SECRET OF SANDRA

SECRET OF SANDRA
Korupsi


__ADS_3

"Cih... Saya sudah memutuskan untuk memberhentikan pembangunan ini karena ada masalah intern perusahaan yang harus kami selesaikan dahulu. Saya minta kepada semua karyawan untuk menuliskan nama, nomor hp yang bisa dihubungi, alamat, dan nomor rekening agar kami bisa menghubungi kalian apabila pembangunan ini akan dilanjutkan. Kami juga akan mentransfer gaji kalian selama bekerja disini yang akan langsung saya urus tanpa ada pihak ketiga" ucap Sandra.


Kenapa Sandra akan mengurus langsung pembayaran gaji tanpa ada pihak ketiga? Hmmmm


"Biasanya yang akan mentransfer gaji mereka adalah admin kami, nona. Jadi nona tak perlu repot-repot mengurus persoalan kecil seperti ini" sela Pak Ridwan agar Sandra mengurungkan niatnya.


"Saya sedang tidak banyak pekerjaan kok Pak, Bapak tenang saja, saya hanya akan minta laporan absensi dan total gaji per pekerja pada bagian administrasi" ucap Sandra dengan nada santainya tapi seperti menyiratkan sesuatu.


"Bagi bagian administrasi tolong ikut dengan saya untuk segera menyelesaikan tentang gaji. Bagi yang lainnya kalian bisa pulang ke rumah masing-masing, bagi yang akan menunggu gaji karena pembayaran tidak melalui transfer bisa menunggu sekitar 1 jam di sini. Terimakasih" ucap Sandra dengan tersenyum tipis pada semua pekerjanya.


Sebenarnya Sandra sudah mengetahui siapa saja yang bekerja dengan baik dan mana yang bekerja seenaknya. Bahkan Sandra juga sudah mengetahui siapa pengkhianat di proyek pembangunan resortnya.


Bagian administrasi yang dipanggil pun segera mengikuti Sandra dan rombongan yang sudah berjalan lebih dulu ke ruang administrasi. Pak Ridwan yang melihat itu merasa ketar ketir, namun tak urung ia juga mengikuti Sandra dan lainnya. Sedangkan para pekerja ada yang sudah pulang karena gaji yang ditransfer dan ada juga yang menunggu gaji mereka secara cash.


Sesampainya di ruang administrasi, Sandra dan Leo duduk di depan meja bagian administrasi. Para pengawal berjaga di dalam ruangan 2 orang dan 2 orang lainnya di luar ruangan. Sedangkan pak Ridwan berdiri di samping bagian administrasi, Lula.


"Saya sudah membuat rincian gaji karyawan bulan ini, nona. Ini rincian total gajinya dan bagian-bagian pekerjaannya" ucap Lula sambil menyerahkan satu bendel kertas.


Sandra menerima dan memeriksanya dengan seksama. Terkadang ia mengerutkan keningnya bingung dan kadang juga geleng-geleng kepala seakan tak percaya.


"Apa selama ini gaji yang diberikan hanya segini?" tanya Sandra sambil membolak-balikkan kertas yang ada ditangannya.


"Maksudnya nona?" tanya Lula yang tak paham.

__ADS_1


"Apa gaji yang diberikan per bulan pada karyawan hanya segini?" tanya Sandra mengulang pertanyaannya.


"Iya nona. Dari awal saya bekerja gaji yang kami dapatkan memang segitu" jujur Lula yang masih bingung apa dia salah menghitung atau bagaimana.


"Darimana kamu mendapatkan aturan gaji pokok dan tunjangan lainnya? Bagaimana penghitungannya?" tanya Sandra memperjelas isi kertas itu.


"Maaf nona. Dari awal saya disini, saya diberikan dokumen yang sudah ditetapkan untuk banyaknya gaji dan tunjangan tiap posisi dari Pak Ridwan, jadi saya hanya tinggal mengikuti saja kalau misalkan ada yang ijin maka nanti dari gaji tersebut ada pengurangan" jelas Lula.


"Coba saya lihat dokumen itu" titah Sandra.


Lula yang mengerti pun segera mencari dokumen yang dibutuhkan.


"Ini nona" ucap Lula sambil memberikan dokumen itu.


"Ada yang mau anda jelaskan kepada saya Bapak Ridwan?" tanya Sandra sambil menatap tajam ke arah Pak Ridwan.


