SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Beruntung


__ADS_3

Leo dan Willy telah sampai di rumah sakit dimana Sandra berada. Mereka segera masuk ke dalam dan mencari keberadaan Sandra. Setelah menanyakan ke resepsionis, akhirnya mereka melihat Sandra masih berada di depan ruang IGD duduk dengan memejamkan matanya bersandar pada kursi tunggu.


"Gimana keadaan mereka, baby?" tanya Leo yang sudah duduk disamping Sandra. Sandra segera membuka matanya saat mendengar sebuah langkah yang mendekat ke arahnya.


"Belum tahu kak. Aku menyuruh dokter untuk cek semuanya, aku hanya khawatir kalau ada luka dalam yang tak kita ketahui dilihat dari luka lebam mereka" jawab Sandra yang kemudian memeluk Leo dengan erat.


"Kalian tidak apa-apa kan?" tanya Sandra pada Leo dan Willy.


"Tidak, kami baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit lebam dan goresan akibat tadi" jawab Leo.


"Tapi entah itu kakakmu" lanjutnya sambil melirik Willy yang duduk di samping Leo dengan memejamkan matanya. Sandra yang mendengar hal itu segera melepaskan pelukannya pada Leo kemudian melihat ke arah kakaknya yang terlihat sangat kelelahan.


"Aku tidak papa, hanya sedikit kelelahan" ucap Willy yang masih memejamkan matanya, tapi ia tahu kalau ada orang yang sedang memperhatikan dan mengkhawatirkan keadaannya.


"Lain kali aku akan berlatih lagi, agar fisikku kuat dan nggak mudah kelelahan ketika menghadapi banyak orang" lanjutnya.


"Tak perlu dipaksakan kak. Yang penting rutin saja" saran Sandra dan diangguki oleh Willy.


***


Cukup lama mereka menunggu di depan IGD dengan keheningan, waktupun kini sudah menunjukkan dini hari jadi memang hanya ada beberapa petugas saja yang bersliweran.


Ceklek...


Bunyi suara pintu seketika menyadarkan aktivitas Leo, Willy, dan Sandra yang sebentar lagi sepertinya akan tertidur. Beberapa dokter keluar dari ruangan itu, memang Sandra menyuruh satu orang dokter untuk menangani satu pasien agar lebih cepat katanya.


"Dengan keluarga pasien?" tanya salah satu dokter.


"Kami kerabat dekatnya dok" jawab Sandra dan diangguki oleh dokter itu.

__ADS_1


"Setelah kami lakukan pemeriksaan secara keseluruhan mereka semua hanya ada luka lebam luar saja. Untuk luka dalam alhamdulillahnya tidak ada, organ vitalnya juga baik. Namun semuanya terdapat luka dibagian lambung, mungkin karena makan tidak teratur. Bahkan untuk yang perempuan paling kecil, ia menderita maag kronis" jelas dokter itu.


Sandra, Willy, dan Leo sudah menduga hal itu karena sepertinya tak mungkin kalau orang yang disekap akan diberi makan teratur dan makanan yang bergizi.


"Tolong rawat mereka hingga sembuh terutama adik perempuan itu. Bagaimanapun caranya dia harus sembuh" titah Sandra karena ia sendiri mengingat Alin adik perempuannya yang punya maag dulunya namun bersyukurnya sekarang ia sudah sembuh.


"Baik nona" jawab dokter itu.


Beberapa dokter itu segera berlalu dari ruang IGD setelah menyuruh para suster untuk memindahkan satu keluarga itu untuk dirawat di ruang rawat.


***


"Apa kau sudah mengabari Vito?" tanya Leo pada Sandra. Kini mereka bertiga sedang berada di ruang tunggu pasien yang berada tepat di sebelah ruangan keluarga Vito di rawat. Disana sudah ada beberapa kasur yang memang disediakan untuk istirahat keluarga yang menunggu.


Mengapa mereka tak pulang dan pengawal saja yang menjaga? Mereka malas pulang karena terlalu capek dan untuk pengawal ada beberapa yang mengawal mereka bahkan di depan ruang rawat juga ada.


