
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Sandra, Leo, Willy, dan Sandro serta Vito. Leo, Willy, dan Sandro sudah berada di rumah tua yang diinstruksikan Sandra kemarin. Sedangkan Sandra dan Vito masih bersembunyi. Mereka semua dijaga oleh beberapa anak buah Leo dan Papa Luis.
"Gimana? Sudah siap?" Tanya Papa Luis pada Leo, Willy, dan Sandro.
"Iya pa. Kami siap" ucap ketiganya serentak kemudian masuk ke dalam rumah tua itu untuk menyiapkan segala sesuatunya.
***
"Adit, Melvin, Regan dimana kalian?" seru seorang laki-laki paruh baya yang baru saja datang dan masuk ke dalam sebuah rumah tua dengan diikuti dua pengawalnya.
"Dimana mereka? Coba salah satu cek sekitar, satunya tetap berjaga bersamaku" titahnya pada dua pengawalnya.
"Baik Tuan Alfonso" jawab mereka serentak. Ya, sesuai dengan apa yang waktu itu disetujui akhirnya Tuan Alfonso datang ke rumah tua tempat penyekapan keluarga Vito. Salah satu dari pengawal itu segera berpencar pergi masuk lebih ke dalam lagi rumah tua itu.
"Maaf tuan, saya tak menemukan mereka bertiga di sini" ucap salah satu pengawal Alfonso yang tadi mengelilingi rumah tua itu setelah satu jam berkeliling.
"Apa? Apa jangan-jangan mereka membohongi saya? Awas saja..." Ucapan Alfonso pun di sela oleh pengawalnya itu.
"Maaf tuan menyela. Mereka bertiga memang tak berada disini tapi saya menemukan 5 orang di sebuah ruangan dan tangan kelimanya terikat dengan wajah yang tertutup kain hitam. Itu sepertinya adalah keluarga Vito, tuan" ucap pengawal itu.
"Ternyata mereka berhasil hahaha Sepertinya mereka ingin memberiku kejutan. Baiklah ayo kita ke tempat lima orang tawanan kita itu" ucap Tuan Alfonso seperti tertawa seakan itu adalah tawa kemenangan. Kedua pengawal Alfonso pun mengikuti tuannya untuk ke sebuah ruangan yang dimaksud.
***
"Hahaha aku sangat suka pemandangan ini. Cepat buka penutup kepala mereka, aku tak sabar melihat karya dari anak buahku itu. Jangan lupa rekam mereka" ucap Tuan Alfonso sambil terus tertawa.
"Baik tuan" jawab patuh pengawalnya. Salah satu pengawal akan membuka penutup hitam di wajah kelima orang yang sedang duduk di lantai dengan yangan terikat itu, lalu pengawal satunya sudah standby dengan kameranya.
Padahal kemarin Regan, Adit, Malvin sudah mengirimkan video penyiksaan dan foto juga namun entahlah tuan Alfonso itu buat apa merekam kembali kondisi mereka.
1...2...3...
Sreettt...
__ADS_1
Sreetttt...
Sreettt...
Sreettt....
Sreettt...
Penutup wajah kelimanya sudah terbuka namun posisi kepala mereka semua masih menunduk sehingga tak dapat terlihat jelas bagaimana kondisi dari kelima orang itu.
"Hei... Angkat kepala kalian" seru Tuan Alfonso memerintahkan ke limanya karena ia tahu kalau kelimanya itu dalam keadaan sadar.
Seketika kelimanya mengangkat kepala mereka dan...
Deggg...
***
"Gimana?" bisik Leo pada Willy dan Sandro yang berada disampingnya.
"Semua berjalan dengan lancar, dia sudah masuk ke jebakan yang kita buat" ucap Willy dengan pelan. Willy dan Sandro sedang sibuk mengamati layar hp mereka, melihat seorang pria paruh baya yang datang bersama kedua pengawalnya. Yap, ketiganya sedang mengawasi pergerakan dari tuan Alfonso dan kedua pengawalnya.
"Mereka masuk ke ruangan yang sudah kita atur" ucap Willy memberitahu.
"Bagus... Sebentar lagi kejutan akan mereka terima" ucap Leo dengan nada datarnya dan diangguki setuju oleh Willy dan Sandro.