"Maksud anda apa, nona?" tanya Pak Ridwan dengan sedikit gugup.


"Bukankah sekretaris saya sudah memberikan rincian gaji pada anda? Kenapa rincian gaji yang saya buat tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Dan setiap bulannya saya selalu mengeluarkan uang untuk pembayaran gaji yang lebih besar dari apa yang tertulis disini" tanya Sandra beruntun.


"Itu sama kok nona. Dengan apa yang sudah disampaikan oleh tuan Erick" elak Pak Ridwan.


"Memangnya saya bodoh? Setiap saya memberikan rincian apalagi ini tentang uang, saya akan mengingatnya walaupun tidak secara rinci. Saya kira semua sudah sesuai prosedur karena uang yang saya keluarkan selalu sama dengan apa yang saya perkirakan di dokumen itu. Lalu kemana uang sisanya jika anda selalu meminta uang dalam jumlah yang sesuai perhitungan saya?" tanya Sandra dengan nada datarnya, Lula yang sedikit mengerti arahnya hanya diam.

__ADS_1


Pak Ridwan hanya diam sambil mengepalkan kedua tangannya menahan semua emosinya. Tanpa diduga-duga semua orang, Pak Ridwan mengeluarkan pistolnya dan langsung mengarahkannya ke arah Lula.


"Hahaha anda begitu bodoh karena mempercayai saya, nona. Jelaslah saya memakai uang sisanya untuk bersenang-senang, lalu untuk apa lagi. Lalu mau apa anda kalau sudah mengetahui semuanya?" seru Pak Ridwan sambil menekan pistolnya tepat di pelipis Lula.


Lula yang sudah ketakutan pun hanya bisa diam dan menutup matanya, ia seakan pasrah kalau nyawanya tak tertolong. Sandra yang melihat itu sangat geram dengan tindakan Pak Ridwan, disini dia bersalah tapi kenapa dia tak merasa bersalah sama sekali karena telah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Sedangkan Leo dan pengawalnya masih bersikap santai namun waspada.


"Dasar munafik, tidak tahu malu. Harusnya anda berterimakasih pada kami karena telah memberikanmu pekerjaan dengan posisi yang tinggi demi menghidupi keluargamu. Namun anda malah menyalahgunakan kepercayaan saya, sungguh orang yang tak tahu terimakasih. Bagaimana ya kalau keluarganya tahu tentang ini? Bagaimana juga kalau anda tahu keluarga anda sekarang ada di posisi yang sama dengan Lula?" seru Sandra dengan emosi yang menggebu-gebu namun syarat dengan ancaman.


"Maksud anda apa berbicara seperti itu tentang keluarga saya?" tanya Pak Ridwan dengan nada tajamnya.


"Tidak ada maksud apa-apa. Hanya memperingatkan saja kalau anda salah berurusan dengan saya, bahkan saya bisa melakukan hal yang lebih mengerikan daripada apa yang anda lakukan" ucap Sandra sambil tersenyum menyeringai.


Pak Ridwan yang mendengar itu seketika terpaku dan memikirkan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Sandra. Karena ia larut dalam pikiran-pikirannya, ia sampai lengah dengan apa yang ada didepannya. Tak berapa lama, anak buah Leo berjalan pelan ke samping pak Ridwan tanpa ia sadari.


*Brukkk...


Arrghhhh*...


"Sialan" umpat Pak Ridwan saat kedua tangannya di pelintir ke belakang badannya oleh salah seorang pengawal hingga pistol yang ia gunakan untuk mengancam Lula jatuh dan diambil oleh salah satu pengawal Sandra. Lula yang mendengar hal itu seketika membuka matanya dan berdiri dari duduknya kemudian berlari mendekati Sandra.


"Lepaskan" berontak Pak Ridwan.


"Tidak akan, sebelum anda mengatakan siapa yang menyuruh anda dan apa motifnya. Ya walaupun saya sudah mengetahuinya, tapi kurang puas saya kalau belum mendengar pengakuan dari anda secara langsung" ucap Sandra sambil berdiri untuk menuju ke arah Pak Ridwan.

__ADS_1


Leo yang melihat Sandra mendekati Pak Ridwan segera mengikutinya untuk menjaga Sandra apabila kejadian tak terduga terjadi.


__ADS_2