SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Suatu Misi


__ADS_3

Disisi lain di kampus Arva University, Willy dan Leo akan menjalankan misinya untuk menjebak salah satu orang yang diincarnya, terutama diincar oleh Willy dan keluarganya. Papa Luis sudah menceritakan tentang petunjuk mengenai anak dari dalang pembunuhan orangtuanya, saatnya sekarang tugas Willy yang memancingnya keluar dibantu oleh Leo.


Siang itu, di Arva University sedang ada kejadian yang menarik perhatian para mahasiswa dan dosen disana. Salah satu mahasiswi mereka datang ke kampus dengan 2 bodyguard di belakangnya, padahal selama ini dia tak pernah membawa bodyguard. Pemandangan mencolok itu membuat semua bertanya-tanya, mereka berpikir bahwa mahasiswi itu terkena bullyan jadi mendapat perlindungan dari bodyguard. Tapi berbeda dengan dua pasang mata yang melihat itu, jelas mereka berdua tahu apa maksud dan tujuan sebenarnya mahasiswi itu menggunakan bodyguard saat ini.


"Kau sudah lihat sendiri bukan? Tanpa kita harus mencari, dia sudah menampakkan dirinya sendiri. Pasti dia ketakutan karena identitasnya sudah terkuak ya walaupun keberadaannya masih misterius" ucap Leo dan diangguki setuju oleh Willy.


"Ini akan semakin mudah untuk menjalankan rencana kita" ucap Willy sambil menatap sinis mahasiswi yang sedang berjalan ke arah kelasnya itu.


"Kita mulai saat pergantian jam nanti" lanjutnya.


Willy dan Leo pun pergi dari tempatnya berdiri kemudian melanjutkan kegiatannya untuk masuk ke kelas.


***


Pergantian jam kuliah tengah berlangsung, Willy dan Leo duduk berdua di kantin sambil menunggu teman-temannya yang sedang menghadiri rapat di UKM nya. Masih ada waktu 2 jam sebelum mereka akan kembali kelas.


"Hai" sapa seorang mahasiswi yang menghampiri Willy dan Leo dengan membawa nampan berisi makanan dan minumannya.


"Ya" jawab Willy dengan singkatnya.


"Boleh gabung?" tanyanya. Willy dan Leo saling menatap seakan memberi suatu kode sebelum menyetujui pertanyaan dari mahasiswi itu.


"Silahkan" jawab Willy singkat.


Tanpa basa-basi mahasiswi itu duduk di kursi sebelah Leo.


"Kok sendiri? Bukannya tadi pagi kamu dikawal bodyguard" tanya Willy memancing.

__ADS_1


"Itu mereka di pojok sana" jawab mahasiswi itu.


"Tumben di kawal, Chel?" tanya Willy lagi. Mahasiswi itu tak lain adalah Rachel, cewek yang dulunya di awal-awal part selalu deketin geng nya Willy dkk.


"Entahlah. Bokap gue yang maksa harus pakai bodyguard, padahal siapa juga yang mau jahatin gue. Lagian di kampus juga nggak ada pembullyan. Gue juga bingung" jawab Rachel.


"Ya siapa tahu ada kejadian yang tak terduga, Chel. Lagipula kejahatan bisa terjadi dimana-mana dan orang jahatpun nggak mau kenal siapa orangnya kalau udah niatnya bertindak jahat" ucap Willy dengan nada santai namun tersirat kalimat penuh makna.


"Hehehe iya bener juga Wil katamu" balas Rachel sambil terkekeh pelan.


"Ya. Bahkan orang yang dekat dengan kita pun bisa menjadi orang yang jahat, jadi lebih baik berhati-hati. Jangan terlalu percaya sama orang" lanjut Willy memberi saran atau lebih terkesan perhatian.


"Iya, thanks Wil udah kasih peringatan buat aku. Kamu perhatian banget sih" ucap Rachel dengan pipi yang sedikit merona karena malu-malu atas perhatian Willy.


Mereka bertiga pun melanjutkan makannya tanpa ada perbincangan lagi, namun Rachel sudah beberapa kali tertangkap mata Leo sedang melirik ke arah Willy. Padahal dulunya ia selalu melirik ke arah Leo, namun sekarang sepertinya sudah berubah haluan ke Willy. Rencana sukses, pikir Leo dan Willy.


***


Sandra, Erick, dan Papa Luis yang mendengar hal itu segera menuju ke ruang IT. Tanpa mengetuk pintu, Sandra sedikit mendorong keras pintu hingga membuat bunyi gesekan kasar pintu dan lantai tercipta. Dan itu pula membuat beberapa orang yang berada di ruangan IT terlonjak kaget.


