
Perusahaan Sandra saat ini tengah gempar dengan pemberitaan mengenai Sandra atau CEO mereka yang telah menghabisi nyawa dari 10 dewan direksi di ruang rapat. Berita panas itu bermula ketika diadakannya rapat dadakan untuk 25 dewan direksi dan 12 petinggi perusahaan sebagai peserta rapat. Pemberitahuan yang mendadak itu membuat semuanya kalang kabut karena harus menyiapkan segala perintilan laporan yang sebelumnya akan dilaporkan pada awal bulan depan. Mengingat ini adalah pertengahan bulan, beberapa dewan direksi dan petinggi perusahaan masih bersantai ria karena laporan akan mereka kerjakan 3 hari sebelum rapat diadakan bulan depan.
Hanya butuh waktu persiapan 3 jam saja untuk mereka mempersiapkan diri menghadapi rapat yang diadakan oleh Sandra. Bahkan sampai banyak karyawan yang terkena omelan dari Kepala Divisi bagian masing-masing karena saking paniknya belum membuat laporan. Sungguh suasana pagi itu di perusahaan benar-benar ribut dan gaduh, bahkan terdengar banyak bentakan dan omelan.
Saat rapat tiba, semua dewan direksi dan petinggi perusahaan seketika menyiapkan diri dengan jantung yang berdetak begitu kencangnya karena terlalu takut menghadapi Sandra. Mereka juga mendengar mengenai sikap Sandra yang berubah menjadi lebih temperamental dan tak kenal ampun selama beberapa bulan ini. Ketika sebelum-sebelumnya, rapat akan di pimpin oleh Willy atau Sandro maka untuk saat ini Sandra lah yang akan memimpinnya secara langsung.
"Apa persiapan rapat sudah siap?" tanya Sandra pada sekretaris barunya, Una.
"Sudah nona. Semua persiapan rapat sudah siap bahkan sudah ada beberapa dewan direksi dan petinggi perusahaan yang datang" lapor Una kepada bosnya.
"Bagus, 10 menit lagi kita kesana" ucap Sandra dengan mengangguk-anggukkan kepalanya puas.
Setelah mendengar bahwa semua persiapan telah selesai, Sandra berjalan menuju ruang rapat sesuai dengan jam yang sudah disepakati. Ia berjalan dengan anggun dan penuh wibawa sambil memasang wajah datar dan dinginnya bersama Una yang berada di sampingnya.
Ceklek...
Sandra masuk ke ruang rapat membuat semua peserta rapat spontan berdiri dan menundukkan sedikit badannya sebagai ungkapan menghormati atasan. Setelah Sandra duduk ditempatnya, semua peserta rapat kembali duduk ditempatnya masing-masing.
"Mari kita langsung saja memulai rapat kali ini. Saya tidak ingin basa-basi" ucap Sandra dengan nada datarnya.
Semua pun akhirnya melaporkan semua mengenai kendala dan perkembangan proyek yang mereka pegang dimulai dari rencana, anggaran, bahkan kendala yang terjadi di lokasi. Rapat tampat berjalan sangat kondusif karena semua melaporkannya dengan sangat baik.
__ADS_1
Brakkk...
Sandra yang mendengarkan dengan seksama beberapa orang yang melaporkan laporannya sambil membaca beberapa laporan yang ada di depannya tiba-tiba saja membuang sebuah laporan dengan keras di atas meja membuat semua peserta rapat berjengkit kaget. Bahkan semua terlihat was-was melihat Sandra mengeluarkan aura dinginnya.
"Siapa yang membuat laporan busuk seperti ini? Kenapa bisa rencana anggaran dengan anggaran yang dikeluarkan bisa 2x lipatnya? Siapa yang membuat rencana anggaran ini dan yang bertanggungjawab atas ini?" seru Sandra bertanya kepada beberapa anggota rapat.
Para peserta rapat hanya diam membisu karena bingung harus menjawab apa, pasalnya yang mengerti proyek itu hanya seseorang yang saat ini tengah menundukkan kepala.
"Maaf nona, ini rencana anggaran sudah disetujui nona waktu itu dan yang membuatnya adalah tim RAB perusahaan" jawab salah satu peserta rapat.
