
Sandro dan Yusuf kini sudah sampai di mansionnya sekitar 1 jam yang lalu setelah acara penyerahan hadiah dari pihak sekolah. Sekolah di pulangkan lebih cepat sesuai arahan dari pemilik sekolah sebagai apresiasi dari pihak sekolah kepada siswa yang berprestasi.
Sandro dan Yusuf sudah tak sabar menunggu kedatangan Sandra untuk menanyakan apa yang mereka pikirkan saat ini. Di mansion hanya ada mereka berdua, maid, dan pengawal saja karena yang lainnya masih ada di kampus, sekolah, dan kantor.
"Kak Sandra lama banget sih pulangnya" keluh Yusuf.
"Ini kan baru jam 11, apalagi Sandra kerja di kantor ya mana bisa pulang jam segini. Kamu nih aneh-aneh aja" ucap Sandro sambil geleng-geleng kepala.
"Keburu penasaran kak. Awas aja kalau itu beneran kak Sandra, aku bakalan minta di beliin mobil keluaran terbaru" ucap Yusuf menggebu-gebu.
"Coba lihat itu di garasi banyak banget mobil keluaran terbaru udah disuruh Sandra buat kita pakai tapi nggak pernah kita pakai hahaha" ucap Sandro sambil tertawa.
"Benar juga ya hahaha" Yusuf geli sendiri dengan ucapannya yang sembarangan.
Memang di garasi terdapat banyak mobil sport terbaru yang di belikan Sandra untuk semua saudaranya, tapi hanya Willy saja yang mau memakainya sedangkan Alin, Fatah, dan Damar hanya memakai untuk antar jemput ke sekolah saja. Sandro dan Yusuf ketika pergi selalu pakai sepeda motor bebek berboncengan, alasannya agar semua orang tak mendekati mereka karena hartanya.
***
Sore menjelang, matahari yang bersinar terang kini berganti senja. Semua penghuni mansion sudah kembali dari aktifitasnya masing-masing.
Sandro dan Yusuf yang sudah tak sabar bertemu dengan Sandra segera menghampiri Sandra yang saat itu sedang bersantai di ruang keluarga bersama Alin, Fatah, dan Damar.
"Hmm" deheman Sandro mengalihkan perhatian semua orang yang ada disana.
"Kenapa kak?" tanya Sandra mewakili.
__ADS_1
"Kakak mau tanya sesuatu sama kamu. Kita tunggu kak Willy kesini" ucap Sandro dengan nada serius.
"Ada apa sih? Kok kaya nya serius banget" ucap Sandra heran dengan sikap kedua saudaranya itu, namun yang ditanya hanya diam tak menanggapi.
Tak menunggu lama, Willy datang dengan pakaian santainya menuju ke ruang keluarga.
"Ada apa nih? Kok pada diem-dieman" tanya Willy yang melihat semua orang hanya diam tidak saling berbicara.
"Nggak tau tuh kak Sandro dan Yusuf" jawab Sandra acuh tak acuh.
"Kita mau tanya satu hal sama kamu, jawab dengan jujur" ucap Sandro dengan nada tegasnya yang membuat Sandra kini fokus pada kakaknya itu.
"Nona Arva itu kamu kan?" tanya Sandro to the point yang diangguki oleh Yusuf, berbeda dengan Willy, Alin, Damar, dan Fatah yang tak tahu apa-apa.
"Siapa itu Nona Arva?" tanya Willy yang bingung.
"Lalu apa hubungannya dengan Sandra? Pemiliknya?" tanya Willy dengan beruntun karena penasaran.
"Itu yang bisa jawab Sandra. Coba dek kamu jujur sama kita, bener kan kalau kami pemiliknya? Yang tadi datang ke sekolah sebagai Nona Arva itu kamu kan? Aku bisa lihat dari mata kamu lho" ucap dan tanya Sandro tanpa memberi jeda.
"Huft... Baiklah" ucap Sandra dengan menjeda ucapannya.
