
"Tapi yah, aku malas berurusan dengan perempuan itu. Gara-gara dia, aku jadi tak bisa bersanding dengan laki-laki incaranku" kekeh Aurora keras kepala.
"Aurora, apa yang kamu rasakan itu bukan cinta tapi obsesi. Kamu hanya ingin memiliki laki-laki karena ada sesuatu di sebaliknya bukan" ucap Ayahnya.
Sifat Aurora yang sombong, keras kepala, dan egois ini adalah akibat dari mantan istrinya dulu yang selalu mengagung-agungkan kekuasaan dan uang sehingga selalu memanjakan Aurora sejak kecil. Aurora kecil yang melihat ibu nya selalu bilang tentang uang dan kekuasaan, membuatnya mengikuti kebiasaan itu hingga sekarang. Setelah bercerai dengan mantan istrinya, ayah Aurora atau Tuan Tim ini mendapatkan hak asuh Aurora karena mantan istrinya tak mau lagi merawat Aurora yang saat itu berumur 8 tahun. Tuan Tim sudah berusaha mengubah kebiasaan putri nya namun tetap saja ajaran dari ibu nya sejak kecil susah di hilangkan.
Namun ia juga menyalahkan dirinya sendiri karena selama ini ia kurang perhatian pada anaknya, terlebih pekerjaannya yang banyak dan Aurora hanya anak tunggal menyebabkan dia sering mencari-cari perhatian dengan membuat masalah. Bahkan Aurora tak mempunyai teman dekat, dulu nya punya tapi teman-temannya tak tulus berteman dengannya. Saat perusahaan ayah nya menurun, maka teman-temannya itu menjauhi Aurora.q
"Kenapa sih ayah nggak pernah belain Aurora? Ayah nggak pernah berpihak pada apa yang diinginkan Aurora" seru Aurora dengan menatap kecewa sang ayah.
"Nak, dengarkan ayah. Bukannya ayah nggak mau belain atau menuruti apa keinginanmu, ayah hanya ingin kamu tak bertindak hal yang salah. Kalau membela hal benar pasti ayah akan membela kamu, tapi ini? Ini perbuatan yang salah, nak. Ayah nggak ingin sampai kamu dewasa nanti, kamu tak bisa membedakan hal yang benar dan salah. Jangan terlalu berobsesi memiliki sesuatu yang memang bukan untuk kamu, belajarlah untuk menerimanya dengan ikhlas" nasehat Tuan Tim pada anaknya itu dengan lembut.
"Ayah sayang sama kamu nak. Ayah nggak akan pernah membiarkan kamu untuk terjerumus ke dalam hal-hal yang sesat. Ikuti apa nasehat ayah nak, percayalah hidupmu akan lebih baik di bandingkan sekarang" lanjutnya dengan tatapan memohon.
"Jadi sekarang apa yang harus ku lakukan yah?" lirih Aurora yang mulai menyadari kalau selama ini sikap nya telah salah.
"Ayo ayah temani bertemu dengan orang yang hampir kamu celakai itu, kamu harus minta maaf agar hidupmu tenang" ucap Tuan Tim sembari memeluk anak nya.
"Iya ayah, tapi aku tak tahu dimana tempat tinggal perempuan itu. Aku hanya tahu kalau dia adalah kekasih dari Tuan Leo pemilik LA Company" ucap Aurora pelan.
"Apa? LA Company?" seru Tuan Tim terbelalak kaget.
"Iya yah, maka nya Aurora takut" panik Aurora ketika melihat ayah nya yang terkejut dan wajahnya berubah pucat.
"Huft... Mungkin ini akan sedikit sulit karena Tuan Leo sangat susah untuk memaafkan seseorang yang mengganggu keluarganya terlebih ini kekasihnya. Tapi ayah akan mencoba agar kita bisa menemui kekasihnya itu" ucap Tuan Tim mencoba tenang dan diangguki oleh Aurora.
Aurora pun duduk di sofa ruang tamu dan membiarkan kopernya begitu saja sambil menunggu ayahnya yang sedang menghubungi seseorang. Selang beberapa menit, Tuan Tim mendatangi Aurora yang tengah memejamkan matanya.
