
"Lepaskan" berontak Pak Ridwan.
"Tidak akan, sebelum anda mengatakan siapa yang menyuruh anda dan apa motifnya. Ya walaupun saya sudah mengetahuinya, tapi kurang puas saya kalau belum mendengar pengakuan dari anda secara langsung" ucap Sandra sambil berdiri untuk menuju ke arah Pak Ridwan.
Leo yang melihat Sandra mendekati Pak Ridwan segera mengikutinya untuk menjaga Sandra apabila kejadian tak terduga terjadi.
Pak Ridwan yang ditanya seperti itu diam tak bergeming, membuat Sandra habis kesabaran.
"Mau pakai cara halus untuk jujur atau pakai cara kasar?" tanya Sandra dengan tersenyum licik, tanpa tiba-tiba ia mengeluarkan pisau kecil dan mengarahkannya pada leher Pak Ridwan yang sedang dipegang erat oleh pengawal Leo.
"****... Ternyata gue salah lawan, dia bukan gadis lemah seperti yang selama ini gue dan bos kira" batin Pak Ridwan.
"Oh... Masih tidak takut dan tidak mau mengaku rupanya. Hmm..." Sandra berucap seperti mengejek Pak Ridwan yang kini dalam kondisi terdesak dengan memasang wajah tengilnya.
"Bagaimana kalau dengan ini, baby?" tanya Leo yang ikut mengintimidasi lawan yang ada didepannya.
Entah sejak kapan Leo sudah memegang remote kecil dan di ruangan itu terdapat sebuah layar LCD besar, namun yang pasti tayangan dalam LCD itu membuat Pak Ridwan menegang.
"Bagaimana hadiah dari saya?" tanya Sandra dengan menggoreskan pisaunya di pipi Pak Ridwan.
"Arrrghhh... Dasar wanita i*lis. Kalian tak punya hati" teriak Pak Ridwan sambil menahan rasa sakit dipipinya.
Di layar LCD itu menampilkan istri dan ayah dari Pak Ridwan yang disekap oleh pengawal Leo dengan mengacungkan pistol di pelipis mereka. Tampilan itu disiarkan secara live, jadi istri dan ayah dari Pak Ridwan juga mendengar dan melihat apa yang terjadi di ruangan admin itu.
"Tak punya hati? Ya, saya memang tak punya hati apalagi untuk seorang yang mengkhianati saya. Lebih tak punya hati mana sama orang yang mengambil sebagian gaji orang lain, ha? Apa anda tak pernah berfikir kalau mereka membutuhkan uang itu untuk kebutuhan keluarganya? Tapi dengan seenaknya anda mengurangi gaji mereka, dimana naluri kemanusiaan anda?" teriak Sandra dengan emosi.
Pak Ridwan yang mendengar itu hanya diam saja, entah ia merasa bersalah atau malas untuk menanggapi.
__ADS_1
"Kenapa diam ha?" Sandra benar-benar berada di ambang batas kesabarannya, namun Leo yang melihat itu langsung menenangkannya.
"Tenang. Kita disini untuk mengetahui siapa bosnya, jangan sampai kita melupakan tujuan itu" bisik Leo sambil mengelus lengan tangan Sandra.
Hampir saja Sandra lupa dengan tujuannya karena emosinya yang tak bisa ia bendung.
"Sekarang cepat katakan siapa yang menyuruhmu? Kalau tidak, tak hanya nyawamu saja yang melayang namun nyawa kedua orang tercintamu" ucap Sandra dengan nada dinginnya.
"Tu tuan Araxious, nona" jawab Pam Ridwan dengan gugup. Sebenarnya Pak Ridwan tak masalah apabila ia harus mempertanggungjawabkan kesalahannya dengan tidak mengaku, namun ia masih mencintai istri dan ayahnya jadi ia takkan pernah melibatkan kedua orang itu dalam permasalahannya.
"Yang jelas" tekan Sandra.
"Tuan Araxious dengan sekretaris perusahaan anda dulu saat masih di luar negeri" jawab Pak Ridwan dengan yakin.
"Pantas saja, kecurigaanku tak salah" gumam Sandra.
