
"Hahaha papa bilang dari kemarin kita hidup mewah. Apa papa buta? Uang kuliah, uang makanku saja bahkan dari hasil kerja keras mama dan kakak. Mereka kerja banting tulang, sedangkan papa? Papa punya perusahaan tapi nggak pernah tuh kasih kita uang untuk makan. Apa uang papa akan habis kalau memberikan kita uang untuk makan? Ha?" seru Rachel sambil tertawa miris. Semua apa yang dikatakan Rachel benar-benar terdengar memilukan ditelinga.
"Bagaimana kejutan yang kami berikan, Tuan Alfonso? Apakah anda menyukainya?" ucap seseorang yang baru saja masuk dalam ruangan sempit itu.
Sontak semua orang yang ada disana mengalihkan pandangannya ke arah seseorang yang baru masuk dan melupakan apa yang tengah di keluhkan oleh Rachel selama ini pada papanya.
"Anda?" seru Tuan Alfonso pada seseorang yang datang itu tak lain adalah Papa Luis.
"Ya saya, apa anda terkejut dengan kehadiran saya disini?" tanya Papa Luis dengan sedikit mengernyitkan sebelah alisnya heran.
"Ya saya sangat terkejut dengan kedatangan anda Tuan Luis? Jadi aksi penyekapan anak, istri, dan anak buah saya ini adalah ulah anda? Setahu saya, saya tak pernah berurusan dengan anda" ucap Tuan Alfonso sedikit gugup.
Tuan Alfonso sudah mengetahui seluk beluk dari Papa Luis ketika menghadapi orang yang mengganggu kehidupannya. Tuan Alfonso juga pernah mencari informasi mengenai keluarga dan perusahaannya, namun hasilnya sia-sia. Yang ia dapatkan hanya video-video bagaimana Papa Luis membalas orang-orang yang mengganggu kehidupannya. Maka dari itu dari dulu Tuan Alfonso sudah membatasi diri untuk tak berhubungan dengan Papa Luis, sang penguasa bisnis baik dalam dunia perusahaan maupun dunia bawah.
"Kau memang tak punya urusan denganku sebelumnya dan urusanmu ada pada anak-anakku. Tapi setelah anda menyuruh seorang mafia untuk menghadang anakku dan waktu itu saya berada di sana juga, itu berarti anda sudah masuk ke dalam daftar hitamku" ucap Papa Luis dengan nada dinginnya membuat semua orang yang ada disana menelan salivanya kasar akibat aura dingin yang terasa di sekitar mereka.
"Anak-anak anda? Siapa anak-anak anda? Bahkan saya tak mengenal mereka? Bentuk wajahnya saja saya tidak tahu" ucap Tuan Alfonso yang bingung setelah menetralkan raut wajahnya yang tadinya ketakutan.
Prok... Prok... Prok...
"Benarkah anda tak mengenal kami Tuan Alfonso?" ucap tiba-tiba beberapa orang yang berjalan dari arah belakang Papa Luis dan semuanya seketika menampakkan wajahnya.
__ADS_1
"Siapa kalian? Aku benar-benar tidak mengenal kalian" seru Tuan Alfonso yang seketika panik karena memiliki firasat yang buruk dengan kejadian saat ini.
"Leo, Willy" lirih Rachel pelan namun masih bisa terdengar oleh semuanya. Yang datang masuk ke ruangan itu adalah Leo dan Willy.
"Rachel, kamu mengenal mereka?" tanya Tuan Alfonso pada anaknya.
"Leo dan Willy adalah teman kuliah di kampus, mereka satu jurusan denganku" jawab Rachel dengan tenang walaupun ia masih sedikit bingung dengan apa yang terjadi.
"Kalian berdua anak dari Tuan Luis?" tanya Tuan Alfonso yang bingung karena tak ada kemiripan di antara mereka saat dilihat secara seksama olehnya.
"Leo adalah anak dari Tuan Subrata dan Willy adalah anak dari Tuan Arvasyad" Bukan Leo dan Willy yang menjawab, namun seseorang yang baru saja masuk ke ruangan itu yang tak lain adalah Vito.
"Vito" seru Tuan Alfonso menggeleng tak percaya. Tak percaya kalau Vito ada disini dan tak percaya bahwa di depannya ini adalah anak-anak dari orang yang ia hancurkan hidupnya dulu bahkan salah satunya adalah anak yang selama ini cari untuk memperluas kekuasaannya.