"Dasar tidak sop..." teriakan keras dari kepala divisi IT yang ditujukan untuk orang yang masuk ruangan tanpa ketuk pintu seketika melemah saat ia melihat siapa yang masuk ruangan IT.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Sandra tanpa basa-basi sambil mencekik leher dari kepala divisi IT. Sontak hal itu membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut karena selama ini atasan mereka tak pernah menunjukkan kemarahannya. Mereka pun hanya bisa diam menyaksikan, mau membantu pun tak bisa.


"Maksud anda apa nona?" tanyanya dengan nada yang terbata-bata karena cekikan dilehernya begitu kuat.


"Cepat katakan" bentak Sandra. Bentakan itu begitu keras membuat beberapa orang dari divisi lain yang ruangannya berada di dekar ruang IT mulai mendekat untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu mengobrak-abrik sistem keamanan dan data perusahaan ini? Jawab atau kau akan meregang nyawa di depan semua karyawan perusahaan ini" gertak Erick.


"Aku tidak tahu apa maksud kalian" jawabnya lagi dengan kalimat yang sudah lebih baik karena cekikannya sudah terlepas namun kedua tangannya di pegang oleh dua anak buah papa Luis.


"Baiklah. Sepertinya dia tidak mau mengakui perbuatannya, loyal juga dia dengan atasannya" ucap Sandra dengan santainya.


"Sudahlah aku lelah bermain-main seperti ini. Kita langsung saja eksekusi toh dia juga nggak akan mengaku" lanjutnya dengan nada yang dibuat seperti sudah sangat lelah dan frustasi.


"Jadi kamu mau pakai yang mana?" tanya Erick dengan menyerahkan beberapa pilihan senjata. Ada golok, belati, pistol, gunting, pisau kecil, dan silet membuat mereka yang ada disana meneguk salivanya kasar tak terkecuali sang pelaku yang sudah ketar-ketir.


"Sebentar-sebentar. Saya mau mengaku saja" ucap orang itu dengan nada yang sangat gugup ketakutan.


"Wah sudah terlambat, gimana dong?" tanya Sandra seperti sebuah ejekan.


"Maaf nona, saya mohon. Jangan bunuh saya, saya tak ingin keluarga saya sedih. Mereka juga masih membutuhkan saya" mohonnya.


"Kalau sudah begini saja anda memikirkan keluarga, lalu dengan melakukan sabotase perusahaan ini apa anda tak memikirkan banyaknya keluarga yang terdampak jika perusahaan saya benar-benar bangkrut? Coba jawab" seru Sandra dengan emosi. Papa Luis yang berada disampingnya mengelus lengan tangan Sandra dengan lembut agar menurunkan emosinya.


"Maaf nona, saya benar-benar minta maaf. Saya juga diancam, anak dan istri saya akan dibawa kalau saya tak melakukan pekerjaan ini" pembelaannya.


"Cek semua kebenarannya. Kalau memang benar saya hanya akan menyerahkan dia ke pihak kepolisian tapi kalau dia berbohong saya tak akan segan-segan melakukan hal yang tak pernah anda pikirkan" ucap dan titah Sandra pada Erick.


"Papa sudah mencari tahunya dan memang benar. Anak dan istrinya akan jadi sasaran kalau dia tak melakukan tugasnya. Cukup buat laporan di kepolisian saja" ucap Papa Luis sebelum Erick mengotak-atik iPad nya dan diangguki oleh Sandra.


"Tapi sebelum itu, siapa yang menyuruhmu?" tanya Sandra lagi dengan nada datarnya.


"Kalau nama orang itu saya tidak tahu, nona. Saya hanya tahu nama anak perempuannya, Rachel. Dia berkuliah di Arva University. Dia tak pernah menyebutkan nama nya bahkan marganya saja tak ada yang mengetahui tapi saya sering melihat nak Rachel berada di rumahnya saat kami mengadakan pertemuan. Dan dia bilang kalau namanya adalah Rachel, anaknya" ucap kepala divisi IT itu dan diangguki puas oleh Sandra.

__ADS_1


Kepala divisi IT itu akhirnya dibawa pihak kepolisian yang sudah dihubungi oleh salah satu anak buah papa Luis. Semua kejadian itu tak luput dari semua perhatian karyawan, bagaimana tidak di setiap monitor tv dalam perusahaan menayangkan secara live apa yang terjadi di ruang divisi IT tadi. Hal itu membuat semua karyawan menjadi takut melakukan sesuatu yang merugikan perusahaan karena CEO mereka jelas tak akan tinggal diam.


__ADS_2