SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Part 25


__ADS_3

"Ngapain anda lihat-lihat saya? Pasti anda tertarik dengan saya kan, tuan. Saya tau saya cantik, body saya juga bagus tapi sorry saya nggak tertarik dengan anda" ucap Irene pada Erick dengan sarkas.


Mereka semua yang mendengar ucapan Irene membulatkan matanya terkejut dan ada juga yang ingin muntah seperti Sandra.


***


"Astaga mimpi apa aku semalam sampai siang ini aku ketemu wanita seperti ini" gumam Erick pelan yang masih bisa di dengar oleh Sandra.


"Udah yuk kak, kita pergi dari sini. Aku lagi males ribut, bisa hilang tuh nyawa satu orang kalau sampai aku ladenin" ajak Sandra pada Erick.


Erick yang tahu kalau Sandra sedang malas berurusan dengan hal yang tidak penting pun menuruti ajakan Sandra. Sandra berdiri dan berjalan keluar kantin diikuti Erick tanpa mempedulikan raut muka Irene yang memerah karena emosi.


"Hei kalian tidak sopan ya? Apa kalian tidak tahu kalau saya itu kepala divisi marketing di perusahaan ini. Sebagai salah satu karyawan penting disini saya berhak mengatur siapa saja yang bisa masuk ke kantin ini, kantin ini hanya untuk karyawan dan tamu penting perusahaan bukan orang asing tanpa identitas seperti kalian" seru Irene dengan lantangnya karena Sandra dan Erick tak menghiraukannya.


Raut wajah Irene benar-benar menunjukkan kesombongannya karena menjadi salah satu orang penting dari perusahaan ini. Sandra dan Erick yang mendengar seruan dari Irene, seketika berhenti berjalan dan membalikkan badannya menghadap Irene.


"Kepala divisi marketing? Bukannya kepala divisi marketing itu Pak Doni?" tanya Erick terkejut, pura-pura terkejut lebih tepatnya.


"Kalau anda kepala divisi, kemana anda kemarin sewaktu rapat seluruh kepala divisi?" tanya Sandra dengan nada datarnya.


Irene yang ditanya dengan pertanyaan beruntun itu hanya terdiam seperti orang linglung.


"Bolos? Melimpahkan kewajiban kepada oranglain? menindas orang dengan posisinya? atau menyalahgunakan kedudukannya?" tanya Sandra bertubi-tubi sambil menyeringai melihat Irene tak berkutik.


Sandra dan Erick berjalan pelan menuju ke arah Irene yang berdiri mematung.


"Mana tadi temannya yang datang bersama dia?" tanya Erick dengan setengah teriak sambil menunjuk Irene.


"Tak usah takut jika kau tak bersalah" seru Sandra dengan nada dinginnya, bahkan seluruh penghuni kantin hening.

__ADS_1


Dengan takut-takut, Sani bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pelan menuju ke arah Sandra, Erick, dan Irene berdiri.


"Anda tahu siapa kami?" tanya Sandra datar dan dijawab anggukan oleh Sani.


"Siapa?" tanyanya lagi.


"Pe Pemilik Perusahaan ini dan orang kepercayaan bos" jawab Sani dengan gugup namun terdengar jelas.


"Jangan bercanda, San? Jangan ngada-ngada dia pemilik perusahaan ini" seru Irene yang tak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Gue nggak bercanda, Ren. Gue tadi kan udah peringati loe. Dan mereka memang pemilik perusahaan dan orang kepercayaannya" jelas Sani dengan yakin.


Mendengar penjelasan Sani yang begitu meyakinkan, Irene seakan mati kutu. Ternyata ia telah salah cari lawan. Wajahnya pucat pasi, ia takut akan nasib kedepannya. Apalagi ia juga telah mendengar rumor bahwa pemilik perusahaan ini tidak akan mentolerir siapapun yang mengusiknya.


"Astaga... Gimana ini?" batin Irene yang benar-benar ketakutan.


"Anda" tunjuk Sandra pada Sani.


"Nona, tuan saya mohon jangan pecat saya. Saya membutuhkan pekerjaan ini" ucap Irene memelas.


