
Tuan Alfonso yang ditarik paksa oleh anak buah Leo pun sekarang hanay bisa tertunduk pasrah. Mau minta tolong kepada pengawal, anak buah, atau Vito pun rasanya percuma. Kedua pengawal yang ditahan oleh anak buahnya sendiri dan Vito yang menampakkan wajah acuh tak acuh. Sedangkan anak dan istrinya tak mungkin bisa menyelematkannya dengan keadaan wajah yang begitu berantakan. Tapi Tuan Alfonso sendiri tak menyadari keanehan dari wajah sang anak dan istrinya. Tuan Alfonso di bawa menuju ke sebuah halaman yang terletak di belakang rumah tua itu dan di letakkan di tengah-tengah lapangan dengan di kelilingi beberapa anak buah Leo.
"Jadi apa sebenarnya yang kalian inginkan? Ha?" seru Tuan Alfonso seakan menantang semua yang ada disitu dan mulai berdiri dari posisi yang awalnya terduduk.
"Kematianmu" ucap seseorang yang baru saja datang yang tak lain adalah Sandra. Sandra berjalan dengan langkah tegasnya diikuti Sandro di belakangnya.
"Siapa kau?" tanya Tuan Alfonso dengan nada bingungnya.
"Hohoho Kau tak mengenalku rupanya. Seorang anak kecil perempuan yang ditinggalkan sendirian di sebuah mansion yang mewah karena kedua orangtuanya dibunuh oleh mafia suruhan orang serakah dan biadab serta kedua saudaranya di culik oleh anggota mafia itu" ucap Sandra dengan santai.
"ITU ADALAH AKU. DAN KAU ADALAH ORANG BIADAB DAN SERAKAH ITU" lanjut Sandra dengan membentak Tuan Alfonso di depan mukanya.
Sandra benar-benar emosi saat ini, emosinya sudah tidak bisa terbendung lagi saat orang yang berperan penting dalam kehancuran keluarganya saat ini berada di depannya. Rasanya ia ingin mencabik-cabik wajahnya dan membunuhnya saat itu juga. Namun ia harus menahan semua keinginannya itu karena Leo dan kedua saudaranya pasti juga ingin ikut ambil bagian dalam hal ini.
"Ja... Jadi kau adalah anak dari keluarga Arvasyad? Sa... Satunya anak perempuan keluarga itu?" tanya Tuan Alfonso terbata-bata. Ia tak menyangka bahwa anak kecil yang masih berusia 5 tahun mampu bertahan hidup tanpa orangtua dan saudaranya.
"Ya, itu aku. Seorang gadis kecil yang masih berusia 5 tahun tak tahu apa-apa tentang kejamnya kehidupan saat itu harus menjadi seorang anak yatim piatu dan tanpa ada saudara di dekatnya. Bahkan kau tahu Tuan Alfonso, untuk memakamkan kedua orangtuanya saja dia di bantu oleh tetangganya dari segi biaya pemakaman. Untuk makan? Apa kau tak memikirkan anak sekecil itu bagaimana ia mendapatkan uang hanya untuk sesuap nasi? Ah ku rasa tidak, karena kau telah di butakan dengan kekuasaan. APA KAU TAK BERPIKIR JIKA ITU JUGA TERJADI PADA ANAK PEREMPUANMU HA?" ucap Sandra dengan membentak Tuan Alfonso di akhir ucapannya.
__ADS_1
Semua orang disana kecuali Sandra dan Tuan Alfonso seketika mengalihkan pandangannya dari Sandra untuk menghalau air mata mereka yang seketika ingin turun ketika Sandra mengucapkan hal itu. Sedangkan Rachel dan mamanya sudah saling berpelukan menangis tidak menyangka bahwa orang yang selama ini mereka hormati bisa melakukan hal kejam seperti itu demi kekuasaan.
"Ternyata hidup kita masih lebih baik daripada keluarga dari orang yang dibunuh oleh papa, ma" ucap Rachel di pelukan sang mama diiringi isak tangis.
