagaimana dokter?" tanya Leo dengan cepat.


"Nona Sandra harus melakukan operasi untuk mengambil peluru yang ada di punggungnya dan kita membutuhkan banyak darah untuk operasi kali ini karena pelurunya sudah hampir menembus ke tulang belakang. Saya meminta untuk pihak keluarga, jika ada yang memiliki golongan darah AB- untuk segera melakukan transfusi darah karena di rumah sakit dan PMI terdekat hanya mempunyai stok 1 kantong saja sedangkan kita membutuhkan 3 kantong darah" jelas sang dokter dengan tatapan penuh harap.


"Baik dok, segera lakukan yang terbaik untuk Sandra. Masalah mengenai transfusi darah, akan kami hubungi kedua kakaknya dulu" titah Leo dengan nada tegasnya dan diangguki oleh sang dokter.


Dokter dan perawat itu pun berlalu pergi untuk menyiapkan perlengkapan untuk operasi besar Sandra. Setelah melihat dokter dan perawat itu pergi, Leo segera menghubungi Willy dan Sandro untuk datang ke rumah sakit agar bisa segera melakukan transfusi darah. Memang di antara semua saudara Sandra hanya Sandro dan Willy lah yang mempunyai golongan darah yang sama karena mereka saudara kandung, sedangkan yang lainnya hanya saudara angkat.


Setelah menghubungi Sandro dan Willy, Leo segera saja bergantian pergi untuk diperiksa dan diobati luka-lukanya karena Paman Harry telah kembali hingga bisa berjaga di depan ruang IGD bersama Rizal.


***


"Lebih baik kamu ikuti suster itu untuk segera melakukan transfusi darah" ucap Leo dengan menunjuk seorang suster yang sudah menunggu kedatangan keduanya.


Sandro dan Willy hanya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi mengikuti suster yang telah berjalan terlebih dahulu. Leo, Paman Harry, dan Rizal masih duduk menunggu di depan ruang operasi dengan keheningan yang melanda mereka.


Setelah 30 menit berlalu, Willy dan Sandro terlihat berjalan dengan pelan menuju ke arah ruang operasi dengan wajah yang terlihat pucat. Mereka berdua duduk di kursi tunggu sembari menunggu Sandra yang sudah mulai dilakukan tindakan operasi.


"Ini susu dan roti untuk kalian memulihkan tenaga setelah donor darah, makanlah. Jangan lupa minum juga suplemen penambah darahnya" ucap Rizal penuh perhatian pada Sandro dan Willy.

__ADS_1


Rizal tadi sempat pergi ke kantin terlebih dahulu untuk membeli susu, makanan, minuman, dan beberapa cemilan untuk semua yang menunggu Sandra.


"Terimakasih" ucap Sandro dan Willy bersamaan dengan nada yang lemah, pasalnya ini adalah pertama kalinya mereka mendonorkan darah.


Sandro dan Willy sudah memberitahu keadaan Sandra pada Yusuf yang pagi itu sudah bangun dari tidur agar nanti sewaktu saudaranya yang lain bangun bisa memberikan informasi itu. Tak lupa mereka juga meminta untuk semua saudaranya agar mendo'akan kesembuhan Sandra. Sebenarnya tadi Yusuf ingin ikut namun dilarang oleh Willy karena takut jika nanti terjadi kerisauan di mansion, tak ada yang bisa menenangkan.


***


Dua jam berlalu, lampu ruang operasi seketika mati pertanda bahwa operasi telah selesai dilakukan. Mereka yang menunggu Sandra di luar ruangan operasi seketika saja berdiri dan berharap-harap cemas menanti kabar mengenai keadaan Sandra.


Ceklek...


"Dengan keluarga pasien" panggil dokter yang menangani operasi Sandra kali ini.


"Kami, dok" ucap Sandro mewakili semuanya.


Mereka semua pun segera mendekat ke arah dokter itu untuk mendengarkan penjelasan dokter mengenai keadaan Sandra yang sebenarnya.


"Operasi nona Sandra berjalan dengan lancar. Untuk pasien saat ini masih belum sadarkan diri karena efek dari obat penenang. Kami akan melakukan observasi kembali nanti setelah pasien sadar. Jika pasien sudah sadar dan merasakan keluhan bisa langsung menghubungi saya atau suster yang berjaga" jelas dokter itu dengan panjang lebar.


"Baik dok, terimakasih" ucap Sandro dengan mata yang berbinar dan tersenyum lega mendengar bahwa Sandra baik-baik saja.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi, sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawatnya" pamit dokter itu dan diikuti oleh beberapa suster.

__ADS_1


Setelah melihat dokter itu pergi, mereka kembali duduk dan menunggu sampai brankar Sandra keluar. Saat Sandra keluar dari ruang operasi, mereka semua segera saja mengikuti brankar tersebut.


__ADS_2