"Emang bener itu Nona Arva itu aku kak, dek. Aku pemilik Arva Company dan pemilik yayasan sekolah dan kampus kalian" jawab Sandra yang membuat semua saudaranya terkejut, bangga, dan kesal.
"Kenapa nggak bilang dari awal sih dek? Kakak kan jadi bisa minta tanda tangan, kakak tuh ngefans banget sama dia. Di umur dia yang masih muda udah bisa bangun perusahan terbesar di dunia, eh ternyata kakak ngefans nya sama adik kakak sendiri. Kakak bangga sama kamu dek" ucap Willy dengan rasa bangganya.
__ADS_1
"Ish... Ternyata benar itu kakak. Pantesan aku dan kak Sandro merasa familiar tadi waktu penyambutan pemilik yayasan di sekolah" kesal Yusuf.
"Jadi kakak pemilik perusahaan yang sukses di dunia itu, wah berarti uang kakak banyak banget ya" ucap Damar yang kagum.
"Hahaha kalian ini terlalu berlebihan, kakak masih banyak kekurangan. Masih harus belajar lebih lagi dari orang-orang yang berpengalaman" ucap Sandra yang tak enak hati karena terlalu dipandang tinggi oleh orang lain apalagi itu saudaranya sendiri.
"Kak, kenapa nama perusahaannya Arva Company?" tanya Alin penasaran.
"Arva itu berasal dari marga keluarga kakak Arvasyad. Karena kakak ingin suatu saat punya perusahaan keluarga menggantikan perusahaan ayah dulu yang diambil sama oranglain. Suatu saat kakak ingin perusahaan itu akan di kelola oleh keluarga kita sendiri" ucap Sandra dengan mata yang berkaca-kaca. Willy dan Sandro yang mendengar itu pun ada rasa bangga dan sedih yang bersamaan.
"Makasih dek kamu udah ngembaliin perusahaan ayah dulu walaupun sebenarnya ini bukan perusahaan ayah yang dulu, tapi kami bangga denganmu karena masih mengatasnamakan perusahaan keluarga" ucap Willy dengan memeluk Sandra yang kebetulan ada disampingnya.
"Kakak juga bangga dengan kamu, dek. Harusnya yang berjuang untuk dapetin perusahaan keluarga kembali adalah kami karena kami yang paling tua. Kami merasa gagal menjagamu karena malah kamu yang berjuang keras untuk mendapatkan semua ini" ucap Sandro yang juga menghambur di pelukan kedua saudaranya.
"Kalian apaan sih, ini perusahaan keluarga kita. Jadi ini juga usaha kita karena kita adalah keluarga. Kita harus bersama-sama bekerja keras untuk membuat perusahaan ini maju agar kedua orangtua kita disana bangga dengan kita. Yusuf, Alin, Damar, Fatah kalian juga bagian dari kami jadi jangan pernah menganggap kita orang lain. Kita adalah keluarga jadi kita akan sama-sama memajukan perusahaan itu" ucap Sandra dengan semangat.
Yusuf, Alin, Damar, dan Fatah yang mendengar hal itu ikut menghambur ke pelukan ketiga saudara itu.
"Keluarga selamanya" seru mereka semua.
Setelah berpelukan mereka duduk kembali di sofa masing-masing.
"Karena kalian udah tahu rahasia yang selama ini aku simpan, aku minta sama kalian semua untuk tidak membocorkan hal ini pada siapapun. Aku masih khawatir kalau ada musuh bisnis perusahaan yang ingin menghancurkan perusahaan lewat kalian. Karena hal itu juga kenapa selama ini aku menyiapkan banyak pengawal untuk kalian" peringat Sandra pada semua saudaranya.
"Apa Leo sudah tahu tentang ini?" tanya Willy pada Sandra.
__ADS_1
"Ya dia sudah tahu tentang ini. Dia juga yang membantuku selama ini untuk menjaga kalian lewat anak buahnya yang jadi pengawal kalian" jelas Sandra dan diangguki semuanya.
"Besok aku akan berterimakasih kepadanya karena telah menjaga adikku selama ini dan juga kita" ucap Willy dengan semangat.