"Iya nak, kita harus bersyukur . Kita nggak di bunuh oleh orang yang kejam itu dan masih bisa saling menguatkan satu sama lain walaupun harus makan seadanya" ucap Mama Rachel dengan pelan.
Suasana di sana benar-benar hening kecuali Rachel dan mamanya yang terdeengar bisik-bisik diiringi isak tangis.
"Terus kenapa ha? Itu salah ayahmu yang tak mau menginvestasikan saham dan uangnya di perusahaanku, jadi jangan salahkan aku kalau aku mengambil semua saham dan uang yang ia punya sebagai imbalannya" ucap Tuan Alfonso tiba-tiba dengan tanpa rasa bersalahnya.
"Dan asal kamu tahu, kalaupun anakku mengalami hal itu... SAYA TIDAK PEDULI" lanjutnya dengan berteriak di akhir ucapannya.
"Apa? Kalian jangan munafik dengan sok khawatir atau peduli dengan saya. Bahkan kalian saja aku yakin sudah muak denganku karena selama ini aku tak pernah memberikan nafkah pada kalian. Asal kalian tahu, aku menikah denganmu hanya demi kedua orangtuaku yang menginginkan aku segera menikah dan mereka ingin segera punya cucu" ucap Tuan Alfonso dengan teganya membuat Rachel dan mamanya hanya bisa menangis terisak pilu dengan semua kenyataan ini.
"Astaga papa" ucap Mama Rachel dengan mengelus dadanya, ia merasa dadanya sesak dan oksigen di paru-parunya seakan menipis setelah mendengar semua kenyataan ini. Ia kira suaminya sangat mencintainya karena dulu beliau mendesak terus menerus ia agar segera menikah dengannya.
"Papa akan dapat karma dari semua yang telah papa lakukan selama ini. Anak-anak juga akan ikut bersamaku, aku takkan pernah lagi peduli dengan apa yang akan kamu alami" teriak Mama Rachel sambil menangis.
__ADS_1
"Terserah aku tidak peduli. Sebentar... Kenapa darah yang ada di wajah kalian tidak luntur walau terkena air mata? Apa jangan-jangan ini trik kalian untuk menjebakku?" tanya Tuan Alfonso.
"Hahaha ternyata kau jeli juga tuan. Memang benar itu hanya sebuah lukisan wajah yang kami buat untuk memancing anda untuk jujur" ucap Sandra sambil tertawa sinis.
"Sialan kalian semua... Ternyata kalian semua bersekongkol" seru Tuan Alfonso dengan tangan mengepal menahan segala emosinya.
"Regan, Malvin bawa Rachel dan mamanya pergi dari sini. Bawa mamanya ke rumah sakit sepertinya beliau terlalu shock mendengar semua ini" perintah Leo pada Regan dan Malvin dan diangguki oleh keduanya.
"Regan, Malvin... Kalian itu anak buahku, harusnya kalian membantuku bebas dari mereka bukan malah pergi membawa dua orang itu ke rumah sakit. Kalian juga tak boleh menuruti perintah dari musuh bos mu" teriak Tuan Alfonso namun tak digubris oleh keduanya. Keduanya memapah Rachel dan mamanya yang masih terlihat shock untuk dibawa ke rumah sakit.
"Kau benar-benar iblis berwajah manusia tuan" ucap pedas Sandra dengan menatap tajam Tuan Alfonso.
"Apa peduli anda terhadap hidup saya ha? Ini urusan saya bukan urusan anda" ucap Tuan Alfonso dengan santai.
"Sebelum kau mati, ada kata-kata yang ingin kau ucapkan tuan? Oh iya... Vito kau belum berbicara dengan bos mu ini lho, kau tak ingin mengucapkan kata-kata perpisahan kah dengannya?" tanya Sandra pada Vito.
"Mantan bos lebih tepatnya Nona Sandra" ucap Vito kemudian berjalan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Tuan Alfonso.
__ADS_1
"Jadi kau mengkhianatiku Vito? Akan ku..."