"Kalau kau sudah tahu salah satu dari mereka anak dari keluarga Arvasyad kenapa kau tak menangkap dan menyekapnya? Ha?" Bentak Tuan Alfonso emosi melihat Vito tampak tenang seakan dia ke sini hanya untuk memberitahu bahwa salah satu dari mereka adalah orang dicarinya.
"Cepat tangkap dia, bodoh" teriaknya pada Vito dan kedua pengawalnya yang sedari tadi berada dibelakangnya.
"Kau menangkap dia, kau berurusan denganku" ucap Papa Luis dengan nada datarnya.
"Apa urusannya dengan anda Tuan Luis? Mereka bukan anak-anakmu. Oh ayolah Tuan Luis, anda jangan munafik dan menutup mata tentang persaingan di dunia bisnis ini. Saya akan membagikan 30% harta dari keluarga Arvasyad jika kau mau bekerjasama denganku untuk menangkap dia" ucap Tuan Alfonso mencoba bernegosiasi dengan Papa Luis. Tak tahu saja dia kalau Papa Luis sedang menahan emosinya saat ini agar tak meledak.
__ADS_1
"Oh anda sangat percaya diri sekali tuan Alfonso kalau anda bisa mengambil hak anak dari keluarga Arvasyad. Apa kau tak cukup puas dengan mengambil nyawa dari kedua orangtuanya? Dunia bisnis memang kejam, menjatuhkan lawanmu boleh tapi bukan dengan menjatuhkan nyawanya" ucap Papa Luis pedas.
"Kau bukan pebisnis sejati jika kau menghalalkan segala cara demi memperluas kekuasaanmu. Pebisnis sejati adalah tau cara bagaimana memperluas kekuasaan dengan otak dan usaha, bukan merebut apa yang dimiliki oranglain" lanjutnya membuat Tuan Alfonso benar-benar merasa tersindir dan terpojok. Keadaan disana hening setelah ucapan yang dilontarkan Papa Luis, sepertinya Tuan Alfonso sedang meresapi apa kalimat-kalimat yang diucapkan Papa Luis.
"Papa membunuh orangtua Willy? Demi perusahaan?" tanya Rachel tak percaya, sedangkan istrinya hanya diam menunduk mendengar semua fakta-fakta tentang suaminya itu.
"Papa jahat tahu nggak" lanjutnya dengan membentak papanya itu.
"Tahu apa kalian tentang hal itu? Itu urusan saya, itu juga tentang perusahaan saya. Bukan urusan anda saya mendapatkan kekuasaan itu dari mana" teriak Tuan Alfonso pada Papa Luis tanpa menghiraukan pertanyaan dan apa yang diucapkan oleh anaknya itu.
"Dasar tak punya hati. Bawa dia keluar dari sini, disini ruangannya terlalu sempit untuk mengeksekusi orang banyak dosa sepertinya" titah Leo pada kedua anak buahnya yang berada di belakang Vito.
Kedua anak buah Leo pun memegang tangan dan bahu tuan Alfonso kemudian menariknya keluar dari ruangan itu.
"Hei... Vito, Regan, kalian cepat hajar mereka. Kalian itu anak buah saya, jangan diam saja" teriak Tuan Alfonso sambil terus memberontak dalam kuncian anak buah Leo.
Pengawal Tuan Alfonso sudah di cegah oleh Adit, Regan, dan Malvin agar tak membantu, sedangkan Vito hanya menatap tuan Alfonso dengan datar tanpa mempedulikan teriakan dari Tuan Alfonso. Rachel dan mamanya berpelukan sambil menangis, tak menyangka kalau papanya telah berbuat jahat pada oranglain.
"Lho kok muka kalian darahnya nggak luntur dan kalian nggak keliatan kesakitan?" tanya salah satu pengawal Alfonso yang melihat di wajah Rachel yang menangis tapi ketika terkena air mata tak ada darah yang mengalir, darahnya tetap berada di posisi seperti awal dan mereka tak terlihat kesakitan.
"Hahaha Rahasia" Bukan Rachel yang menjawab tapi Adit.
__ADS_1
Mereka semua akhirnya keluar dari ruangan itu untuk menuju ke arah anak buah Leo yang membawa Tuan Alfonso.