"Saya minta maaf atas ucapan saya tadi nona, tuan. Saya mohon" lanjutnya.


"Cih... Tadi saja menghina kami, sekarang memohon-mohon. Tak tau malu. Kita tak butuh orang yang tak bisa menghormati oranglain" ucap Sandra dengan tegas sambil menatap Irene tajam.


Irene yang ditatap seperti itu pun tak berani mendongak, ia hanya menunduk saja.


"Ayo kak, aku masih banyak kerjaan yang harus aku urus" ajak Sandra dan diangguki Erick.


"Masih beruntung nyawamu tak hilang hari ini" ucap Erick sinis kemudian berlalu mengikuti Sandra.

__ADS_1


Sandra dan Erick meninggalkan Irene yang berdiri mematung ditempatnya.


"Sial... Awas saja kalian, aku tak terima dengan penghinaan ini" batin Irene sambil mengepalkan tangannya emosi.


Karena sudah terlanjur malu dan ditertawakan oleh karyawan yang menyaksikan kejadian tadi Irene pergi keluar kantin dan segera pulang untuk menyusun sebuah rencana.


***


Arva International High School


Yusuf dan Sandro sedang mengikuti seleksi anggota inti basket yang akan mengikuti perlombaan antar SMA se-Jakarta. Sekitar 40 orang siswa mengikuti seleksi ini, terdiri dari siswa kelas X dan XI. Yusuf dan Sandro sebenarnya enggan mengikuti seleksi, tapi kemarin ada kejadian ia di tantang kakak kelasnya yang selalu menghina mereka. Yusuf dan Sandro mengikuti ekstrakurikuler basket untuk menyalurkan bakatnya saja bukan untuk ikut turnamen seperti ini.


"Kalau kalian bisa masuk anggota inti basket untuk kompetisi besok, gue bakalan berhenti ngejek kalian. Tapi kalau kalian nyerah atau nggak lolos, gue bakal ngejek kalian terus-terusan" ucap kakak kelas itu sambil tersenyum mengejek.


Alhasil karena hal itu, mereka mengikuti seleksi ini bersaing dengan teman-temannya yang lain. Pelatih basket pun heran dengan mereka berdua karena tak biasanya mereka mau ikut kompetisi. Pelatih pikir mereka ikut karena tergiur dengan hadiah jika memenangkan kompetisi ini. Masing-masing satu buah motor sport dari pemilik sekolah apabila memenangkan kompetisi basket ini. Sangat menggiurkan bukan?.


Sambil menunggu giliran, Yusuf dan Sandro duduk sambil berbincang santai.


"Aku malas mengikuti seperti ini" keluh Sandro.


"Sama. Lebih baik menyelesaikan soal-soal matematika daripada ikut beginian, capek fisik" ucap Yusuf yang juga mengeluh.


"Ah benar sekali. Tapi lumayan juga hadiahnya kalau sampai kita ikut dan menang" ucap Sandro sedikit antusias dengan hadiahnya.


"Kak Sandra bahkan bisa membelikan kita 10 motor sport jika kita memintanya tanpa harus capek-capek ikut kompetisi" ucap Yusuf membanggakan kakaknya.


"Iya benar. Apalagi nanti kita harus sering-sering latihan setelah pulang sekolah, ini sangat menyita waktu istirahatku. Jadi makin berkurang waktu kita bermain dengan si kembar 3" ucap Sandro yang mengingat ketiga adik kecilnya.


Yusuf dan Sandro mengakhiri pembicaraan mereka setelah pelatih memanggil mereka untuk segera bermain. Setelah 1 jam mereka melakukan seleksi, akhirnya Yusuf dan Sandro terpilih menjadi anggota inti untuk kompetisi basket. Yusuf dan Sandro yang melihat kakak kelas yang menantangnya berada disanapun, menatap kakak kelasnya itu dengan senyum mengejek.

__ADS_1


"Anda kalah, tuan" gerak bibir Sandro dan Yusuf seraya tersenyum mengejek ke arah kakak kelasnya itu.


Update malam-malam, mohon dukungannya ❤️


__ADS_2