
Sandra dan Leo berdiam diri di sebuah ruangan yang berada di markas Black Blood. Sandra memikirkan tentang siapa sebenarnya dalang dari pembunuhan orangtuanya dan apa salah keluarganya sampai mereka dibunuh. Semua membuat ia benar-benar frustasi.
"Arrghhhhhh...." teriak Sandra sambil mengacak-acak rambutnya.
"Baby, jangan seperti ini" ucap Leo kemudian mendekati Sandra dan memeluknya.
"Hiks apa salah hiks mama dan papa sampai mereka tega membunuhnya hiks apa hanya karena harta? atau hal lainnya?" ucap Sandra sambil menangis di pelukan Leo.
"Kita akan mencari tahu semuanya bersama-sama. Jangan seperti ini, aku sedih melihatnya" ucap Leo dengan memberi kecupan-kecupan kecil di puncak kepala Sandra.
"Terimakasih" ucap Sandra dengan tulus.
"Sama-sama, baby" balas Leo.
***
Sandra, Leo, dan Erick kini telah sampai di mansion Sandra dan saudaranya. Setelah membersihkan diri dan makan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga.
"Kamu kenapa dek? Mukamu lusuh sekali" tanya Willy pada Sandra yang terlihat tak bersemangat.
"Kak Willy mulai sekarang harus lebih berhati-hati karena anak dari dalang pembunuhan orangtua kita berkuliah disana" ucap Sandra tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Willy.
"Maksudnya?" tanya Willy yang masih bingung, sedangkan Yusuf dan Sandro fokus mendengarkan. Alin, Fatah, dan Damar hanya diam saja namun mereka ikut mendengarkan walaupun nantinya mereka tak dapat membantu banyak.
"Anak dari pembunuh orangtua kalian berkuliah di kampus yang sama dengan Willy dan Leo. Penjagaan kalian berdua akan semakin kami perketat" bukan Sandra yang menjelaskan, melainkan Erick.
"Kami khawatir kalau anak itu disuruh mencari kalian. Berhati-hatilah mulai dari sekarang terutama kau Willy" lanjutnya memberi peringatan.
"Baiklah aku akan lebih berhati-hati lagi. Kira-kira siapa dia? Apa kalian tahu ciri-ciri atau namanya?" tanya Willy setelah tersadar dari rasa terkejutnya.
"Dia seorang perempuan" jawab Leo.
"Untuk yang lainnya kami belum memiliki petunjuk lain" lanjut Erick dan diangguki oleh Willy.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tak mungkin diam saja bukan setelah mengetahui ini?" tanya Yusuf yang sedari tadi diam.
__ADS_1
"Kak Willy dan Kak Leo kalau misalkan ada seseorang yang mencurigakan atau apapun itu segera laporkan padaku atau Erick, kami akan mencari seluk beluknya sampai ke akar-akarnya apakah orang itu ada hubungan atau tidak dengan orangtua kita di masa lalu" ucap Sandra.
"Untuk yang lainnya aku harap kalian bisa menjaga diri kalian, jangan sampai lengah walaupun aku sudah mengirim beberapa anak buah papa dan Leo untuk mengawasi kalian. Untuk Alin, Fatah, dan Damar kalian jangan pernah pergi tanpa adanya salah satu diantara kami dan jangan mau diajak pergi oleh orang tak dikenal" lanjutnya dan diangguki patuh oleh semuanya.
***
Hari ini merupakan final turnamen basket antar sekolah. Turnamen basket ini sudah di adakan sejak satu minggu yang lalu dan hari ini lah finalnya. Sandra, Willy, Leo, Alin, Fatah, dan Damar datang untuk melihat dan memberi dukungan pada Sandro dan Yusuf yang hari ini bertanding karena Arva International High School masuk ke final setelah menang di babak penyisihan kemarin.
"Makasih kak, dek udah datang dan kasih semangat kita" ucap Sandro pada saudara-saudaranya yang hadir disana.
"Sama-sama. Jangan terlalu memikirkan menang atau tidaknya, yang terpenting kalian harus bekerjasama dengan baik dan sportif" pesan Sandra sambil tersenyum tipis dan diangguki oleh Sandro dan Yusuf.
"Semangat kak. Nanti kalau menang terus dapet hadiahnya, motornya kita buat jalan-jalan keliling Jakarta ya kak" antusias Alin yang dibalas kekehan dari semua yang disana karena melihat Alin yang bersemangat dengan mata berbinar-binar.