"Hmmm... Anda pikir anda bisa membohongi saya?" tanya Sandra dengan senyum sinisnya.
Bunyi tembakan pistol 10 kali berhasil menumbangkan 10 orang dewan direksi. Tembakan peluru itu berhasil menembus dada mereka masing-masing dan tanpa bisa mengelak dalam beberapa detik saja mereka sudah menghembuskan nafas terakhirnya.
Mereka semua yang ada diruang rapat seketika menahan nafasnya, bahkan badan mereka gemetaran saking takutnya. Raut wajah Sandra terlihat sangat datar dan dingin, tak ada senyum tipis yang menghiasi yang ada hanyalah senyuman mengerikan. Senyuman yang mengandung segudang rencana untuk menghancurkan musuhnya.
"Apa kalian tahu kenapa saya langsung memusnahkan mereka?" tanya Sandra dengan memandang seluruh peserta rapat.
Para peserta rapat yang mendengar hal itupun hanya menggelengkan kepalanya tak paham karena semuanya benar-benar diluar perkiraan mereka.
"Karena mereka telah memanipulasi anggaran yang telah perusahaan buat, bahkan mereka bersenang-senang diluaran sana dengan uang yang mereka dapat disaat karyawan-karyawannya atau tenaga yang lainnya harus menghemat pengeluaran karena tak mendapat gaji. Mereka pantas dimusnahkan daripada hidup dengan menyengsarakan orang lain" seru Sandra dengan mata berapi-api karena sangat marah dengan perilaku anggota dewan direksi yang tidak punya rasa kemanusiaan.
__ADS_1
Mereka yang ada disana seketika kaget dengan apa yang diucapkan oleh Sandra. Mereka seperti percaya tidak percaya karena melihat tingkah mereka yang biasa saja dan sederhana. Bahkan para bawahannya pun selama ini tidak ada yang mengeluh mengenai gaji. Tetapi jika memang itu benar adanya, tentunya mereka setuju atas hukuman yang diberikan oleh Sandra.
"Kalau kalian tidak percaya, silahkan kalian lihat di layar ini" ucap Sandra seraya menunjuk ke arah layar yang ada di depan.
Sandra menjelaskan semuanya secara detail anggaran proyek sebenarnya, pengeluaran, bahkan gaji yang seharusnya dibayarkan. Ada lagi tampilan beberapa anggota dewan direksi yang tengah membagi-bagikan uang kepada rekan kerjanya.
"Kalau seperti ini kami setuju dengan langkah yang nona ambil karena bagaimanapun manusia seperti mereka memang tidak pantas hidup karena bisa membaut hidup oranglain sengsara" ucap salah satu dewan direksi dan diangguki peserta rapat yang lainnya.
"Lalu bagaimana dengan mereka? Apa kita tidak akan berurusan dengan polisi?" tanya salah satu petinggi perusahaan yang sedikit takut jika berurusan dengan polisi dengan menunjuk beberapa jenazah yang berlumuran darah.
"Kalian tak perlu khawatir karena itu menjadi urusanku" ucap Sandra dengan santai kemudian ada beberapa orang berbaju hitam masuk ke dalam ruang rapat dan membawa para jenazah itu.
Ketika orang-orang berbaju hitam itu masuk ke dalam ruang rapat, semuanya langsung saja berdiri dan menundukkan kepalanya takut karena bagaimanpun orang-orang itu adalah anggota mafia. Setelah ruang rapat dibersihkan oleh orang-orang Sandra, mereka pun duduk dan melanjutkan rapat yang tertunda.
"Saya harap kejadian ini tak bocor keluar" peringat Sandra dan kemudian pamti meninggalkan area rapat.
Walaupun sudah di antisipasi oleh Sandra agar tak bocor ke karyawan-karyawan lain, tetap saja para karyawan yang ada di perusahaan Sandra mengetahuinya. Entah dari siapa berita itu bocor, yang jelas kini ketika semua orang berpapasan dengan Sandra, akan langsung menundukkan kepalanya karena takut.
***
Mohon dukungannya kakak-kakak readers...
__ADS_1