Tanpa aba-aba dari siapapun, Sandra menancapkan pisaunya tepat di jantung Pak Ridwan membuatnya langsung meninggal di tempat. Layar LCD yang tadi menyalapun sudah mati sesaat pengawal Leo telah membebaskan kedua orang itu jadi istri dan ayah dari Pak Ridwan tak melihat adegan anaknya meregang nyawa.
"Hah... Menyusahkan" gerutu Sandra. Pak Ridwan telah dibawa oleh beberapa pengawal Leo untuk dimakamkan dan mereka juga yang akan memberikan uang santunan pada keluarganya.
Sandra benar-benar merasa lelah karena harus mengurus hal seperti ini yang seharusnya dikerjakan oleh kepala proyek. Sandra harus mengubah total design resort dan beberapa bahan bangunan yang tak sesuai standar karena Pak Ridwan dulunya memakai bahan berkualitas rendah. Ia dibantu dengan Lula untuk menyelesaikan masalah gaji karyawan, ia juga harus memberikan penggantian gaji karyawan yang telah dikorupsi oleh Pak Ridwan.
***
Di sebuah gedung tinggi perusahaan besar di Rusia, terdapat seorang laki-laki yang masih muda sedang memasuki perusahaan itu dengan berlari dan menunjukkan raut muka yang panik. Ia segera mencari bos nya untuk memecahkan masalah yang sedang mereka dan perusahaan akan hadapi.
"Tuan... Tuan..." seru seseorang yang lari tergopoh-gopoh untuk menghampiri tuannya yang akan masuk ke dalam ruang kerjanya.
__ADS_1
"Ada apa? Sepertinya sedang ada masalah serius" ucap orang yang dipanggil "tuan".
"Ini sangat gawat tuan".
"Ada apa? Cepat jelaskan jangan bertele-tele" ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
"Ridwan tewas di tangan Nona Arva".
"Apa? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya tuannya.
"Nona Arva sudah mengetahui pengkhianatan Ridwan pada pembangung resort itu. Dari manipulasi bahan bangunan sampai keuangan".
"Apa dia sebelum tewas sempat mengucapkan nama kita kalau kita dalang dari semua ini?" tanyanya.
"Saya kurang tahu, tuan. Karena saat itu kejadian berada di ruang admin, sedangkan beberapa anak buah kita juga tidak bisa masuk ke dalam karena banyaknya pengawal dari nona Arva yang berjaga. Jadi tak ada seorangpun anak buah kita yang mengetahui tentang pembicaraan mereka. Mereka tahu Ridwan tewas karena pengawal nona Arva membawa jasadnya keluar ruangan itu dengan keadaan darah yang masih berceceran. Pembangunan resort juga di hentikan oleh nona Arva".
"Sial... Apa sebaiknya kita bersembunyi dulu? Mereka pasti sudah mengetahui mengenai kecurangan kita dalam memanipulasi proposal kerjasama dan pastinya mereka akan mencari kita" tanya tuannya yang tak lain adalah bos dari perusahaan Araxious, Liam Arganta Araxious. Sedangkan yang melaporkan kejadian ini adalah sang tangan kanan, Tom Yuris.
"Anda benar tuan. Sebaiknya kita bersembunyi dulu dan mengelola perusahaan ini dari jauh karena mafia yang kita sewa saat ini pasti ia akan dihancurkan oleh nona Arva" ucap Tom.
"Siapa sebenarnya nona Arva itu? Kenapa dia bisa menghancurkan sekelompok mafia" tanyanya.
"Saya juga belum tahu identitasnya tuan. Identitasnya sangat sulit di cari. Tapi yang saya dengar ia pernah membantai mafia nomor 1 di Inggris dulu seorang diri" jawab Tom dan Liam hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayo siapkan semua dokumen-dokumen penting perusahaan yang akan kita bawa. Kita tinggalkan negara ini untuk sementara" titahnya.
Tanpa basa-basi, Tom segera mengemasi dan menyiapkan barang-barang penting yang akan mereka bawa. Ia juga sudah memerintahkan beberapa bawahannya untuk menjaga perusahaan selama mereka pergi. Tak butuh waktu lama, Tom dan Liam keluar dari perusahaan untuk ke bandara secepatnya.
__ADS_1
Namun...