***
"Pa, mereka kok lama banget sih?" gerutu Sandra sudah tak sabar. Papa Luis, Sandra, dan Vito masih duduk di dalam mobil yang berada tak jauh dari rumah tua itu. Bahkan mereka bertiga tadi juga melihat mobil yang di kendarai oleh Tuan Alfonso dan pengawalnya.
"Sabar dulu dong, kamu harus menikmati pertunjukan ini dengan perlahan. Jangan cepat-cepat menuju end, kurang greget" ucap Papa Luis dengan senyum yang terlihat mengerikan membuat Vito yang berada di dekatnya seketika menegang.
"Nah... Ini dia yang ditunggu-tunggu" seru Sandra ketika melihat apa yang ia inginkan telah muncul di dalam layar hp nya.
__ADS_1
***
Degg...
"Kalian kenapa bisa ada disini?" teriak Tuan Alfonso dengan mata membelalak kaget.
"Lalu dimana keluarga Vito itu, ha? Kenapa kau masih merekam mereka kalau itu bukan keluarga Vito? Bodoh" teriaknya pada pengawal yang membawa hp untuk merekam kegiatan mereka itu. Sontak pengawal itu kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan ponsel yang dipegangnya.
"Maaf tuan" ucap pengawal itu pelan.
"Bebaskan anak dan istriku" teriak Tuan Alfonso pada kedua pengawalnya dan langsung di lakukan oleh keduanya.
Yap... Yang berada dalam rumah itu dan disekal disana adalah Rachel anak dari Tuan Alfonso dan mamanya, istri Alfonso. Lalu tiga orang lainnya adalah Adit, Malvin, dan Regan dengan keadaan yang lumayan mengenaskan. Wajah penuh sayatan dan darah yang sudah mulai mengering.
"Kalian bertiga sialan... Bagaimana bisa malah kalian yang ada disini ha? Kerja kalian benar-benar tidak becus" teriak Tuan Alfonso terus memarahi ketiga anak buahnya itu seperti orang kesetanan.
"Lalu ini kenapa anak dan istriku bisa ada disini? Apa semua pengawal di rumah saya itu sudah butuh tempat untuk menemui ajalnya?" bentaknya terus menerus. Namun ketiga anak buah Alfonso itu hanya diam tak menjawab apapun pertanyaan dari Tuan Alfonso.
"Dimana putraku ha? Apa dia tidak menjaga kalian sampai kalian ada disini juga?" tanya Tuan Alfonso kali ini yang ditujukan pada Rachel dan istrinya. Keduanya hanya mampu menggelengkan kepalanya.
"Sial... Pasti ini semua sudah direncanakan. Siapa yang melakukan hal ini?" tanya Tuan Alfonso pada ketiga anak buahnya yang masih terduduk di lantai bersama anak dan istrinya itu.
"Ke... Keluarga Arvasyad" jawab Adit dengan terbata-bata. Ia sebenarnya antara takut dan pura-pura gugup demi menjalankan misinya.
"Apa? Apa anak dari keluarga itu sudah muncul? Atau sudah kalian temukan?" tanya Tuan Alfonso tak sabaran.
"Sebenarnya apa yang papa lakukan pada keluarga itu, hingga mereka menyekap kami?" tanya Rachel pada papanya.
'Kau tak perlu tahu, ini urusan orang dewasa. Yang perlu kalian tahu, kalian akan hidup mewah dari kemarin hingga seterusnya" ucap Tuan Alfonso ketus.
"Hahaha papa bilang dari kemarin kita hidup mewah. Apa papa buta? Uang kuliah, uang makanku saja bahkan dari hasil kerja keras mama dan kakak. Mereka kerja banting tulang, sedangkan papa? Papa punya perusahaan tapi nggak pernah tuh kasih kita uang untuk makan. Apa uang papa akan habis kalau memberikan kita uang untuk makan? Ha?" seru Rachel sambil tertawa miris. Semua apa yang dikatakan Rachel benar-benar terdengar memilukan ditelinga.
"Bagaimana kejutan yang kami berikan, Tuan Alfonso? Apakah..."
__ADS_1