
Rizal masih saja terus berperang batin dengan pikirannya bahkan ia sampai tak sadar bahwa istri dan sahabat istrinya itu juga sudah ada disana dengan beberapa anak buahnya. Bahkan ia sejak tadi masih terduduk di lantai restorant yang dingin akibat ditendang perutnya oleh Sandra.
"Hmm..." Deheman yang berasal dari satu-satunya seorang wanita paruh baya yang berada disana membuat Rizal tersadar dari pikiran-pikirannya.
"Ema.." kaget Rizal saat istrinya juga berada disana, bahkan tak hanya istrinya namun sahabat istrinya juga.
Namun ada hal yang mengganjal disini, Rizal merasa bahwa kedatangan istri dan sahabat istrinya itu bukan pertanda yang baik. Rizal juga tak memberitahu rencananya untuk menemui Sandra dan Leo pada istrinya itu tetapi mengapa istrinya itu bisa sampai di restorant ini.
"Akhirnya kau datang juga, sayang. Pasti kau kesini mau membantuku untuk menyingkirkan mereka kan?" tanya Rizal dengan mata yang berbinar-binar seakan kedatangan istri dan sahabat istrinya itu adalah sebuah angin segar untuk melawan Sandra dan yang lainnya.
"Ya benar, aku kesini memang untuk menyingkirkan mereka sekaligus menyingkirkanmu hahaha" ucap istri dari Rizal yang bernama Ema dengan tertawa sinis bak iblis.
"Apa maksudmu?" tanya Rizal dengan mengerutkan keningnya heran.
Mendengar hal itu, ia tentu saja langsung bangkit dari duduknya dan berdiri di hadapan istrinya untuk menuntut penjelasannya.
"Kau benar-benar bodoh, Rizal. Bertahun-tahun kau hidup denganku tapi kau tak tahu dengan benar sifat asliku seperti apa. Jelas saja aku akan menyingkirkanmu demi mendapatkan semua kekuasaan yang dimiliki oleh anakmu itu. Jelas saja disini aku nggak mau rugi dong hidup bertahun-tahun denganmu tanpa mendapatkan apa-apa. Apalagi sekarang aku melihat semua anak-anakmu sukses, maka kini kau harus membayar biaya hidup menumpangmu padaku selama bertahun-tahun ini" ucap Ema dengan tatapan merendahkan menatap Rizal.
Rizal menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Ema. Ia tak menyangka bahwa wanita yang amat ia cintai bahkan ia rela meninggalkan istri dan anak-anaknya demi cinta pertamanya ini dengan teganya berkata seperti itu. Namun memang terkadang cinta bisa membuat semuanya menjadi buta dan bodoh. Meninggalkan seseorang yang setia dan tulus demi seseorang yang seperti remahan rengginang.
"Kau..." Tunjuk Rizal pada Ema tepat di wajahnya dengan mata yang memerah karena terlalu emosi dengan apa yang diucapkan oleh Ema.
__ADS_1
Namun jari telunjuknya itu dipegang dan diturunkan perlahan oleh seseorang yang sedari tadi diam yang tak lain adalah sahabat Ema, Nuel.
"Jangan pernah menunjuk-nunjuk ke arah wajah wanitaku, dasar laki-laki tak berguna" seru Nuel dengan mata berkilat marah melihat Rizal memperlakukan Ema seperti itu.
"Hei... Anda itu hanya sahabatnya saja, saya adalah suaminya. Saya lebih berhak atasnya dan kau sebut Ema wanitamu? Dih... Jangan mimpi, selamanya Ema hanya akan jadi milikku" ucap Rizal dengan nada penuh penekanan.
"Percaya diri sekali kau, bung. Kau tak lupa kan siapa aku sebenarnya? Aku bisa memiliki segala yang aku inginkan, bahkan hanya dengan jentikan jari saja, aku bisa menghabisimu" ucap Nuel dengan kalimat yang seperti sebuah ejekan.
