
"Kenalin ini kak Aurora, untuk beberapa hari ke depan ia akan tinggal di sini bersama kita" ucap Sandra memperkenalkan Aurora pada semua saudaranya.
"Aku tidak setuju kalau perempuan ini tinggal dengan kita" seru seorang pemuda laki-laki yang baru saja datang yang tak lain adalah Rafi.
Mendengar seruan penolakan itu, Aurora seketika mengalihkan pandangannya ke arah orang itu. Setelah melihat siapa yang menyerukan penolakan itu, seketika Aurora menunduk. Sama hal nya dengan Aurora, ketika mendengar adanya seruan penolakan semua orang yang ada disana langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rafi. Terlihat wajah Rafi yang memerah menahan amarah dengan wajah datarnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Rafi..." panggil Sandra dengan lembut. Sandra mendekat ke arah Rafi lalu mengelus kedua tangan Rafi yang terkepal erat.
"Duduk yuk" ajak Sandra kemudian menarik tangan Rafi kemudian berjalan ke arah meja makan.
Mereka berdua duduk diikuti anggota keluarga lainnya yang sedari tadi hanya melihat dan mendengarkan perdebatan itu. Sedangkan Aurora sendiri masih berdiri tetap di samping Sandra duduk sambil menundukkan kepalanya.
"Rafi, kak Aurora ini sebenarnya baik lho nggak seperti yang kita nilai saat awal kita ketemu. Kak Aurora seperti kemarin karena ia cari perhatian agar bisa di akui oleh semua orang. Di rumah kak Aurora kesepian dan sering sendiri karena ayahnya kerja dan ibu nya sekarang nggak tau dimana" ucap Sandra dengan lembut.
"Maka dari itu kak Aurora sering banget buat masalah agar dapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya namun caranya aja yang salah. Selagi orang itu tak mencelakai kita, akan lebih baik kalau kita rangkul dia agar kehidupannya jauh lebih baik. Tapi kalau orang itu ingin selalu mencelakai kita, ya terpaksa kita gunakan cara lain" lanjutnya.
Cara lain yang dimaksud oleh Sandra bukan lagi cara halus tapi adalah mengeksekusinya langsung.
"Dia sama sepertiku?" tanya Rafi pelan namun masih bisa di dengar oleh Sandra.
Setelah keheningan cukup lama itu akhirnya Rafi mau membuka suara juga walaupun suaranya terdengar lirih. Rafi menatap Sandra dengan mata sendunya saat mengucapkan pertanyaan itu.
"Iya, tapi Rafi sekarang kan udah nggak pernah sendirian lagi. Ada kakak-kakak, adik-adik, papa, dan yang lainnya yang selalu nemenin kamu. Jadi?" jawab Sandra sembari mengelus pipi Rafi dengan lembut.
__ADS_1
Rafi terdiam sejenak memikirkan apa yang di ucapkan oleh Sandra. Memang benar apa yang dikatakan Sandra, dulu saat masih ada Sandra di luar negeri ia selalu merasakan kasih sayang dari papa dan kakaknya Sandra walaupun kadang ia merasa kesepian karena kedua orang itu selalu bekerja. Sekarang disini, walaupun papa dan kakaknya itu bekerja, masih ada anggota keluarga yang lain yang mengajaknya bermain. Rafi berdiri dari duduknya kemudian berdiri di hadapan Aurora.
"Kak Au-Aurora" panggil Rafi dengan gugup.
Aurora yang di panggil oleh seseorang yang berada di hadapannya pun seketika menegakkan kepalanya.
"I-iya" jawab Aurora dengan terbata-bata setelah mengetahui siapa orang yang ada di hadapannya itu.
Grep...
Tanpa aba-aba, Rafi memeluk tubuh Aurora dengan eratnya membuat Aurora terdiam membeku. Bahkan tubuhnya menegang, namun ada rasa hangat di dalam hatinya. Seumur hidupnya, ia jarang berpelukan dengan oranglain selain papa nya. Tanpa sadar, Aurora membalas pelukan Rafi tak kalah eratnya.
"Welcome... Kak Aurora" seru semua orang yang ada disana setelah Rafi melepaskan pelukannya dari Aurora.
"Selamat datang di keluarga kami, Kak Aurora. Berbagilah segala keluh kesah dan bahagiamu pada kami" ucap Sandra sambil tersenyum tulus saat melihat mata Aurora berkaca-kaca.
"Terimakasih... Terimakasih, kalian begitu baik padaku. Padahal aku udah bersikap semena-mena pada kalian terutama Sandra dan Rafi. Aku bahagia mengenal kalian" ucap Aurora dengan tersenyum manis.
"Sudahlah tak perlu diingat lagi apa yang kemarin. Sekarang waktunya kita makan" seru Yusuf membuat semuanya tertawa.
Mereka pun makan bersama di meja makan dengan lahapnya walaupun hanya ada keheningan disana. Setelah makan mereka berkenalan satu sama lain, mengingat Aurora hanya mengetahui nama Sandra dan Rafi saja.
***
__ADS_1
"Kak Aurora sekarang kuliah dimana?" tanya Sandro mengawali percakapan untuk mengenal lebih dalam mengenai Aurora.
Saat ini mereka semua ada di ruang keluarga dengan beberapa buku tugas sekolah atau kuliah. Kebiasaan mereka adalah belajar bersama di ruang keluarga agar tak merasa sepi.
"Kakak kuliah di Brain University. Udah semester 4" jawab Aurora jelas dan Sandro hanya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kak Aurora jangan canggung begitu dengan kami, di sini kami juga hanya menumpang hidup dengan kak Sandra jadi kita sama. Jangan merasa kalau kak Aurora di sini hanya menumpang, kita sama" ucap Damar dengan polosnya.
Sedangkan Aurora yang mendengar hal itu seketika kaget. Suasana di sana juga sedikit lebih tegang daripada tadi.
"Maksudnya?" tanya Aurora bingung.
"Kami hanya saudara angkatnya kak Sandra tapi kak Sandra memperlakukan kita sama kaya saudara kandungnya. Saudara kandung kak Sandra hanya kak Willy dan kak Sandro. Sekolah, makan, mainan, dan semuanya itu kak Sandra yang menanggung" ucap Damar menjelaskan.
"Damar, kamu ini apa-apaan sih. Kak Sandra nggak suka ya kamu bilang kaya gitu, kalian itu saudara kakak walaupun bukan kandung. Sekali lagi ada yang ngomong kaya gitu, aku bakalan marah" ancam Sandra dengan wajar datarnya, sedangkan Damar yang tadi mengucapkan itu seketika diam dan menundukkan kepalanya.
"Maaf kak" ucap Damar lirih.
"Damar lihat kak Sandra" ucap Sandra dengan melembutkan tatapannya.
"Damar atau yang lainnya, aku nggak mau sampai dengar ada yang bilang kalau kalian menumpang hidup pada aku. Aku udah anggap kalian saudaraku jadi apapun mengenai kalian adalah tanggungjawabku. Kalian cukup belajar hingga kalian sukses, aku hanya memfasilitasi saja untuk kesuksesan itu tergantung dari kalian sendiri. Jangan ngomong gitu lagi ya Damar, adik kakak yang imut ini" ucap Sandra dengan tegas namun terkesan lembut sambil mencubit pelan pipi adiknya itu.
Semua yang di sana begitu terharu mendengar penuturan Sandra. Terlebih Sandro dan Willy yang bangga punya adik yang baik hati seperti Sandra. Setelah adegan itu, akhirnya semua bercanda tawa hingga hampir tengah malam.
__ADS_1