"Kalaupun kak Sandro dan kak Yusuf kalah, kalian akan tetap bisa keliling Jakarta kok dek. Nanti kakak yang akan belikan motor itu biar kita bisa jalan-jalan bersama" ucap Sandra.
"Wah beneran kak? Asyikk... Jalan-jalan" seru Alin dan dibalas gelengan pelan oleh kakak-kakaknya.
"Jangan jalan-jalan mulu Alin, belajar" tegur Fatah.
"Udah... Udah, kok malah berantem sih. Kita kesini kan mau kasih semangat buat Sandro dan Yusuf kok malah berantem. Udah yuk kita duduk di sana" ucap Willy menengahi pertengkaran kedua adiknya dan menunjuk ke arah tribun untuk duduk.
"Ya udah, kita kesana dulu. Kalian semangat ya" ucap Sandra dan diangguki Sandro dan Yusuf.
***
Lawan dari Arva International High School dalam final kali ini adalah Derma International High School, salah satu sekolah swasta bertaraf Internasional yang juga merupakan sekolah yang selalu menjadi rival dari AIHS Arva International High School) itu sendiri. AIHS dan DIHS selalu menjadi rival dalam bidang akademik maupun non akademik. Namun mereka selalu bermain sportif setiap menjadi lawan.
Pertandingan babak 1 sudah selesai, untuk sementara DIHS unggul 2 poin atas AIHS. Banyak sorak-sorak penonton baik dari siswa AIHS maupun DIHS yang menggema di gedung olahraga itu.
...*AIHS...
DIHS
AIHS
__ADS_1
Sandro
Yusuf
Megan
Bryan
Kevan
Semangat
Ayo*
Semua sorak-sorak penonton terus menggema saat pertandingan babak ke 2 dimulai. Semua seakan terus terpaku oleh para pemain dan gerak-geriknya. Tak disangka-sangka setelah tertinggal 2 poin, AIHS dapat menyusul dan memenangkan pertandingan dengan unggul 1 poin diatas DIHS.
Pendukung AIHS seketika bersorak senang tak terkecuali Sandra bersaudara, mereka sangat bangga dengan Sandro dan Yusuf. Mereka tahu bahwa Sandro dan Yusuf adalah orang paling malas ketika harus di suruh ikut pertandingan seperti ini, tapi ternyata mereka malah menjadi pusat perhatian dari semua penonton dengan permainannya.
"Selamat kak, dek" ucap Sandra kemudian menghambur ke pelukan keduanya bersama dengan Alin, Fatah, dan Damar.
"Jangan peluk-peluk dulu, bau nih" ucap Sandro dengan tengilnya ia mengapit kepala Sandra di ketiaknya.
"Ihhh... Jorok banget sih kak" sebal Sandra dengan mencoba melepaskan apitan kakaknya.
"Kak Sandro jangan begitu sama kak Sandra, kasian tahu. Nanti kalau pingsan gimana" seru Alin yang kasihan melihat kakaknya.
"Ketek kakak wangi kok dek jadi nggak akan buat Sandra pingsan. Nih coba cium" ucap Sandro yang juga langsung mengapit kepala Alin di ketiak sebelahnya.
"Huaaa.... Tolong kita mau pingsan. Huekk... Bau banget sih kak" ucap Sandra sambil menutup hidungnya. Padahal juga wangi tapi pada dasarnya Sandra dan Alin aja yang iseng.
"Udah-udah, Sandro lepasin Sandra dan Alin. Lebih baik kalian berdua ganti baju lalu pulang dan istirahat. Penyerahan hadiahnya juga besok bukan, jadi kita tunggu di parkiran ya" ucap Willy dan dilaksanakan oleh Sandro.
"Iya kak penyerahan hadiahnya besok. Katanya besok ada perwakilan dari pemilik sekolah yang datang, aku sebenarnya penasaran sama pemiliknya deh soalnya dia kan pemilik perusahan terbesar di dunia kan" ucap Yusuf dengan antusias.
"Ya semoga saja dia segera go public, biar kita semua bisa tahu siapa pemilik perusahaan sukses itu" ucap Sandro dan diangguki semuanya.
__ADS_1
Sandro dan Yusuf langsung pergi untuk ganti baju sedangkan yang lainnya menunggu di parkiran untuk pulang bersama.