__ADS_1
"Ayo kita berangkat menemui Tuan Leo, ayah sudah membuat janji dengannya di cafe melalui ayahnya" ucap Tuan Tim.
Yap... Tadi ayah Aurora menghubungi perusahaan Leo dan mengatakan bahwa bisa langsung menemui Leo di cafe karena saat ini Leo tengah bersamanya.
"Iya yah" ucap Aurora yang kemudian meraih tas nya dan berlalu bersama ayahnya keluar dari rumah.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, akhirnya Aurora dan Tuan Tim sampai di cafe yang di maksud. Tuan Tim memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam cafe bersama Aurora.
"Selamat siang Tuan Leo dan Tuan Adam" sapa Tuan Tim dengan sedikit membungkukkan badannya diikuti oleh Aurora.
Aurora sedikit takut melihat Leo yang tengah menatapnya tajam.
"Siang Tuan Tim, silahkan duduk" ucap Papa Adam mempersilahkan duduk.
"Ada apa Tuan Tim ingin bertemu dengan Leo? Bukankah kerjasama di antara perusahaan baik-baik saja" tanya Papa Adam setelah melihat Aurora dan ayahnya telah duduk.
"Ada apa?" tanya Leo to the point dengan mada dinginnya.
"Hmm... Maaf Tuan Leo, saya minta maaf atas insiden yang menimpa kekasih anda yang di sebabkan oleh anak saya. Anak saya Aurora ingin bertemu dengan kekasih anda untuk meminta maaf secara langsung" ucap Tuan Tim memohon sedangkan Aurora menundukkan kepalanya. Sedangkan Papa Adam yang tak tahu apa-apa hanya diam mendengarkan.
"Wah... Nona sombong sepertinya mau minta maaf dengan orang lain?" sinis Leo.
"Tuan Leo saya benar-benar ingin meminta maaf pada kekasih anda, saya mohon. Saya benar-benar menyesal telah melakukan hal jahat itu" ucap Aurora dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hah... Untung kekasih saya baik-baik saja, kalau terluka sedikit saja akan saya pastikan anda mati saat itu juga" ucap Leo dengan nada dinginnya membuat Aurora bergetar ketakutan. Tuan Tim hanya bisa mengelus punggung tangan Aurora untuk menenangkan.
"Saya akan pertemukan kamu dengan kekasih saya, tapi soal urusan dia memaafkanmu atau tidak itu urusannya" lanjutnya.
__ADS_1
"Terimakasih Tuan Leo" ucap Aurora dan ayahnya bersamaan.
"Pa, aku pamit ke tempat Sandra dulu" pamit Leo kemudian berdiri untuk pergi ke tempat Sandra berada.
"Iya, papa juga mau balik ke kantor" ucap Papa Adam.
"Tuan, saya dan anak saya pamit untuk pergi dengan Tuan Leo" ucap Tuan Tim pada Papa Adam dan diangguki olehnya.
Leo mengendarai mobilnya di ikuti oleh mobil Aurora dan ayahnya. Ternyata Sandra kini tengah berada di rumahnya.
Tin... Tin...
Satpam mansion Sandra segera membuka gerbang saat mobil yang di kenalnya mendekat. Mobil Leo dan Tuan Tim terparkir di depan pintu utama mansion Sandra.
"Papa, mansionnya bagus dan mewah banget" bisik Aurora pada ayahnya saat berjalan berdampingan untuk menuju ke dalam mansion.
"Iya, mahal banget nih pasti mansionnya" ucap pelan Tuan Tim.
"Bi, panggilkan Sandra ke ruang tamu" titah Leo pada maid yang berada di sana dan diangguki oleh maid itu.
"Silahkan duduk" ucap Leo pada ayah dan anak itu.
Aurora dan ayahnya matanya menjelajahi sekitar ruang tamu yang banyak sekali barang-barang mewah.
Tak... Tak... Tak...
Bunyi ketukan sandal dan lantai menggema memasuki ruang tamu yang di huni oleh tiga orang manusia.
__ADS_1
"Kak Leo..."