Willy sudah tertidur pulas sejak tadi karena kelelahan tanpa membersihkan dirinya dulu. Sedangkan Sandra dan Leo saat masuk ruangan langsung membersihkan diri dulu baru akan tidur.


***


Pagi menjelang, matahari sudah menampakkan sinarnya. Ketiga manusia yang sedang tertidur pulas itu tak merasa terusik, sepertinya mereka benar-benar kelelahan.


Sedangkan di ruangan yang lain...


Kelima anggota keluarga yang semalam di rawat di rumah sakit, sudah terbangun dari tidurnya. Bahkan sekarang tengah diperiksa kondisinya oleh dokter dan suster juga sudah membawakan sarapan dan obat untuk kelimanya. Mereka ditempatkan di satu ruangan yang sangat luas, atas permintaan Sandra agar ia lebih mudah mengawasi mereka.


"Kondisi kalian semua sudah lebih stabil. Mungkin itu adek kecil harus lebih teratur ya makannya dan harus diperhatikan makanannya. Nggak boleh makan makanan pedas dan asam nanti perutnya sakit" ucap dokter itu pada semuanya terutama pada si anak perempuan.


"Terimakasih dokter. Emm... Maaf yang menolong kami semalam berada dimana ya?" tanya salah seorang wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Oh... Orang yang semalam membawa anda kesini?" tanya dokter itu dan diangguki oleh wanita itu.


"Dia ada di ruangan sebelah, mungkin masih istirahat karena mereka tidak tidur untuk menunggu kalian sampai dini hari" jawab dokter itu dan diangguki mengerti oleh semuanya.


Dokter dan suster yang berada disana pun segera berlalu dari ruangan itu setelah pamit.


"Kita beruntung ya bu, ada orang baik yang menyelamatkan kita dari orang-orang itu" ucap seorang wanita paruh baya kepada wanita yang lebih tua darinya.


"Iya nak, kita harus mengucapkan banyak terimakasih kepada mereka" jawab orang yang dipanggil ibu itu.


"Kevin, Keano, Kinara nanti kita harus mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang tadi malam menolong kita" ucapnya pada ketiga anaknya.


"Iya bu, kakak yang tadi malam udah cantik, baik lagi" ucap seorang anak laki-laki yang bernama Kevin dan diangguki kedua saudaranya.


"Apa kabar dengan Vito ya bu? Aku takut kalau atasan iblisnya itu tahu kita sudah bebas dia akan menyiksa dan mengancam Vito" ucap ibu itu kepada ibunya ah lebih tepatnya ibu mertuanya.


"Ibu juga tidak tahu nak, kita hanya bisa berdoa semoga dia selalu baik-baik saja dan bisa segera lepas dari atasannya itu" jawab ibu mertuanya.


Ibu Vito dan istri Vito mengetahui alasan mereka selama ini disekap di rumah kumuh itu. Apalagi kalau bukan Vito yang mau resign dari pekerjaannya akibat mengetahui perbuatan kotor atasannya.


"Ibu, adek kangen ayah" ucap Keano tiba-tiba. Bagaimana tidak kangen dengan ayahnya, 8 tahun mereka tidak bertemu bahkan disaat si bungsu masih berusia 2 tahun.


"Ayah? Kita punya ayah, ibu?" tanya si bungsu Kinara pada ibunya. Kinara sampai tak mengingat wajah dari ayahnya itu akibat terlalu lama tak bertemu.


"Iya, Kinara punya ayah. Ayah sekarang sedang bekerja di luar kota, ayah pasti akan segera pulang" ucap istri Vito dengan mata yang berkaca-kaca. Ia begitu sesak di dadanya, anaknya yang bungsu itu bahkan belum tahu apa-apa namun harus tinggal di lingkungan kumuh dan tak mengenal ayahnya.


"Pasti ayah akan bawa mainan yang banyak kan ibu, saat pulang nanti?" tanya Kinara dengan polosnya. Walaupun ia sudah berusia 10 tahun pikirannya masih seperti anak kecil yang ingin bermain saja. Ini akibat dari dia hanya bersosialisasi dengan keluarga, kekerasan yang diterima dari anak buah atasan Vito, dan belum merasakan bangku sekolah.


Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang melihat dan mendengar mereka di balik pintu ruangan mereka dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2