Deg...
Rizal menekan dadanya untuk menghilangkan rasa takutnya. Ia tak lupa dengan identitas Nuel yang bahkan disebut iblis oleh sebagian orang yang mengenalnya. Anuel Megantara adalah seorang pemimpin organisasi mafia ilegal yang namanya cukup disegani di negara A. Organisasi itu menjalankan bisnis illegal seperti penjualan organ tubuh manusia, obat-obatan terlarang, bahkan perdagangan anak. Jika ada yang menghalangi bisnis yang mereka kerjakan, maka tanpa pikir panjang mereka akan langsung menyingkirkan orang itu, tak peduli bahwa orang itu adalah polisi ataupun keluarganya sendiri. Organisasi itu semakin kuat dengan adanya ribuan orang yang bergabung.
Back to the topic...
"Menjadi perebut kok bangga" ceplos seseorang yang sudah jengah dengan drama cinta segitiga orang-orang yang sudah tua itu.
"Kau..." seru dua orang yang langsung menatap tajam ke arah orang yang berbicara seenaknya itu.
"Apa? Ha? Mau marah? Memang benarkan? Udah deh kalian itu udah pada tua, mending kalian pada tobat buat nabung amalan di akhirat bukan malah meributkan hal tentang cinta" ejek lagi orang itu, yang tak lain adalah Sandra.
Karena sudah terpancing emosi dan kepalang kesal dengan ucapan Sandra, akhirnya Nuel memerintahkan semua anak buahnya untuk segera mengepung Sandra, Leo, dan Paman Harry serta Rizal.
__ADS_1
"Kepung mereka" seru Nuel kepada semua anak buahnya yang sebanyak 200 orang itu.
Orang-orang berbadan besar itu segera saja mengepung Sandra, Leo, Paman Harry, dan juga Rizal. Mereka membentuk lingkaran sehingga keempat orang itu berada ditengah-tengahnya dan untungnya tadi mereka saat bertengkar sudah berada di halaman restorant jadinya nanti jika ada pertumpahan darah maka tak akan ada kerusakan barang pada restorant.
Keempat orang yang dikepung itu seketika saja berdiri dengan posisi membelakangi, bahkan mereka sudah menyiapkan kuda-kuda untuk melawan 200 orang. Seperti hal yang mustahil karena 200 orang itu berbadan besar dengan membawa senjata, sedangkan keempatnya menggunakan tangan kosong dengan personil dua orang yang sudah berumur.
"Apa kita bisa melawan orang sebanyak ini? Yang ada kita dikirim ke neraka habis ini" panik Rizal dengan berbisik saat mereka berempat kalah jumlah.
"Baru juga 200 orang 1000 orang pun akan aku kalahkan. Dan lebih baik anda saja yang dikirim ke neraka, kalau aku mah pastinya kalau mati pun pasti masuk surga" ucap Sandra dengan percaya dirinya.
"Lebih baik anda tak usah ikut melawan mereka, takutnya nanti punggung anda encok" ejek Leo membuat Sandra dan Paman Harry terkekeh geli sedangkan Rizal hanya bisa menyimpan rasa kesalnya di dalam hati.
"Bagaimana? Apa kalian ingin menyerah sekarang dan menyerahkan semua harta dan kekuasaan Luis? Kalau kalian memberikannya, akan ku pastikan kalau kalian akan ku lepaskan" ucap Nuel melakukan penawaran.
"MIMPI" seru Sandra, Leo, dan Paman Harry secara bersamaan.
Hal itu tentu saja membuat kemarahan Nuel tak terbendung lagi dan menyuruh semua anggotanya menyerang keempatnya.
"SERANG" seru Nuel dengan emosi yang begitu meledak bahkan ia harus ditenangkan oleh Ema.
"Akan ku balas kematian papaku dengan hilangnya nyawa kalian semua" lanjutnya semakin membuat suasana malam di halaman restorant itu mencekam.
__ADS_1